NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Sesampainya di rumah sakit, beberapa petugas segera datang menghampiri mobil. Laras yang sudah pucat dan kesakitan diturunkan dengan cepat, diletakkan di atas brankar, lalu dibawa masuk ke dalam dengan sigap.

"Suster... sakit banget...," erang Laras lemah, tangannya menggenggam seprai brankar dengan erat.

"Tenang, Bu... Tarik napas dalam-dalam ya," ucap salah satu suster yang terus berjalan cepat mendorong brankar.

Bu Rina berlari kecil di samping mereka, napasnya terengah, wajahnya tegang. Sesampainya di depan ruang bersalin, dua orang suster menghadang.

"Maaf, Ibu tidak boleh masuk. Mohon tunggu di luar," kata suster dengan sopan namun tegas.

Bu Rina terhenti. Dia menatap pintu ruang bersalin yang kemudian tertutup perlahan. Napasnya memburu karena khawatir dan lelah. Dengan gemetar, dia mengeluarkan ponsel dan kembali menghubungi Daffa.

"Daffa! Kamu di mana?! Laras sudah masuk ruang bersalin!"

Suara Daffa terdengar di seberang, terdengar tergesa namun tidak panik. "Maaf, Bu... Aku telat. Tadi ada rapat penting, aku nggak bisa tinggalin."

Bu Rina terdiam sesaat, lalu marah. "Jadi kamu lebih pilih rapat daripada istri kamu yang sedang perjuangkan nyawa lahirin anak kamu?!"

"Bu, jangan lebay, deh. Namanya juga lahiran, ya pasti keluar juga itu anak," jawab Daffa datar, seolah tak merasa bersalah.

Bu Rina mematung. Hatanya mendidih.

"Yang bikin Ibu khawatir bukan cuma anaknya, tapi biayanya! Kalau kamu nggak datang, siapa yang bayar?! Rumah sakit ini bukan gratis!"

Daffa menghela napas. "Tenang aja. Setelah rapat aku ke sana. Masih cukup waktunya. Atau... ya udah, telepon aja Lestari dulu. Minta bantuannya. Nanti aku ganti."

Sebelum Bu Rina sempat membalas, sambungan telepon diputus sepihak.

Bu Rina memandang layar ponselnya yang kembali gelap. Matanya berkaca-kaca, antara marah, kecewa, dan bingung. Ia menatap sekeliling, melihat ruangan rumah sakit yang dingin dan sunyi, hanya terdengar langkah-langkah petugas medis lalu lalang.

Dalam hati ia mengelus dada. "Ya Tuhan... selamatkan cucu."

Sesuai arahan Daffa, Bu Rina pun akhirnya menghubungi Lestari. Di apartemen mewahnya, Lestari sedang bersantai di sofa ruang tengah, kaki terangkat ke atas meja, mulutnya sibuk mengunyah potongan besar salad buah sambil menonton drama Korea di layar lebar. Ketika ponselnya berdering dan melihat nama ibunya, dia mendesah malas.

"Ih... ada-ada aja nih Ibu..." gumamnya, namun tetap menekan tombol hijau.

"Halo, Ibu kenapa sih telfon-telfon terus? Aku lagi istirahat."

Suara Bu Rina terdengar panik dari seberang.

"Tari... Laras! Dia masuk rumah sakit! Sepertinya sudah mau lahiran!"

Lestari mendengus. "Lalu kenapa Ibu bilangnya ke aku? Itu kan urusan Daffa dan istrinya."

"Daffa belum bisa datang, katanya masih ada rapat penting! Dia suruh kamu yang ke rumah sakit duluan... bantuin biayanya. Ibu nggak bawa uang segitu banyak, Tari."

Lestari membalikkan mata. "Aduh, kenapa semua masalah selalu jatuh ke aku sih? Aku kan bukan ATM keluarga!"

Bu Rina menghela napas panjang. "Tolong ya, Tari... Ini bukan soal kamu atau Laras. Ini soal nyawa keponakanmu juga."

