Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan Yang Disengaja
Pagi itu cuaca cukup cerah, terik matahari pagi menyorot tepi pantai, udaranya yang hangat menembus permukaan kulit.
Panggung dari kayu sudah berdiri kokoh menghadap laut.
Beberapa deret kursi berjejer rapi di sekitarnya.
Hari ini perusahaan mengadakan upacara untuk menyambut opening ceremony.
Semua peserta creative retreat sudah berkumpul dilapangan.
Suara ombak memecahkan suasana.
Mata Arka menyapu seluruh peserta, ia tidak menemukan sosok perempuan yang ia cari.
Aluna—Masih belum berada dilapangan.
Revan menyuruh Helena untuk menghubunginya karena sebentar lagi acara akan segera dimulai.
"Tadi sih Kak Luna suruh aku duluan, dia akan menyusul, katanya."
Ucap Helena.
Panitia pelaksana memberikan isyarat kepada seluruh anggota untuk segera memulai.
Dari kejauhan terlihat Aluna berjalan menuju ke lapangan.
Di sisi depan lapangan, Arka berdiri bersama beberapa manajer perusahaan. Tangannya terselip di saku celana, sementara pandangannya sesekali menyapu barisan karyawan yang mulai berkumpul.
Upacara pembukaan hampir dimulai.
Angin pantai berembus pelan, menggerakkan bendera kecil yang dipasang di beberapa sudut lapangan.
Arka sebenarnya tidak terlalu memperhatikan kerumunan itu.
Sampai seseorang memasuki lapangan dari sisi kanan.
Langkah Aluna terhenti sejenak di tepi lapangan sebelum ia melangkah masuk. Ia mengenakan gaun cream yang membalut tubuhnya dengan rapi, potongannya sederhana namun mempertegas garis tubuhnya. Lengan pendek yang sedikit mengembang memberi sentuhan anggun, sementara deretan kancing kecil di sisi rok membentuk belahan halus di pahanya. Rambut panjangnya terurai lembut di punggung, bergerak pelan tertiup angin laut saat ia berjalan menuju barisan peserta.
Tanpa sadar, pandangan Arka berhenti.
Untuk beberapa detik, seolah suara di sekitarnya meredup.
Arka memperhatikannya berjalan melewati barisan peserta, mencari tempat di antara tim kreatif.
Ada sesuatu yang berbeda.
Entah karena gaun hitam yang kontras dengan kulitnya yang cerah, atau cara ia berjalan dengan tenang seolah tidak menyadari tatapan orang lain.
Revan melambaikan tangannya, memberikan isyarat pada Aluna untuk datang bergabung dengan timnya.
Upacara pun dimulai, terik matahari yang menyorot langsung ke lapangan membuat beberapa orang merasa tidak nyaman.
Aluna yang berdiri disamping Helena mulai merasakan pusing.
Namun ia berusaha untuk menahannya dan tetap menyeimbangkan tubuhnya.
Setelah upacara selesai, Arka naik ke atas panggung untuk memberikan sambutan dan pidato singkat.
Namun fokusnya terusik oleh sosok Aluna yang terlihat dari kejauhan, Arka melihatnya dengan tubuh yang beberapa kali hampir jatuh.
Arka menutup pidatonya dan menyerahkannya kepada manajer lain untuk melanjutkan pidato selanjutnya.
Arka berjalan menuju barisan tim kreatif, Aluna terlihat masih memejamkan matanya berusaha untuk menahannya.
Arka mendekati Aluna, ia berdiri di sampingnya, tangan Arka melingkar di pinggang Aluna, ia menahan beban tubuh Aluna agar tidak terjatuh.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Arka berbisik di telinga Aluna.
Aluna hanya diam. Pusing di kepalanya membuatnya hampir hilang kesadaran, tubuhnya panas karena terik matahari yang menyorot langsung ke tubuhnya.
"Tahan sedikit lagi. Saya disini."
Tangan Arka terus melingkar di pinggang Aluna sepanjang upacara.
Sesekali ia menahan tubuh perempuan itu ketika sempoyongan.
Aluna berusaha terlihat profesional, menahan dirinya agar tidak jatuh pingsan—Sampai ia menghiraukan Arka yang tengah berada disampingnya.
Tanpa mereka sadari.
Semua mata tertuju pada Arka dan Aluna.
Perlakuan seorang CEO yang tidak biasa kepada karyawannya.
