Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: SISA ABU DAN HARAPAN YANG BERAKAR
Asap tipis masih mengepul dari sudut taman belakang, sisa-sisa amukan api semalam yang mencoba menelan habis warisan Ibu Juliet. Bau sangit kayu terbakar bercampur dengan aroma tanah basah setelah petugas pemadam kebakaran menyemprotkan ribuan liter air. Namun, di tengah kehancuran hitam itu, Juliet berdiri terpaku. Matanya menatap satu titik di mana mawar Golden Hope utama berada.
Tanaman itu tidak mati. Ajaibnya, kelopak yang tadinya putih susu kini mengeras dengan tepian emas yang berkilau tajam, seolah api justru menempa kekuatannya.
Gaara berjalan mendekat dari arah rumah, bahunya masih dibalut perban putih yang sedikit merembeskan noda obat merah. Ia membawa dua cangkir kopi panas yang asapnya menari-nari ditiup angin gunung yang dingin.
"Jangan menatapnya seolah kau melihat hantu, Juliet," suara Gaara rendah dan hangat, memecah kesunyian pagi.
Juliet menoleh, matanya berkaca-kaca. "Ini gila, Gaara. Adam membakar tempat ini untuk mematikan mata pencaharian kita, tapi lihat... mawar ini justru terlihat lebih hidup daripada saat kita menemukannya di balik dinding Ivy."
Gaara meletakkan kopi di atas meja batu yang menghitam, lalu menarik Juliet ke dalam pelukannya. Ia mengabaikan rasa perih di bahunya saat tangan Juliet melingkar di pinggangnya. Di tengah sisa-sisa abu yang beterbangan, mereka berdiri diam, saling menyalurkan kekuatan.
"Tanah ini tidak akan membiarkan kebenaran terbakar," bisik Gaara. Ia mengecup puncak kepala Juliet, menghirup aroma rambut gadis itu yang kini bercampur bau asap, namun tetap menjadi aroma favoritnya. "Adam lupa bahwa mawar terbaik tumbuh dari luka yang paling dalam."
Juliet mendongak, menatap wajah Gaara yang coreng-moreng oleh jelaga namun tetap terlihat sangat tampan di matanya. "Apa kau kesakitan? Bahumu..."
Gaara tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya ia berikan pada Juliet. "Rasa perih di bahuku ini tidak sebanding dengan rasa takutku saat melihatmu berlari menembus api tadi malam. Kau benar-benar nekat, Nona Wijaya."
"Aku bukan lagi Nona Wijaya yang rapuh, Kapten," balas Juliet sambil menyapukan jemarinya ke pipi Gaara, menghapus noda hitam di sana. "Aku adalah istrimu—setidaknya di hadapan Tuhan dan alam ini."
Gaara terdiam sejenak, matanya menatap cincin perak di jari Juliet. Tiba-tiba, ia merunduk dan mencium bibir Juliet dengan intensitas yang berbeda. Bukan lagi ciuman penuh ketakutan seperti saat api mengepung mereka, melainkan ciuman yang menjanjikan masa depan. Di sela ciuman itu, Juliet bisa merasakan rasa syukur yang meluap-luap dari pria yang dulu ia sangka hanya seorang kuli kasar tanpa perasaan.
Tangan Gaara yang kasar merayap ke tengkuk Juliet, menariknya lebih dekat hingga tidak ada celah di antara mereka. Di tengah reruntuhan taman yang gosong, adegan romantis itu terasa begitu kontras—sebuah kehidupan baru yang mekar di atas kematian yang dipaksakan.
Setelah momen itu, mereka mulai bergerak. Bu Ratna sudah menyiapkan sarapan sederhana di dapur yang syukurnya tidak terjamah api. Meskipun suasana hati mereka sedang naik, realitas hukum tetap membayangi.
"Kita harus segera membawa mawar yang bermutasi ini ke laboratorium botani pusat," ujar Gaara sambil mengunyah sepotong singkong rebus. "Jika mawar ini benar-benar berubah karena panas ekstrem, kita punya bukti ilmiah bahwa Adam secara tidak sengaja membantu kita menyempurnakan varietas ini. Itu akan menjadi tamparan keras di pengadilan."
Juliet mengangguk. "Dan aku sudah menghubungi Vina. Dia bilang dia punya rekaman pembicaraan Adam sebelum dia berangkat ke Australia. Vina ketakutan, Gaara. Dia sadar kalau Adam sudah gila dan dia tidak mau ikut terseret ke penjara."
