NovelToon NovelToon
Cinta Diruang Trauma

Cinta Diruang Trauma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: Anjelisitinjak

Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 8

Aku masih terdiam di pinggir sungai itu, membiarkan angin sore menerpa wajahku yang sudah kering dari air mata.

Namun, kesedihan ternyata tidak bisa membendung rasa lapar yang mulai menyiksa. Kepalaku terasa berdenyut pusing, dan perutku terasa melilit perih.

Aku tersadar sejak keributan tadi pagi, tidak ada satu pun makanan yang masuk ke tubuhku.

​Aku bergegas menuju motor dan mencari rumah makan terdekat. Aku berhenti di sebuah restoran yang suasananya cukup tenang. Aku memilih kursi di pojok, tempat paling aman untuk bersembunyi dari tatapan orang-orang.

​"Mbak, saya pesan Nasi Goreng Spesial dengan ekstra telur mata sapi, Ayam Bakar Madu, dan satu porsi Cumi Tepung Crispy," ucapku pada pelayan. Untuk minumnya, aku memesan Es Teh Manis berukuran besar dan segelas Jus Alpukat yang kental.

​Aku merasa butuh energi besar untuk menanggung beban pikiran yang baru saja kualami. Energiku benar-benar terkuras habis karena dipaksa menggali luka lama.

​Saat pesanan datang, aroma ayam bakar yang gurih dan manis sempat membangkitkan seleraku. Aku langsung menyantapnya tanpa ba-bi-bu. Sendok demi sendok masuk ke mulutku dengan cepat. Aku hanya ingin kenyang, aku hanya ingin rasa perih di perutku hilang.

​Namun, baru beberapa menit berlalu, gerakanku melambat. Potongan cumi terakhir masih menggantung di garpuku. Tiba-tiba saja, perutku terasa penuh dan kerongkonganku seolah terkunci. Aku menatap meja yang penuh dengan makanan itu dengan pandangan kosong. Aku kembali melamun.

Bayangan wajahnya di masa lalu suara teriakan Papa, dan isak tangis Mama kembali berputar seperti kaset rusak.

​Kenapa aku masih makan dengan enak, sementara hidupku sehancur ini? pikirku getir.

Nafsu makanku hilang seketika, menguap entah ke mana. Rasa lapar yang tadi menyiksa kini berganti menjadi rasa mual yang menyesakkan.

​Aku menghela napas panjang, baru saja hendak memanggil pelayan untuk membungkus sisa makananku, tiba-tiba sebuah suara yang sangat kukenal menyapa dari arah samping.

​"Han? Kamu di sini?"

​Aku tersentak kaget sampai hampir menjatuhkan garpu. Aku menoleh dan mendapati sesosok lelaki berdiri di sana dengan ekspresi antara bingung dan lega. Siapa lagi kalau bukan Tomi.

​Tomi menatapku, lalu matanya beralih ke banyaknya makanan di meja, kemudian kembali menatap wajahku yang pasti masih terlihat kusam dan sembab.

"Kamu... habis nangis ya?"

Aku mengerjap, mencoba menetralkan ekspresi wajahku yang kacau. Untuk sepersekian detik aku hanya bisa mematung. Bingung, kaget, dan sedikit curiga.

"Hah? Nggak... siapa yang nangis?" jawabku

cepat, mencoba menghapus sisa sembab di mataku dengan gerakan tangan yang kikuk. Aku berusaha mengatur napas agar tidak terlihat terlalu goyah.

"Tapi tunggu... kok kamu bisa tahu aku di sini? Rasanya aneh banget tiba-tiba kamu muncul."

Tomi menarik kursi di hadapanku dengan gerakan tenang, seolah ingin menunjukkan bahwa kehadirannya bukan untuk mengintimidasi.

"Tadi aku hubungin kamu berkali-kali, tapi nomor kamu nggak aktif,"

jawab Tomi santai sambil menatapku dalam. "Aku sampai tanya ke Diva sama Dhea, tapi mereka juga nggak tahu kamu di mana. Karena lapar aku keluar aja buat cari makan, eh... nggak sengaja lihat motor kamu di parkiran depan. Pas aku masuk, ternyata benar kamu ada di pojokan sini."

Aku mengernyitkan dahi. Cari makan?

"Bentar, rumah kamu emang di mana kok cari makannya sampai sejauh ini? Ini kan udah hampir pinggir kota, Tom."

Tomi terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana.

