Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Titik Tidak Kembali
Akhirnya, setelah hampir seminggu berkuda, sebuah pemandangan megah membentang di depan mata.
Pelabuhan Meridian.
Kota ini sama sekali berbeda dengan Veridia. Jika Veridia megah dan berwibawa dengan istananya, Meridian hidup dan berisik. Tembok kotanya lebih pendek, seolah menyambut kedatangan dari segala penjuru. Suara teriakan pedagang, derit katrol, dan lengkingan burung camar memenuhi udara. Kapal-kapal dengan berbagai bentuk dan ukuran—dari kapal layar ramping hingga kapal dagang besar yang kekar—bersandar di dermaga yang panjang, layar-layarnya terkembang seperti sayap raksasa.
"Kita sampai," gumamku, merasa lega sekaligus cemas.
Kami melewati gerbang kota dengan mudah, hanya membayar sedikit koin sebagai pajak masuk. Penjaga gerbang hampir tidak melirik kami, terlalu sibuk dengan lalu lintas yang padat.
Di dalam, kota ini adalah labirin. Jalanan sempit dan berliku dipadati oleh orang dari berbagai ras. Aku melihat manusia dengan kulit gelap dan mata tajam seperti yang dideskripsikan Eveline, berbaur dengan manusia berkulit sawo matang yang mungkin dari kepulauan. Bahkan aku menyaksikan beberapa sosok furry—manusia dengan telinga seperti kucing atau ekor berbulu—yang lalu lalang tanpa menarik perhatian khusus. Dunia ini ternyata memang sangat beragam.
Tujuanku jelas: mencari informasi.
Pertama, aku menuju ke distrik pedagang. Sebuah penginapan besar bernama "The Drunken Kraken" menjadi pilihan. Tempatnya ramai, berisik, dan sempurna untuk menyamar dalam kerumunan. Aku menyewa sebuah kamar kecil di lantai dua dengan jendela menghadap ke pelataran dalam.
"Kita akan tinggal di sini sementara," kataku pada Eveline setelah menutup pintu. "Aku akan mulai mencari informasi. Kau tetap di sini. Jangan buka cadarmu. Jangan bicara dengan siapa pun."
"Baik, Tuanku," jawabnya, lalu duduk di atas dipan dengan patuh, tangannya terlipat rapi di atas pangkuan.
Keluarlah aku, menyusuri jalanan berbatu menuju tempat yang kuharap menjadi pusat informasi: Perpustakaan Guild Pedagang.
Gedungnya besar dan praktis, terbuat dari batu bata merah. Di dalamnya, rak-rak kayu penuh dengan buku catatan logistik, peta pelayaran, dan arsip perdagangan. Seorang petugas tua dengan kacamata tebal menyambutku.
"Bisa kubantu, Anak Muda?" tanyanya.
"Aku... peneliti dari Veridia," bohongku halus, mencoba menyamarkan logat Jakartaku. "Aku tertarik mempelajari sejarah dan legenda Kekaisaran Aethelgard, khususnya yang berkaitan dengan... fenomena anomali atau orang asing dari negeri jauh. Apakah ada arsip seperti itu?"
Petugas itu mengerutkan kening. "Sejarah dan legenda? Itu bukan bidang kami. Coba kunjungi Archives of the Fallen di distrik akademi. Tapi hati-hati, tempat itu... dianggap sial. Mereka mengoleksi teks-teks tentang dewa jatuh, sihir terlarang, dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan."
Archives of the Fallen. Namanya saja sudah membuat bulu kudukku berdiri. Tapi itu terdengar seperti tempat yang tepat.
"Terima kasih atas informasinya," ucapku sambil memberikan beberapa koin perak sebagai tanda terima kasih.
Petua itu mengangguk, menyimpan koinnya dengan cepat. "Ingat, Anak Muda. Beberapa pengetahuan lebih baik tidak digali."
Nasihat itu justru membuatku semakin yakin. Aku berada di jalur yang benar. Kembali ke penginapan, pikiranku dipenuhi oleh rencana baru. Besok, aku akan mengunjungi Archives of the Fallen. Mungkin di sanalah aku akan menemukan petunjuk—tentang duniamu, tentang kekuatanku, dan mungkin, tentang jalan pulang.
Namun, satu hal yang kusadari: setiap langkah dalam pencarian ini justru semakin menjerumuskanku ke dalam misteri dunia baruku. Dan di kota pelabuhan yang ramai ini, di mana setiap orang bisa menjadi kawan atau lawan, aku harus berjalan dengan sangat, sangat hati-hati.
