NovelToon NovelToon
Lima Sekawan Ginza

Lima Sekawan Ginza

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulan Separuh

"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."

Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.

Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20. Pertemuan di Sudut yang Sunyi

Cahaya fajar mulai mengintip dari balik gedung pencakar langit di wilayah Shinjuku pagi ini. Warna langit berubah dari biru pekat menjadi oranye kemerahan yang sangat indah dan juga menenangkan.

Hana Tanaka bangun dengan tubuh yang terasa sangat kaku karena dia tidur di atas lantai kayu yang keras. Dia segera merapikan jaket hitamnya dan dia mengikat rambutnya dengan sangat kencang agar terlihat lebih rapi. Kaito Fujiwara sudah berdiri di dekat jendela sambil memegang sebuah peta digital di dalam ponsel miliknya.

Mereka berlima tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai karena jurnalis senior itu sudah memberikan balasan pesan. Pertemuan rahasia akan dilakukan di sebuah kedai kopi tua yang terletak di pinggiran kota Tokyo yang sepi.

Yuki Nakamura memasukkan laptop dan juga cakram keras portabelnya ke dalam tas ransel dengan sangat hati-hati. Dia memastikan bahwa semua data penting tersebut sudah terlindungi oleh enkripsi tambahan yang sangat kuat sekali.

Akane Sato memberikan masker medis dan juga topi kepada teman-temannya agar identitas mereka tidak mudah dikenali orang. Mereka harus menyamar sebagai remaja biasa yang sedang pergi berlibur agar tidak menarik perhatian polisi siber.

Ren Ishida memeriksa kembali tongkat besinya dan dia menyembunyikan benda tersebut di dalam tas olahraganya yang panjang. Mereka keluar dari apartemen tua itu secara satu per satu dengan jeda waktu yang sudah diatur sangat ketat.

Suasana stasiun kereta pagi ini sudah mulai dipenuhi oleh para pekerja yang terlihat sangat terburu-buru. Hana merasakan jantungnya berdegup kencang saat dia melihat beberapa petugas polisi sedang berjaga di dekat pintu masuk.

Dia menundukkan kepalanya dan dia berjalan dengan langkah yang sangat santai agar tidak terlihat sangat mencurigakan. Kaito berjalan beberapa meter di depan Hana sambil terus memberikan isyarat melalui pesan singkat di ponsel.

Mereka berhasil masuk ke dalam gerbong kereta jalur Chuo yang akan membawa mereka menuju ke arah barat Tokyo. Di dalam kereta yang bising itu, mereka semua tetap waspada terhadap setiap orang yang memperhatikan pergerakan mereka.

Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam, mereka akhirnya tiba di sebuah stasiun kecil yang sangat sepi. Udara di tempat ini terasa jauh lebih segar dan juga tidak terlalu bising seperti di pusat kota Shinjuku.

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun yang daunnya mulai berwarna kuning kecokelatan. Di ujung jalan tersebut berdiri sebuah kedai kopi tua dengan papan nama kayu yang sudah mulai memudar warnanya.

Kedai ini bernama "Oase Kenangan" dan terlihat sangat terpencil dari pemukiman penduduk yang ada di sekitarnya. Bau aroma kopi panggang yang sangat harum tercium dari kejauhan dan memberikan rasa tenang bagi Hana.

Ren Ishida masuk terlebih dahulu untuk memastikan bahwa tidak ada orang lain yang mencurigakan di dalam kedai tersebut. Dia melihat seorang pria tua sedang duduk di pojok ruangan sambil membaca sebuah koran nasional yang sangat tebal.

Pria itu mengenakan jas cokelat yang sudah tua dan dia memiliki tatapan mata yang sangat tajam di balik kacamatanya. Akane segera mengenali pria tersebut sebagai jurnalis senior yang bernama Kenjiro Sato melalui foto profil di internet.

Mereka berlima segera mendekati meja pria tersebut dan mereka duduk melingkar dengan perasaan yang sangat tegang. Kenjiro menurunkan korannya dan dia menatap satu per satu wajah remaja yang ada di hadapannya sekarang.

"Kalian adalah anak-anak yang berani mengguncang sistem gacha kehidupan melalui video viral itu," ujar Kenjiro dengan suara berat.

Hana Tanaka mengangguk perlahan dan dia meletakkan tas berisi cakram keras portabel di atas meja kayu yang kokoh. Dia menceritakan semua penderitaan yang dia alami di sekolah akibat manipulasi nilai yang dilakukan pihak yayasan. Kenjiro mendengarkan penjelasan

Hana dengan sangat serius dan dia sesekali mencatat poin penting di buku saku miliknya. Dia terlihat tidak terkejut saat mendengar nama Haruo Fujiwara disebut sebagai otak di balik semua skandal besar ini.

Ternyata Kenjiro sudah lama mengintai pergerakan yayasan tersebut karena saudaranya juga pernah menjadi korban sistem yang sama. Pertemuan ini menjadi sebuah titik temu bagi dua generasi yang sama-sama menginginkan sebuah keadilan yang nyata.