"Vina? Kau percaya padanya?" Gaara menyipitkan mata.
"Dia tidak punya pilihan. Uang Adam sudah tidak bisa menyelamatkannya lagi. Dia butuh pengampunanku agar aku tidak menuntutnya atas keterlibatannya di awal," jelas Juliet.
Tiba-tiba, suara mobil menderu di depan gerbang. Bukan sedan hitam Adam, melainkan sebuah mobil jip putih dengan logo kementerian lingkungan hidup. Di belakangnya, beberapa motor wartawan mengikuti.
"Mereka datang lebih cepat dari perkiraanku," gumam Gaara. Ia berdiri, memakai jaket kargonya untuk menutupi perbannya. "Siap menghadapi dunia, Juliet?"
Juliet menarik napas panjang, merapikan kemejanya, dan menggenggam tangan Gaara. "Selama tangan ini bersamaku, aku siap."
Proses verifikasi berlangsung alot. Para ahli botani berdecak kagum melihat kondisi mawar Golden Hope. Mereka mengambil sampel tanah yang menghitam dan kelopak mawar yang bermutasi. Sementara itu, di luar pagar, Juliet menghadapi para wartawan dengan ketenangan seorang ratu.
"Rumah ini adalah warisan ibu saya," ucap Juliet dengan suara lantang dan jernih di depan puluhan mikrofon. "Kebakaran semalam bukan sekadar kecelakaan. Ini adalah upaya sabotase untuk menghapus sejarah dan kekayaan hayati Indonesia. Kami memiliki bukti, dan kami tidak akan mundur selangkah pun."
Seorang wartawan bertanya, "Nona Juliet, bagaimana dengan kabar bahwa Tuan Adam mengklaim lahan ini?"
Juliet tersenyum, jenis senyum yang membuat para wartawan terdiam. "Tuan Adam mungkin bisa membeli tanah, tapi dia tidak bisa membeli akar. Tanah ini sudah memilih siapa pemiliknya melalui api semalam. Dan kami akan membuktikannya di pengadilan."
Di sudut kerumunan, Gaara berdiri memperhatikan Juliet dengan rasa bangga yang membuncah. Ia melihat transformasi gadis itu—dari mawar vas yang manja menjadi mawar hutan yang berduri tajam namun indah.
Malam harinya, setelah semua orang pergi, kesunyian kembali menyelimuti Puncak. Gaara sedang duduk di teras, mengolesi luka bakarnya dengan salep saat Juliet keluar membawa selimut tebal.
Juliet duduk di sampingnya, menyelimuti bahu mereka berdua agar hangat. Mereka menatap ke arah lembah yang kini gelap gulita, di mana lahan proyek Adam yang disegel polisi tampak sunyi seperti kuburan beton.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Juliet pelan.
Gaara menyandarkan kepalanya di bahu Juliet. "Aku sedang memikirkan bab berikutnya. Kita baru di memulainya, kan? Masih banyak yang harus kita lalui jika kita ingin mencapai kesuksesan."
Juliet tertawa kecil, mengerti candaan suaminya. "Apa menurutmu perjalanan kita akan sepanjang itu?"
"Membangun kembali taman yang terbakar butuh waktu, Juliet. Menghadapi Adam di pengadilan internasional juga tidak sebentar. Tapi aku tidak keberatan, selama setiap babnya ada kau di sampingku."
Gaara memutar tubuhnya, menatap Juliet dengan sorot mata yang penuh gairah namun lembut. Ia menarik selimut itu hingga menutupi kepala mereka berdua, menciptakan ruang privasi kecil di teras yang dingin. Di bawah selimut itu, dalam kegelapan yang hanya ditemani suara jangkrik, Gaara mencium leher Juliet, membuat gadis itu merinding.
"Gaara..." bisik Juliet.
"Aku mencintaimu, Juliet. Sangat mencintaimu," bisik Gaara di telinganya.
Malam itu, di tengah sisa-sisa kehancuran, mereka merayakan kehidupan. Bukan sebagai korban, tapi sebagai pemenang yang sedang mempersiapkan serangan balik. Adam mungkin telah menyulut api, namun ia tidak sadar bahwa api itulah yang akhirnya akan membakar habis seluruh kekuasaannya sendiri.
Duri mawar Golden Hope kini telah menjadi pedang, dan Juliet serta Gaara siap untuk menghujamkannya tepat ke jantung keserakahan Adam di bab-bab mendatang.
...****************...