NovelToon NovelToon
Mafia Kejam Jatuh Cinta

Mafia Kejam Jatuh Cinta

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.

Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Bos Besar Mafia

Marco melangkah masuk ke dalam ruang kerja Don Vieri, pemimpin tertinggi yang telah menganggapnya sebagai "mesin pembunuh" paling berharga selama dua dekade. Ruangan itu sunyi, hanya suara detak jam dinding yang berat dan kepulan asap cerutu mahal.

"Kau datang tanpa membawa kepala Victor, Marvel," suara Don Vieri rendah, bergetar dengan ancaman. "Sebaliknya, kau membawa kekacauan di rumah sakit."

Marvel meletakkan senjatanya di atas meja mahoni—sebuah tindakan yang di dunia mafia berarti penyerahan diri atau tantangan terbuka.

"Aku keluar, Don," ucap Marvel datar.

Vieri tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke matanya. "Keluar? Tidak ada yang keluar dari keluarga ini kecuali dengan kaki terikat label kamar mayat. Kau tahu aturannya."

"Aku sudah memberikanmu dua belas wilayah, membungkam tiga jaksa, dan menghabisi setiap sainganmu," Marvel maju satu langkah, menatap langsung ke mata sang bos. "Aku tidak meminta izin. Aku memberikan pemberitahuan. Jika kau menyentuh Elara atau putraku, aku tidak akan hanya pergi. Aku akan membakar semua yang kau bangun sampai menjadi abu."

Suasana membeku. Pengawal di sudut ruangan sudah menyentuh gagang senjata mereka. Namun, Vieri melihat sesuatu di mata Marvel yang belum pernah ia lihat sebelumnya: keputusasaan seorang ayah. Pria yang tidak takut mati adalah ancaman, tapi pria yang punya sesuatu untuk dilindungi adalah iblis yang tak terkalahkan.

"Pergilah," kata Vieri akhirnya, setelah keheningan yang menyesakkan. "Tapi ingat, Marvel. Jika kau melangkah keluar dari pintu ini, kau bukan lagi bagian dari perlindunganku. Semua musuh yang kau buat selama sepuluh tahun terakhir akan mencarimu. Dan aku tidak akan menghentikan mereka."

"Aku lebih suka menghadapi seribu musuh daripada kehilangan mereka," jawab Marvel.

Ia berbalik dan berjalan keluar, melepaskan lencana organisasi yang selama ini tersemat di jiwanya. Di luar, mobil sudah menunggu untuk membawa mereka ke bandara, menuju identitas baru yang telah ia siapkan di Layanan Paspor Resmi.

Ban mobil Marvel berdecit tajam saat ia membanting setir masuk ke area parkir VIP Bandara Soekarno-Hatta. Tepat saat ia menginjak rem, sebuah peluru kaliber tinggi menghantam kaca spion kiri hingga hancur berkeping-keping.

"Tiarap!" bentak Marvel kepada Elara yang memeluk rexil dengan erat di kursi belakang.

Bukan polisi, dan bukan lagi orang-orang Don Vieri. Itu adalah unit bayaran dari Kartel Sinaloa cabang Asia, musuh lama yang telah menunggu momen terlemah Marvel. Serangan ini terjadi di tengah keramaian bandara yang sedang kacau akibat pembatalan penerbangan massal per Maret 2020.

Tiga motor trail hitam meluncur cepat dari arah terminal kargo, masing-masing pengendaranya memegang senapan mesin ringan. Mereka tidak peduli dengan kerumunan warga sipil atau petugas Operasi Keselamatan Jaya yang sedang berjaga di pintu masuk.

"Marvel, mereka terlalu banyak!" teriak Elara, suaranya tenggelam oleh tangisan rexil yang ketakutan.

Marvel meraih tas olahraga di bawah kursi yang berisi sisa-sisa "peralatannya". Ia tahu ia tidak bisa membalas tembakan di tengah kerumunan tanpa membahayakan warga sipil atau menarik perhatian militer.

