raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pengorbanan sang raja dan jeritan cahaya yang terluka
Malam di Aethelgard terasa lebih sunyi dari biasanya. Di dalam rumah kayu yang hangat, cahaya remang dari perapian memantul di dinding.
Vani duduk bersandar di ranjang, mendekap Silvia yang tampak gelisah dalam tidurnya. Untuk menenangkan sang putri, Vani menggerakkan jemarinya di udara, menciptakan percikan kembang api kecil dari sihir cahaya yang berwarna-warni.
"Lihat ini, Silvia... bunga cahaya untukmu," bisik Vani lembut.
Silvia kecil tertawa lemah, matanya yang keemasan mengikuti gerakan cahaya itu hingga akhirnya rasa ngantuk mulai menyerangnya. Ia menarik-narik ujung baju Vani, sebuah kode kecil yang sudah sangat dipahami ibunya.
Silvia lapar dan ingin menyusu. Dengan penuh kasih, Vani memberikan asupannya hingga sang bayi perlahan menguap lebar, menampakkan dua gigi kecilnya yang lucu sebelum akhirnya terlelap dengan senyum tipis di bibirnya.
Vani menoleh ke arah sisi tempat tidur yang lain. Ferdi sudah tertidur pulas dengan posisi membelakangi mereka. Napasnya teratur, namun Vani tidak tahu bahwa di balik tidur itu,
indra Ferdi sedang bekerja dalam siaga penuh.
Vani mengusap kening Silvia lalu berbisik pelan ke arah punggung Ferdi,
"Ferdi... terima kasih. Terima kasih sudah memberikan bayi sekecil dan selucu ini. Dia sangat mirip denganku, tapi punya keteguhan yang sama sepertimu. Aku tahu kau pria yang menyebalkan dan kaku, tapi... terima kasih."
Vani tidak menyadari bahwa telinga Ferdi menangkap setiap kata itu. Di bawah selimut, tangan Ferdi mengepal. Hatinya perih. Ia tahu, fajar yang akan datang tidak akan seindah biasanya.
Pukul lima pagi. Kabut tebal menyelimuti ladang. Vani sudah rapi dengan pakaian pasarnya. Ia membawa keranjang rotan besar yang biasanya digunakan untuk memuat banyak daging dan sayuran.
"Ferdi! Bangun! Aku mau ke pasar, titip Silvia sebentar!" seru Vani sambil mengguncang bahu suaminya.
Ferdi tetap bergeming. Ia hanya mendengus kasar dan menarik selimutnya lebih tinggi. Sifat "takut istri"-nya seolah hilang, berganti menjadi kemalasan yang luar biasa.
"Ferdi! Aku bicara padamu! Kau ini benar-benar tidak berguna kalau sudah tidur!" Vani mulai mengomel, suaranya melengking. "Aku harus berangkat sekarang sebelum daging terbaik habis diambil orang! Cepat bangun dan jaga anakmu!"
"Berisik, Vani... Pergi saja sendiri," gumam Ferdi dengan nada ketus yang sengaja dibuat untuk memancing kemarahan Vani.
"Oh, bagus! Jadi sekarang kau mengusirku? Baik! Aku bawa Silvia bersamaku! Jangan harap kau dapat sarapan enak hari ini!"
Vani menyambar keranjangnya dengan marah. Ia memasukkan Silvia yang baru saja bangun ke dalam keranjang tersebut, menyelimutinya dengan kain tebal, dan menaruh beberapa bunga teratai sihir di atasnya.
Di dalam keranjang, Silvia justru tersenyum melihat belalang sihir kecil yang menari-nari di atas teratai yang dibuat ibunya. Vani melangkah keluar rumah dengan hentakan kaki penuh amarah, tidak menyadari bahwa Ferdi baru saja membuka matanya dengan tatapan yang sangat hancur.
Selamat tinggal, Vani. Selamatkan putri kita, batin Ferdi.
Pukul 05.30. Ferdi keluar rumah dengan cangkul di bahunya. Ia berjalan menuju ladang jagung, sengaja memposisikan dirinya di titik terbuka yang mudah terlihat dari hutan.
Sring!
Tiga bayangan melompat dari pepohonan. Utusan dewa muncul dengan senjata perak yang berkilau.
"Akhirnya, Sang Raja Kegelapan menunjukkan lehernya," ujar pemimpin pengintai.
Ferdi tidak bicara. Ia melepaskan cangkulnya dan mengeluarkan sisa kekuatan kegelapannya. Dalam beberapa gebrakan, Ferdi unggul.
Gerakannya cepat dan mematikan, membuat para utusan itu terdesak. Namun, Ferdi tidak sadar bahwa ini adalah jebakan di dalam jebakan.
Cess! Cess! Cess!
Dari balik pohon di belakangnya, rentetan panah kecil meluncur. Ujungnya dilapisi racun pemutus saraf yang diciptakan khusus untuk melumpuhkan dewa. Panah-panah itu menancap di punggung Ferdi berkali-kali. Ferdi terbatuk, darah hitam keluar dari mulutnya. Ia jatuh tersungkur di tanah sawah yang berlumpur.
"Berhasil! Dia pingsan!" teriak salah satu pengintai.
Mereka segera berlari menuju rumah kayu itu, memporak-porandakan pintu dan menghancurkan isinya. "Mana bayi itu?! Dimana si anomali?!"
Mereka mencari ke setiap sudut, menghancurkan meja makan dan tempat tidur, namun rumah itu kosong. Sang pemimpin pengintai menggeram marah.
"Sialan! Wanita itu membawa keranjang besar tadi pagi... kita pikir itu hanya belanjaan! Kita terkecoh oleh sihir kembang api murahan itu!"
