NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

Setelah Dokter Santi pergi, suasana kamar menjadi lebih tenang. Bu Atika mendekat lalu duduk di sisi tempat Raya berbaring.

"Raya," ucapnya dengan suara lembut namun penuh semangat, "Ibu punya sesuatu untukmu."

Raya langsung menoleh. "Hadiah untuk saya, Bu?" tanyanya kaget, matanya berbinar. "Hadiah apa?"

Pak Harun yang berdiri di dekat pintu ikut menimpali, "Lebih baik lihat langsung saja. Ayo, ikut Ibu ke luar. Biar lebih kejutan."

Raya masih diliputi rasa penasaran. Ia pun berdiri perlahan, dan tangan Bu Atika langsung menggandengnya penuh kehangatan. Bersama mereka melangkah keluar menuju halaman rumah yang teduh dan sejuk oleh pepohonan.

Begitu tiba di halaman, Raya terdiam. Matanya langsung membelalak ketika melihat sebuah mobil mewah berwarna putih mengilap, dihiasi pita besar berwarna pink lembut di bagian depan. Udara siang itu terasa berhenti sejenak baginya.

"A-apa ini...?" bisiknya, menutup mulutnya yang menganga.

Dengan langkah gemetar dan mata berkaca-kaca, Raya maju perlahan ke depan mobil. Ia bahkan mencubit tangannya sendiri, lalu mencoba menggigit ujung jari. "Saya nggak mimpi kan, Bu?"

Bu Atika tertawa lebar, begitu pula Pak Harun yang berdiri di sisi nya. "Bukan mimpi, Raya sayang," jawab Bu Atika dengan lembut. "Ini memang hadiah dari kami. Untukmu."

"Tapi... kenapa?" tanya Raya, suaranya serak tertahan emosi.

"Karena kamu adalah calon menantu kami. Dan nanti, setelah anakmu lahir, cucu pertama keluarga Atmajaya tidak boleh kepanasan kalau mau pergi kontrol ke rumah sakit atau jalan-jalan," ujar Bu Atika sambil membelai pundak Raya.

Pak Harun mengangguk. "Kami ingin kamu tahu, kamu sudah jadi bagian dari keluarga ini."

Raya tak kuasa menahan air matanya. Ia menunduk, menutup wajah dengan kedua tangannya, lalu menangis dalam diam. Bukan karena sedih, tapi karena haru yang membuncah di dalam dada. Ia tak pernah membayangkan bisa diperlakukan sehangat dan semulia ini.

"Terima kasih, Bu... Pak... Saya nggak tahu harus bilang apa..." ucapnya pelan di sela isak haru.

Tiba-tiba terdengar suara langkah cepat dari arah rumah. Arya muncul di depan pintu, dengan wajah bingung melihat kerumunan itu. "Eh, rame amat di luar. Ada apa nih?"

Begitu melihat pita besar dan mobil mewah, Arya langsung menoleh ke arah orangtuanya, lalu ke Raya yang masih terharu. Ia melongo sejenak.

"Ini... buat Raya?" tanyanya.

Pak Harun mengangguk santai. "Iya dong. Masa calon ibu dari cucu kami naik ojek terus?"

Arya mendengus seolah cemburu, lalu berkata dengan nada menggoda, "Wah, ini namanya anaktirikan. Bapak, Ibu, saya dari kecil sampai gede nggak pernah dapet mobil pita pink begini!"

Bu Atika tertawa geli. "Kalau kamu mau, Ibu beliin juga. Tapi harus ada pitanya, warna biru muda, ya."

Arya ikut tertawa, namun diam-diam menatap Raya dengan pandangan lembut. Ia melihat betapa bahagianya perempuan itu, dan di dalam dadanya sendiri, ada rasa hangat yang mengalir. Bahwa di balik perjanjian yang mereka buat, ada sesuatu yang jauh lebih dalam mulai tumbuh dan itu tidak bisa dipungkiri lagi.

Raya menoleh ke Arya dan tersenyum di tengah air matanya. "Ternyata aku nggak salah memilih menjalani semua ini bersama kamu..."

Arya hanya mengangguk pelan. Ia tak berkata apa-apa. Tapi dari sorot matanya, Raya bisa membaca bahwa ucapan itu tak masuk telinga kanan lalu keluar dari kiri. Ia menyimpannya.

Dan tanpa mereka sadari, hari itu menjadi salah satu momen kecil yang diam-diam menancap dalam di hati mereka berdua.

Sudah beberapa hari berlalu sejak Lestari meninggalkan rumah dan pindah ke apartemen barunya. Sejak kepergian Lestari, rumah keluarga Hartawan terasa lebih sepi tapi bukan berarti lebih damai.

Justru, tanpa adanya asisten rumah tangga, kehidupan di rumah itu menjadi lebih kacau. Laras dan Bu Rina kini harus saling bahu-membahu mengurus pekerjaan rumah, sesuatu yang belum pernah benar-benar mereka lakukan sebelumnya. Namun, alih-alih bekerja sama, mereka lebih sering bertengkar.

