NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Berdirinya Patung Tanpa Wajah Kembali

"Gusti Wira," suara Jenderal Sabrang rendah dan penuh rasa hormat.

"Hamba tahu tekad Anda untuk segera pergi mencari obat dan kekuatan demi Tuan Putri Sekar. Namun, lihatlah diri Anda sendiri. Inti energi Anda baru saja mengalami guncangan besar karena menyerap tiga jenis energi sekaligus. Jika Anda memaksakan diri pergi sekarang melintasi gurun yang ganas ini, Anda bukan sedang menyelamatkan Tuan Putri, melainkan sedang menyerahkan nyawa kalian berdua pada maut." lanjut Jenderal Sabrang mengingatkan dengan hormat.

Mendengar perkataan dari Jenderal Sabrang itu, membuat Wira terdiam sejenak. Ia merasakan denyut di dadanya yang terasa nyeri setiap kali ia menarik napas. Siwa di punggungnya pun bergetar lirih, seolah menyetujui kata-kata sang jenderal.

"Paman Sabrang benar," gumam Wira parau.

"Aku tidak boleh egois. Jika aku tumbang di tengah jalan, tidak akan ada yang bisa melindungi Sekar." lanjut gumamnya.

"Istirahatlah di sini, Gusti. Kerajaan Embun Pagi akan menjamin keamanan kalian. Benua ini berutang nyawa pada kalian berdua," lanjut Jenderal Sabrang.

Wira akhirnya mengangguk. Ia menyetujui untuk singgah beberapa hari, yang tanpa ia sadari nantinya akan berubah menjadi berbulan di benua yang kini sedang dalam masa transisi besar-besaran.

Beberapa hari setelah pertempuran di Lembah Air Mata, suasana politik di Benua Pasir Emas berubah drastis.

Tiga kerajaan besar yang sebelumnya saling berperang kini tunduk di bawah satu kepemimpinan.

Raja dari Kerajaan Embun Pagi, Raja Tirta Kelana, akhirnya tiba di lokasi dengan pasukan bantuan lengkap.

Saat melihat kehancuran yang ditinggalkan dan menyadari bahwa putri satu-satunya, Arum Sari, telah selamat, sang Raja langsung bersujud di hadapan Wira yang sedang duduk beristirahat.

"Pendekar Wira," ucap Raja Tirta dengan suara bergetar.

"Terima kasih saja tidak akan pernah cukup. Anda tidak hanya menyelamatkan putriku, tapi Anda menyelamatkan masa depan benua ini dari kehancuran." lanjut ucapnya dengan bersujud.

Sang Raja kemudian berdiri dan mengumumkan dekrit yang mengejutkan semua orang yang hadir.

"Mulai saat ini, Benua Pasir Emas tidak akan lagi terbagi. Kerajaan Surya, Kerajaan Debu Merah, dan Kerajaan Kalajengking Hitam akan melebur di bawah naungan kekaisaran baru. Dan aku, Tirta Kelana, menunjuk Tuan Wira sebagai Kaisar Tertinggi Benua Pasir Emas!" teriaknya mengumumkan perubahan raja mereka.

Wira yang sedang mengunyah ubi sisa perbekalan langsung tersedak.

"Eh? Tunggu, Paman Raja! Kejadian ini persis seperti di Samudera Biru. Aku tidak bisa! Aku ini pengembara, bukan pejabat!" bantah Wira dengan cepat.

Raja Tirta tersenyum mantap, sebuah tekad yang tidak bisa digoyahkan terpancar dari matanya.

"Gusti, kami tidak meminta Anda duduk di singgasana setiap hari. Kami hanya butuh satu nama, satu simbol yang menyatukan hati rakyat agar kegelapan tidak masuk lagi. Biarkan aku menjadi tangan kananmu, pengelolamu, sama seperti Adiwangsa di seberang lautan sana. Benua ini butuh Kaisar, dan kaisar itu adalah Anda." jawab Raja Tirta dengan hormat tetap dengan pemikirannya.

Wira menghela napas panjang, menatap Sekar yang masih memejamkan mata. Ia menyadari bahwa menolak pun hanya akan membuang energi.

"Baiklah. Lakukan apa yang harus dilakukan. Tapi tugasku yang utama adalah memulihkan Sekar." jawabnya lemas dengan menatap kekasihnya.

Sebagai tindakan pertamanya sebagai Kaisar, Wira berjalan menuju tiga raja yang telah ditawan.

