NovelToon NovelToon
Vessel Of Eternity

Vessel Of Eternity

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Iblis / Kutukan / Romansa
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10

Kenzie menarik napas panjang. Ia tahu saat ini tidak ada gunanya lagi bersembunyi. Jika Julian sudah membuka rahasia terdalamnya, maka Kenzie berutang sebuah kejujuran.

"Namaku Kenzie, dan aku telah hidup selama empat ratus tahun." Kenzie memulai ceritanya. "Aku bukan Aethern. Aku adalah sesuatu yang berbeda, sesuatu yang dianggap mitos bahkan oleh kaummu. Ibuku bilang, aku adalah pemegang keabadian tanpa syarat. Aku tidak butuh mengonsumsi esensi lain dan aku tidak memiliki cacat. Aku hanya tetap ada."

Julian terbelalak. "Jadi legenda The Constant itu benar? Tentang mereka yang tidak diciptakan, tapi memang ada sebagai penyeimbang waktu?"

"Mungkin." jawab Kenzie getir. "Tapi seperti katamu, Julian, mencintai manusia adalah kutukan. Dan aku sudah berhenti mencintai siapa pun sejak tiga ratus tahun yang lalu. Aku hanya ingin bersembunyi. Namun, sepertinya takdir membawaku ke rumah ini agar aku bisa melihat bahwa ada orang yang jauh lebih menderita dariku karena mereka masih berani untuk mencintai."

Mereka berdua terdiam, dua entitas abadi yang terjebak di tengah badai manusia, dikelilingi oleh dinding-dinding rumah yang menyimpan rahasia tentang cinta, waktu dan keputusasaan. Di bawah sana, suara tawa kecil Clara dan denting cangkir teh Elena terdengar sayup-sayup, pengingat bahwa di balik segala kegelapan ini, masih ada sedikit cahaya yang coba dipertahankan Julian dengan segenap nyawanya.

"Lyana pasti akan mengejarmu, Kenzie." peringat Julian, memecah keheningan. "Dia merasakan kemurnianmu. Baginya, kau adalah obat. Kau adalah solusi untuk memperbaiki dirinya atau lebih buruknya membuatmu berhadapan dengan Stefanny. Dia tidak akan berhenti."

"Aku tahu." jawab Kenzie tegas. "Tapi dia harus tahu satu hal. Keabadian yang didapat dari mencuri bukanlah hidup. Itu hanyalah kematian yang ditunda."

Julian tidak bersuara lagi. Ia hanya menatap Kenzie dalam-dalam, sebuah tatapan yang melampaui dimensi ruang dan waktu di kamar itu. Dalam pupil matanya yang biru jernih, Kenzie melihat pantulan dirinya sendiri, sebuah entitas yang telah mengarungi abad demi abad tanpa tujuan, kini bertemu dengan seseorang yang memikul beban yang sama, meski dengan cara yang berbeda.

Tangan Julian yang tadinya memegang pinggiran meja perlahan terkulai di sisi tubuhnya. Keheningan di antara mereka begitu pekat, hingga detak jam dinding di koridor kamar terdengar seperti dentum palu yang menghantam paku keabadian.

Julian melangkah satu langkah lebih dekat. Atmosfer di ruangan itu mendadak berubah, bukan lagi tentang predator dan mangsa, bukan lagi tentang Aethern dan sang The Constant. Ada tarikan magnetis yang aneh di antara mereka, dua kutub yang selama ini terisolasi kini menemukan resonansi.

Tanpa sadar, Julian mengulurkan tangannya. Jemarinya yang dingin menyentuh helai rambut Kenzie yang sudah mengering sempurna, menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu dengan gerakan yang sangat perlahan. Itu adalah gerakan yang penuh dengan rasa hormat, namun juga sarat dengan kerinduan akan koneksi yang nyata.