Lestari diam sejenak, lalu mendesah berat. "Yaudah... yaudah! Aku ke sana."

Sambungan telepon pun terputus. Lestari meraih tas dan kunci mobil dengan kesal.

Sementara itu di rumah sakit, Bu Rina kembali duduk lemas di kursi tunggu. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, matanya melirik ke arah ruang persalinan, menunggu kabar.

Tiba-tiba, dari kejauhan, matanya menangkap sosok yang tidak asing. Seorang perempuan muda dengan perut yang membuncit, tampak berjalan perlahan di lorong rumah sakit ditemani seorang pria tinggi dan gagah. Pria itu mengenakan kemeja elegan, rapi, berwibawa... dan tampan.

"Itu... Raya?" gumam Bu Rina pelan. Matanya menyipit, mencoba memastikan.

Raya tampak berbeda. Penampilannya lebih anggun, tenang, dan auranya bersinar. Senyumnya merekah, dan dia tampak nyaman berada di samping pria yang berjalan bersamanya. Mereka lalu masuk ke dalam lift, tampaknya menuju lantai atas.

Bu Rina menoleh, mengikuti lift yang menutup perlahan. Dia bergumam, "Apa itu laki-laki yang mereka maksud? Hmm... lebih tampan dari Daffa... dan jelas lebih berkelas."

Wajah Bu Rina menunjukkan raut bingung, penasaran... sekaligus kagum. Dalam hatinya ia mulai membandingkan, "Kalau itu benar papanya anak Raya... dia jauh lebih baik dari anakku."

Ia termenung, menatap lantai. Perasaannya campur aduk khawatir pada Laras, kecewa pada Daffa, dan penasaran dengan kehidupan baru Raya yang terlihat jauh lebih bahagia.

Di dalam lift yang melaju naik, suasana sempat hening beberapa saat. Hanya suara lembut musik instrumental dari speaker kecil di sudut langit-langit yang terdengar. Arya berdiri dengan tangan disilangkan di depan dada, wajahnya masih terlihat kesal.

"Kenapa kamu nggak bilang kalau hari ini harus kontrol?" kembali tanya Arya tiba-tiba, nadanya terdengar tajam tapi tetap tenang.

Raya melirik sekilas, lalu mengalihkan pandangan ke angka lantai yang terus bertambah di layar digital lift. "Arya, udah aku bilang maaf. Kamu dari tadi ngomel terus. Serasa lagi diomelin emak-emak, tahu nggak?"

Arya mengangkat alisnya. "Emak-emak?" Ia menggeleng pelan, lalu menghela napas. "Aku ngomel karena kamu nyebelin. Kamu tuh kayak ngerasa bisa ngurus semuanya sendiri. Padahal sekarang kamu nggak sendiri, Raya. Ada aku."

Raya terdiam. Kata-kata Arya seperti menampar hatinya, meski disampaikan dengan nada rendah.

"Aku bukannya nggak mau ngajak kamu... aku cuma nggak mau merepotkan," jawabnya lirih. "Ini kan bukan anak kamu..."

Arya menoleh cepat. Matanya menatap tajam ke arah Raya. "Secara biologis, iya. Tapi sekarang aku calon suamimu, dan bayi itu... ada di keluarga Atmajaya. Mau kamu suka atau nggak, aku punya hak juga untuk peduli."

Raya menunduk. Perasaannya berkecamuk, antara bersalah, terharu, dan bingung harus membalas seperti apa.

Arya mendekat sedikit, suaranya melembut. "Raya, aku bukan orang yang suka ikut campur... tapi aku juga bukan tipe laki-laki yang akan diam saat calon istrinya merasa harus jalan sendiri. Aku tahu kamu kuat... tapi kuat bukan berarti harus sendirian."

Lift berhenti dengan bunyi "ting", pintunya perlahan terbuka ke lantai tujuan. Arya melangkah duluan, lalu menoleh ke belakang dan berkata, "Ayo, Nyonya Atmajaya. Dokter kita nunggu."

