Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.
Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.
Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.
Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Mobil SUV hitam mewah milik perusahaan Harva sudah terparkir di lobi. Harva berdiri di samping pintu penumpang, kacamata hitamnya bertengger di hidung, memberikan kesan pemimpin yang tak terbantahkan. Begitu melihatku keluar bersama Arlan, senyum tipisnya muncul.
"Selamat siang, Rania. Tepat waktu seperti biasa," sapa Harva, mengabaikan keberadaan Arlan yang berdiri kaku di belakangku.
Harva membukakan pintu depan untukku. "Silakan, sekretarisku akan menyetir. Kita bisa diskusi di belakang."
"Maaf, Pak Harva," potong Arlan dengan suara tertahan. "Saya juga diperintahkan Pak Bram untuk ikut dalam peninjauan ini. Di mana saya harus duduk?"
Harva menoleh perlahan, menatap Arlan dari ujung kaki hingga ujung kepala seolah pria itu hanyalah kerikil di sepatunya. "Ah, teknisi data. Kamu bisa duduk di depan samping sopir. Rania dan aku perlu membahas strategi besar di kursi belakang."
Wajah Arlan memerah padam. Menjadi "teknisi data" dan duduk di depan seperti ajudan adalah penghinaan telak baginya yang dulu selalu merasa lebih unggul dari Harva. Namun, dia tidak punya pilihan selain masuk ke mobil dengan rahang mengeras.
Di kursi belakang, suasana terasa sangat kontras. Harva duduk dengan santai, aroma parfum woody yang mahal memenuhi kabin mobil.
"Bagaimana bunganya? Aku harap Lily lebih menenangkan daripada mawar yang agresif," bisik Harva padaku saat mobil mulai membelah kemacetan Jakarta.
Aku melirik spion tengah, mata Arlan tertangkap sedang mengawasi kami dengan tajam melalui pantulan kaca. "Bunganya bagus, Harva. Terima kasih."
Harva tertawa kecil, sengaja sedikit mendekatkan posisi duduknya padaku. Dia membuka tabletnya, menunjukkan beberapa sketsa proyek di Tangerang, tapi jari-jarinya sesekali menyentuh jemariku saat menggeser layar.
"Ran," panggil Arlan tiba-tiba dari kursi depan, suaranya sengaja dikeraskan. "Data Jogja yang kamu minta tadi pagi sudah aku rapikan. Ada beberapa hal yang menurutku hanya kita berdua yang paham detailnya... karena itu kenangan teknis kita di sana."
Aku tahu apa yang dia lakukan. Dia mencoba mengingatkan Harva bahwa dia punya "sejarah" yang lebih panjang denganku.
"Simpan itu untuk nanti, Arlan. Sekarang kita fokus pada proyek Tangerang," jawabku dingin.
Harva hanya tersenyum miring. Dia menatap punggung kepala Arlan, lalu kembali menatapku. "Kenangan teknis? Menarik. Tapi bisnis bukan soal masa lalu yang gagal, Arlan. Bisnis adalah soal siapa yang punya masa depan paling cerah. Benar kan, Rania?"
Kalimat Harva seperti tamparan halus yang mendarat tepat di wajah Arlan.
Sepanjang perjalanan, Harva terus mengajakku bicara tentang hal-hal yang tidak bisa diikuti Arlan—tentang investasi di Singapura, relasinya dengan Bang Haris, hingga rencana makan malam yang dia janjikan. Arlan hanya bisa terdiam, mencengkeram sabuk pengamannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Saat mobil tiba di lokasi proyek yang masih berupa lahan luas di Tangerang, udara panas langsung menyergap.
"Hati-hati, jalannya tidak rata," Harva secara alami mengulurkan tangannya untuk membantuku turun dari mobil yang cukup tinggi.
Aku sempat ragu, tapi saat melihat Arlan sedang menatap kami dengan penuh amarah, aku justru menyambut uluran tangan Harva. Telapak tangannya hangat dan kokoh.
"Rania!" Arlan mendekat dengan cepat, membawakan helm proyek untukku. "Pakai ini. Di sini bahaya."
Harva mengambil helm itu dari tangan Arlan sebelum sempat menyentuhku. "Terima kasih, teknisi. Aku bisa memakaikannya untuk Rania."
Harva memasangkan helm itu ke kepalaku, jarak wajah kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan deru napasnya. Arlan hanya berdiri mematung, matanya berkaca-kaca antara cemburu dan rasa hina yang luar biasa.
Di bawah terik matahari Tangerang, aku menyadari satu hal: Harva sedang menghancurkan Arlan secara perlahan, tanpa perlu mengeluarkan satu kata kasar pun. Dan entah kenapa, ada bagian kecil dalam diriku yang merasa... ini adalah balasan yang setimpal.