Lalu tidak lama itu aku menemukan sebuah buku yang membuat rasa penasaranku untuk mengambilnya, Dengan tangan gemetar, aku balikkan halaman demi halaman buku kulit tua itu. Debu beterbangan, membuatku hampir bersin. Lalu, mataku tertuju pada sebuah bab berjudul "Catatan Pengamat Realitas: Manifestasi Anomali Abad ke-5 Kekaisaran".
Jantungku berdegup kencang. Ini dia.
Tulisan-tulisan itu mengungkapkan sesuatu yang membuat darahku membeku. Aku bukan yang pertama. Ada orang-orang lain sebelumku, orang-orang dari dunia yang kukenal, yang entah bagaimana tersesat ke tempat ini persis sepertiku.
Ada seorang pria bernama Ivan Petrovich, dari negeri dingin bernama Rusia. Dia ditemukan di Dataran Es Utara Aethelgard, dengan kemampuan yang membuatku ternganga: mengubah besi biasa menjadi emas murni hanya dengan sentuhan tangannya. Catatan itu menuliskan akhir yang suram; dia menghilang setelah kekayaannya yang tiba-tiba membuat ekonomi kadipaten setempat kacau balau. Ditulis dengan singkat: "Dianggap diculik atau dibunuh oleh pihak yang berkepentingan."
Lalu, ada James "Jim" Walker dari Australia. Dia muncul di gurun tandus selatan dengan kekuatan yang tak kalah ajaib: menciptakan mata air jernih di tempat yang paling kering sekalipun. Awalnya disembah suku setempat, dia lalu menghilang begitu saja setelah mata airnya tiba-tiba berubah keruh.
Halaman berikutnya membuatku tercekat. Ahmad Raza bin Abdullah dari Malaysia. Dia bisa melihat masa depan melalui mimpinya, menjadi penasihat laksamana armada laut yang ditakuti. Tapi kekuatannya itu berbalik menjadi kutukan; dia perlahan-lahan menjadi gila karena tidak bisa lagi membedakan mana mimpi dan mana kenyataan. Catatan terakhir menyebutkan dia terlihat berjalan sendirian menuju lautan dan tidak pernah kembali.
Dan yang membuatku paling terpukul adalah nama berikutnya: Budi Santoso, dari Indonesia. Seorang yang bisa mewujudkan apa pun yang dia bayangkan. Dia digunakan oleh kelompok pemberontak untuk menciptakan senjata aneh, lalu ditangkap. Yang membuatku merinding, tubuhnya menghilang dari sel penjara bawah tanah yang paling dijaga ketat, seolah menguap begitu saja.
Terakhir, mataku menatap sebuah entri yang belum lengkap. Hanya tertulis inisial "R.S.", dengan tempat asal yang masih kosong. Kolom deskripsi kekuatannya sudah terisi: "Pembangkit Tanpa Pengorbanan".
"A...anjir..." gumamku, suara serak, hampir tidak percaya. Buku itu jatuh dari tanganku, menyemburkan debu ke mana-mana. "Gue... gue nggak sendirian."
Perasaan kesepian yang selama ini menggerogoti tiba-tiba tergantikan oleh rasa ngeri yang lebih dalam. Ada orang-orang sepertiku. Dari Jakarta, dari Kuala Lumpur, dari Moskow. Mereka punya kekuatan luar biasa. Tapi nasib mereka... semua sama. Menghilang. Entah dibunuh, dikurung, atau menjadi gila.
Pikiranku langsung melayang kepada Paman Alaric. Sekarang aku mengerti. Ketakutan dan keheranannya bukan hanya karena kekuatanku. Dia tahu polanya. Dia tahu tentang "Pendatang Celah" dan akhir tragis mereka. Itu sebabnya dia buru-buru menyuruhku pergi dari istana.
Aku harus menemukan jawabannya. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? Apakah ada yang berhasil pulang? Atau jangan-jangan, kekuatan anomali ini adalah semacam kutukan yang pada akhirnya akan menghancurkanku juga?
Dengan tekad baru, aku menggenggam buku itu erat-erat. Arsip ini baru permulaan. Aku harus menggali lebih dalam. Mungkin, di balik nasib kelam para Pendatang Celah inilah, tersembunyi kunci untuk memahami kekuatanku... dan satu-satunya jalan untuk pulang.
