NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Cerai
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.

Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.

Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.

Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Karena Papa

“Kami yang dipilih?” Tiffany tertegun. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Manajer umum itu bukan membicarakan soal posisinya di daftar kandidat, melainkan langsung menyebut penunjukan mereka sebagai mitra keluarga Wiraningrat.

Mereka bahkan melewati tahap penilaian akhir. Apa sebenarnya yang terjadi?

“Yang Anda katakan tadi benar?” tanya Tiffany hati-hati.

“Tentu saja. Kalau Anda ragu, silakan datang ke kantor besok untuk menandatangani kontrak. Saya masih ada urusan lain, jadi saya tutup dulu.” Setelah itu, sambungan pun terputus.

Tiffany berdiri terpaku, antara terkejut dan gembira. Dia sama sekali tidak menyangka semuanya akan berjalan semulus ini. Beberapa saat lalu, Adiputra Group hampir saja dicoret dari daftar kandidat. Namun dalam sekejap, mereka justru ditunjuk sebagai mitra keluarga Wiraningrat. Semua terasa begitu tiba-tiba.

Tentu saja, ini pasti berkat bantuan Othan. Pengaruh keluarga Karimi ternyata memang luar biasa. Hanya dengan satu panggilan telepon, keputusan keluarga Wiraningrat bisa berubah.

“Nona Rasheed, gimana? Keluarga Wiraningrat berubah pikiran?” tanya Rachel tak sabar.

“Iya.” Tiffany mengangguk dan memperlihatkan senyum yang jarang terlihat di wajahnya. “Barusan manajer Wiraningrat Group telepon. Katanya aku dipilih jadi mitra mereka.”

Rachel langsung bersorak. “Ya ampun! aku tahu kamu pasti bisa!”

“Ini semua berkat Pak Karimi. Tanpa bantuannya, hal ini gak akan terjadi,” ujar Tiffany penuh rasa terima kasih.

“Benar! Pak Karimi memang luar biasa. Cuma beberapa kata saja, masalah kita langsung selesai!” puji Rachel.

“Kalian terlalu memuji. Sebenarnya Papa aku yang bantu,” jawab Othan sambil tersenyum. Meski terdengar merendah, raut puas di wajahnya tak bisa disembunyikan. Dalam hati, dia sendiri juga sedikit heran.

Sejak kapan ayahnya bekerja secepat itu?

“Hans, kamu lihat kan? Ini bedanya kamu sama Pak Karimi,” ujar Rachel sambil menatap Hans dengan nada mengejek. “Pak Karimi cuma perlu satu telepon buat bikin kita jadi mitra keluarga Wiraningrat. Kamu bisa apa?”

“Jangan gitu. Paling gak, dia jago cari muka,” tambah Othan sambil tertawa kecil.

“Huh, emangnya dia bisa apa lagi? gak guna banget,” sahut Rachel. Karena Hans tidak membalas, dia makin menjadi. “Sayang banget cewek itu gak ada di sini buat lihat sendiri betapa gak bergunanya pria yang dia pilih.”

“Udah selesai ngomongnya? Kalau sudah, minggir. Kamu nutupin pandangan aku,” ucap Hans datar.

“Kenapa? Gak tahan cuma denger beberapa kata? Kalau kamu punya setengah kemampuan Pak Karimi saja, kamu gak bakal takut dikritik. kamu memang gak ada harapan,” ejek Rachel.

“Oh ya? Menurut kamu, Othan punya kemampuan apa?” Wajah Hans berubah serius. Dia memang lebih suka bersikap rendah hati, tapi bukan berarti dia akan diam saja saat dihina. Dia bukan orang suci.

“Pak Othan Karimi bikin kita jadi mitra keluarga Wiraningrat cuma lewat satu telepon. Kalau itu bukan kemampuan, aku gak tahu lagi apa namanya,” jawab Rachel sambil menatap Hans dengan penuh merendahkan.