Julian melangkah satu langkah lagi, kali ini begitu dekat karena Julian membungkukkan badannya ke arah Kenzie yang terduduk, hingga ruang di antara mereka seakan lenyap. Kenzie bisa merasakan hawa dingin yang statis memancar dari tubuh Julian, sebuah kontras yang tajam dengan suhu hangat dari mesin pengering rambut yang baru saja mati. Kenzie menahan napas, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Jarak yang tersisa hanya hitungan sentimeter, hidung mereka hampir bersentuhan dan Kenzie bisa melihat pantulan ketidakpastian di dalam iris biru Julian yang sedalam samudera.

Di dalam kamar yang temaram itu, waktu seolah membeku. Kenzie memejamkan mata sesaat, jemarinya mencengkeram pinggiran kursi kayu yang didudukinya. Ia mengira bahwa Julian akan melakukan sesuatu yang melanggar batas, sebuah ciuman atau pelukan yang akan menyatukan dua kutub keabadian yang menderita ini.

Namun, Julian justru melakukan hal yang jauh lebih tenang, namun tetap terasa sangat intim. Dengan posisi yang hampir memeluk Kenzie, lengan kekarnya mengapit sisi tubuh gadis itu, Julian tidak menyentuh bibir Kenzie. Alih-alih itu, ia mengulurkan tangan ke arah meja rias tepat di belakang punggung Kenzie. Dengan gerakan yang sangat perlahan dan penuh kehati-hatian, Julian mengambil alat pengering rambut yang masih tergeletak di sana.

Kenzie bisa merasakan napas Julian yang tenang menyapu keningnya. Suasana itu begitu menyesakkan sekaligus menenangkan. Julian seolah-olah sedang menyelimuti Kenzie dalam perlindungan yang bisu. Laki-laki itu kemudian menarik laci meja rias, menyimpan hairdyer itu kembali ke dalam sana dengan suara klik yang halus.

"Kau aman di sini, Kenzie." bisik Julian, suaranya terdengar tepat di samping telinga Kenzie, rendah dan bergetar. "Setidaknya untuk malam ini."

Julian tidak langsung menjauh. Ia tetap dalam posisi itu selama beberapa detik, memberikan kehangatan buatan di tengah badai yang mengamuk di luar. Namun, momen itu pecah berkeping-keping ketika suara pintu kamar yang tidak tertutup rapat berderit pelan.

Kriet.

Julian dan Kenzie tersentak bersamaan. Mereka menoleh ke arah pintu dan menemukan Elena dengan kursi rodanya berada di ambang pintu. Julian segera menarik tubuhnya menjauh, menciptakan jarak yang aman meskipun sisa-sisa aroma patchouli dan hawa dingin dari kehadirannya masih tertinggal di indra penciuman Kenzie.

Jantung Kenzie, yang biasanya berdetak dalam ritme yang lambat dan tenang, mendadak berpacu kencang. Kenzie menoleh ke arah pintu dengan perasaan waswas, bersiap untuk menghadapi badai emosi atau tatapan penuh luka dari wanita yang telah mendampingi Julian selama puluhan tahun itu. Namun, apa yang mereka temukan justru jauh dari bayangan buruk itu.

Elena duduk di kursi rodanya, tangannya yang kurus terlipat rapi di atas pangkuan yang ditutupi selimut wol. Cahaya temaram dari lorong menyinari wajahnya, mempertegas setiap garis keriput yang menjadi saksi bisu perjalanan waktunya. Alih-alih menampilkan guratan cemburu atau amarah, bibirnya justru melengkung lembut, membentuk sebuah senyuman yang begitu tulus hingga membuat Kenzie merasa dadanya sedikit sesak.

"Apa kalian sudah selesai?" tanya Elena dengan suara parau namun hangat. "Ibu menunggu di bawah, tapi sepertinya kalian terlalu asyik mengobrol sampai lupa waktu."

Julian berdehem, mencoba menetralkan suaranya yang sempat serak karena pengakuan emosional tadi. Ia melangkah mendekati Elena, berlutut di samping kursi roda itu dengan pengabdian yang tak terbantahkan. "Maaf, Bu. Rambut Kenzie sangat tebal, butuh waktu sedikit lama untuk mengeringkannya. Kami tidak bermaksud membuat Ibu menunggu."

