seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4: Harga Sebuah Integritas
Keheningan di ruangan itu terasa begitu mencekik. Dave Mahesa masih menggenggam gagang teleponnya dengan buku-buku jari yang memutih. Suara ayahnya yang menggelegar tadi seolah masih bergema di antara dinding-dinding kaca kedap suara itu. Dave, yang biasanya selalu mendikte dunia, kini merasa dunianya sedang mendikte dirinya.
Shafira masih berdiri di ambang pintu. Tangannya tidak lepas dari gagang pintu, siap untuk melangkah keluar selamanya. Ia menatap Dave bukan dengan dendam, melainkan dengan ketenangan yang membuat Dave semakin merasa terpojok.
"Duduk, Shafira," ulang Dave. Suaranya kali ini tidak lagi menggelegar, namun ada nada terpaksa yang sangat kental.
Shafira melepaskan pegangannya pada pintu, namun ia tidak langsung mendekat.
"Jika ini hanya soal proyek Dubai, Bapak tidak perlu repot-repot. Saya sudah menyelesaikan semua laporan auditnya. File-nya ada di server perusahaan. Rekan saya, Sarah, bisa menjelaskan detailnya pada investor."
"Investor itu tidak mau Sarah! Mereka mau kamu!" Dave berdiri, menggebrak meja jati itu dengan frustrasi.
"Al-Maktum Group dari Dubai itu sangat konservatif. Mereka mencari integritas, dan entah bagaimana, ayah saya meyakinkan mereka bahwa penjamin kejujuran finansial di perusahaan ini adalah seorang gadis berusia dua puluh lima tahun yang keras kepala!"
Shafira menarik napas panjang. Ia berjalan perlahan, namun tidak duduk. Ia berdiri di depan meja Dave, menatap lurus ke mata pria itu.
"Mereka mencari integritas, Pak Dave. Sesuatu yang tadi Bapak coba buang dari kantor ini hanya karena selembar kain di kepala saya."
Dave terdiam. Rahangnya mengeras. Ia merasa seperti pecundang yang sedang dikuliahi oleh bawahannya sendiri. "Berapa? Berapa kenaikan gaji yang kamu mau agar kamu menarik surat pengunduran diri itu? Sepuluh persen? Dua puluh? Sebutkan angkanya, dan mari kita selesaikan drama ini."
Shafira tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung kepedihan sekaligus kekuatan. "Bapak benar-benar berpikir semua hal bisa dibeli dengan angka, ya? Bapak menghina saya, menghina keyakinan saya, bahkan merendahkan profesi ayah saya... lalu Bapak pikir beberapa lembar uang bisa menghapus itu semua?"
"Lalu kamu mau apa?!" Dave berteriak, kehilangan kesabaran.
"Saya butuh kamu di depan investor itu besok pagi pukul sembilan. Jika kamu tidak ada, kesepakatan bernilai triliunan ini bisa batal, dan itu artinya posisi saya di sini terancam. Apa itu yang kamu mau? Balas dendam?"
"Saya tidak butuh balas dendam, Pak Dave. Agama saya mengajarkan untuk memaafkan, bukan menyimpan bara," ujar Shafira tenang.
"Tapi saya butuh rasa hormat. Saya akan tetap bekerja dan menyelesaikan proyek Dubai ini, bukan karena gaji atau karena ancaman Bapak, tapi karena saya tidak ingin mengkhianati kepercayaan Pak Devan yang sudah baik pada keluarga saya."
Dave mendengus, namun ada sedikit rasa lega yang menyusup di hatinya. "Bagus. Jadi kamu setuju?"
"Ada syaratnya," potong Shafira cepat.
Dave menyipitkan mata. "Syarat? Kamu berani memberi syarat pada saya?"
"Pertama," Shafira mengangkat satu jari. "Bapak tidak boleh lagi mempermasalahkan hijab saya atau karyawan lainnya.
Profesionalisme diukur dari hasil kerja, bukan dari berapa banyak kulit yang terlihat. Kedua, jangan pernah lagi membawa-bawa pekerjaan ayah saya sebagai bahan penghinaan. Ayah saya adalah pria paling mulia yang saya kenal, dan tanpa keringat orang-orang seperti dia, rumah mewah Bapak hanya akan jadi gudang kotor."