Revan yang melihat mereka berdua hanya diam dengan wajah datar yang sulit untuk dijelaskan.
Tatapannya terlihat sinis ketika melihat bosnya berada terlalu dekat dengan Aluna.
Namun ia tidak bisa melakukan apapun.
Beberapa menit kemudian.
Upacara berakhir, Helena membantu Aluna berjalan menuju Villa.
Tubuhnya terlihat lemas, keringat bercucuran membasahi tubuhnya.
Revan memberikan air mineral untuk Aluna.
"Kamu istirahat di kamar saja, Aluna," perintah Revan.
"Nggak perlu, Kak," ia mengusap eluh di wajahnya. "Cuma butuh minum dan berteduh aja." Lanjutnya.
Revan dan Helena memperhatikan rekannya yang kini terlihat pucat.
"Lagian sebentar lagi kita ada kegiatan workshop kreatif."
Tegas Aluna.
***
Aula terbuka resort itu dipenuhi suara percakapan dan gesekan kursi. Di depan ruangan, layar proyektor menampilkan slide bertuliskan Creative Workshop: Building Impactful Campaigns.
Para peserta duduk berkelompok bersama tim masing-masing.
Seorang fasilitator dari divisi strategi berdiri di depan, menjelaskan materi sambil sesekali menunjuk grafik dan contoh kampanye yang muncul di layar.
“Dalam kampanye kreatif,” katanya, “ide yang bagus saja tidak cukup. Kalian harus tahu bagaimana membuat audiens merasa terhubung dengan cerita yang kalian bangun.”
Beberapa peserta mulai mencatat, sementara yang lain berdiskusi pelan dengan timnya.
Di salah satu meja, Aluna duduk bersama Revan dan Helena.
Laptopnya sudah terbuka, jari-jarinya bergerak cepat menuliskan poin-poin penting yang baru saja dijelaskan.
Sesekali ia mengangkat pandangannya ke layar.
Di sisi lain ruangan, Arka berdiri memperhatikan jalannya workshop. Tangannya terlipat di dada, sesekali berjalan perlahan di antara meja-meja peserta.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan—hingga tanpa sengaja berhenti pada satu orang.
Aluna.
Namun kali ini Arka tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya berdiri beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya.
Sementara workshop kreatif itu terus berjalan, dipenuhi diskusi, ide-ide baru, dan catatan yang semakin memenuhi halaman-halaman buku para peserta.
Dia jam telah berlalu, beberapa orang telah meninggalkan aula, workshop kreatif telah selesai.
Aluna mengemasi beberapa barangnya dimeja, laptop dan dokumen.
Dari balik pintu, Arka berdiri memperhatikannya.
Aluna berjalan menuju pintu keluar, ia melihat bosnya berdiri ditengah-tengah pintu.
Aluna hendak melewati pintu namun Arka menghalangi pintu itu.
"Permisi, Pak," ucap Aluna dengan sopan dan sedikit menunduk.
Hening. Tidak ada jawaban.
Kepala Aluna terangkat, ia melihat Arka tetap diam berdiri di pintu.
Arka hanya menatap Aluna, kedua tangannya masuk kedalam saku celananya.
"Maaf, Pak. Saya ingin lewat."
Jelas Aluna.
"Yasudah, lewat."
Kalimatnya datar.
Aluna mengerutkan alisnya. "Tapi Bapak menghalangi pintu."
"Memangnya kenapa?"
Bertanya seolah ia tidak berbuat kesalahan.
"Ya kalau begitu saya tidak bisa keluar dong, Pak."
Kali ini nada Aluna terdengar kesal.
Arka terkekeh kecil, "lihat wajah saya." Arka menunjuk wajahnya. "Ada kamu lihat saya peduli."
Mendengar itu Aluna semakin kesal.
"Bapak ingin mengganggu saya lagi?"
"Saya tidak punya waktu untuk itu."
"Lalu apa?"
"Saya hanya ingin melihat kamu kesal." Arka tersenyum sinis.
"Oh Tuhan. Beri aku kesabaran."
Aluna mendesah kesal. Ia tidak ingin berlama-lama berada di dekat bosnya yang gila itu. Ia akhirnya menabrak tubuh Arka melewati pintu.
Saat hampir keluar dari pintu, tiba-tiba langkah Aluna terhenti, ia merintih sakit dan memegangi rambutnya.