Raja Bhaskara, Raja Maruta, dan Ratu Kala kini sudah sadar, namun tubuh mereka masih bergetar ketakutan. Wira menatap mereka tanpa amarah, hanya ada ketegasan yang dingin.

"Kalian telah mengorbankan sukma rakyat demi kekuatan semu," ucap Wira.

Dengan satu gerakan jari yang dilapisi energi biru langit yang tajam, Wira menyentuh titik ulu hati ketiga raja tersebut secara bergantian.

KRAK!

Inti energi mereka pecah seketika. Mereka tidak mati, namun mereka kehilangan seluruh kultivasi mereka dan kembali menjadi manusia biasa.

"Kalian akan tetap hidup, agar kalian bisa merasakan kepedihan dan kesengsaraan yang sama seperti rakyat kalian yang selama ini kalian tindas. Itulah keadilan yang aku tawarkan." ucap Wira tegas, membuat ketiga raja itu hanya terdiam kesakitan tanpa adanya rasa dendam, dan hanyalah rasa bersalah dan penyesalan.

Di sisi lain, Putri Arum Sari yang melihat kejadian itu dari kejauhan merasa jantungnya berdegup kencang. Ia mengagumi keberanian Wira, namun saat melihat betapa telatennya Wira merawat Sekar yang pingsan, ia merasakan ada sesuatu yang menusuk di dadanya.

Perasaan tertarik mulai tumbuh, namun ia tahu diri. Ia hanya bisa mengamati Wira dari kejauhan, persis seperti yang dilakukan Dewi Ratnawati di Ayodya Pala dulu.

Baginya, Wira adalah matahari yang terlalu terang untuk didekati, namun terlalu indah untuk tidak dikagumi.

Wira kemudian mengirim surat melalui bayangan burung merpati yang ia buat dengan energinya kepada Adiwangsa di Samudera Biru dan Prabu Yudhistira di Ayodya Pala.

Ia meminta mereka mengirimkan utusan, pejabat-pejabat yang jujur, dan tenaga ahli untuk membantu Raja Tirta menata ulang birokrasi di Benua Pasir Emas. Ia ingin menciptakan jaringan kerjasama antar-benua yang solid.

Setelah urusan politik selesai, Wira meminta Jenderal Sabrang untuk mencarikannya tempat yang paling sunyi.

Jenderal Sabrang memilihkan sebuah kediaman tua namun kokoh di perbatasan Kerajaan Surya, jauh dari hiruk pikuk kota.

Tempat itu dikelilingi oleh dinding batu tinggi dan hanya memiliki satu gerbang masuk.

Selama hampir dua bulan, Wira tidak pernah keluar dari kediaman itu.

Dunia luar seolah berhenti bagi Wira. Setiap harinya, ia menghabiskan waktu dengan bermeditasi di samping tempat tidur Sekar.

Dengan penuh kasih sayang, ia membasuh tubuh Sekar dengan air yang dimurnikan, menyisir rambut hitamnya yang kini tak lagi berkilau perak, dan sesekali membisikkan cerita-cerita tentang masa depan yang akan mereka lalui.

Ia sering mengalirkan energinya secara perlahan ke dalam tubuh Sekar, meskipun ia tahu inti energinya telah hancur, namun ia berharap ada keajaiban, meskipun hanya sedikit kesadaran atau gerakan jari.

"Sekar... bangunlah. Ubi di benua ini rasanya berbeda, sedikit lebih manis. Kau harus mencobanya," bisik Wira di suatu senja dengan sedikit senyuman pahit.

Meskipun Wira telah mencapai ranah yang sangat tinggi di mana ia bisa hidup hanya dengan menyerap energi alam, ia tetap mempertahankan kebiasaan manusianya.

Ia tetap makan dan minum. Baginya, rasa lapar dan nafsu makan adalah pengingat bahwa ia tetaplah Wira, bocah manusia dari desa, bukan dewa yang tak berperasaan. Dan tentu saja, kecintaannya terhadap ubi bakar tidak pernah pudar.

Sedangkan untuk Jenderal Sabrang menjalankan tugasnya dengan setia.

Setiap pagi dan sore, ia menaruh nampan makanan di depan pintu kamar Wira, lalu memberikan satu ketukan keras sebagai tanda, tanpa pernah berani mengintip atau mengganggu.

Sebulan yang lalu setelah Wira berada di kediamannya saat ini, Adiwangsa, Prabu Yudhistira, dan Dewi Ratnawati datang berkunjung membawa bantuan logistik dan tenaga ahli.

