NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Bertani / Slice of Life / Komedi
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bunga di Gerbong Kereta

Dua hari setelah tim konstruksi Greenhouse mulai bekerja, Banyu berangkat ke Bandung.

Di dalam tas selempangnya yang dijaga ketat, tersimpan tiga batang ginseng yang baru saja dia gali dari Dimensi Kendi. Karena sudah ditanam lebih lama (sekitar 20 hari waktu dunia nyata, yang berarti berbulan-bulan di dimensi), ukurannya jelas lebih besar dan lebih "berotot" daripada ginseng kurus sebelumnya.

Banyu yakin, kali ini dia bakal panen duit lebih banyak.

Selain menjual ginseng, Banyu punya misi lain: Belanja bibit pohon buah. Setelah survei pasar di supermarket premium Jakarta, dia memutuskan untuk menanam Blueberry.

Buah kecil berwarna biru ini harganya gila-gilaan, bisa tembus ratusan ribu per kilo. Sangat cocok dengan konsep "Pertanian Sultan" miliknya. Sayangnya, bibit blueberry yang bagus susah dicari di Jakarta, jadi dia harus memburunya ke pusat tanaman di Lembang, Bandung.

---

Kereta Argo Parahyangan yang ditumpangi Banyu sudah siap berangkat dari Stasiun Gambir.

Banyu duduk tenang di kursi dekat jendela, menikmati AC yang dingin. Tiba-tiba, seorang gadis muda berlari tergopoh-gopoh masuk ke gerbong. Dia berhenti tepat di samping kursi Banyu, berjinjit berusaha menaruh koper kabinnya ke rak bagasi di atas.

Karena si gadis kurang tinggi dan kopernya berat, dia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke belakang.

Banyu refleks menoleh.

PLUK!

Pemandangan pertama yang menyapa mata Banyu bukanlah wajah si gadis, melainkan sepasang "aset" luar biasa yang terbungkus kaos ketat putih. Karena posisi si gadis yang berjinjit dan mendongak, dada yang montok dan "berisi" itu nyaris menempel di wajah Banyu. Jaraknya tinggal satu sentimeter dari hidung.

"Busyet... Gede bener!" batin Banyu kaget, matanya melotot refleks.

Wangi parfum stroberi yang manis langsung menyergap hidungnya.

Sadar posisinya canggung dan berbahaya bagi kesehatan joni, Banyu buru-buru berdiri.

"Sini, biar saya bantu," tawar Banyu sigap.

"Eh? Boleh, Mas! Makasih ya!" jawab gadis itu tanpa rasa curiga sedikitpun. Dia menyerahkan kopernya dengan napas terengah-engah.

Banyu dengan mudah mengangkat koper itu ke rak atas. Setelah selesai, barulah dia bisa melihat wajah si gadis dengan jelas.

Cantik. Kulitnya putih susu, matanya bulat besar seperti boneka, dan bibirnya merah merona alami. Tingginya memang agak mungil, tapi proporsi tubuhnya... aduhai. Benar-benar tipe "kecil-kecil cabe rawit". Banyu curiga kalau gadis ini menunduk, dia nggak bakal bisa lihat ujung kakinya sendiri karena terhalang "gunung kembar"-nya.

Gadis itu tidak sadar kalau Banyu sempat salah fokus. Dia malah menoleh ke arah pintu gerbong dan melambaikan tangan heboh.

"Woii! Cepetan woy! Kereta mau jalan nih!"

Diiringi teriakannya, masuklah rombongan empat anak muda lain yang ngos-ngosan mengejar kereta.

"Sabar napa, Son! Capek nih!" keluh si cewek berkacamata.

"Yee, lelet lo pada!" Gadis bernama Sonia itu tertawa renyah, lalu duduk tepat di kursi depan Banyu (kursi kereta berhadapan).

Kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan stasiun.

"Eh, btw makasih ya tadi udah bantuin angkat koper," kata Sonia ramah pada Banyu, senyumnya manis banget sampai gigi gingsulnya kelihatan. "Kenalin, gue Sonia."

"Sama-sama. Gue Banyu," jawab Banyu santai.

