NovelToon NovelToon
Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Cintapertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saundra Handara

Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.

Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HIDUP KEDUA

Seminggu setelah Wei Chen kembali dari gunung...

Mei Ling sudah bisa duduk. Wajahnya masih pucat, tapi matanya mulai bersinar lagi.

Wei Chen duduk di sampingnya, mengawasi setiap gerakan. Seperti elang mengawasi anaknya.

"Kau tidak perlu terus-terusan di sini," kata Mei Ling. "Toko butuh kau."

"Toko bisa nunggu."

"Tapi—"

"Toko bisa nunggu," ulang Wei Chen. Suaranya tegas.

Mei Ling diam. Tapi di dalam hatinya, hangat.

Selama seminggu ini, Wei Chen tidak pernah meninggalkannya. Menemaninya makan. Membacakan buku. Bercerita tentang tempat asalnya — tentang gedung tinggi, mesin terbang, kotak kecil yang bisa bicara dari jarak jauh.

Mei Ling mengira itu dongeng. Tapi Wei Chen bicara dengan serius. Seperti benar-benar pernah melihat.

"Chen... tempat asalmu, apa benar-benar ada?"

Wei Chen mengangguk. "Ada. Tapi aku tidak bisa kembali."

"Kenapa?"

Karena aku mati di sana.

"Aku tidak tahu jalannya."

Mei Ling diam. Lalu, "Kau sedih?"

Wei Chen berpikir. Sedih? Dulu mungkin iya. Tapi sekarang...

"Tidak." Jujur. "Di sini lebih baik."

"Lebih baik dari tempat yang punya mesin terbang dan kotak bicara?"

"Di sana aku sendiri. Di sini..." Dia menatap Mei Ling. "...ada kau."

Mei Ling wajahnya merah. Menunduk.

"Kau... kau ini..."

Wei Chen tidak mengerti kenapa dia merah. Tapi melihatnya, ada rasa hangat di dada.

---

Sore harinya, Toke Wijaya datang.

Membawa buku catatan tebal dan wajah serius.

"Nak Wei, kita harus bicara."

Wei Chen mengajaknya ke beranda. Meninggalkan Mei Ling di dalam.

"Ada masalah?"

"Bukan masalah. Tapi..." Toke Wijaya membuka catatannya. "Pesanan dari Klan Naga Hitam sudah selesai setengahnya. Mereka puas. Tapi klan lain mulai tertarik."

"Klan mana?"

"Klan Bunga Naga. Mereka kirim utusan." Toke Wijaya menyerahkan surat. "Mau ketemu. Katanya mau kerja sama."

Wei Chen membaca surat itu. Matanya menyipit.

"Mereka tahu tentang kontrak dengan Klan Naga Hitam?"

"Sepertinya. Informasi bocor."

Wei Chen diam. Di bumi, kebocoran informasi bisa berarti mata-mata. Bisa berarti pengkhianatan.

"Kita harus hati-hati," katanya.

"Aku tahu." Toke Wijaya menghela napas. "Tapi kalau kita tolak, mereka bisa musuh. Klan Bunga Naga bukan klan kecil."

Wei Chen berpikir. Lalu, "Aku yang akan temui mereka."

"Kau? Sendiri?"

"Ajak beberapa orang."

Toke Wijaya mengangguk. "Baik. Aku atur."

---

Dua hari kemudian, Wei Chen pergi ke markas Klan Bunga Naga.

Bukan ke markas utama — itu terlalu berisiko. Tapi ke tempat netral, sebuah restoran di kota perbatasan.

Ditemani dua karyawan Garuda yang juga kultivator level rendah. Hanya untuk jaga-jaga.

Di restoran itu, seorang pria paruh baya sudah menunggu. Jubahnya hijau dengan bordir bunga. Wajahnya ramah, tapi matanya tajam.

"Tuan Wei Chen." Dia berdiri, menyambut. "Aku Lim Shi, pemimpin Klan Bunga Naga."

Wei Chen membungkuk hormat. "Terima kasih sudah mau bertemu."

Lim Shi tersenyum. "Duduk, duduk."

Mereka duduk. Teh disajikan.

"Aku dengar kau punya teknologi hebat," kata Lim Shi langsung. "Lampu tanpa api. Tungku tanpa asap. Klan Naga Hitam untung besar darinya."

Wei Chen tidak menjawab. Menunggu.

"Kau tahu, Klan Bunga Naga juga punya tambang. Tidak sebesar Klan Naga Hitam, tapi cukup." Lim Shi menatapnya. "Kami juga butuh teknologi seperti itu."

"Apa tawaran Tuan?"

