NovelToon NovelToon
The Harmony Of Us

The Harmony Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

---

Sinopsis Utama

Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."

Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.

Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Us

Malam itu, seperti biasa, Chaeyoung duduk di sofa ruang tamu dengan ponsel di tangan. Jam menunjukkan pukul 20.30, waktu yang sudah menjadi ritual tetapnya selama tiga tahun terakhir: menunggu panggilan video dari Leon.

Leon ada di Australia, jarak yang memisahkan mereka selama ribuan kilometer. Tapi setiap malam, teknologi menyatukan mereka kembali. Chaeyoung sudah hafal rutinitas ini: Leon akan menelepon setelah selesai bekerja, mereka akan mengobrol selama satu hingga dua jam, saling bercerita tentang hari mereka, lalu mengucapkan selamat malam dengan janji akan bertemu lagi di mimpi.

Tapi malam ini, ada yang berbeda.

Ponselnya berdering tepat pukul 20.30. Wajah Leon muncul di layar, tersenyum lebar seperti biasa. Tapi Chaeyoung bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dari senyum itu. Ada kilatan khusus di mata Leon.

"Hey, baby!" sapa Leon ceria.

"Hey, kamu! Kok keliatan beda?"

Leon tertawa. "Beda gimana?"

"Entah... kayak lebih semangat dari biasanya."

"I'm always semangat when I talk to you."

"Dasar." Chaeyoung tersipu. "Cerita, hari ini gimana?"

Hari itu, percakapan berjalan seperti biasa. Leon bercerita tentang pekerjaannya, tentang cuaca di Sydney yang mulai dingin, tentang keluarganya yang bertanya kabar Chaeyoung. Chaeyoung bercerita tentang kumpul-kumpul di taman, tentang Jane yang perutnya semakin besar, tentang Soo Young yang rajin merajut.

Tapi Chaeyoung terus merasa ada yang aneh. Leon seperti menahan sesuatu.

"Leon," potong Chaeyoung di tengah percakapan. "Kamu ada yang mau dikasih tahu, ya?"

Leon terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Kamu tahu?"

"Aku lihat dari matamu. Cerita."

Leon menarik napas panjang. "Oke. Aku mau kasih kamu kejutan. Tapi jangan marah kalau aku nggak bilang dari awal."

"Marah? Kenapa?"

Leon menghela napas lagi. "Chae, selama tiga bulan terakhir, aku diam-diam ngurus perpindahan kerja. Ke Indonesia."

Chaeyoung membelalak. "Apa?"

"Iya. Aku ngajuin permohonan transfer ke kantor cabang Jakarta. Prosesnya panjang dan nggak pasti, jadi aku nggak mau kasih tahu kamu dulu. Takut kalau gagal."

Chaeyoung diam. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Dan hari ini..." Leon tersenyum lebar, "HRD kasih kabar. Transferku disetujui. Aku akan pindah ke Jakarta. Permanen."

Chaeyoung tidak bisa berkata-kata. Air matanya jatuh.

"Chae? Kamu nangis?" Leon panik. "Jangan nangis. Aku kira kamu bakal seneng."

"Aku seneng, Leon. Aku seneng banget." Chaeyoung tertawa lewat isak tangisnya. "Ini... ini nggak nyata."

"Ini nyata, baby. Aku akan ke Jakarta bulan depan. Untuk selamanya."

Chaeyoung menangis bahagia. Leon di seberang sana juga tampak terharu, matanya berkaca-kaca.

"Kamu... kamu serius?" tanya Chaeyoung.

"Serius. Aku udah kasih kabar ke kantor di sini. Aku akan keluar akhir bulan ini, lalu pindah ke Jakarta awal bulan depan."

"Terus... terus rumah? Kerja?"

"Kantor udah siapin apartemen sementara buat aku, sampai aku bisa cari rumah sendiri. Dan kerja mulai bulan depannya." Leon tersenyum. "Semuanya udah diurus. Aku cuma nunggu waktu buat kasih tahu kamu."

Chaeyoung mengusap air matanya. "Leon... aku nggak tahu harus bilang apa."

"Bilang 'aku seneng' aja."

"Aku seneng. Aku seneng banget. Aku nggak sabar kamu di sini."