Raya tersenyum tipis. Hatinya mulai luluh, dan untuk pertama kalinya ia merasa... mungkin, hanya mungkin, dia bisa sedikit bersandar pada Arya.

Sesampainya di depan ruangan, seorang suster yang mengenakan seragam biru muda segera menghampiri mereka.

"Selamat pagi, Bu Raya, Pak Arya. Dokter Santi sudah menunggu dari tadi," ucapnya ramah, lalu membuka pintu sambil memberi isyarat untuk masuk.

Pintu terbuka pelan, dan senyum hangat langsung terpancar dari wajah Dokter Santi yang berdiri di balik meja kerjanya.

"Nah, akhirnya datang juga pasangan favorit saya!" godanya sambil tertawa kecil. Matanya melirik Arya. "Ternyata Pak Arya ini bukan hanya suami, tapi calon papa siaga juga, ya?"

Arya terkekeh, nada suaranya terdengar penuh kebanggaan. "Harus dong, Dok. Inikan menyangkut kesehatan Anak dan istri saya, masa saya cuek?"

Raya hanya tersenyum canggung sambil menunduk, pipinya sedikit merona.

"Benar sekali. Baik, silakan, Bu Raya, berbaring ya," ujar Dokter Santi, sambil menunjuk tempat pemeriksaan. "Pak Arya, berdiri saja di samping sini, supaya bisa lihat langsung calon buah hati."

Raya berbaring pelan di atas tempat tidur pemeriksaan, sementara Arya berdiri di samping, masih terlihat tenang namun penasaran. Saat gel dioleskan ke perut Raya dan alat USG mulai digerakkan, layar monitor perlahan menunjukkan bentuk janin yang sudah tumbuh sempurna dan lengkap di dalam perut.

Arya tertegun.

Matanya membesar, tatapannya tak lepas dari monitor. Tanpa sadar, tangannya menggenggam erat tangan Raya. Suaranya nyaris berbisik.

"Itu... itu anak kita?"

Dokter Santi tersenyum melihat ekspresi Arya.

"Tentu saja. Lihat ini... detak jantungnya bagus, tumbuhnya juga sehat."

Raya menoleh ke Arya, matanya sedikit berkaca.

Tak pernah ia bayangkan laki-laki yang bukan ayah kandung dari anak ini akan menunjukkan rasa haru seperti itu.

"Mau lihat jenis kelaminnya sekarang?" tanya Dokter Santi sambil melirik mereka berdua.

Raya buru-buru menjawab, "Nggak usah, Dok. Saya sudah tahu... anak saya perempuan."

Dokter Santi tertawa kecil. "Wah, naluri ibu memang luar biasa. Baiklah kalau begitu."

Arya hanya tersenyum. "Buat saya, perempuan atau laki-laki nggak masalah. Yang penting... ibu dan bayinya selamat."

Ucapan itu begitu tulus, mengalir lembut dari mulut Arya. Raya menoleh pelan ke arahnya.

Hatinya seperti meleleh. Kalimat itu, kalimat yang selama ini dia tunggu dari Daffa justru keluar dari seseorang yang tak pernah dia duga, Arya.

Raya menggenggam tangan Arya balik, perlahan.

"Terima kasih, Arya..." gumamnya lirih.

Dokter Santi menutup pemeriksaan dengan senyum penuh arti. "Anak ini beruntung sekali. Punya ibu yang kuat dan calon ayah yang perhatian."

Setelah pemeriksaan selesai, Arya membantu Raya duduk kembali. Mereka kini duduk bersebelahan di hadapan meja kerja dokter Santi yang tengah memeriksa beberapa catatan di komputernya.

"Oh iya, Bu Raya, vitamin yang saya beri waktu itu masih ada?" tanya Dokter Santi sambil menoleh ke arah mereka.