"Rumahku nggak jauh dari sini, Han. Cuma beda beberapa blok aja di belakang area perumahan itu. Memang daerah sini tempat favorit aku kalau lagi malas masak di rumah."

"Oh..."

Aku mengangguk pelan, walau dalam hati aku masih merasa ini adalah kebetulan yang sangat luar biasa.

Atau mungkin, semesta memang sedang ingin mengirimkan seseorang untuk menemaniku?

Tomi tidak melepaskan pandangannya dariku.

"Beneran nggak apa-apa? Mata kamu bengkak banget, Han. Kamu habis nangis, ya? Ada masalah?"

Aku membuang muka, pura-pura sibuk mengaduk jus alpukatku yang sudah mulai mencair.

Aku belum siap menceritakan kehancuran di rumah tadi pagi, apalagi luka lama tentang dia yang tiba-tiba bangkit lagi.

"Nggak kok, Tom. Beneran,"

dustaku sambil mencoba tersenyum tipis. "Mungkin efek karena tadi bangun tidurnya kelamaan. Aku weekend begini emang suka bangun siang banget kalau lagi capek, jadi ya... mukanya jadi sembab begini."

Tomi terdiam sebentar, menatap piring-piring di depanku yang masih penuh namun sudah aku abaikan. Dia bukan orang bodoh, dia pasti tahu aku sedang berbohong tapi dia cukup dewasa untuk tidak mendesakku.

"Bangun tidur lama ya?"

Tomi mengulang kalimatku dengan nada menggoda, mencoba menghibur.

"Bangun tidur lama tapi pesanan makannya kayak orang mau hajatan begini? Banyak banget, Han. Kamu yakin sanggup habisin ini semua sendirian?"

Aku melihat ke arah meja dan baru sadar betapa rakusnya aku tadi saat memesan.

"Iya sih... tadi laper banget, tapi pas udah di depan mata, tiba-tiba selera makan aku hilang."

"Ya sudah, kalau gitu aku bantuin habisin ya? Kebetulan aku belum pesan apa-apa,"

ucap Tomi sambil meraih garpu cadangan di tengah meja.

Kehadirannya yang tiba-tiba ini terasa aneh, tapi jujur, ada sedikit rasa hangat yang menyelinap di hatiku. Di saat aku merasa tidak punya siapa-siapa, setidaknya ada orang yang mau pura-pura percaya pada bohongku.

Akhirnya, meja yang tadinya terasa penuh dengan ketegangan perlahan berubah menjadi hangat.

Tomi benar-benar menepati janjinya untuk membantuku menghabiskan makanan. Dia makan dengan sangat lahap, tapi ekspresinya itu yang membuatku tidak bisa menahan tawa.

"Han, ini cumi tepungnya kalau nggak kamu makan sekarang, dia bakal nangis karena merasa diabaikan,"

ucapnya sambil memasukkan satu potong besar cumi ke mulutnya sampai pipinya menggembung.

Aku tertawa kecil melihat tingkahnya.

"Apa sih, Tom? Mana ada makanan nangis."

"Beneran! Nih, lihat,"

Dia sengaja mengunyah dengan gerakan yang berlebihan, matanya berputar-putar seolah sedang menikmati makanan paling enak di dunia.

"Hmm... enak banget. Kamu rugi kalau cuma liatin aku makan. Ayo, satu suap lagi buat merayakan 'hari bangun tidur lama' kamu.

Dia menyodorkan sepotong ayam bakar madu ke arahku. Aku sempat ragu, tapi melihat binar jenaka di matanya, aku pun menyerah dan menerima suapan itu.

"Nah, gitu dong. Kan cantik kalau pipinya gerak lagi," godanya.

Kami terus mengobrol Tomi menceritakan banyak hal konyol, mulai dari pengalamannya salah masuk kelas saat semester satu sampai usahanya yang gagal total saat mencoba memasak nasi goreng di kosan yang berakhir menjadi bubur gosong.

"Jadi kamu bayangin, Han, aku niatnya mau kasih kejutan buat temen-temen, eh malah yang dapet kejutan itu pemadam kebakaran karena asapnya kemana-mana," ceritanya sambil tertawa lebar.

Aku tertawa terbahak-bahak mendengar ceritanya. Untuk sejenak, aku benar-benar lupa pada rasa sesak di dadaku. Aku lupa pada pertengkaran Papa-Mama, dan aku bahkan lupa pada bayangan pahit di pinggir sungai tadi.