Arka menarik rambut Aluna hingga membuat tubuh Aluna kembali ke hadapannya.
"Pak Arka."
Aluna menjerit kesal.
Arka tertawa puas, ia mendekatkan wajahnya pada Aluna.
"Jangan pernah berlalu lebih dulu, meninggalkan saya."
Setelah mengucapkan kalimat itu ia pergi meninggalkan Aluna sendiri di aula.
Aluna menyipitkan matanya, "dasar CEO gila."
***
Malam di pulau itu terasa berbeda dari malam di kota.
Aluna duduk di ambang jendela kamarnya yang terbuka lebar.
Tirai tipis di sampingnya bergerak perlahan tertiup angin laut yang masuk bersama aroma asin khas pantai.
Ia menyandarkan bahunya pada bingkai jendela, membiarkan udara malam yang sejuk menyentuh wajahnya.
Dari kamar itu, laut terlihat samar di kejauhan. Ombak yang pecah di bibir pantai terdengar pelan, seperti irama yang menenangkan.
Langit malam di atas pulau itu juga terasa jauh lebih luas.
Tanpa cahaya kota yang biasanya mengaburkan pandangan, bintang-bintang tampak lebih jelas, dan banyak, berkilau di atas hamparan langit gelap seperti titik-titik cahaya kecil yang tersebar tanpa pola.
Aluna mengangkat wajahnya sedikit, menatap langit itu dengan tenang.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di retreat ini, pikirannya terasa lebih ringan.
Suara tawa beberapa peserta terdengar samar dari area resort yang masih ramai. Namun di kamarnya, suasana terasa jauh lebih sunyi.
Ia menarik napas panjang, membiarkan udara malam memenuhi paru-parunya.
Angin kembali berembus pelan, menggerakkan rambut panjangnya yang terurai di bahu.
Aluna menutup matanya sejenak.
Malam di pulau ini terasa damai.
Seolah semua kesibukan, rapat, dan tuntutan pekerjaan yang biasanya mengikutinya di kota—sementara tertinggal jauh di tempat lain.
Namun entah kenapa, di balik ketenangan itu, satu bayangan wajah justru muncul di benaknya.
Seseorang yang membantunya untuk tetap bertahan di tengah teriknya matahari saat upacara.
Seseorang yang selalu menganggunya.
Aluna membuka matanya lagi.
Langit masih dipenuhi bintang.
Tapi pikirannya tidak lagi setenang beberapa menit yang lalu.
Sampai suara seseorang mengagetkannya...
"Kamu suka kamarnya?"
Arka tiba-tiba muncul entah darimana, berdiri didepan jendela. Wajah mereka saling berhadapan.
"Pak Arka?" Sontak Aluna kaget. "Sedang apa disini?"
"Kamu belum menjawab pertanyaan saya."
Aluna diam sejenak. "Saya suka kamarnya."
Mimik wajahnya terlihat bingung.
"Ucapkan terima kasih, dong."
Ia berdiri di dekat jendela yang terbuka. Kepalanya bersandar ringan pada kusen jendela, sementara salah satu tangannya terangkat dan bertumpu di sisi bingkai kayu itu. Posisi itu membuatnya terlihat santai.
Aluna sedikit bingung. "Kenapa saya harus berterima kasih kepada Bapak?"
"Karena tidak semua orang memiliki pemandangan kamar seperti ini."
"Kalau begitu saya harus berterima kasih kepada pemilik resort ini, karena telah memilih saya untuk menikmati salah satu kamar VIP mereka."
Arka mendekatkan wajahnya pada Aluna.
"Dan saya adalah orang yang memilihnya untuk mu."
Jantung Aluna berdegup sangat kencang.
Entah karena wajah bosnya yang kini berada sangat dekat dengan nafasnya, atau karena kamar ini sengaja dipilih untuknya.
Malam menjadi terasa sangat dingin.
Suara deburan ombaknya kini terdengar lebih jelas. Waktu terasa berhenti diantara mereka.
Tiba-tiba ponsel milik Aluna yang tergeletak diambang jendela di raih oleh Arka.
Reflek Aluna berteriak, "Pak, itu ponsel saya." Ia menahan tangan Arka.
"Jika ponsel ini penting. Datang ke dermaga saat tengah malam."
Arka berlalu meninggalkan Aluna dengan membawa ponsel miliknya.
***