Raya tersenyum canggung, tangannya reflek menyentuh perut. "Ehm... sebagian masih ada, Dok. Kadang saya lupa minum."

"Lupa?" Arya langsung menoleh cepat ke arah Raya, alisnya berkerut. Wajahnya jelas terkejut.

Lalu ia menatap ke arah dokter dengan raut menyesal. "Maaf ya, Dok. Saya benar-benar nggak tahu. Mulai sekarang, saya yang akan kontrol dia minum vitaminnya."

Dokter Santi tertawa kecil melihat ekspresi Arya yang terlihat sangat serius. "Wah, Pak Arya... saya kira Bapak ini orangnya dingin dan tenang terus. Ternyata untuk hal sepele begini saja bisa langsung panik."

"Bukan panik, Dok," jawab Arya, sedikit tersipu.

"Saya cuma khawatir. Saya nggak bisa ngebayangin kalau sampai terjadi apa-apa hanya karena hal kecil yang saya abaikan."

Dokter Santi tersenyum lebar, hatinya ikut hangat melihat interaksi keduanya.

"Bu Raya, kamu beruntung sekali. Nggak semua calon ayah peduli seperti ini. Kadang vitamin saja dibilang nggak penting."

Raya menunduk pelan. Hatinya mencelos, antara bahagia dan terharu. Kata-kata itu menusuk bagian terdalam dalam dirinya. Ya... dia memang beruntung. Meski semua ini berawal dari hubungan yang tidak biasa, tapi entah sejak kapan, dia mulai merasa aman di samping Arya.

Tak lama, mereka pun berpamitan dan keluar dari ruangan. Dokter Santi melepas mereka dengan senyum puas.

Begitu sampai di depan lift, mereka menunggu sebentar sebelum pintunya terbuka. Arya menoleh sekilas ke arah Raya, lalu menggoda dengan nada datar tapi hangat.

"Mulai sekarang, nggak ada lagi lupa minum vitamin. Kalau perlu, aku bikin alarm tiga kali sehari."

Raya hanya mencibir manja, "Iya, iya... Si Emak-Emak cerewet siap siaga."

Pintu lift terbuka. Mereka masuk dan menekan tombol menuju lantai dasar. Percakapan mereka masih diselingi senyum kecil hingga pintu lift terbuka di lantai satu.

Namun mereka tak menyadari dari kejauhan, di sudut ruang tunggu yang agak sepi, sepasang mata memperhatikan mereka tajam.

1
Ariany Sudjana
Arya ini bodoh sekali, baru juga kalang kabut kehilangan raya, sekarang sudah buka celah untuk jalang murahan masuk dan menghancurkan rumah tangga kamu dengan raya. kamu ga bisa jujur dengan raya, berarti kamu masih berharap rujuk lagi dengan Herlin, dasar ga tegas kamu Arya
Yeni Yeni: waoowwww.... 🤣🤣🤣kita lihat nanti😄
total 1 replies
Ariany Sudjana
ini ada pelacur murahan, Herlin, waspada terus yah Arya
Yeni Yeni
😄😄😄😄😄😄cerita nya luar biasa, cara penyampaian nya seperti obrolan sehari hari, beda author, beda cara penyampaian nya☺🤭
Iry: hehehe gitu deh😁🤗
total 1 replies
Yeni Yeni
iyalah raya menikah setelah akte cerai telah keluar... kalau tidak, mana mungkin bisa sah secara hukum negara
Yeni Yeni
bener ya author 10 bab Tiap-tiap hari sampai tamat... janjiiii😄
Yeni Yeni: 😍😍😍😍😍😍😍😍😍
total 2 replies
Yeni Yeni
author numpukin bab nih, sekian lama menunggu akhirnya.... 😄
Yeni Yeni
km ngumpulin bab author? saya jd geregetan nunggu nya. sekali muncul langsung 8bab🤭☺☺
Yeni Yeni: ☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺
total 2 replies
Aviciena
ikutan dulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!