Aku terus membalik halaman dengan napas tertahan, berharap menemukan petunjuk lebih lanjut tentang nasib para Pendatang Celah lainnya. Namun, setelah catatan tentang Budi Santoso yang menghilang dari penjara, yang kutemukan adalah... kekosongan.
Sebuah robekan kasar membelah buku itu. Beberapa halaman berikutnya tercabut dengan paksa, meninggalkan sisa-sisa kertas yang compang-camping di punggung buku. Jantungku berdebar kencang. Ini bukan kerusakan karena usia. Ini sengaja. Seseorang telah menghilangkan informasi di sini.
Apa yang begitu pentingnya sampai harus dirobek?
Apakah ada Pendatang Celah yang berhasil?
Atau... ada kebenaran yang begitu berbahaya sampai harus disembunyikan?
Aku memeriksa robekan itu dengan cermat. Di pinggiran kertas yang tersisa, hampir tidak terbaca, tergores coretan tinta yang pudar. Aku mendekatkannya ke cahaya lampu minyak yang redup. Sebuah kata, tertulis terburu-buru, hampir seperti pesan rahasia:
"Pulau... Ny..."
Sebagian hurufnya hilang, terkoyak oleh robekan. Pulau Ny? Pulau Nyawa? Pulau Nyata? Pikiranku langsung melesat ke legenda yang kudengar dari petugas perpustakaan guild—"Pulau Yang Terlupakan". Apakah ini kuncinya?
Tanpa buang waktu, aku menyembunyikan buku itu di balik jubahku. Aku harus pergi. Siapa pun yang merobek halaman-halaman ini pasti tahu nilai informasinya. Bisa jadi mereka masih memantau tempat ini.
Dengan langkah cepat tapi tidak terburu-buru, aku meninggalkan Archives of the Fallen. Aku menyusuri jalanan sempit Meridian, pikiranku berputar-putar.
Siapa yang merobek catatan itu?
Ordo Kefanaan yang disebutkan dalam legenda?
Pihak Kekaisaran yang ingin menyembunyikan keberadaan Pendatang Celah?
Atau... mungkin salah satu dari Pendatang Celah itu sendiri yang berusaha menghapus jejaknya?
Tujuanku kini jelas. Aku harus mencari informasi tentang "Pulau Yang Terlupakan". Jika itu adalah tempat di mana para Pendatang Celah menghilang, atau mungkin tempat di mana "celah" antara dunia berada, maka aku harus mencapainya.
Tapi bagaimana caranya? Aku tidak bisa begitu saja bertanya tentang pulau legenda yang dianggap sial. Itu akan menarik perhatian yang tidak diinginkan.
Saat melewati pasar ikan yang bau dan ramai, sebuah ide muncul. Pelabuhan. Di mana ada pelabuhan, di situ ada pelaut tua yang tahu cerita-cerita yang tidak tertulis di buku mana pun. Mereka adalah arsip berjalan yang penuh dengan kisah-kisah omong kosong... dan kadang-kadang, kebenaran.
Aku menuju ke sebuah kedai kumuh di dekat dermaga, tempat para pelaut berpengalaman berkumpul minum bir keras setelah berbulan-bulan di laut. Ini akan menjadi langkah selanjutnyaku. Duduk di sudut yang gelap, mendengarkan, dan berharap ada yang tanpa sengaja menyebut nama pulau yang kucari. Atau mungkin, menemukan seorang pelaut yang cukup nekat—atau cukup putus asa—untuk membawaku ke sana.
Saat niatku untuk menyewa sebuah kapal menuju "Pulau Yang Terlupakan" pupus satu per satu. Setiap pelaut tua yang kutanya di kedai kumuh itu menggeleng, mata mereka berbinar bukan karena tawaran koin emas, tapi karena ketakutan yang mendarah daging.
"Pulau Hantu, Nak," kata seorang pelaut bermata satu, tangannya menggenggam gelas bir erat-erat. "Bukan tempat untuk orang hidup. Kabut putihnya... bukan kabut biasa. Dia hidup. Menelan kapal dan jiwa. Siapa pun yang masuk, tak pernah kembali. Bukan sekadar mati, tapi... hilang."
Yang lain menambahkan, "Sudah puluhan tahun tak ada yang nekat. Dulu ada pedagang gila, bayar mahal. Kapalnya lenyap, hanya pecahan papan yang hanyut seminggu kemudian, penuh coretan kata 'jangan datang'."
