NovelToon NovelToon
The Wrong Proposal

The Wrong Proposal

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.

Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di kantor konsultan arsitektur milik Adrian di pusat Manhattan, namun pria itu sama sekali tidak menyentuh sketsa bangunan di mejanya. Adrian Richard menyandarkan punggungnya di kursi kulit, menatap kosong ke arah skyline New York yang biasanya ia kagumi.

Pikirannya tertahan di koridor apartemen Brooklyn semalam.

Wajah Briana saat menangis, namun tetap berusaha tegap dengan hijabnya yang berantakan, terus berputar di kepala Adrian seperti film yang diputar berulang-ulang. Ada rasa hangat yang aneh saat ia mengingat bagaimana ia meninju Clark. Itu bukan sekadar membela wanita asing, Adrian merasa seolah ia sedang melindungi sesuatu yang sangat berharga dalam dirinya sendiri.

"Kenapa aku bisa mengatakan hal-hal itu pada Elena?" batin Adrian, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang tidak teratur.

Ia teringat dustanya pada Elena, pengakuan bahwa ia menghamili Briana dan sangat mencintainya. Anehnya, semakin ia memikirkan kalimat "Aku mencintai Briana", rasa bersalah itu perlahan memudar, digantikan oleh rasa penasaran yang mendalam. Ia merasa seolah-olah takdir sedang menertawakannya, dia merencanakan masa depan dengan Elena, namun dalam semalam, seorang wanita bernama Briana Edmond telah menggeser seluruh poros dunianya.

Adrian teringat aroma lembut vanila dan ketenangan yang terpancar dari Briana, bahkan saat dunianya sedang dihujat oleh Clark. Ia membandingkannya dengan Elena. Selama bertahun-tahun, Adrian hidup dalam drama dan emosi meledak-ledak Elena yang selalu menuntut pembuktian materi.

Bersama Briana, meski hanya dalam beberapa jam yang kacau, Adrian merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia teringat ibunya. Ibunya selalu berkata bahwa wanita yang kuat adalah wanita yang mampu menjaga kehormatannya dengan kelembutan, bukan teriakan. Dan di mata Adrian, Briana adalah definisi sempurna dari kata-kata ibunya.

"Dia adalah putri Keluarga Edmond," Adrian bergumam pelan. Nama itu bukan nama sembarangan di New York. Keluarga pengusaha muslim yang sangat tertutup dan memiliki integritas tinggi.

Adrian tahu, jika Clark benar-benar melaksanakan ancamannya untuk memfitnah Briana di depan orang tuanya, karier dan reputasi wanita itu berada di ujung tanduk.

Adrian meraih ponselnya. Ia membuka ruang obrolan dengan kontak Briana - Rooftop. Jari-jarinya mengetik sesuatu, lalu menghapusnya lagi. Ia ragu. Apakah ia terlalu lancang?

Tiba-tiba, pintu kantornya terbuka tanpa diketuk. Sekretarisnya masuk dengan wajah cemas.

"Pak Adrian, ada seorang wanita bernama Elena di depan. Dia mengamuk dan menuntut ingin bertemu. Dia membawa seorang pria bernama Clark."

Adrian memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang. Ternyata musuh-musuh mereka sudah mulai bersatu. Aliansi antara mantan kekasih yang terluka ini bisa menjadi bom waktu bagi reputasi Briana.

Adrian berdiri, membenarkan letak jasnya. "Biarkan mereka masuk," ucapnya dingin. Namun sebelum itu, ia dengan cepat mengirim pesan singkat kepada Briana:

"Briana, ini Adrian. Apapun yang terjadi hari ini, tolong jangan percaya pada siapapun selain aku. Aku akan melindungimu. Bisakah kita bertemu siang ini?"

Pintu ruangan Adrian terbuka dengan kasar. Elena melangkah masuk dengan kacamata hitam besar yang tak mampu menyembunyikan bengkak di pipinya, diikuti oleh Clark yang rahangnya tampak kebiruan akibat hantaman Adrian semalam.

Dua orang yang baru saja kehilangan harga diri itu kini berdiri di hadapan Adrian, membawa aura kebencian yang pekat.

"Selamat pagi, Adrian," suara Elena terdengar serak, namun penuh racun. "Ternyata benar dugaanku. Kalian berdua memang sudah merencanakan ini, bukan? Aku bertemu dengan Tuan Clark ini di depan apartemen mu tadi pagi saat ia sedang menunggu penjelasan darimu."

Clark maju selangkah, menatap Adrian dengan pandangan merendah. "Arsitek hebat, ternyata punya hobi merebut kekasih orang dan menghamilinya. Kamu pikir uangmu bisa menutup mulutku?"

Adrian tetap duduk di kursi kebesarannya, menatap mereka berdua dengan ekspresi datar yang justru mematikan. "Apa yang kalian inginkan? Uang? Atau kalian hanya ingin menunjukkan seberapa rendah kalian bisa jatuh?"