"Aku juga, baby. Aku juga."

---

Setelah panggilan berakhir, Chaeyoung duduk terpaku di sofa. Kepalanya masih berputar, mencerna semua yang baru saja ia dengar. Leon akan pindah ke Jakarta. Untuk selamanya. Tidak ada lagi hubungan jarak jauh. Tidak ada lagi rindu yang tak tersampaikan.

Ia bangkit, berjalan ke luar rumah. Tanpa sadar, kakinya membawanya ke rumah nomor 9. Irene sedang duduk di teras, menemani Rafa yang bermain di halaman.

"Mba Irene!" panggil Chaeyoung.

Irene menoleh, kaget melihat ekspresi Chaeyoung yang campur aduk. "Chae? Kenapa? Kok keliatan habis nangis?"

Chaeyoung tertawa lewat isak tangisnya. "Mba... Leon... Leon mau pindah ke Jakarta!"

Irene membelalak. "Apa? Serius?"

"Iya! Baru tadi dia kasih tahu. Transfer kerjanya disetujui. Dia bakal pindah bulan depan!"

Irene berteriak kegirangan. "ELGI! ELGI! KELUAR!"

Elgi keluar dari rumah dengan kaget. "Ada apa? Kenapa?"

"Irene menunjuk Chaeyoung. "Leon pindah ke Jakarta! Permanen!"

Elgi ikut terbelalak. "Wah, gila! Itu kabar bagus banget, Chae!"

Mereka bertiga berpelukan di teras. Rafa yang melihat ibunya berpelukan ikut berlari memeluk kaki mereka, meski tidak mengerti apa yang terjadi.

"Ini harus dirayakan!" seru Irene. "Aku kabarin yang lain!"

---

Dalam hitungan menit, kabar itu menyebar ke seluruh Griya Asri. Jane dan Mario datang dengan perut besar Jane yang pelan-pelan. Soo Young dan Endy berjalan bergandengan tangan. Jisoo datang dengan Amora yang masih mengantuk.

Semua berkumpul di teras rumah Irene. Chaeyoung masih menangis, tapi kali ini tangis bahagia.

"Chae, cerita detailnya gimana?" tanya Jane.

Chaeyoung bercerita tentang proses tiga bulan terakhir, tentang kerahasiaan Leon, tentang kabar yang baru ia terima malam ini. Semua mendengarkan dengan haru.

"Jadi, Leon bakal tinggal di sini?" tanya Amora polos.

"Iya, Sayang. Om Leon bakal tinggal di sini."

"Asik! Om Leon bisa main bola sama Amora!"

Semua tertawa. Amora selalu punya cara untuk mencairkan suasana.

"Terus, Chae, kalian udah rencanain nikah?" tanya Jisoo.

Chaeyoung tersipu. "Belum, Mba. Tapi kayaknya... setelah dia pindah, kita bisa rencanain lebih serius."

"Wah, bentar lagi Griya Asri bakal punya warga baru permanen." Endy tersenyum. "Om Leon."

"Jangan panggil Om, nanti dia tua." Chaeyoung tertawa.

"Ya udah, Bro Leon." Elgi mengangkat tangan. "Sambut anggota baru keluarga kita!"

Semua bersorak. Malam itu, di teras rumah Irene, mereka merayakan dengan makanan seadanya: camilan dari dapur Irene, teh hangat buatan Soo Young, dan banyak tawa.

---

Dua minggu kemudian, Leon tiba di Jakarta.

Chaeyoung menjemputnya di bandara bersama Irene dan Elgi—mereka memaksa ikut karena ingin menyaksikan momen bersejarah itu. Begitu Leon muncul dari pintu kedatangan, Chaeyoung berlari dan melompat ke pelukannya.

"Akhirnya..." bisik Chaeyoung.

"Akhirnya." Leon memeluknya erat. "I'm here, baby. I'm finally here."

Irene dan Elgi bertepuk tangan, ikut terharu. Leon melepas pelukan, menyalami mereka.

"Thank you for coming," ucap Leon. "Thank you for taking care of Chaeyoung all this time."

"Iya, sama-sama, Leon. Sekarang giliran kamu yang jagain dia." Elgi tersenyum.