Gue harus ke sana. Kalimat itu bergema di kepalaku. Tapi mendengar penuturan mereka, rasa takut yang nyata merayap di tulang belakangku. Ini bukan lagi soal berani atau tidak. Ini seperti bunuh diri. Tapi di balik ketakutan itu, ada desakan yang lebih kuat. Semua petunjuk mengarah ke sana. Para Pendatang Celah, kekuatanku, mungkin bahkan jawaban untuk pulang—semuanya berujung pada pulau terkutuk itu.
Ini gila. Tapi apa pilihanku? Hidup sembunyi-sembunyi selamanya di dunia ini, dijaga seperti harta sekaligus ancaman? Atau mencoba, meski kemungkinan suksesnya nol koma sekian persen?
Aku menarik napas dalam. "Kalau begitu," ujarku, mencoba terdengar lebih percaya diri daripada yang sebenarnya kurasakan, "aku butuh perahu. Bukan kapal besar. Cukup yang bisa membawaku dan..." aku menunjuk Eveline yang berdiam di sampingku, "...rekan saya ke sana."
Kulihat mereka saling pandang. Aku mengira mereka akan menertawakanku. Sebaliknya, ada rasa iba di mata mereka.
Seorang pelaut paling tua, yang mereka panggil Kapten Liam, berdiri. "Kau tidak butuh membeli, Anak Muda." Dia menuntunku ke ujung dermaga, di mana sebuah perahu layar kecil terikat, catnya mengelupas dan kayunya tua, tapi terlihat kokoh. "Ambil saja 'Si Bandel' ini. Dia sudah lama tidak dipakai. Lebih baik dia mati terhormat di lautan daripada membusuk di sini."
Aku terkejut. "Saya tidak bisa—"
"Diam," potongnya, meletakkan tangannya yang kasar di bahuku. "Koinmu tidak ada gunanya di sana. Tapi... keberanianmu, atau mungkin kebodohanmu, itu yang layak dihargai." Dia memandangku dan Eveline, lalu mendesah. "Semoga Dewa Laut memberkatimu. Atau setidaknya, memberimu ketenangan di akhirat nanti."
Para pelaut lain hanya mengangguk, wajah mereka serius. Seorang pelaut muda memberiku sebuah kantong berisi air dan roti kering. "Untuk bekal," bisiknya. "Kami tidak bisa melakukan lebih dari ini."
Perasaan campur aduk membanjiriku. Di satu sisi, aku merasa seperti narapidana yang diantar ke kursi hukuman mati dengan "kebaikan hati". Di sisi lain, ada rasa terima kasih yang dalam pada orang-orang kasar ini yang, meski takut, masih mau membantu seorang asing yang jelas-jelas ingin mati.
Dengan hati berat, aku dan Eveline naik ke perahu itu. Aku menarik tali, membuka layar yang tipis dan berlubang. Angin pagi meniupnya perlahan, membawa perahu kami menjauhi dermaga, meninggalkan Pelabuhan Meridian dan segala "kenormalan"-nya yang masih bisa kupahami.
Eveline berdiri di ujung perahu, cadarnya berkibar, menatap lurus ke depan menuju lautan lepas yang biru kelam. Aku, Rian Saputra, memegang kemudi dengan tangan berkeringat, mengarahkan perahu tua ini menuju kabut legenda yang mungkin akan menjadi kuburanku—atau justru, satu-satunya jalan pulang.
Ini pasti ide terburuk yang pernah gue lakukan seumur hidup, batinku, sambil memandangi ombak yang mulai meninggi. Tapi ketika melihat buku catatan usang yang kusembunyikan di jubah, dan mengingat nasib Ivan, Jim, Ahmad, dan Budi, aku tahu... aku tidak punya pilihan lain.
Hari demi hari berganti di atas perahu tua yang kami beri nama "Si Bandel". Matahari menyengat tanpa ampun, memantulkan kilauan menyilaukan dari permukaan air laut yang biru tua. Kulitku yang terbiasa dengan iklim tropis Jakarta mulai terasa perih terbakar. Persediaan air dan roti kering yang diberikan para pelaut mulai menipis, memaksaku untuk mengatur jatah dengan ketat.
Di hari ketiga, perutku keroncongan. Dengan hati-hati, aku membagi sisa roti terakhir menjadi dua bagian yang tidak terlalu seimbang, bagian yang lebih besar kusodorkan kepada Eveline yang duduk tegak di buritan, tatapannya kosong menatap horizon.