“Kamu yakin itu karena dia? Buktinya apa?” balas Hans.

“Kalau bukan Pak Karimi, siapa lagi? Jelas bukan kamu. Lihat aja sikap kamu yang menyebalkan itu!” dengus Rachel.

“Hei, Rinaldi, menurut kamu kenapa keluarga Wiraningrat tiba-tiba berubah pikiran kalau bukan karena aku?” tanya Othan dengan angkuh.

“Benar. Faktanya sudah jelas di depan mata. Kenapa kamu gak mau mengakuinya saja?” timpal Rachel.

“Jangan terlalu cepat merasa hebat. Kalau aku jadi kamu, aku bakal pastiin dulu kebenarannya sebelum salah ucap terima kasih,” kata Hans tanpa ekspresi.

“Menurut aku, kamu cuma iri karena gak punya kemampuan,” hardik Rachel.

“Terserah kamu aja,” jawab Hans santai.

“Rinaldi, kamu mau bukti kan? Baik, aku kasih!” Othan mencibir sambil kembali mengeluarkan HPnya dan menelepon Hendrick. “Halo, Pa.”

“Apa lagi sekarang?” Suara Hendrick terdengar kesal.

“Nggak apa-apa. Aku cuma mau tahu gimana hasil pembicaraan Papa sama Pak Wiraningrat yang tua.”

“Pembicaraan apa? Aku masih rapat. Gak ada waktu buat urusan gak penting seperti ini. Jangan ganggu aku lagi karena hal sepele begini!”

“Apa?” Othan terdiam saat telepon ditutup dengan kasar. Senyum di wajahnya membeku. Niatnya untuk pamer langsung hancur.

Kalau ayahnya tidak membantu, lalu siapa?

Apa ini cuma kebetulan?

“Pak Karimi, gimana? Apa kata Papamu? Coba ceritain,” ujar Hans dengan senyum tipis. Dia duduk tepat di belakang Othan, dan pendengarannya cukup tajam untuk menangkap semua yang dikatakan Hendrick tadi. Bahkan tanpa mendengar pun, ekspresi bingung Othan sudah menjelaskan semuanya.

“Pak Karimi, jangan ragu. Biar bajingan ini tahu dia gak akan pernah bisa saingan sama kamu!” desak Rachel.

Kelopak mata Othan berkedut. Dia berusaha tetap tenang dan menjawab dengan senyum santai, “Nggak ada yang perlu diceritain. Papa sudah konfirmasi kalau dia minta tolong ke keluarga Wiraningrat dan bantu kita besar-besaran. Kalau gak , Tiffany mana mungkin bisa jadi mitra mereka!”

Mendengar itu, Hans mengerutkan kening. Dia tidak menyangka Othan akan sekeras kepala ini. Berani-beraninya berbohong di depan semua orang.

“Denger kan, Hans? Aku sudah bilang dari tadi, tapi kamu gak percaya. Sekarang kamu mau ngomong apa lagi?” kata Rachel dengan bangga.

“Kalau aku bilang Othan bohong, kamu bakal percaya?” balas Hans tenang.

“Hans, cukup!” Kali ini Tiffany benar-benar tidak tahan lagi. “Bisa gak sekali saja kamu berhenti bersikap seperti ini? Aku tahu kamu iri sama Othan, tapi bukan berarti kamu bisa memfitnah dia! Susah banget ya mengakui kalau dia memang mampu?” Tiffany berdiri dan membentaknya, tatapannya penuh kebencian.

Awalnya, dia tidak ingin berdebat dengan Hans. Namun melihat sikap keras kepalanya, dia benar-benar tidak sanggup lagi menahan diri.

“Iri? Memfitnah?” Hans terdiam sejenak, jelas terkejut. “Jadi di mata kamu, aku orang seperti itu?”

“Coba kamu lihat diri kamu sendiri. Apa aku salah?” balas Tiffany.

Pertanyaan itu membuat Hans tak mampu berkata-kata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!