"Aku ingin kehancuranmu, Adrian!" teriak Elena, menggebrak meja kerja Adrian.

"Aku sudah mengirimkan foto-foto kejadian semalam, termasuk saat kamu berlutut di depan wanita berhijab itu, kepada beberapa media gosip New York. Dan Clark... dia punya sesuatu yang lebih baik. Dia akan melaporkanmu atas penganiayaan dan akan bicara pada Tuan Edmond tentang kelakuan putrinya."

Adrian mengepalkan tangannya di bawah meja. Jika nama keluarga Edmond terseret ke media, reputasi Briana sebagai wanita muslimah yang terpandang akan hancur dalam sekejap karena fitnah murahan ini.

Di sisi lain kota, Briana baru saja membaca pesan dari Adrian. Jantungnya berdebar kencang. Belum sempat ia membalas, ponselnya berdering. Itu dari ayahnya.

"Briana, pulang ke rumah sekarang. Ada seseorang yang mengirimkan pesan anonim tentang kejadian di rooftop semalam. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Suara ayahnya terdengar berat dan penuh wibawa, namun terselip kekecewaan di sana. Briana tahu, jika ia tidak segera bertindak, fitnah Clark akan menghancurkan segala yang telah dibangun keluarganya.

Briana segera menuju kantor Adrian. Ia tidak ingin bersembunyi. Jika ia adalah subjek dari kekacauan ini, maka ia harus ada di sana untuk menyelesaikannya.

Saat Briana melangkah masuk ke ruangan Adrian, suasana langsung membeku. Elena menoleh, menatap hijab Briana dengan tatapan jijik yang sama seperti semalam.

"Oh, lihat siapa yang datang. Sang Calon Ibu dari anak Adrian," sindir Elena tajam.

Briana menghentikan langkahnya tepat di samping kursi Adrian. Ia menatap Elena, lalu beralih ke Clark. Ketenangan di wajahnya membuat Clark sedikit gelisah.

"Clark," panggil Briana lembut. "Kamu bilang kamu ingin melaporkan Adrian atas penganiayaan? Silakan. Tapi jangan lupa, aku punya rekaman CCTV dari hotel tempatmu berselingkuh semalam. Aku juga punya saksi, yaitu petugas keamanan hotel dan Selvie, yang melihat bagaimana kamu mencoba menyerangku secara verbal di apartemen."

Briana kemudian menatap Elena. "Dan untukmu, Nona. Fitnah bahwa aku hamil adalah hal yang sangat serius. Di duniaku, kehormatan adalah segalanya. Jika satu saja artikel gosip muncul, pengacara keluarga Edmond akan memastikan kamu menghabiskan sisa hidupmu di pengadilan atas pencemaran nama baik."

Adrian berdiri, berdiri tepat di samping Briana. Ia merasa bangga melihat kekuatan wanita ini.

"Kalian dengar itu?" tanya Adrian dingin. "Kalian datang ke sini untuk menghancurkan kami, tapi kalian lupa bahwa kalian berdiri di atas tanah yang retak. Clark, satu kata lagi kau menghina Briana, aku tidak hanya akan memukulmu, aku akan membeli perusahaan tempatmu bekerja dan memecatmu secara tidak hormat."

Elena gemetar karena marah dan takut. "Kalian... kalian benar-benar sudah gila!"

"Tidak, Elena," sela Adrian. "Kami hanya baru menyadari bahwa terkadang, sebuah kesalahan di rooftop adalah cara semesta menunjukkan siapa yang benar-benar layak untuk dicintai."

Elena dan Clark keluar dari ruangan itu dengan kekalahan telak. Namun, saat pintu tertutup, keheningan yang berbeda muncul di antara Adrian dan Briana.

Adrian menatap Briana, merasa bersalah karena kebohongannya kini benar-benar menjadi senjata bagi musuh mereka. "Briana, soal ucapan hamil itu... aku benar-benar minta maaf. Aku hanya ingin Elena diam."

Briana menunduk sedikit, lalu tersenyum tipis. "Ayahku sudah tahu tentang kejadian semalam, Adrian. Dia ingin bertemu dengamu. Sepertinya, kamu harus menjelaskan padanya mengapa seorang Adrian Richard mengaku-ngaku sebagai ayah dari cucunya yang bahkan belum ada."

Adrian tertegun. "Bertemu ayahmu? Sekarang?"

"Sekarang," jawab Briana. "Dan kali ini, jangan ada dusta lagi, Adrian."

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰 🥰 😍

1
irma hidayat
lancar sukses rencananya alana
chika aprilia
harusnya 23 tahun kemudian bukan 23 tahun lalu, othor nya salah
ros 🍂: makasih kak udah ingatin 😍🙏
total 1 replies
Mei Mei
/Kiss/
Mei Mei
suka cerita nya
ros 🍂: Makasih kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
bagus .. bagus karyamu Thor

tetep sehat
selalu semangat

karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku
ros 🍂: Ma'aciww 😍😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
ditunggu upload nya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!