Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21. SERANGAN
Beberapa hari telah berlalu sejak duel besar di arena latihan yang hampir merenggut nyawa Elara Ravens.
Namun, alih-alih meninggalkan ketegangan, kejadian itu justru membawa perubahan aneh dalam kehidupan Elara di Akademi Sihir Oberyn.
Perubahan yang paling mencolok adalah Leonhart.
Pria bertubuh besar itu kini hampir setiap hari muncul di arena latihan Divisi Vanguard.
Dan tujuannya selalu sama; mencari Elara.
"ELARAAA?!"
Suara berat yang sangat familiar menggema di arena latihan pada suatu sore.
Murid-murid yang sedang berlatih langsung menoleh.
Beberapa bahkan tertawa kecil.
"Dia datang lagi ...."
"Leonhart benar-benar ketagihan duel dengan Elara."
Di tengah arena.Elara yang sedang berlatih teknik dasar pedang bersama beberapa murid Vanguard lainnya menoleh. Ia langsung melihat Leonhart berjalan mendekat.
Pedang besar pria itu tergantung di punggungnya seperti biasa.
Namun kali ini wajah sang senior berambut merah itu sama sekali tidak menyeramkan.
Sebaliknya Leonhart tersenyum lebar.
"Ayo duel!" serunya seperti biasa setiap kali melihat Elara.
Elara mengangkat alis. "Kau tidak pernah bosan berduel, Senior?"
Leonhart menyilangkan tangan. "Kesatria tidak pernah bosan bertarung." Ia menunjuk Elara dengan semangat. "Terutama melawan kesatria yang keras kepala sepertimu!"
Elara tertawa kecil. Ia mengambil pedangnya.
"Baiklah," terima Elara penuh semangat.
Murid-murid di sekitar langsung bersorak kecil.
Duel mereka selalu menarik untuk ditonton karena itu juga bisa jadi evaluasi untuk diri mereka sendiri ketika praktik.
Leonhart menarik pedangnya. "Siap?"
Elara mengangguk. "Siap."
CLANG!
Pedang mereka langsung bertabrakan.
Leonhart menyerang dengan kekuatan besar. Namun kali ini serangannya tidak sebrutal sebelumnya. Sebaliknya ia terlihat seperti mengajari.
"Jangan hanya menangkis!" ujar Leonhart.
CLANG!
"Gunakan momentum seranganku!" tambahnya.
Elara mengikuti instruksi seniornya itu. Ia menangkis. Lalu memutar tubuh.
Menyerang balik.
Leonhart tersenyum puas. "Bagus!"
Pertarungan berlangsung cepat.
Pedang bertabrakan berkali-kali.
CLANG!
CLANG!
CLANG!
Namun kali ini Elara tidak terpental seperti dulu. Ia sudah belajar banyak. Terutama tentang bagaimana menggunakan energi sihir pada pedang.
"Sekarang!" Leonhart berseru. "Salurkan manamu ke bilah pedang!"
Elara menarik napas. Energi sihir mengalir dari tubuhnya. Menyelimuti pedangnya dengan cahaya tipis.
Gadis itu menebas.
BOOM!
Leonhart menangkisnya dengan pedang besar. Namun tubuhnya mundur satu langkah.
Ia tertawa keras. "Bagus sekali!"
Murid-murid di sekitar bersorak.
"Elara semakin kuat!"
"Benar, dia sekarang bisa mengimbangi Leon."
Leonhart menurunkan pedangnya dan berkata, "Untuk anak baru, perkembanganmu benar-benar tidak masuk akal."
Elara mengusap keringat di dahinya. "Karena guruku terlalu kejam."
Leonhart menunjuk dirinya sendiri. "Kesatria sejati ditempa dengan keras!"
Elara tertawa.
Hubungan mereka berubah drastis sejak duel pertama itu.
Leonhart yang dulu terlihat arogan sekarang justru seperti senior yang berisik tapi tulus..Ia sering datang ke arena hanya untuk melatih Elara.
Dan tanpa disadari kemampuan Elara berkembang sangat cepat.
Selain duel dengan Leonhart hari-hari Elara di akademi juga berjalan semakin menyenangkan.
Ia tidak lagi sendirian.
Ia memiliki sahabat.
Seseorang yang selalu menghabiskan waktu bersamanya meskipun mereka berada di divisi berbeda.
Evangeline.
Gadis dengan rambut cokelat panjang itu sedang duduk di bawah pohon besar di taman akademi.
Di depannya ada beberapa buku sihir terbuka.
Sementara Elara duduk di rumput di sebelahnya.
Mereka sedang makan siang.
"Jadi kau bilang," Evangeline menatap Elara serius. "saat duel dengan Leonhart, pedangmu bisa membelah sihirnya?"
Elara mengangguk. "Ya. Aku sendiri kaget saat itu."
Evangeline mengerutkan kening. "Itu tidak masuk akal." Ia membuka salah satu buku sihir tebal. "Tidak ada jenis sihir yang bisa membelah serangan sihir secara langsung seperti itu. Biasanya sihir akan meledak jika sama-sama bertemu."
Elara mengangkat bahu. "Ya tapi aku benar-benar melakukannya."
Evangeline menatapnya lama. Lalu berkata pelan. Sihirmu memang aneh. Setelah aku memeriksa aliran mana di tubuhmu waktu itu aku menemukan sesuatu."
Elara mengangkat alis. "Apa?"