Siang itu, matahari bersinar terik. Laras yang baru saja selesai mencuci piring tampak berdiri memandangi tangannya. Tiba-tiba...

"AaaaAAAААНННН!!"

Teriakan nyaring itu menggema ke seluruh penjuru rumah.

Bu Rina yang baru saja menaruh kain pel di ember langsung tersentak. Nafasnya masih terengah usai mengepel hampir seluruh lantai rumah.

"Ada apa lagi sih, Laras?!" serunya panik sambil berlari ke dapur.

Begitu sampai, ia mendapati menantunya berdiri mematung di depan wastafel, wajahnya penuh duka seperti habis kehilangan berlian.

"Ada apa?! Kamu kenapa?!"

Laras berbalik dengan wajah cemberut, air matanya menetes. "Lihat ini, Bu! Kuku aku... kukuuu aku patah!" serunya sambil menunjuk kukunya yang cat gel-nya terkelupas, dan satu kuku palsu bahkan hilang entah ke mana.

Bu Rina menatapnya sejenak. Lalu menghela napas panjang.

"Hanya karena kuku?! Kamu teriak kayak rumah kebakaran!" kata Bu Rina dengan nada kesal.

"Ini kuku mahal, Bu! Aku habis perawatan dua juta setengah minggu lalu!" rengek Laras.

Bu Rina mendengus keras. "Dua juta setengah buat kuku? Astaga! Daripada buat kuku, mending bayar pembantu!"

"Yaaa... karena belum nemu pembantu yang cocok, aku jadi korban! Lihat nih tanganku, kasar semua!" kata Laras sambil menangis makin keras.

Bu Rina geleng-geleng kepala. "Yang penting rumah bersih, bukan kukumu kinclong! Kamu itu terlalu manja!"

"Bukan manja, Bu! Ini estetika wanita! Aku ini hamil loh, harus tetap cantik di depan suami!" balas Laras sambil menyeka air matanya.

"Kalau gitu, lain kali jangan hamil di rumah orang! Susah dibilangin!" sahut Bu Rina tajam.

Adu mulut itu makin memanas, hingga Daffa yang baru pulang mendengar kegaduhan dari arah dapur. Ia langsung masuk dan berseru, "Ini kenapa lagi siang-siang teriak-teriak kayak pasar malam?!"

Keduanya langsung menoleh. Laras dengan wajah tersiksa menunjuk kukunya. "Kukuku, Mas... rusak semua..."

Daffa hanya mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Astaga, kalian ini... Kalau Lestari tahu, bisa-bisa dia tertawa puas dari apartemen."

Bu Rina mengangguk. "Makanya suruh Laras ini cari pembantu cepat-cepat!"

"Bu, itu bukan tugasku aja dong! Bisa kan Bu juga bantu cari?" protes Laras.

"Eh, saya yang tua masih harus ngepel rumah! Kamu yang muda cuma nangis gara-gara kuku!"

"Lho! Saya hamil loh, Bu!"

"Anak kamu itu anak kamu dan Daffa, bukan cucu saya doang!"

Melihat pertengkaran yang tidak ada habisnya itu, Daffa akhirnya berkata dengan nada tegas, "Cukup! Sampai pembantu baru datang, kalian berdua bagi tugas. Hari ini Ibu nyapu, Laras nyuci.

Besok gantian! Dan jangan ribut lagi!"

Bu Rina dan Laras hanya bisa mendengus kesal, saling melotot, tapi akhirnya mengangguk pasrah.

Malam pun tiba. Lampu-lampu rumah sudah menyala, namun bukan ketenangan yang terdengar -melainkan isak tangis lirih dari ruang tengah.

Laras duduk di sofa sambil memandangi kukunya yang kini terlihat kusam, patah, dan sebagian hiasannya mengelupas. Ia menghela napas panjang, namun tak lama kemudian kembali menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan favoritnya.

"Astaga, Laras! Dari tadi siang sampai sekarang nangisin kuku terus! Apa nggak capek?" Daffa akhirnya angkat suara dari dalam kamar, suaranya terdengar geram.

Laras masih terisak. "Mas nggak ngerti... ini penting buatku. Aku ini wanita, Mas. Cantik itu investasi!"

Daffa keluar dari kamar, berdiri dengan wajah kusut. "Investasi? Sekarang kita bukan lagi orang kaya, Laras. Mau cantik segimanapun, nggak ada artinya kalau kita jatuh miskin!"

Laras mendongak dengan mata berkaca-kaca.

"Jadi Mas nyalahin aku sekarang?"

"Yang aku salahin itu sikapmu yang lebay dan manja! Kamu pikir enak aku sekarang? Tekanan kantor makin berat. Tinggal dua bulan lagi pengumuman proyek dari perusahaan Atmajaya. Kalau perusahaan kita nggak dapet itu, selesai semua ini!" Daffa membentak, ekspresinya penuh tekanan dan frustasi.

