Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.
Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.
Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.
Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.
Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.
bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Kesembuhan Lin Jianhua yang mustahil secara medis telah mengirimkan gelombang kejut ke seluruh lapisan elit Shanghai. Di koridor-koridor kekuasaan, orang-orang mulai mencari tahu identitas sang tabib misterius yang turun dari gunung kabut dengan ramuan dewa. Namun, bagi Xue Xiao, semua kebisingan ini hanyalah gangguan terhadap ketenangannya.
Lin Qingyan membawa Xue Xiao ke penthouse mewah Keluarga Lin di The Ritz-Carlton Shanghai, Pudong, sebuah tempat yang ia sebut sebagai "rumah sementara".
Xue Xiao melangkah di atas karpet bulu yang begitu tebal hingga ia merasa seolah berjalan di atas tumpukan lemak binatang. Ia menatap ke arah dinding yang seluruhnya terbuat dari kaca, memperlihatkan pemandangan kota yang dipenuhi lampu-lampu yang berkilau seolah menantang cahaya bintang.,
"Kenapa kalian suka sekali membungkus diri dalam kotak kaca?" tanya Xue Xiao sambil menyentuh permukaan jendela yang dingin. "Kalian bisa melihat dunia, tapi kalian tidak bisa merasakan anginnya. Ini bukan rumah, ini adalah sangkar yang sangat mahal."
Lin Qingyan, yang sedang menyesuaikan gaun malam hitamnya di depan cermin, terhenti. "Di dunia ini, Master, kaca adalah simbol perlindungan dan status. Semakin tinggi Anda berada di atas permukaan tanah, semakin aman Anda dari kekacauan di bawah."
Xue Xiao mendengus. Ia berbalik dan perhatiannya tertuju pada sebuah cermin ajaib yang berbicara (televisi layar lebar) yang terpasang di dinding. Tiba-tiba, layar itu menyala, menampilkan gambar seorang pria yang sedang berteriak tentang berita ekonomi.
"Siapa pria kecil yang terjebak di dalam kotak itu?" Xue Xiao mendekat, tangannya sudah siap dengan posisi mencakar, mengira itu adalah teknik penyegelan jiwa. "Apakah kau memenjarakannya untuk hiburan?"
Lin Qingyan merasa bingung sekaligus lucu, ia menutup mulutnya dan tertawa kecil, suara tawanya terdengar tulus sesuatu yang jarang ia tunjukkan pada pria lain. "Itu televisi, Master. Dia tidak ada di sana secara fisik. Itu hanya pantulan gambar dari tempat yang jauh. Dia tidak menderita."
Xue Xiao mengamati layar itu selama beberapa detik, lalu memalingkan muka dengan ekspresi bosan. "Sangat tidak efisien. Membuang begitu banyak energi hanya untuk mengirim gambar pria berteriak. Manusia di sini benar-benar suka membuang-buang waktu."
Di luar ruangan, Kapten Arga berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang kaku. Perban di tangannya masih terasa berdenyut, namun harga dirinya jauh lebih terluka. Ia bisa mendengar tawa Lin Qingyan dari dalam, sesuatu yang tidak pernah ia dengar dalam sepuluh tahun ia mengabdi.
"Dia hanya badut hutan," bisik Arga pada dirinya sendiri. Tangannya terkepal erat sambil menggertakkan gigi karena marah.
Malam ini, Keluarga Lin akan mengadakan perjamuan syukuran atas kesembuhan sang patriark. Arga tahu bahwa Keluarga Zhao pasti akan mengirimkan penyusup atau setidaknya mata-mata. Ia berharap Xue Xiao akan melakukan kesalahan fatal atau terlihat bodoh di depan para elit Shanghai, sehingga Lin Qingyan menyadari bahwa pemuda itu tidak pantas berada di dunia mereka.
"Siapkan unit dua," perintah Arga melalui alat komunikasi di telinganya. "Jika pria liar itu melakukan gerakan mencurigakan di pesta nanti, jangan ragu untuk mengamankannya. Aku tidak peduli dia menyelamatkan Tuan Besar atau tidak."
Di tempat lain, di sebuah bar bawah tanah yang remang-remang, Zhao Feng bertemu dengan sosok yang sangat ditakuti di dunia hitam Asia, Gagak Hitam.
"Lin Jianhua sudah bangun. Ini bencana bagi rencana kita," geram Zhao Feng sambil meletakkan koper penuh emas di atas meja. "Gadis itu membawa monster dari hutan. Dia menangkap peluru penembak jitu kita dengan jari tangan."
Gagak Hitam, seorang pria dengan mata satu dan bekas luka bakar di lehernya, hanya tersenyum tipis. "Peluru adalah benda mati, Tuan Zhao. Masalah dengan senjata api adalah mereka tidak memiliki jiwa. Aku akan menggunakan metode yang berbeda. Jika dia seorang tabib, maka dia harus menghadapi racun yang tidak bisa ia identifikasi."