"Makan," ujarku, suara serak karena haus dan terik. "Kita tidak tahu berapa lama lagi perjalanan ini."
Eveline menoleh, matanya yang biru pucat menyipit sedikit di bawah cahaya matahari. "Aku tidak membutuhkannya, Tuanku. Tubuhku tidak merasakan lapar atau haus."
"Tapi tubuhmu tetap butuh asupan," bantahku, tetap menyodorkan roti itu. "Lihat, kulitmu... masih terlihat seperti kulit manusia. Otot, darah... semuanya butuh energi untuk tetap... berfungsi."
Dia terdiam sejenak, seolah memproses pernyataanku. "Energiku berasal dari 'cahaya biru' itu. Dari ikatan kita. Dari manamu. Itu lebih dari cukup."
"Aku tidak peduli," kataku, suara sedikit membesar karena frustrasi. "Ini bukan sekadar tentang energi. Ini tentang... hak." Aku menatapnya langsung. "Meskipun kau tidak merasakan lapar, meskipun kau tidak butuh, tubuh ini pernah hidup. Dia punya hak untuk diperlakukan dengan layak, bukan disiksa dengan kelaparan palsu. Sekarang, makanlah. Itu perintah."
Eveline memandangiku lama, ekspresi datarnya seolah retak sepersekian detik. Lalu, dengan patuh, dia mengambil roti itu. Tangannya yang pucat memegangnya dengan canggung, seolah lupa bagaimana caranya makan. Dia menyuapkannya ke mulutnya kecil-kecil, mengunyah dengan gerakan mekanis tanpa ekspresi enjoyment. Tapi dia melakukannya.
Saat kuberikan segelas air, dia juga meminumnya, meski tampaknya hanya sekadar membasahi tenggorokan yang tidak merasa kering.
"Terima kasih, Tuanku," ucapnya setelah selesai, suaranya tetap monoton.
Aku menghela napas, memandangi lautan kosong di sekeliling. Hubungan kami aneh. Dia adalah produk dari kesalahanku, sebuah konsekuensi dari celetukan bodoh. Tapi di tengah kesendirian dan ketidakpastian ini, dia adalah satu-satunya yang kupunya. Melihatnya hanya sebagai "boneka" terasa semakin salah.
Keesokan harinya, saat kabut pagi mulai menipis, sesuatu di kejauhan membuat jantungku berhenti sejenak.
Sebuah gunung tinggi menjulang, puncaknya tersembunyi di balik awan. Tapi yang membuat nafasku tersangkut adalah apa yang mengelilinginya: sebuah dinding kabut putih yang begitu tebal dan padat, seolah-olah terbuat dari kapas raksasa. Kabut itu tidak bergerak alami seperti kabut laut pada umumnya. Dia diam, statis, dan terlihat... padat. Seperti penghalang yang sengaja diciptakan.
Perasaan merinding merayapi sekujur tubuhku. Setiap naluriku berteriak untuk berbalik arah. Cerita-cerita para pelaut tentang kapal yang hilang, tentang orang-orang yang tidak pernah kembali, bergema di kepalaku.
Ini gila. Benar-benar gila.
Tapi di balik ketakutan itu, ada sebuah ketenangan aneh. Ini adalah akhir dari pencarian. Di balik kabut itulah semua jawaban mungkin berada. Nasib para Pendatang Celah lainnya. Asal usul kekuatanku. Dan mungkin, hanya mungkin, jalan pulang.
Aku melihat ke arah Eveline. Dia sudah berdiri, menatap lurus ke arah kabut itu, seolah bisa menembusnya.
"Kau siap?" tanyaku, suaraku lebih berani dari yang kurasakan.
Dia mengangguk. "Aku akan mengikutimu, Tuanku. Sampai ke ujung mana pun."
Dengan tangan yang sedikit gemetar, kukencangkan tali layar dan kukemudikan "Si Bandel" tepat menuju dinding kabut putih yang menyeramkan itu. Lautan di depanku tenang secara tidak wajar, seolah alam sendiri menahan napas.
Ini adalah titik tidak kembali. Entah aku akan menemukan kebenaran, atau hilang selamanya seperti yang lain. Tapi satu hal yang pasti: diam dan tidak melakukan apa-apa bukanlah pilihan. Aku harus maju.