Sonia ternyata tipe cewek ekstrovert yang gampang akrab. Dia langsung mengajak Banyu ngobrol. Tanpa diminta, dia menceritakan profil rombongannya.

Mereka adalah mahasiswa UNPAD (Universitas Padjadjaran) tingkat akhir. Sonia memperkenalkan teman-temannya: Rina (si cewek kacamata), Kepin (cowok berkemeja rapi yang menatap Banyu sinis), Dedi (si jangkung), dan Agus (yang wajahnya jerawatan).

Mereka baru saja liburan singkat di Jakarta dan sekarang mau balik ke Jatinangor untuk kuliah.

Melihat Sonia asyik ngobrol dan tertawa-tawa dengan cowok asing, Kepin si cowok berkemeja rapi terlihat panas. Jelas sekali dia naksir Sonia dan menganggap Banyu sebagai ancaman.

"Bro," potong Kepin tiba-tiba, menyela obrolan Sonia. "Lo kuliah di mana? Kayaknya seumuran kita."

Banyu menoleh malas. "Gue nggak kuliah. Lulus SMA langsung kerja."

Mendengar itu, wajah Kepin langsung cerah. Senyum meremehkan muncul di bibirnya. Dia merasa menang level.

"Oh... nggak kuliah? Sayang banget ya," nada bicaranya dibuat-buat prihatin tapi terdengar mengejek. "Terus sekarang kerja apa? Buruh pabrik?"

"Bukan. Petani. Gue sewa lahan buat nanam sayur," jawab Banyu jujur.

"Pfft..." Kepin menahan tawa, lalu menyeringai pada teman-temannya. "Oh, petani toh. Pantesan badannya item. Ya bagus deh, setidaknya halal daripada nganggur."

Sindiran itu kasar. Banyu, yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan (lebih dewasa dari bocah-bocah kuliahan ini), cuma tersenyum tipis. Dia malas meladeni bocah insecure.

Tapi Sonia justru yang marah.

"Kepin! Mulut lo dijaga dong!" semprot Sonia galak. "Petani itu pekerjaan mulia tahu! Kalau nggak ada petani, lo mau makan apa? Makan kertas skripsi?"

Kepin kaget dibentak gebetannya sendiri. "Eh, bukan gitu Son... gue kan cuma..."

Uhuk! Uhuk!

Tiba-tiba Rina, si cewek kacamata di sebelah Kepin, terbatuk-batuk parah sambil menutup hidung.

"Bau rokok..." keluh Rina, wajahnya memucat. "Sesek..."

Sonia langsung waspada. "Rin! Asma lo kambuh?"

Ternyata, asap rokok mengepul dari kursi di seberang lorong. Seorang pria bertato dengan tampang sangar sedang asyik merokok diam-diam, padahal jelas-jelas ada stiker DILARANG MEROKOK.

Sonia yang pemberani langsung berdiri. "Heh, Mas! Mata lo buta ya? Di sini dilarang ngerokok! Temen gue asma nih!"

Pria bertato itu menoleh malas, menghembuskan asap ke arah Sonia. "Berisik lo, Dek. Urusin urusan lo sendiri."

"Lo yang salah kok nyolot! Matiin nggak?!" Sonia makin emosi, dadanya naik turun membuat pemandangan "indah" itu berguncang.

Pria itu malah berdiri, menantang. "Kalau gue nggak mau, lo mau apa? Mau gue cium?"

Suasana tegang. Kepin dan teman-cowok lainnya diam saja, takut melihat otot si preman.

Banyu menghela napas. Ganggu aja.

Dia berdiri tenang, berjalan menghampiri si preman seolah mau lewat. Saat berada tepat di depan preman itu, Banyu tersenyum ramah.

"Bang, tolong dimatiin ya. Kasihan cewek-cewek," kata Banyu pelan.

"Lo siapa ngatur-ngatur gu-"

Belum sempat preman itu selesai bicara, tangan kanan Banyu bergerak cepat. Dia menyambar tumbler stainless steel (botol minum besi) milik si preman yang ada di meja lipat.

Dengan gerakan santai seolah meremas kerupuk, Banyu meremas botol besi tebal itu.

KREK!