Perjalanan pulang ke Griya Asri diisi dengan obrolan hangat. Leon bercerita tentang perjalanannya, tentang perasaannya yang campur aduk antara senang dan gugup. Chaeyoung memegang tangannya sepanjang jalan.

Saat mereka memasuki kompleks, pemandangan menyambut: semua tetangga sudah berkumpul di taman, membawa spanduk buatan sendiri bertuliskan "WELCOME HOME, LEON!"

Leon terkejut, matanya berkaca-kaca. "This is... this is amazing."

Mereka turun dari mobil. Amora berlari pertama, memeluk kaki Leon. "Om Leon! Om Leon!"

Leon menggendong Amora. "Halo, Amora! I'm back!"

"Om Leon sekarang tinggal di sini?"

"Yes, I live here now. Forever."

"Asik!"

Semua tertawa. Satu per satu mereka menyalami Leon, memberi selamat datang. Jane dengan perut besarnya ikut antusias. Soo Young membawa kue buatannya. Endy membawa kopi.

"Ini, Leon, kunci rumah nomor 5," kata Chaeyoung. "Rumah kita."

Leon menerima kunci itu dengan tangan gemetar. "Our home."

Mereka masuk ke rumah nomor 5 bersama-sama. Rumah itu sudah dihias dengan balon dan pita—hasil kerja keras para tetangga selama dua hari terakhir.

"Chae... ini semua..." Leon terharu.

"Mereka yang dekor. Aku cuma bantu sedikit."

Leon menoleh ke arah para tetangga yang sudah berkumpul di ruang tamu. "Thank you, everyone. Thank you for accepting me. Thank you for being Chaeyoung's family. And now, my family too."

Endy maju, menepuk bahu Leon. "Selamat datang di keluarga, Nak. Semoga betah."

"I will. I already feel at home."

Malam itu, mereka berpesta sederhana di rumah nomor 5. Makanan berjejer, tawa bergema, dan untuk pertama kalinya, Leon benar-benar merasa menjadi bagian dari Griya Asri. Bukan lagi tamu yang datang dan pergi. Tapi penghuni tetap. Keluarga.

---

Seminggu kemudian, Leon mulai bekerja di kantor barunya. Chaeyoung mengantarnya di pagi hari, seperti istri mengantar suami bekerja. Sore harinya, Leon pulang dan mereka makan malam bersama. Untuk pertama kalinya, mereka bisa melakukan hal-hal sederhana yang selama ini hanya bisa mereka impikan.

Suatu malam, mereka duduk di teras rumah nomor 5, minum teh sambil menikmati angin malam.

"Chae," panggil Leon.

"Hm?"

"I'm so happy. I never thought I could be this happy."

Chaeyoung tersenyum, menyandarkan kepala di bahu Leon. "Aku juga."

"Thank you for waiting for me. For three years. That's a long time."

"Kamu juga nunggu aku. Kita sama-sama nunggu."

Leon meraih tangan Chaeyoung, menggenggamnya erat. "Now we don't have to wait anymore. Now we have each other. Every day."

"Every day."

Mereka berpelukan di bawah langit malam. Di kejauhan, terdengar tawa Amora dan Rafa yang masih bermain di taman. Lampu-lampu rumah mulai meredup satu per satu.

Di Griya Asri, malam itu terasa lebih hangat dari biasanya. Karena satu keluarga lagi telah lengkap. Satu cinta lagi telah bersatu.

Chaeyoung menatap rumah-rumah di sekelilingnya. Rumah nomor 7 dengan Jane dan Mario yang sedang menanti buah hati. Rumah nomor 9 dengan Irene, Elgi, dan Rafa yang selalu riuh. Rumah nomor 11 dengan Soo Young dan Endy yang romantisnya tak pernah pudar. Rumah nomor 3 dengan Jisoo dan Amora yang menjadi simbol kekuatan seorang ibu.

Dan rumah nomor 5, rumahnya, yang kini tidak lagi sepi. Karena Leon sudah di sini. Untuk selamanya.

"Leon," bisik Chaeyoung.

"Yes, baby?"

"Aku seneng banget kamu di sini."

Leon tersenyum, mencium puncak kepalanya. "Me too, baby. Me too."

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!