Dave menatap Shafira dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kemarahan, tapi ada juga percikan rasa kagum yang ia tekan sedalam mungkin. Belum pernah ada wanita yang berani menatapnya dengan harga diri setinggi itu tanpa meminta sepeser pun uang tambahan.
"Hanya itu?" tanya Dave ketus.
"Satu lagi," tambah Shafira. "Mulai hari ini, Bapak harus belajar memanggil saya dengan sopan. Saya bukan bawahan yang bisa Bapak maki sesuka hati. Jika Bapak setuju, saya akan kembali ke meja saya sekarang."
Dave tertegun. Ia merasa kekuasaannya sedikit demi sedikit terkikis oleh keteguhan gadis di depannya. Namun, bayangan kemarahan ayahnya dan kegagalan proyek Dubai membuatnya tidak punya pilihan lain.
"Baik," desis Dave hampir tak terdengar. "Saya setuju. Sekarang kembali ke mejamu. Siapkan presentasi untuk besok. Jangan buat saya malu di depan investor."
Shafira mengangguk sopan, mengambil kembali surat pengunduran dirinya dari meja, dan merobeknya di depan mata Dave. Tanpa sepatah kata lagi, ia berbalik dan keluar dari ruangan itu.
Setelah pintu tertutup, Dave mengempaskan tubuhnya ke kursi. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut. "Gadis gila," gumamnya. Namun, matanya tidak bisa lepas dari sobekan kertas di mejanya.
Sore itu, sebelum pulang, Dave turun ke lobi. Ia bermaksud langsung menuju parkiran, namun langkahnya terhenti saat melihat seorang pria tua dengan seragam petugas kebersihan sedang merapikan tanaman di pot besar dekat pintu masuk. Itu Pak Rahman.
Dave teringat kata-kata Shafira: "Dia mungkin membersihkan sampah Bapak, tapi jiwanya jauh lebih bersih..."
Biasanya, Dave akan melewati petugas seperti itu tanpa menoleh sedikit pun. Baginya, mereka hanya bagian dari dekorasi gedung yang bergerak. Namun kali ini, ia berhenti sejenak. Pak
Rahman yang menyadari keberadaan sang CEO langsung membungkuk hormat, wajahnya tampak lelah namun tetap tersenyum tulus.
"Selamat sore, Tuan Muda Dave," sapa Pak Rahman dengan suara yang serak namun ramah.
Dave hanya mengangguk kaku, sebuah respon yang sangat jarang ia berikan pada staf rendahan. Ia hendak melangkah pergi, namun rasa penasaran yang aneh menahannya.
"Rahman," panggil Dave.
"Iya, Tuan?"
"Anakmu... Shafira. Kenapa dia begitu keras kepala?"
Pak Rahman tertegun sejenak, lalu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat mirip dengan senyum Shafira.
"Maafkan dia kalau dia menyinggung Tuan. Shafira memang keras kepala kalau soal prinsip, Tuan Muda. Dia selalu bilang, kalau kita menyerah pada satu kebenaran kecil, maka kita akan kehilangan semua kebenaran besar dalam hidup."
Dave terdiam. Kata-kata itu terasa asing di telinganya. Di dunianya, kebenaran adalah sesuatu yang fleksibel, tergantung pada keuntungan yang didapat.
"Pulanglah. Sudah sore," ujar Dave pendek, lalu melangkah pergi dengan perasaan yang semakin tidak menentu.
Malam itu, di rumahnya yang mewah namun terasa hampa, Dave tidak bisa tidur. Ia membuka laptopnya, mencoba mencari tahu lebih banyak tentang investor Dubai itu. Namun, pikirannya terus kembali pada bayangan Shafira yang berdiri tegak dengan jilbab hitamnya, menantang egonya.
Ia tidak tahu, bahwa proyek Dubai besok hanyalah awal dari badai yang jauh lebih besar. Badai yang tidak hanya akan menguji perusahaannya, tapi juga hati dan keyakinannya yang selama ini ia anggap sudah mati.
.