Mereka merasa terbodohi. Namun, mereka tidak punya waktu untuk mengejar Vani ke pasar yang lokasinya tak mereka ketahui.
"Bawa Ferdi! Kita jadikan dia pancingan. Masukkan kekuatannya ke dalam Kotak Suci!"
Tubuh Ferdi yang tak berdaya dirantai, sihirnya diserap habis dan dikurung dalam kotak emas yang disegel doa surgawi. Mereka membawanya terbang melintasi samudera menuju Benua Azure.
\*\*\*\*\*\*\*†\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Siang hari, Vani pulang dengan wajah ceria setelah berhasil menawar daging sapi. Silvia duduk di atas tumpukan belanjaan di keranjang sambil mengoceh riang. Namun, langkah Vani terhenti di depan gerbang.
Hening. Pintu rumahnya hancur.
Vani menaruh keranjangnya. "Ferdi? Ferdi!"
Ia berlari ke ladang dan menemukan bercak darah yang sangat banyak di sawah. Baju kerja Ferdi robek dan tergeletak di lumpur. Peternakannya hancur, ayam-ayamnya mati, dan sapi perahnya terluka.
"FERDI! JANGAN BERCANDA! KELUAR KAU!" teriakan Vani berubah menjadi tangisan histeris. Ia jatuh berlutut di tengah sawah yang hancur lebur.
Melihat ibunya menangis, Silvia yang berada di keranjang ikut menangis keras. Perasaan Silvia selalu mengikuti ibunya;
saat Vani sedih, ia ikut sesak. Saat Vani mengomel, ia ikut mengoceh "Pa pa pa" dengan nada marah. Kini, tangisan mereka berdua menyatu, memecah kesunyian desa Aethelgard.
Vani merangkak masuk ke dalam rumah yang berantakan. Di atas meja makan yang miring, ia menemukan sepucuk surat. Dengan tangan gemetar, ia membacanya:
> "*Vani, maafkan aku. Aku tahu mereka mengintai sejak delapan bulan lalu. Aku sengaja membuatmu marah pagi ini agar kau membawa Silvia keluar dari rumah ini sebelum mereka menyerang. Jangan cari aku. Hidup sajalah dengan tenang bersama putri kita. Aku gagal menjagamu dengan tanganku sendiri, tapi aku sudah memasang barrier di sekeliling rumah ini. Selama kau di sini, kekuatan Silvia tidak akan tercium oleh para dewa. Maafkan suamimu yang kaku ini*."
>
"BODOH! FERDI BODOH!" Vani memukul meja, air matanya membasahi kertas itu. "Kenapa kau tidak bilang?! Kau pikir aku wanita lemah yang butuh perlindungan pengecut seperti ini?! Aku benci kau, Ferdi! Aku benci!"
Vani tidak tahu bahwa saat Ferdi hampir pingsan tadi, ia menggunakan sisa-sisa terakhir kekuatan kegelapannya untuk menciptakan Barrier tak terlihat. Barrier itu menutupi sinyal energi dari tangisan Silvia agar para dewa tidak bisa melacak lokasi mereka lagi.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Di Benua Azure, di tengah aula istana megah yang dikelilingi ribuan prajurit cahaya, Ferdi dirantai di tengah ruangan. Tangannya ditarik ke atas oleh rantai suci yang membakar kulitnya. Sihirnya telah habis dikurung dalam Kotak Suci di depan tahta.
Dewa Agung Zephyrus turun dari tahtanya, memegang cambuk petir.
"Katakan, dimana istrimu? Dimana anak haram itu?"
Ctar!
Cambuk itu menghantam dada Ferdi, meninggalkan luka bakar yang dalam.
Ferdi mendongak. Meski wajahnya penuh darah dan tubuhnya lemah, matanya tetap memancarkan kedinginan yang mematikan. Ia tertawa kecil, tawa yang mengejek.
"Kau menanyakan keberadaan mereka?" Ferdi meludah ke arah kaki Zephyrus. "Satu hal yang aku sesali dalam hidupku bukan karena aku tertangkap hari ini. Tapi karena 1000 abad yang lalu, saat aku berumur 17 tahun dan memimpin perang, aku terlalu baik karena tidak membasmi kalian semua sampai ke akar-akarnya."
"Beraninya kau!" Zephyrus memukul wajah Ferdi dengan gagang cambuk.
"Pukul saja sesukamu, Dewa Kecil," ejek Ferdi dengan senyum miring. "Kalian takut pada balita, bukan? Kalian mengirim pasukan elit hanya untuk menculik seorang ayah yang sedang mencangkul. Kalian tidak lebih dari sekumpulan pengecut yang gemetar ketakutan."
"Diam! Kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan saat kami menjadikanmu pancingan agar wanitamu datang menyerahkan diri!"
Zephyrus memerintahkan prajuritnya untuk terus mencambuk Ferdi tanpa henti.
Di kejauhan, di rumah kayunya yang hancur, Vani berdiri. Tangisannya berhenti, digantikan oleh aura cahaya yang mulai menggelap karena kemarahan yang luar biasa. Ia menatap ke arah utara, ke arah Benua Azure.
"Jika mereka ingin memancingku... maka mereka akan mendapatkan apa yang mereka minta,"
bisik Vani dengan suara bergetar. Silvia di gendongannya mengepalkan tangan kecilnya, seolah ikut merasakan kemarahan ibunya.
Next bab epic
Terima kasih sudah baca Bab 17 yang sedih ini! Bagaimana menurut kalian tentang pengorbanan Ferdi? Tulis di kolom komentar ya!"