Botol stainless itu penyok parah, menyisakan cetakan jari tangan Banyu yang dalam di permukaannya.

Mata si preman melotot mau keluar. Dia menatap botol besinya yang hancur, lalu menatap lengan Banyu. Keringat dingin langsung mengucur deras.

Gila... besi diremes kayak plastisin... Kalau leher gue yang diremes gimana?

Banyu meletakkan kembali botol penyok itu di meja sambil menepuk bahu si preman pelan.

"Gimana, Bang? Bisa dimatiin?" bisik Banyu, masih tersenyum.

"B-bisa, Bang! Ampun!" Si preman langsung mematikan rokoknya, menyambar tasnya, dan kabur pindah ke gerbong lain dengan wajah pucat pasi.

Karena tubuh Banyu menghalangi pandangan, Sonia dan teman-temannya tidak melihat aksi "Remas Botol" itu. Mereka cuma melihat preman itu tiba-tiba ketakutan dan kabur setelah dibisiki Banyu.

"Ih, dasar mental kerupuk. Digertak dikit lari," cibir Sonia, lalu menatap Banyu kagum. "Makasih ya, Nyu. Kamu berani banget."

Banyu duduk kembali, pura-pura tidak terjadi apa-apa. "Ah, biasa aja. Kita kan harus cinta damai."

"Cih," Kepin mendengus sinis dari pojok. "Itu mah premannya aja yang lagi males ribut. Lo cuma hoki. Paling juga lo mohon-mohon tadi."

Banyu tidak menjawab, hanya tersenyum misterius. Dia lebih dewasa daripada harus pamer kekuatan di depan bocah ingusan.

Sisa perjalanan dihabiskan dengan obrolan ringan Sonia dan diamnya Banyu.

Tak lama kemudian, kereta memasuki Stasiun Bandung.

Banyu mengambil tasnya, lalu membantu menurunkan koper Sonia lagi.

"Makasih ya, Banyu! Kapan-kapan main ke kampus kita dong!" ajak Sonia riang.

"Liat nanti ya," jawab Banyu singkat.

Tanpa meminta nomor HP atau akun Instagram, Banyu melambaikan tangan dan berjalan santai keluar gerbong, menghilang di keramaian stasiun.

1
Nugroho Sodiq
harusnya dibalik thor..waktu di dlm kendi yg cepet, tapi dunia asli lmbat..biar cepet panen..😄
Yandi Hidayat
sangat bagus
Wega Luna
papi Raka paling keren,,,,🤭🤭🤭🤭GK ada Raka Raka yg lain kalo GK Raka nya Vania Bella🤭🤭🤭
Gege
bener bener apik dan epic bangeed...asal ga kesurupan setan NT yang ngajarin kalimat mbuledd ajaa buat kejar setoran pasti rame terus ini novel...
Jujun Adnin
sampe tamat
Aji L
setengah hektar tu 5.000 m²
DipsJr: wah iya ya... 😅
makasih infonya tandi di revisi. 🙏
total 1 replies
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣untung besar ,buat jajan di luar negeri
Gege
apik dan epic
Gege
sangat apik dan epic setiap episodenya... mungkin bisa dibuatkan cerita nelayan tajir... dengan pola yang sama tapi banyak mainan air..😄🤣
isnaini naini
gas lah pak mo..ayo brngkt...
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣 siapa yg nolak nyu ,gratis lagi
Jujun Adnin
lanjut
Apriyantho Apri
Perbanyak upgrade nya dong,please...
DipsJr: cuman bisa 3 kak. biar awet. 😔
total 1 replies
D'ken Nicko
kurang banyak babnya thor
Jujun Adnin
lagi
isnaini naini
siska mungkin pnya trauma masa lalu kali ya...kok klo liat orang bawaan nya skeptis melulu awas...nanti jth cinta loh...
isnaini naini
gpp nyu 100jt buat hdiah cuma2 tp scra tdk lngsng km sdh pnya koneksi aman lah...walau agak pait jg sih...100jt gt loh...😇
isnaini naini
smngt ya nyu buat author jg...
isnaini naini
benih lope2nih kyknya....
isnaini naini
gimana pak tomat busuk...kapok lu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!