"Dengarkan aku," Marvel menatap Elara melalui spion tengah, matanya berkilat penuh tekad. "Di ujung blok parkir ini ada jalur evakuasi menuju area katering. Lari ke sana, jangan menoleh. Aku akan memancing mereka ke arah landasan."

Marvel keluar dari mobil dengan tangan kosong, sengaja menampakkan dirinya sebagai umpan. Para penembak itu langsung mengalihkan fokus. Dengan gerakan yang hanya dimiliki oleh pembunuh kelas atas, Marvel melompat melewati pagar pembatas, memancing para pengejar masuk ke dalam labirin kontainer kargo yang gelap.

Di sana, di antara tumpukan besi, Marvel kembali menjadi sang "Penjagal". Dalam kegelapan, ia menghabisi dua penembak pertama dengan pisau taktis sebelum mereka sempat menarik pelatuk. Namun, saat ia berhadapan dengan penembak ketiga, sebuah helikopter patroli polisi mulai menyorotkan lampu pencari ke arah mereka.

Marvel terjepit antara musuh yang ingin kepalanya dan hukum yang siap memenjarakannya.

Marco berhasil mencuri helikopter atau kendaraan bandara untuk melarikan diri melalui jalur tikus udara.

Saat Marvel terdesak di antara moncong senjata musuh dan sorotan lampu helikopter polisi di area kargo bandara, sebuah kejutan besar muncul dari kegelapan.

Bukan peluru yang menerjang Marvel, melainkan rentetan tembakan dari lantai atas gedung parkir yang langsung melumpuhkan para penembak dari Kartel Sinaloa dalam hitungan detik. Dari balik bayang-bayang, muncul sosok yang sangat dikenal Marvel: Don Vieri, sang bos besar, berdiri dengan tenang dikelilingi oleh tim elit pengawalnya.

Don Vieri tidak membiarkan Marvel pergi begitu saja, tapi bukan untuk membunuhnya.

"Kau pikir aku akan membiarkan 'anak emas'-ku mati di tangan amatir seperti mereka?" suara Vieri menggema, dingin namun berwibawa.

Don Vieri melangkah mendekat, mengabaikan sirine polisi yang kian nyaring di kejauhan. Ia memberikan sebuah koper kecil dan paspor diplomatik kepada Marvel. Rupanya, di balik sifat kejamnya, Vieri memiliki "kode etik" lama: ia tidak akan membiarkan musuh luar menyentuh anggotanya, bahkan anggota yang sudah menyatakan pensiun.

"Ini adalah hadiah terakhir dariku. Di dalam sana ada akses ke sebuah pulau pribadi di lepas pantai Yunani. Namamu sudah dihapus dari semua database nasional dalam Operasi Keselamatan Jaya 2020yang sedang berlangsung di luar sana," bisik Vieri.

Vieri memberikan isyarat kepada pilot helikopter pribadinya yang sudah mendarat di area steril kargo. "Pergilah. Jadilah ayah yang baik, Marvel. Karena jika kau kembali ke dunia ini, akulah yang akan menarik pelatuknya sendiri."

Marvel tertegun. Ia tidak menyangka bahwa penghormatan terakhir dari dunia mafia datang dalam bentuk kebebasan. Tanpa membuang waktu, ia berlari menjemput Elara dan rexil yang bersembunyi di area katering, lalu membawa mereka naik ke helikopter Don Vieri.

Saat helikopter lepas landas meninggalkan gemerlap lampu Jakarta yang sedang dilanda kemacetan akibat pembatalan penerbangan massal, Marvel menatap Elara yang kini tersenyum lega sambil mendekap rexil yang tertidur lelap.

Sang "Penjagal" akhirnya meletakkan senjatanya untuk selamanya. Di atas awan yang gelap, ia menyadari bahwa cinta telah memberikan apa yang tidak bisa diberikan oleh kekerasan: sebuah rumah.

1
Dysha♡💕
bagus
Dysha♡💕
ceritanya bagus,tapi terlalu singkat dan cepat,,jadi kurang menghayati gitu,,,
erin
jangan bosan untuk membaca
erin
jangan lupa mampir🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!