Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Pagi menyapa dengan cahaya yang terlalu terang bagi mata Ziva yang sembap. Setelah malam yang penuh dengan mimpi buruk dan sisa-sisa isakan yang tertahan, Ziva memaksakan diri untuk mandi. Air dingin yang mengguyur tubuhnya setidaknya memberi sedikit kesadaran bahwa hidupnya yang berantakan ini masih terus berjalan.
Ziva keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang masih melilit di rambutnya. Ia baru saja hendak melangkah menuju meja rias saat jantungnya hampir meloncat keluar dari dada. Baskara berdiri mematung tepat di depan pintu kamar mandi, masih mengenakan kaos hitam yang sama dengan semalam, namun wajahnya sudah terlihat lebih segar.
"Ngapain sih?! Mau jadi hantu ya?!" semprot Ziva dengan nada ketus, tangan kanannya refleks memegang dadanya yang berdegup kencang karena kaget.
Baskara tidak bergeming. Tatapannya datar namun tajam, tipikal sorot mata seorang polisi yang sedang menginterupsi keadaan. "Mama dan Papa masih di bawah. Mereka lagi nunggu kita keluar buat sarapan bareng."
Ziva memutar bola matanya, ia berjalan melewati Baskara menuju cermin seolah pria itu hanya pajangan dinding yang mengganggu. "Ya terus? Kalau mereka nunggu, ya biarin aja. Gue nggak laper."
"Kita keluar bareng. Ayo," perintah Baskara lagi. Kali ini suaranya lebih rendah, penuh penekanan yang tidak menerima penolakan.
Ziva berbalik, menatap Baskara dengan dahi berkerut. "Apaan sih? Nggak mau. Gue mau di kamar aja. Lo turun sendiri sana, bilang gue sakit atau apa kek. Lo kan pinter bohong."
Baskara melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. Tubuhnya yang tegap membuat Ziva merasa terintimidasi sesaat, namun harga dirinya jauh lebih tinggi dari rasa takutnya.
"Ziva, dengerin. Mereka menginap di sini buat mastiin kita baik-baik saja. Kalau kita nggak muncul bareng di meja makan, sandiwara kita kemarin di gedung pernikahan bakal sia-sia," ucap Baskara dengan nada sabar yang justru memicu emosi Ziva.
"Gue nggak peduli!"
"Kalau kamu nggak mau, terpaksa aku seret sekarang juga," ancam Baskara dingin. Ia tidak main-main. Sebagai pria yang terbiasa dengan tindakan tegas di lapangan, Baskara tahu bagaimana cara membuat lawannya patuh.
Ziva mendengus kasar, ia menyambar sisir di atas meja dengan bantingan kecil. "Dasar om-om pemaksa! Polisi kok kelakuannya kayak preman," maki Ziva pelan, namun cukup keras untuk didengar Baskara.
"Sana keluar! Gue mau ganti baju dulu. Jangan berani-berani lo ngintip!" teriak Ziva sambil menunjuk pintu kamar.
Baskara akhirnya keluar, menunggu di depan pintu kamar dengan sabar. Lima belas menit kemudian, Ziva keluar dengan pakaian santai namun rapi—kaos putih bersih dan celana kulot. Wajahnya dipoles make-up tipis untuk menutupi jejak tangis semalam.
Begitu pintu terbuka, Baskara langsung berdiri tegak. Secara otomatis, pria itu mengulurkan lengannya, memberi kode agar Ziva menggandengnya.
Ziva menatap lengan berotot itu dengan jijik. "Nggak sudi."
"Ziva, mereka ada di ujung tangga. Cepat atau aku yang pegang tangan kamu," bisik Baskara penuh ancaman.
Dengan sisa-sisa harga diri yang terluka, Ziva menyangkutkan ujung jemarinya di lengan Baskara. Sangat tipis, seolah-olah menyentuh kain seragam Baskara saja bisa membuatnya tertular penyakit mematikan.
Mereka menuruni tangga bersama. Di bawah, Mama dan Papa Baskara sudah duduk manis di meja makan yang penuh dengan hidangan sarapan yang beraroma harum.
"Wah, pengantin baru sudah bangun!" seru Mama Baskara dengan wajah sumringah. "Ayo duduk, Nak Ziva. Mama tadi pesan bubur ayam kesukaan Baskara, ada nasi goreng juga."
Ziva memasang topengnya kembali. Senyum manis yang palsu itu terukir lagi di wajahnya. "Pagi, Ma. Pagi, Pa. Maaf ya Ziva telat turunnya."
"Nggak apa-apa, sayang. Namanya juga pengantin baru, pasti capek ya?" goda Mama sambil melirik Baskara yang hanya tersenyum kaku.
Ziva merasa ingin berteriak saat itu juga. Capek karena nangis semalaman, Ma! batinnya menjerit.
Selama sarapan, Baskara terus berakting sebagai suami yang perhatian. Ia mengambilkan kerupuk untuk Ziva, menuangkan air jeruk, bahkan sesekali menggeser piring agar Ziva lebih mudah menjangkaunya. Setiap perhatian itu justru terasa seperti duri bagi Ziva.
"Ziva, dimakan ya. Kamu kelihatan agak pucat, apa kurang tidur?" tanya Papa Baskara dengan nada khawatir.
"Iya, Pa. Mungkin karena masih agak kaget sama suasana baru," jawab Ziva sesopan mungkin.