Lim Shi tersenyum. "Langsung, ya. Baik." Dia mengeluarkan dokumen. "Kami tawarkan kerja sama eksklusif. Klan Bunga Naga jadi satu-satunya mitramu di wilayah selatan. Sebagai gantinya, kami beri perlindungan dan modal."

Wei Chen membaca dokumen itu. Eksklusif. Berarti tidak bisa jual ke klan lain di selatan.

"Maaf, Tuan Lim." Dia mengembalikan dokumen. "Aku tidak bisa terima."

Lim Shi mengangkat alis. "Kenapa?"

"Aku sudah punya mitra di utara. Kalau aku terima eksklusif di selatan, mereka bisa merasa dikhianati." Wei Chen tenang. "Aku tidak mau ambil risiko."

Lim Shi diam. Lalu tersenyum.

"Kau pintar. Menjaga hubungan." Dia mengangguk. "Baik. Kalau tidak eksklusif, bagaimana? Kau jual teknologimu ke kami, tanpa mengikat."

Wei Chen berpikir. "Bisa. Tapi dengan harga khusus."

"Harga khusus?"

"Karena aku sudah punya kontrak dengan Klan Naga Hitam, produksi terbatas. Kalau klan lain mau, harganya lebih mahal."

Lim Shi tertawa. "Kau benar-benar pedagang." Dia mengangguk. "Setuju. Berapa?"

Mereka bernegosiasi. Akhirnya sepakat. 20% lebih mahal dari harga Klan Naga Hitam.

Lim Shi puas. "Kau muda, pintar, berani. Aku suka." Dia berdiri. "Kalau suatu hari kau butuh bantuan, datanglah padaku."

Wei Chen mengangguk. "Terima kasih, Tuan."

---

Perjalanan pulang, Wei Chen berpikir.

Dua klan besar sekarang jadi pelanggan. Klan Naga Hitam di utara. Klan Bunga Naga di selatan.

Pendapatan akan naik. Tapi risiko juga naik.

Persaingan antar klan bisa saja melibatkan dia. Dan di dunia Murim, persaingan bisa berarti perang.

Dia harus hati-hati.

---

Malam harinya, Wei Chen cerita pada Mei Ling.

Dia mendengar dengan serius. Lalu bertanya, "Kau tidak takut?"

"Takut?"

"Klan-klan itu bisa hancurkan kita kalau mau."

Wei Chen mengangguk. "Bisa. Tapi mereka tidak akan."

"Kenapa?"

"Karena mereka butuh kita." Wei Chen tersenyum tipis. "Teknologi kita hanya kita yang punya. Kalau kita hancur, mereka rugi."

Mei Ling menggeleng. "Aku tidak akan pernah mengerti caramu berpikir."

"Syukurlah." Wei Chen menatapnya. "Yang penting kau sehat."

Mei Ling tersenyum. Tapi tiba-tiba batuk. Batuk kecil.

Wei Chen tegang. "Mei Ling?"

"Aku baik-baik saja." Dia mengusap mulut. Tidak ada darah. "Hanya batuk biasa."

Wei Ching menghela napas lega. Tapi di dalam hatinya, waspada.

Teknik Guru Liang hanya menunda. Tidak menyembuhkan.

Waktu terus berjalan.

---

Seminggu kemudian, Wei Chen memutuskan sesuatu.

Duduk di beranda bersama Mei Ling, dia berkata, "Aku akan mulai eksperimen."

Mei Ling mengerutkan kening. "Eksperimen apa?"

"Mencari obat untuk kutukanmu." Wei Chen mengeluarkan buku catatan. "Aku sudah kumpulkan informasi dari buku Kakek Tio. Juga dari Guru Liang. Sekarang saatnya coba."

Mei Ling diam. Lalu, "Tapi kau bukan tabib."

"Aku bukan. Tapi aku tahu sistem." Wei Chen menatapnya. "Kutukan ini seperti penyakit. Penyakit ada penyebabnya. Kalau aku bisa temukan penyebabnya, aku bisa cari obatnya."

Mei Ling ingin bilang itu mustahil. Tapi melihat mata Wei Chen, dia tidak punya hati.

"Baik," katanya. "Aku percaya."

Wei Chen mengangguk. Lalu mulai bekerja.

---

Eksperimen pertama. Mencoba ramuan dari buku Kakek Tio.

Wei Chen merebus daun-daun, akar-akar, mencampurnya dengan madu. Memberi Mei Ling minum.

Tidak ada efek. Tidak ada perubahan.

Eksperimen kedua. Mencoba kombinasi berbeda.

Sama. Tidak ada hasil.

Eksperimen ketiga, keempat, kelima. Semua gagal.

Mei Ling mulai lelah. Bukan secara fisik, tapi secara mental.

"Chen... mungkin ini memang tidak ada obatnya."