Namun, saat mereka tiba di depan kediaman Wira, mereka hanya berdiri membisu, karena mereka merasakan aura yang sangat kuat namun sangat tenang terpancar dari dalam rumah itu, sebuah aura seorang pria yang sedang berduka sekaligus sedang menempa jiwanya.

Bahkan Ratnawati yang sangat merindukan Wira pun tidak berani mengetuk pintu, ia hanya menitipkan beberapa kain sutra untuk Sekar melalui Jenderal Sabrang.

Setelah dua bulan mendekam dalam kesunyian, pintu kediaman itu akhirnya terbuka.

Wira melangkah keluar dengan pakaian yang lebih rapi, meskipun tongkat Siwa tetap setia di genggamannya.

Rambutnya sedikit lebih panjang, dan tatapan mata birunya kini memiliki kedalaman yang mengerikan, seolah-olah ia telah melihat dasar samudera dan puncak langit sekaligus.

Ia berjalan menuju pusat kota, menuju alun-alun utama yang kini telah berubah total.

Rakyat yang melihatnya langsung bersujud, namun Wira tidak memedulikannya dan hanya mengeluarkan energi tipis tak terlihat untuk menopang setiap orang agar segera berdiri, membuat setiap rakyat terharu dan lebih hormat kepadanya.

Langkahnya kemjdian terhenti saat ia sampai di tengah alun-alun.

Di sana, berdiri sebuah patung batu raksasa yang sangat megah. Patung itu menggambarkan seorang pemuda dengan caping bambu yang menutupi separuh wajahnya, menggenggam sebatang tongkat kayu yang nampak lusuh namun berwibawa.

Itu adalah patung yang sama persis dengan yang ada di Samudera Biru.

Adiwangsa, yang ternyata memimpin langsung pembentukan patung itu selama kunjungannya, telah memastikan bahwa identitas wajah Wira tetap tersembunyi. Patung itu adalah simbol Kaisar Tanpa Wajah, sang penyelamat antar-benua.

Wira menatap patung itu cukup lama, lalu tersenyum tipis.

"Ternyata Paman Adiwangsa memang selalu berlebihan, dia juga memiliki jiwa seni yang tinggi juga." gumamnya sembari menggelengkan kepalanya pelan.

"Bocah, kau sudah cukup beristirahat, inti energimu telah stabil. Tapi ingat, kau masih sangat jauh dari Nirwana." suara Siwa bergema di batinnya, lebih jernih dari sebelumnya.

"Aku tahu, Siwa," jawab Wira dalam hati.

"Dua bulan ini memberiku waktu untuk berpikir. Kekuatan yang kucapai kemarin hanyalah pinjaman dari amarah dan pengorbanan Sekar. Aku butuh kekuatan yang benar-benar milikku." jawabnya dengan tatapan yang tampak sedih.

Setelah melihat patung perwujudan dirinya, Wira kemudian kembali ke kediamannya, di mana Sekar masih terbaring. Ia menatap wajah kekasihnya itu dengan tekad yang baru.

"Siwa, jelaskan padaku lebih detail tentang pusaka-pusaka itu. Aku tidak akan menunggu kegelapan datang lagi. Aku yang akan mendatangi mereka." ucap Wira dengan tegas.

"Pusaka pertama yang harus kau cari adalah Jantung Kristal Es, itu mungkin berada di Benua yang memiliki Salju Abadi," jelas Siwa.

"Pusaka itu akan mendinginkan gejolak energi di tubuhmu dan memberikan pondasi yang kuat untuk membangun kembali inti energi yang pecah. Tapi ingat, perjalanan ke sana akan sangat berat bagi manusia biasa seperti Sekar." lanjutnya menjelaskan.

Wira mengepalkan tangannya.

"Aku akan membangun tandu energi untuk membawa sekar. Dia akan tetap bersamaku, ke mana pun aku pergi." ucap Wira dengan tatapan tajam.

Wira pun mulai mempersiapkan keberangkatannya.

Benua Pasir Emas kini telah stabil di bawah kepemimpinan para raja yang kini bertaubat dan dipimpin oleh Raja Tirta Kelana.

Misinya di sini telah selesai, namun misinya untuk semesta akan dimulai kembali.

Sang Kaisar Tanpa Wajah bersiap melintasi badai salju, membawa sejuta harapan dan satu janji untuk mengembalikan senyuman wanita yang telah memberikan segalanya untuknya.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!