Yuki Nakamura membuka laptopnya dan dia menunjukkan beberapa dokumen digital kepada Kenjiro Sato secara sangat mendetail. Kenjiro terlihat sangat terkejut saat melihat bukti transaksi keuangan ilegal yang melibatkan beberapa menteri penting di pemerintahan.

Dia menyadari bahwa data yang dibawa oleh anak-anak ini memiliki kekuatan untuk meruntuhkan seluruh kabinet yang berkuasa. Data mengenai proyek Gacha Takdir juga menjadi fokus utama yang membuat Kenjiro merasa sangat marah dan juga geram.

Sistem tersebut benar-benar melanggar hak asasi manusia karena menentukan masa depan seseorang berdasarkan algoritma komputer yang dingin. Kenjiro segera mengambil sebuah alat perekam suara dan dia meminta Hana untuk memberikan testimoni resminya.

"Dunia harus tahu bahwa masa depan seorang anak tidak boleh ditentukan oleh sebuah undian gacha," tegas Kenjiro sambil menekan tombol rekam.

Hana mulai bercerita tentang ibunya yang harus menderita karena dia tidak bisa mendapatkan akses kesehatan yang layak bagi orang miskin. Dia bicara tentang bagaimana sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar justru berubah menjadi sebuah penjara mental.

Kaito Fujiwara juga memberikan kesaksian mengenai keterlibatan ayahnya dalam membiayai proyek manipulasi nilai ujian nasional tersebut. Dia memberikan daftar sandi rahasia yang biasa digunakan oleh ayahnya untuk berkomunikasi dengan para pejabat tinggi negara.

Pengkhianatan Kaito kepada keluarganya adalah bentuk pengorbanan yang sangat besar demi menyelamatkan masa depan generasi muda lainnya. Kenjiro merasa sangat bangga melihat integritas moral yang dimiliki oleh putra dari musuh besarnya tersebut saat ini.

Akane Sato membantu Kenjiro untuk menyusun alur cerita yang akan diterbitkan agar mudah dipahami oleh masyarakat luas nanti. Mereka menggunakan data statistik yang ditemukan oleh Yuki untuk memperkuat narasi mengenai ketimpangan sosial yang sedang terjadi.

Kenjiro berjanji akan menggunakan semua jaringan medianya untuk memastikan berita ini meledak di seluruh penjuru negeri besok pagi. Dia akan mengirimkan data ini ke beberapa kantor berita internasional agar pihak yayasan tidak bisa melakukan penyensoran.

Keamanan data tersebut sekarang sudah berada di tangan seorang ahli yang memiliki perlindungan hukum yang sangat kuat. Kelompok lima sekawan merasa sebuah beban yang sangat berat telah terangkat dari pundak mereka untuk sementara waktu.

Di tengah diskusi yang sangat mendalam tersebut, Ren Ishida menyadari ada sebuah mobil hitam yang berhenti di depan kedai. Dua orang pria berbadan besar dengan setelan jas hitam pekat terlihat keluar dari mobil tersebut dengan wajah sangat dingin.

Ren segera memberikan kode darurat kepada teman-temannya agar mereka segera bersiap untuk melakukan pelarian kembali sekarang. Kenjiro Sato terlihat tetap tenang dan dia memberikan sebuah kunci pintu belakang kedai kopi tersebut kepada Kaito Fujiwara.

Pria tua itu akan tetap tinggal di dalam kedai untuk menghalangi para petugas keamanan tersebut agar tidak mengejar mereka. Kenjiro tahu bahwa nyawanya sedang dipertaruhkan namun dia merasa ini adalah tugas terakhirnya sebagai seorang jurnalis sejati.

"Pergilah lewat pintu belakang dan jangan pernah menoleh ke belakang sebelum kalian sampai di tempat aman," perintah Kenjiro.

Hana merasa sangat berat untuk meninggalkan Kenjiro sendirian di dalam kedai yang sudah mulai terkepung oleh para petugas. Namun dia menyadari bahwa menyelamatkan data ini jauh lebih penting daripada membiarkan diri mereka semua tertangkap oleh pihak lawan.

Kaito menarik tangan Hana dan mereka semua segera berlari menuju pintu belakang kedai yang terhubung dengan hutan kecil. Suara pintu depan kedai yang didobrak paksa terdengar sangat keras dan memicu adrenalin mereka untuk berlari lebih cepat lagi.

Mereka masuk ke dalam rimbunnya pepohonan saat hari mulai menunjukkan pukul sepuluh pagi dengan matahari yang sangat terik. Suara teriakan para petugas keamanan terdengar menggema di antara pepohonan yang sunyi dan juga terasa sangat dingin.

Mereka terus berlari tanpa henti meskipun kaki mereka sudah mulai terasa sangat perih karena terkena duri semak hutan. Hana terus memegang tangan Kaito agar dia tidak tertinggal oleh langkah kaki teman-temannya yang bergerak sangat lincah sekali.

Ren Ishida berada di barisan paling belakang untuk menghalangi petugas yang mencoba masuk ke dalam jalur hutan yang sangat sempit. Mereka menuju ke arah sebuah sungai kecil yang arusnya terlihat sangat deras untuk menutupi jejak langkah kaki mereka.

