Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.
Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.
Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.
Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.
Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Garis di Atas Pasir dan Saus Sambal
Pagi itu, Jakarta diguyur hujan gerimis yang membuat udara terasa sedikit lebih malas dari biasanya. Di dalam kamar utama, Nika masih bergelung di balik selimut tebalnya, sementara Devan sudah berdiri di depan cermin besar, mencoba menyimpul dasinya. Sejak kejadian Rendy di lobi kantor kemarin, ada sedikit mendung yang tertinggal di wajah Devan, meski ia berusaha keras menutupinya dengan senyum tipis setiap kali menatap istrinya.
Nika mengintip dari balik bantal, memperhatikan suaminya yang tampak kesulitan menyimpul dasi sutranya. Biasanya, Devan melakukannya dengan sangat cekatan, namun pagi ini tangannya seolah tidak sinkron dengan pikirannya.
"Mas... sini," panggil Nika dengan suara serak khas bangun tidur yang sangat manis.
Devan menoleh, lalu berjalan mendekat ke tepi tempat tidur. Nika bangkit, duduk bersila dengan rambut yang masih berantakan. Jemarinya yang lentik meraih ujung dasi Devan, mulai menyimpulkannya dengan telaten.
"Kamu terlalu tegang, Mas. Dasi ini tidak bersalah, jangan ditarik terlalu kencang," bisik Nika sambil mendongak, menatap mata Devan yang tampak lelah.
"Aku hanya memikirkan laporan dari Bali semalam, Ni. Rendy... dia ternyata bukan sekadar mantan yang sakit hati. Dia sudah mulai menanam modal di perusahaan pesaing kita, dan Papa-mu memberikan akses data internal kepadanya," Devan menghela napas, bahunya merosot sedikit.
Nika menghentikan gerakannya. Ia menarik dasi itu sedikit lebih kencang, memaksa Devan untuk menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Dengarkan aku, Devan Adiguna. Rendy itu masa lalu yang berisik, dan Papa adalah masa lalu yang egois. Tapi aku? Aku adalah masa depanmu yang nyata. Jangan biarkan mereka mengambil ketenanganmu."
Nika kemudian melakukan sesuatu yang random. Ia mencolek sedikit sisa krim wajah di pipinya dan menempelkannya di ujung hidung Devan.
"Nika! Apa-apaan ini?" Devan terkejut, namun matanya mulai berbinar geli.
"Itu tanda biar kamu tidak terlalu serius. Kamu terlihat seperti badut kalau sedang marah," Nika tertawa, lalu memberikan kecupan singkat di hidung Devan yang terkena krim.
Ketegangan di wajah Devan luruh seketika. Ia menarik Nika ke dalam pelukannya, menghirup aroma rambut istrinya yang menenangkan. "Bagaimana bisa aku menang melawanmu kalau kamu terus bersikap sekonyol ini?"
"Memang tidak usah menang. Cukup serahkan dirimu padaku malam ini," bisik Nika misterius.
Sepanjang hari, Nika sibuk bukan main. Bukan di kantor Batubara Group, melainkan di sebuah pelabuhan kecil di kawasan Jakarta Utara. Ia menyewa sebuah kapal kayu tradisional yang sudah dimodifikasi menjadi sangat mewah namun tetap terasa hangat. Ia tidak ingin restoran berbintang lima yang kaku; ia ingin sesuatu yang membuat mereka merasa seperti hanya ada mereka berdua di dunia ini.
Malam harinya, Devan datang ke lokasi yang dikirimkan Nika dengan perasaan bingung. Ia masih mengenakan kemeja kerja yang lengannya sudah digulung. Saat ia melangkah ke atas dek kapal, matanya membelalak.
Lantai dek dipenuhi dengan bantal-bantal besar, lampu tumblr kuning yang temaram, dan sebuah meja rendah yang menyajikan... martabak telur ekstra daun bawang dan seplastik besar kerupuk kaleng.
"Selamat malam, Mas Bos," Nika muncul dari balik kabin, mengenakan terusan putih sederhana tanpa alas kaki. Ia tampak begitu cantik di bawah sinar bulan yang mulai muncul dari balik awan.
"Ini... kejutanmu? Kita makan martabak di atas kapal?" Devan tertawa lepas, ia merasa seluruh beban kerjanya menguap begitu saja.
"Iya. Aku tahu kamu bosan dengan steak yang harganya tidak masuk akal itu. Di sini, kita bisa makan pakai tangan, menjilat saus sambal di jari, dan tidak akan ada wartawan atau Rendy yang mengganggu," Nika menarik tangan Devan untuk duduk di atas bantal.
Mereka makan dalam keheningan yang nyaman, hanya suara deburan ombak kecil yang menghantam lambung kapal. Devan benar-benar melakukan apa yang dikatakan Nika; ia makan martabak itu dengan lahap, sesekali menyuapi Nika dan tertawa saat remah martabak menempel di sudut bibir istrinya.
"Ni," panggil Devan setelah mereka kenyang dan kini sedang berbaring berdampingan menatap langit malam yang luas.
"Ya, Mas?"
"Terima kasih. Aku hampir lupa rasanya menjadi manusia biasa tanpa embel-embel CEO atau menantu jaminan utang. Bersamamu, aku merasa... cukup."
Nika memiringkan tubuhnya, menatap profil samping Devan. "Mas, Rendy mungkin punya uang dan dukungan Papa. Tapi dia tidak punya ini," Nika meletakkan tangannya di dada Devan, tepat di atas jantungnya yang berdegup stabil. "Dan dia tidak punya aku yang siap jadi asisten pribadimu yang paling bawel selamanya."
Devan berbalik, menarik Nika ke dalam dekapannya. Di atas kapal yang bergoyang pelan, di tengah laut yang gelap, mereka menciptakan dunia mereka sendiri.
"Besok akan sulit, Ni. Rendy dan Papa pasti akan melakukan gerakan besar untuk menyabotase proyek Bali kita," bisik Devan.
"Biarkan saja mereka mencoba, Mas. Kita akan hadapi pelan-pelan. Satu suap martabak, satu langkah strategi. Tapi malam ini... biarkan laut ini jadi saksi kalau aku cuma milikmu," jawab Nika pelan sebelum ia memejamkan mata, merasa sangat aman di dalam pelukan pria yang dulunya sangat ia benci, namun kini menjadi dunianya.
Di kejauhan, lampu-lampu kota Jakarta berkelap-kelip, seolah menjadi penonton bisu bagi dua jiwa yang baru saja menemukan jangkar mereka di tengah badai kehidupan yang mulai mendekat.