Elena terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan daun kering namun penuh kedamaian. Matanya beralih ke arah Kenzie, menatap gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya berhenti sejenak pada sweater gading yang dikenakan Kenzie.

"Sweater itu sangat cocok untukmu, Kenzie." ujar Elena lembut. "Dulu suamiku sangat suka saat aku memakainya. Melihatmu mengenakannya sekarang, rasanya seperti melihat kembali kenangan indah yang sudah lama tersimpan di laci. Kau tampak cantik sekali."

Kenzie terpaku sejenak. Tidak ada kebencian di sana. Tidak ada kecurigaan. Elena menatapnya seolah-olah Kenzie adalah tamu berharga yang akhirnya membawa sedikit warna ke dalam rumah yang sunyi itu. Kenzie menyadari bahwa Elena, dalam kerapuhannya, memiliki jiwa yang jauh lebih besar daripada rasa takutnya akan kehilangan.

"Terima kasih, Tante." jawab Kenzie lirih. Ia merasa seperti seorang penipu yang mengenakan jubah kebaikan, namun kelembutan Elena seolah meluruhkan pertahanannya.

"Ayo turun." ajak Elena sambil menggerakkan roda kursinya perlahan. "Teh melatinya sudah lama jadi. Clara bahkan sudah menghabiskan satu piring biskuit karena bosan menunggu kalian. Jika tidak segera turun, tehnya akan keburu dingin dan rasa hangatnya akan hilang."

Julian berdiri dan mengambil alih kendali kursi roda Elena, mendorongnya dengan sangat hati-hati menuju lift kecil yang terpasang di sudut tangga, sebuah modifikasi modern di rumah tua itu demi kenyamanan istrinya. Sebelum masuk ke dalam lift, Julian melirik ke arah Kenzie, memberikan sebuah isyarat mata yang seolah mengatakan, Terima kasih karena tetap tenang.

Kenzie mengikuti mereka dari belakang. Saat menuruni tangga kayu yang berderit, ia menatap punggung Julian. Ia memikirkan kata-kata Elena tadi. Wanita itu tidak cemburu bukan karena ia tidak mencintai Julian, melainkan karena ia sudah mencapai tahap cinta yang pasrah. Elena tahu Julian adalah makhluk abadi dan ia tampaknya ingin menghabiskan sisa napasnya dengan memberikan kedamaian bagi suaminya, bukan konflik.

Di ruang tengah, Clara sudah duduk bersila di depan perapian, menyesap teh dari cangkir porselen kecil. Begitu melihat mereka, ia melompat bangun.

"Akhirnya!" seru Clara riang. "Kak Kenzie, kemari! Duduk di sebelahku. Ayah bilang—eh, maksudku, Kak Julian bilang biskuit ini buatan toko terbaik di London, tapi menurutku menjadi enak karena dimakan saat hujan deras begini."

Kenzie duduk di atas karpet tebal di samping Clara. Kehangatan api perapian mulai meresap ke dalam sweater nya. Julian duduk di sofa di samping Elena, menuangkan teh untuk Kenzie dengan gerakan yang sangat anggun.

Di luar, badai masih mengamuk, menghantam jendela dengan kekuatan penuh. Namun di dalam ruangan itu, di antara empat orang yang masing-masing menyimpan rahasia besar tentang keabadian dan kefanaan, tercipta sebuah momen domestik yang sangat normal. Sebuah normalitas yang palsu, namun sangat didambakan oleh Kenzie selama ratusan tahun terakhir.

Namun, di tengah kedamaian itu, Kenzie tidak bisa melupakan peringatan Julian. Bahwa di luar sana, dalam kegelapan hujan, Lyana mungkin sedang memperhatikan. Menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan kehangatan rapuh yang baru saja ia rasakan.

...•••...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!