"Ada." Wei Chen tidak menyerah. "Aku yakin ada."

"Tapi sudah lima kali gagal."

"Thomas Edison gagal ribuan kali sebelum menemukan lampu."

"Apa itu Thomas Edison?"

Wei Chen tersenyum. "Orang pintar di tempat asalku."

Mei Ling menghela napas. Tapi dia tidak protes lagi.

---

Malam itu, Wei Chen duduk sendirian di gubuknya.

Buku-buku berserakan di sekelilingnya. Catatan-catatan penuh coretan.

Pikirannya penuh.

Di mana salahnya? Apa yang kurang?

Dia membaca ulang buku Guru Liang. Mencari petunjuk.

Sampai satu kalimat menarik perhatiannya:

"Kutukan garis keturunan sering terkait dengan darah. Darah membawa energi negatif yang diwariskan. Untuk membersihkannya, diperlukan pemurni yang bisa menyerap energi negatif itu."

Pemurni. Seperti filter.

Wei Chen berpikir. Di bumi, dia tahu tentang filter. Filter air, filter udara, filter listrik.

Prinsipnya sama: saring kotoran, biarkan yang bersih mengalir.

Kalau aku bisa membuat filter untuk darah...

Dia mulai menggambar. Sketsa sederhana. Alat kecil yang bisa dipasang di pembuluh darah. Menyaring darah, membersihkan energi negatif.

Tapi bagaimana cara membuatnya? Di bumi, dia punya teknologi nano. Di sini, dia cuma punya bahan-bahan sederhana.

Kecuali...

Qi.

Qi bisa dimanipulasi. Bisa dibentuk. Bisa diprogram.

Kalau dia bisa membuat struktur qi yang bisa menyaring...

Dia terus menggambar. Semalaman.

Saat matahari terbit, dia punya prototipe. Di atas kertas.

---

Pagi harinya, Wei Chen pergi ke rumah Kakek Tio.

Menunjukkan sketsanya.

Kakek Tio membaca. Matanya melebar.

"Ini... ini gila."

"Gila bagaimana?"

"Kau mau buat alat yang bisa menyaring qi dalam darah?" Kakek Tio menggeleng. "Tidak pernah ada yang lakukan ini."

"Berarti aku yang pertama."

Kakek Tio menatapnya lama. Lalu tertawa.

"Kau benar-benar gila." Dia mengembalikan sketsa. "Tapi mungkin kegilaanmu ini yang bisa selamatkan dia."

Wei Chen mengangguk. "Aku butuh bahan."

"Sebutkan."

Wei Chen mengeluarkan daftar. Kristal murni. Kawat perak. Batu giok kualitas terbaik.

Kakek Tio membaca. "Ini semua mahal."

"Aku punya uang."

"Tapi tidak semua ada di sini. Beberapa harus beli di pasar gelap."

"Aku bisa cari."

Kakek Tio mengangguk. "Baik. Aku bantu cari jaringan."

---

Dua minggu kemudian, semua bahan terkumpul.

Wei Chen mulai bekerja. Di gubuk kecilnya, dia merakit alat itu.

Mei Ling duduk di samping, melihat dengan takjub.

"Kau... kau bisa buat semua ini?"

"Aku belajar."

"Dari mana?"

"Di tempat asalku, aku pernah lihat mesin-mesin canggih. Ini versi sederhananya."

Mei Ling diam. Mencoba mengerti.

Setelah tiga hari bekerja, alat itu selesai.

Bentuknya seperti gelang kecil, dengan batu giok di tengah dan kawat perak melingkar.

"Ini," kata Wei Chen. "Pemurni qi portabel."

"Portabel?"

"Bisa dipakai di mana saja."

Mei Ling menerima gelang itu. Memandanginya.

"Aku pakai bagaimana?"

"Ikat di pergelangan tangan. Nanti aliran qi-mu akan lewat sini, tersaring otomatis."

Mei Ling mengikatnya. Merasakan sesuatu.

Hangat. Lembut.

"Aku... aku merasakannya."

Wei Chen mengangguk. Lega.

"Ini belum sempurna. Tapi untuk sementara, bisa bantu."

Mei Ling menatapnya. Matanya berkaca-kaca.

"Chen... terima kasih."

Wei Chen menggeleng. "Jangan berterima kasih. Ini belum selesai."

Tapi Mei Ling tetap memeluknya.

Hangat.

---

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, Mei Ling tidur nyenyak.

Tanpa batuk. Tanpa mimpi buruk.

Wei Chen duduk di sampingnya, mengawasi.

Tangannya digenggam.

Satu langkah, pikirnya. Tapi masih jauh.

Dia harus terus maju. Untuk Mei Ling.

---

Chapter 12 END.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!