Di bawah meja, kaki Ziva sengaja menginjak kaki Baskara dengan keras sebagai bentuk protes atas akting "suami teladan" yang sedang pria itu mainkan. Baskara sedikit meringis, namun ia tetap tenang, terus menyuap buburnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Bagi Ziva, sarapan pagi itu adalah siksaan lain yang harus ia jalani. Di antara tawa hangat orang tua Baskara dan perhatian palsu pria di sebelahnya, Ziva merasa semakin terasing dalam dendamnya sendiri. Ia menghitung detik demi detik, berharap satu tahun kontrak "neraka" ini bisa berlalu secepat kilat.
***
Begitu mobil orang tua Baskara hilang dari pandangan di ujung kompleks, topeng keramahan Ziva luruh seketika. Ia melepaskan lambaian tangannya dengan kasar dan langsung membalikkan badan, memunggungi Baskara yang masih berdiri tegap di sampingnya.
"Udah kan? Sekarang gue mau minta uang. Mau keluar sama temen. Cepet mana?" todong Ziva sambil menengadahkan tangannya. Tidak ada lagi kelembutan, hanya ada nada perintah yang dingin.
Baskara menghela napas, ia merogoh dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah, namun ia tidak segera memberikannya. "Aku anter."
"Gak usah om. Apaan sih! Gue bukan anak kecil yang perlu dianter-anter!" semprot Ziva sambil menyambar uang itu dari tangan Baskara. Ia segera melangkah menuju gerbang, bermaksud memesan taksi online.
Namun, Baskara tetaplah Baskara—seorang polisi yang kaku dan penuh tanggung jawab. Meski Ziva bersikeras naik taksi, ia mendapati mobil hitam Baskara terus membuntuti dari belakang. Baskara memastikan istri kecilnya itu sampai di sebuah kafe tujuan dengan selamat sebelum ia memarkirkan mobilnya agak jauh agar tidak terlihat oleh teman-teman Ziva.
Di dalam kafe, dua sahabat karib Ziva, Mila dan Hani, sudah menunggu dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Begitu Ziva duduk, mereka langsung menghujani dengan godaan.
"Wihh pengantin baru! Seger bener mukanya. Gimana semalem? Lancar nggak? Berapa ronde?" goda Mila sambil menyenggol lengan Ziva.
Ziva mendengus keras, ia mengaduk minumannya dengan kasar. "Apa sih? Nggak ada ya malem pertama. Gue rasanya malah mau bunuh itu om-om. Hidup gue kayak di penjara tahu nggak!"
Hani dan Mila saling berpandangan. Hani berdehem pelan, mencoba mencairkan suasana. "Ziv, gue tau lo masih kecewa dan berduka karena Kak Kirana. Tapi menurut gue, ini bukan sepenuhnya salah Kak Bas loh."
Ziva menghentikan gerakan tangannya. Matanya menatap Hani dengan tajam. "Maksud lo?"
"Ya... itu kan kecelakaan, Ziv. Takdir. Kak Bas juga pasti nggak mau itu terjadi. Kak Kirana juga pasti nggak suka liat lo kayak gini, terus-terusan nyalahin orang lain dan nyiksa diri sendiri," ucap Hani hati-hati.
"Terus menurut lo gue harus baik gitu sama dia? Gue harus pasrah dan jadi istri yang berbakti sama orang yang udah bawa Kak Kirana pergi? Nggak, nggak akan pernah," desis Ziva. Dadanya kembali terasa sesak setiap kali diingatkan tentang tragedi itu.
Mila mencoba mendinginkan suasana dengan nada bercanda yang sedikit berbahaya. "Ziv, benci sama cinta itu beda tipis lhoo. Ati-ati, sekarang lo maki-maki dia 'om-om pembunuh', entar sebulan lagi lo malah nempel terus kayak prangko. Apalagi Kak Bas ganteng gitu, gagah lagi..."
"Sekali lagi lo ngomong gitu, Mil, gue gampar mulut lo ya!" ancam Ziva serius. Ia tidak sedang ingin bercanda. "Gue nikah sama dia cuma buat setahun. Cuma setahun demi Ayah dan Bunda. Setelah itu, gue bakal pergi sejauh mungkin dari dia."
Ziva tidak tahu bahwa di sudut kafe yang lain, terhalang oleh tanaman hias besar, Baskara duduk sendirian dengan segelas kopi hitam. Ia bisa mendengar sayup-sayup tawa teman-teman istrinya, meski ia tidak bisa mendengar detail pembicaraan mereka.
Baskara menatap ponselnya. Ada foto Kirana di sana, namun pikirannya justru tertuju pada Ziva yang sedang emosi di meja seberang. Ia tahu Ziva sangat menderita. Sebagai pria yang lebih dewasa, ia memilih untuk diam dan mengawasi, membiarkan Ziva meluapkan amarahnya pada dunia.
"Gue nggak bakal pernah maafin dia, Mil. Sampe kapan pun," suara Ziva terdengar sedikit meninggi, sampai telinga Baskara menangkapnya.
Baskara hanya bisa memejamkan mata sejenak. Ia sadar, memenangkan hati Ziva jauh lebih sulit daripada menangkap penjahat kelas kakap mana pun. Ia harus menghadapi tembok kebencian yang dibangun dari rasa kehilangan yang mendalam.