"Makanya aku mau ikut Mas ke kantor besok! Biar aku bisa bantu!" ujar Laras tiba-tiba.

Daffa mengerutkan kening. "Ikut ke kantor? Ngapain?"

"Aku bisa bantu bicara dengan Pak Yandris, atau setidaknya menunjukkan kalau kita keluarga harmonis. Itu penting buat image perusahaan, kan?" Laras mulai terdengar memohon.

"Enggak usah, kamu di rumah aja. Nanti malah ganggu."

"Mas, aku nggak mau diam aja! Aku juga punya hak bantu Mas. Aku istri Mas!" desak Laras, kini berdiri menatap suaminya dengan penuh determinasi.

Daffa menatap Laras lama. Wajahnya terlihat ragu. Tapi akhirnya dia menyerah. "Ya udah. Tapi jangan banyak tingkah di kantor. Dan jangan ganggu kerjaanku."

Laras tersenyum puas, meski air matanya masih menempel di sudut mata. "Aku janji. Aku akan bantu semaksimal mungkin."

Daffa kembali ke kamar tanpa berkata apa-apa, sementara Laras mengambil ponselnya dan mulai merapikan rambutnya di depan kamera, memastikan bahwa meskipun kukunya rusak, dia masih bisa tampil sempurna besok.

Dalam hatinya, Laras tahu dia harus melakukan sesuatu agar Daffa kembali berada di puncak. Bukan hanya demi mereka... tapi juga demi dirinya sendiri. Selain itu dengan dia ikut ke kantor besok, dia tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah. "Biarkan saja Bu mertua yang mengerjakan pekerjaan rumah besok, hehehe," ucapnya.

Pagi itu, suara langkah kaki terdengar dari lorong kamar. Daffa dan Laras keluar dengan pakaian rapi. Laras mengenakan gaun hamil yang elegan dengan makeup tipis, sementara Daffa memakai setelan kantor berwarna abu-abu.

Laras menggandeng tangan Daffa erat, berharap hari ini akan menjadi hari penting untuk membuktikan dirinya bisa berguna juga untuk perusahaan.

Namun langkah mereka terhenti saat tiba di ruang makan.

"Lho, kok belum ada sarapan?" tanya Laras dengan nada tinggi. "Piring-piring masih berserakan begini..."

Belum sempat Daffa menjawab, suara pintu kamar terdengar terbuka. Bu Rina keluar sambil menggigil. Wajahnya pucat, dua koyo menempel di pelipis kanan dan kiri. Dia mengenakan jaket tebal dan berjalan perlahan ke arah mereka.

"Aduh, Ibu lagi nggak enak badan... dari semalam kepala cenat-cenut, badan menggigil semua..." ucap Bu Rina lemah sambil memegangi pinggang.

Laras langsung mendengus. "Terus, siapa yang masak, Bu? Saya kan juga hamil. Mana kuat ngerjain semua?"

Daffa menatap istrinya, lalu menghela napas berat. "Ya udah, Ras. Kamu nggak usah ikut ke kantor. Di rumah aja. Jaga Ibu, beresin rumah, ya?"

"Apa?! Mas, kan aku udah siap. Aku mau ikut! Kita udah bahas ini semalam," Laras protes sambil menepis tangan Daffa dari lengannya.

"Keadaan berubah. Ibu sakit. Rumah juga berantakan. Masa kamu tega biarin semuanya kayak gini?" Daffa membalas, nadanya mulai meninggi.

"Mas suruh aku ngurus semuanya? Aku hamil, Mas! Aku bukan pembantu di rumah ini!" seru Laras, matanya berkilat.

Daffa mencoba menenangkan. "Ya pelan-pelan aja. Nggak usah dipaksain. Nanti juga aku cari pembantu secepatnya."

Laras melipat tangan di dada, masih tak terima. "Kalau gitu Ibu jangan maksa harus masak. Kita pesen makanan online aja."

Bu Rina ikut angkat suara, walau suaranya lemah. "Kita harus hemat, Laras. Kalau beli makanan online, cuma bisa makan sekali. Kalau masak, bisa buat makan seharian. Masa kamu nggak mikir?"

"Ya ampun... Ibu tuh ya, sakit tapi masih banyak ngomel," gerutu Laras kesal.

Daffa memicingkan mata, suaranya terdengar tegas dan dingin. "Sudah, Laras. Kamu di rumah. Titik. Aku pergi dulu."

Tanpa menunggu reaksi, Daffa mengambil tas kerjanya dan berjalan keluar rumah. Pintu tertutup dengan dentuman ringan.

Laras menatap kesal ke arah pintu. Sementara Bu Rina kembali berjalan pelan menuju kamar, sambil menghela napas panjang.

Di ruang makan yang masih berantakan itu, Laras hanya bisa berdiri terpaku dengan rasa jengkel yang menumpuk di dada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!