Evangeline menarik napas. "Energi sihir yang kau gunakan bukan seperti mana biasa. Energi itu jauh lebih murni. Aku menemukan istilah yang mungkin cocok untuk sihirmu dari buku yang aku baca beberapa waktu lalu."
Elara mencondongkan tubuh. "Namanya?"
Evangeline berkata pelan. "Aether."
Elara berkedip. "Aether?"
Evangeline mengangguk. "Energi yang sangat jarang disebut dalam literatur sihir kuno."
Evangeline membuka buku lain. "Beberapa teori mengatakan Aether adalah bentuk energi sihir paling murni di dunia. Sihir pertama di dunia yang berasal dari energi diri manusia itu sendiri sedangkan sihir modern sekarang adalah sihir yang mengambil energi alam. Dan sihir kuno itu ada di dalam dirimu."
Elara menggaruk kepala. "Jadi ... aku aneh?"
Evangeline tertawa kecil. "Aku tidak bilang kau aneh, kau special, Elara. Tapi aku masih harus mencari tahu lebih banyak tentang ini. Ini akan menjadi salah satu penelitianku nanti."
Elara tersenyum. "Terima kasih. Kau selalu membantu."
Mereka kembali makan sambil bercanda.
Taman akademi terasa damai.
Angin bertiup lembut.
Suara murid-murid terdengar dari kejauhan.
Namun ...
Kedamaian itu tiba-tiba hancur.
BOOOOM!!!
Ledakan besar mengguncang akademi.
Tanah bergetar.
Burung-burung beterbangan dari pepohonan.
Elara dan Evangeline langsung berdiri. "Apa itu?!"
Evangeline menoleh ke arah sumber suara.
Asap hitam membumbung tinggi dari sisi barat akademi.
"Ledakan?" duga Evangeline.
Elara menggenggam pedangnya. "Ayo!"
Mereka berdua langsung berlari menuju sumber ledakan.
Namun saat mereka sampai ...
Langkah mereka langsung berhenti.
Wajah mereka berubah pucat.
Di depan sana, sebuah simbol sihir raksasa bersinar di tanah.
Lingkaran sihir yang sangat besar.
Dan dari lingkaran itu monster keluar satu per satu.
Ada yang kecil.
Ada yang sebesar kereta.
Ada yang bertanduk.
Ada yang bersayap.
Raungan monster menggema di udara.
Para murid yang berada di sekitar area ledakan berlari panik.
"TOLONG!"
"MONSTER!"
Beberapa bangunan akademi hancur akibat ledakan.
Murid-murid tergeletak di tanah.
Ada yang pingsan.
Ada yang terluka.
Evangeline menggigil. "Ini ... ini invasi monster. Kenapa bisa ada monster di akademi? Sihir perlindungan akademi seharusnya aktif."
Elara langsung meraih tangan temannya itu. "Kita harus pergi!" Ia menarik Evangeline. "Kita tidak bisa melawan semua ini!"
Keduanya mulai berlari.
Suara teriakan murid-murid terdengar di mana-mana.
Panik.
Histeris.
Namun di tengah kekacauan itu Elara mendengar sesuatu.
"Toloooong!"
Suara kecil.
Suara seorang murid.
Elara menoleh.
Di balik reruntuhan bangunan seorang murid junior tergeletak.
Kakinya tertimpa puing batu besar.
Dan di belakangnya beberapa monster kecil mulai mendekat.
Murid itu menangis ketakutan. "Toloooong! Tolong aku!"
Elara berhenti semua orang melewati murid junior itu tidak peduli betapa kerasnya murid itu meminta tolong.
Evangeline menarik tangan Elara. "Elara! Kita harus pergi!"
Namun Elara tidak bergerak. Ia menggertakkan giginya. Diam.
Elara menatap murid itu. Lalu menatap monster yang mendekat. Kemudian ia menarik napas panjang.
"Elara jangan!" Evangeline berseru.
Namun Elara menoleh padanya. "Eva, kau lari ke tempat aman sekarang. Aku akan menyusul!"
Evangeline membelalak. "Tidak!"
Elara tersenyum kecil. "Aku akan menyusul aku janji!" Ia melepaskan tangan Evangeline.
Lalu Elara berlari menuju bahaya.
Dalam hati Elara mengutuk dirinya sendiri.
Kenapa aku selalu melakukan ini, aku benar-benar gila! batin Elara.
Namun tubuh Elara tidak berhenti. Ia berlari ke arah murid junior itu.
"Tenang!" Elara berlutut di samping murid itu. "Aku akan membantumu!"
"Senior?" murid itu menatap Elara dengan mata basah.
Elara mencoba mengangkat puing batu besar itu. Namun batu itu sangat berat.
Monster di belakang mereka semakin dekat.
Raungan mereka mengerikan.
Murid itu menangis. "Senior, kita akan mati."
Elara menggertakkan giginya. "Tidak! Kita tidak akan mati!"
Elara mencoba lagi. Menggunakan seluruh kekuatannya.
Namun bayangan besar muncul di belakang mereka.
Seekor monster berdiri tepat di belakang Elara.
Tubuhnya tinggi.
Cakarnya tajam.
Monster itu meraung. Siap menyerang.
Elara perlahan menoleh. Matanya membesar.
Akan tetapi monster itu sudah mengangkat cakarnya. Dan menyerang mereka berdua.
tapi lucu banget, kebayang Lala ngejar" temen temennya
bukan nya takut malah tambah makin gemes 😜🤣🤣
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