Yuki menyarankan agar mereka semua masuk ke dalam air dan berjalan menyusuri sungai menuju ke arah hilir yang tenang. Ini adalah strategi cerdas untuk mengecoh anjing pelacak yang mungkin akan digunakan oleh tim keamanan yayasan sekolah.

Air sungai terasa sangat dingin hingga membuat seluruh tubuh Hana Tanaka menggigil dengan sangat hebat dan juga kaku. Namun dia terus melangkah maju sambil menahan rasa sakit di kakinya yang mulai mati rasa karena suhu air dingin.

Kaito terus memberikan semangat kepada Hana dengan cara merangkul pinggangnya agar Hana tidak jatuh terbawa arus sungai yang deras. Mereka berlima berjalan dalam diam sambil terus memperhatikan setiap pergerakan yang ada di atas tebing sungai yang cukup tinggi.

Akane Sato terlihat sangat kelelahan namun dia tetap berusaha untuk tetap kuat agar tidak membebani perjuangan teman-temannya. Yuki tetap memegang tas laptopnya di atas kepala agar tidak terkena percikan air sungai yang sangat jernih itu.

Setelah berjalan selama hampir tiga puluh menit, mereka menemukan sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik sebuah air terjun rendah. Mereka segera masuk ke dalam gua tersebut untuk bersembunyi dan juga untuk mengeringkan pakaian mereka yang sudah sangat basah.

Ren segera mengumpulkan beberapa ranting kering yang ada di dalam gua untuk membuat api unggun yang sangat kecil saja. Mereka duduk melingkar di sekitar api unggun sambil mencoba menghangatkan tubuh mereka yang sudah mulai terasa sangat menggigil.

Hana menatap api yang menari-nari dan dia merasa bahwa perjuangan mereka baru saja memasuki tahap yang paling berbahaya. Musuh mereka sekarang sudah mulai bertindak secara terang-terangan dan juga secara sangat kasar untuk membungkam mereka.

"Kita tidak boleh menyerah karena Kenjiro sudah mempertaruhkan nyawanya demi memberikan kita sebuah kesempatan," ujar Hana dengan suara tegas.

Semua teman-temannya mengangguk setuju dan mereka merasakan sebuah energi baru yang mulai mengalir di dalam tubuh mereka kembali. Kaito Fujiwara menatap Hana dengan penuh rasa haru karena dia melihat transformasi Hana yang menjadi seorang pemimpin yang berani.

Dia merasa sangat beruntung bisa mengenal Hana dan dia berjanji akan selalu setia mendampingi Hana sampai akhir hayat. Persahabatan mereka kini sudah teruji oleh bahaya maut yang nyata dan juga oleh pengkhianatan dari orang tua mereka.

Mereka adalah lima remaja yang sedang membawa harapan bagi jutaan siswa lain yang masih terjebak di dalam sistem gacha. Malam akan segera datang kembali dan mereka harus segera mencari tempat persembunyian yang jauh lebih aman lagi.

1
Filan
sudahlah Hana. Persahabatan tidak bisa dimulai dengan kebohongan. Lagipula pura-pura kaya itu sulit dibanding orang kaya pura-pura miskin.
Three Flowers
aduh kasihan... gak kebayang gimana malunya saat perut berbunyi. Terima saja Hana, lagian juga sudah ketahuan kalo kamu lapar🤣
Three Flowers
Karena di sekolah elit, kemiskinan adalah hal yang sensitif. Kalau ketahuan bisa dibully, ya..
Filan
ga dapat mbg dia?
Filan
duh kasihan. Tokyo kota mahal /Grimace/
PrettyDuck
iya sihh. takutnya nanti mereka dicap radikal.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
PrettyDuck
tapi akane ini peduli loh sama keadaan negaranya
PrettyDuck
yaiyalahh. mereka gak terdesak.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
Mentariz
Ya ampun mirisnya 🥲
Mentariz
Bagus, gak usah gengsi, isi perut itu nomor satu 👍
Mentariz
Udah terima aja rotinya, han, lumayan loh
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
perut memang tidak bisa diajak kompromi. dia terlalu jujur, karena memang dia butuh asupan
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
tengah hari, lagi puasa. tentu lapar lah 🤭
˚₊· ͟͟͞͞➳❥𝐋𝐢𝐥𝐲 𝐕𝐞𝐲༉‧₊⁴.
Kayak kondisi dimana yaaa/Doge/
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
-Thiea-
Akane gak mungkin ngejauhin Hana kan.. secara dia vokal banget sama urusan politik. dia kan juga pengen bantu orang-orang susah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak..
-Thiea-
beruntung Hana punya teman kayak akane.. dia sangat perhatian .🥹
Miu Nuha.
dimana2 keadaan itu sama ya 😫
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍
😾🍟 𝒾Ř𝓪 𝐌𝐀ү𝓪 🐚
suka banget sama ceritanya. salut buat Hana. keren! tx kak bulan udah nulis cerita ini
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semangat Kaito 💪🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga akan menjadi sejarah yang baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!