Restoran itu semakin sore semakin tenang. Di kursi pojok ini, hanya ada suara tawa kami yang bersahutan. Aku memperhatikan Tomi saat dia sedang asyik bercerita. Caranya tertawa, caranya menatapku dengan tulus, dan cara dia berusaha membuatku merasa lebih baik tanpa perlu bertanya "ada apa".

Rasanya hangat, batinku.

Ada kenyamanan asing yang mulai merayap di hatiku. Kenyamanan yang sudah lama tidak kurasakan atau mungkin, kenyamanan yang belum pernah kumerasakan sedalam ini sebelumnya.

Tomi seperti cahaya kecil yang mencoba masuk ke ruang traumaku yang gelap, dan anehnya, kali ini aku tidak merasa terancam. Aku justru ingin cahaya itu tinggal sedikit lebih lama.

"Makasih ya, Tom,"

ucapku tiba-tiba di tengah tawanya.

Tomi berhenti tertawa, dia menatapku lembut, seolah tahu apa yang aku maksudkan.

"Sama-sama, Han. Tugasku kan emang jagain kamu dari cumi-cumi yang mau nangis tadi."

Kami saling melempar senyum. Sore itu, di sudut restoran kecil, aku merasa beban di pundakku sedikit terangkat.

...****************...

Malam itu, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 23.00 saat aku menginjakkan kaki di rumah.

Ini adalah kali pertama aku pulang selarut ini dengan perasaan yang begitu ringan, bahkan ada lengkungan senyum yang tak sengaja terukir di bibirku.

Sungguh kontras yang luar biasa jika dibandingkan dengan keadaanku tadi pagi yang penuh air mata dan amarah.

​Setelah dari restoran tadi, Tomi belum mau melepasku pulang dengan wajah yang masih menyisakan sisa sembab. Dia membawaku ke sebuah pasar malam yang meriah di pinggir kota.

​"Han, lihat itu! Kalau aku bisa jatuhin semua kaleng itu, aku bakal dapatin boneka beruang raksasa buat kamu,"

ucapnya dengan percaya diri yang sangat tinggi.

​Aku tertawa meremehkan.

"Yakin? Kayaknya lemparan kamu tadi pas basket aja meleset terus."

​"Wah, meremehkan ya? Lihat nih!"

​Tomi mulai beraksi.

Lemparan pertama... meleset jauh. Lemparan kedua... mengenai pinggiran meja. Ekspresinya saat kalah itu benar-benar konyol

dia mengerucutkan bibir, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan berpura-pura menyalahkan angin.

Aku tertawa lepas, benar-benar tertawa sampai perutku sakit.

​Setelah beberapa kali mencoba dengan wajah yang sangat serius yang justru terlihat lucu bagiku akhirnya dia hanya berhasil mendapatkan sebuah gantungan kunci kecil karena kasihan dari abang penjaganya.

​"Yah, cuma dapet ini. Tapi nggak apa-apa ya? Ini bukti perjuangan berdarah-darah," ucapnya sambil menyerahkan gantungan kunci itu padaku.

​Aku menerimanya sambil terus terkekeh. Saat aku menatapnya, aku menyadari satu hal Tomi sedang menatapku. Bukan tatapan biasa, tapi sebuah tatapan yang sangat lembut, seolah dia merasa sangat bahagia hanya dengan melihatku tertawa. Matanya bicara lebih banyak daripada bibirnya. Dia bahagia karena aku bahagia.

​Perjalanan pulang di atas motor tadi terasa begitu syahdu. Angin malam yang dingin tidak lagi terasa menusuk, karena hatiku sedang hangat-hangatnya. Rasa nyaman itu datang tanpa permisi, menyelinap di antara celah-celah traumaku yang mulai tertutup oleh tawa.

​Begitu sampai di kamar, aku tidak lagi merasa sesak melihat dinding-dinding ini. Aku langsung merebahkan tubuhku, masih dengan senyum yang tersisa. Malam ini, beban di pundakku seolah menguap begitu saja. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa aman.

​Aku memeluk gulingku, membiarkan rasa nyaman itu menyelimutiku sepenuhnya sampai akhirnya mataku terpejam dan aku tertidur dengan sangat lelap. Tanpa mimpi buruk, tanpa bayang-bayang masa lalu yang mengejar.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
li l
next part thor up jam berapa 🤭
Anjeli: hehe ditunggu ya jangan lupa like dan vote nya🫶😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!