"Lakukan di pesta malam ini," perintah Zhao Feng. "Aku ingin Keluarga Lin hancur di puncak kegembiraan mereka."
...
Malam perjamuan tiba. Ballroom di Peninsula Shanghai dipenuhi oleh orang-orang paling berpengaruh di China. Berlian berkilau, sampanye mengalir, dan musik klasik memenuhi ruangan.,
Xue Xiao masuk ke dalam ruangan tersebut, tetap dengan jubah kulit binatang dan rambut panjangnya yang terurai liar. Lin Qingyan berjalan di sampingnya, mengenakan gaun yang memukau semua orang. Kehadiran mereka menciptakan keheningan seketika.
"Siapa dia? Apakah itu pengawal baru Qingyan?" bisik seorang wanita sosialita.
"Bukan, kudengar dia adalah tabib yang menyembuhkan Tuan Besar. Tapi lihat penampilannya... sungguh tidak beradab."
Xue Xiao mengabaikan semua bisikan itu. Baginya, aroma di ruangan ini sangat memuakkan, campuran parfum kimia yang menyengat dan emosi busuk berupa keserakahan dan kecemburuan.
Ia mengambil sebuah gelas berisi cairan kuning berbuih (sampanye) dari nampan seorang pelayan. "Minuman apa ini? Kenapa dia bergejolak seolah-olah ada naga kecil yang terjebak di dalamnya?"
"Itu sampanye, Master. Cobalah sedikit," ajak Qingyan.
Xue Xiao menyesapnya sedikit, lalu segera meludahkannya kembali ke dalam gelas dengan wajah jijik. "Ini air kencing kuda yang difermentasi dengan gas beracun? Bagaimana kalian bisa menikmati ini?"
Tawa kecil Qingyan menarik perhatian banyak orang, termasuk Arga yang berdiri tidak jauh dari sana dengan wajah yang semakin gelap.
Tiba-tiba, Lin Jianhua sang Harimau Tua naik ke podium. Ia tampak sepuluh tahun lebih muda berkat ramuan Xue Xiao. "Malam ini, aku berhutang nyawaku pada satu orang. Tuan Xue Xiao, silakan maju ke depan."
Xue Xiao berjalan dengan langkah malas ke arah podium. Namun, tepat saat ia akan melangkah ke atas, indra penciumannya yang tajam menangkap sesuatu. Bau yang sangat samar, seperti aroma bunga layu di tengah musim panas.
Racun.
Xue Xiao berhenti. Matanya menatap tajam ke arah seorang pelayan yang sedang membawa nampan berisi segelas air putih untuk Lin Jianhua. Pelayan itu memiliki langkah yang terlalu ringan untuk seorang manusia biasa.
"Berhenti di sana, serangga kecil," suara Xue Xiao menggelegar di seluruh ruangan, mematikan musik klasik seketika.
Seluruh ruangan membeku. Arga segera mencabut pistol nya dan mengarahkannya ke arah Xue Xiao karena mengira pemuda itu akan menyerang kakeknya. "Xue Xiao! Apa yang kau lakukan?!"
Xue Xiao tidak mempedulikan Arga. Ia melesat dengan kecepatan yang tak tertangkap mata, muncul tepat di depan pelayan tersebut. Dengan satu gerakan tangan, ia meremas gelas kaca itu hingga hancur berkeping-keping.
"Aaagh!" Pelayan itu yang sebenarnya adalah Gagak Hitam yang menyamar mencoba menyerang dengan pisau beracun dari balik lengan bajunya.
Xue Xiao hanya tersenyum dingin. Ia menangkap pergelangan tangan Gagak Hitam dan memutarnya hingga terdengar suara tulang yang patah seperti ranting kering. "Menggunakan racun di depan seorang Alkemis Agung? Kau benar-benar mencari kematian."
Xue Xiao kemudian mengangkat tubuh pria itu dengan satu tangan dan melemparkannya ke arah meja makanan yang mewah, menghancurkan segalanya. Di tengah kekacauan itu, Xue Xiao menoleh ke arah Arga yang masih mengarahkan senjata padanya.
"Singkirkan mainan logammu itu, pengawal kecil. Jika aku tidak bergerak, kakekmu sudah menjadi mayat sekarang," ucap Xue Xiao dengan nada yang penuh penghinaan.
Lin Qingyan berlari ke arah Xue Xiao, napasnya tersengal. "Master... apa yang terjadi?"
"Ada sampah yang mencoba mengotori pesta kalian," jawab Xue Xiao sambil membersihkan tangannya dari pecahan kaca. Ia menatap ke arah kerumunan elit yang kini ketakutan. "Dunia kalian memang penuh dengan kilauan, tapi di bawahnya hanya ada lumpur dan pengkhianatan."
Malam itu, Xue Xiao kembali menegaskan dominasinya. Namun, di balik kemenangan itu, Arga menyadari satu hal, ia tidak bisa melawan Xue Xiao secara fisik. Jika ia ingin menang, ia harus menggunakan cara yang lebih licik.