Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Bayangan Sang Penolong
Kota Emerald berkilauan seperti zamrud di bawah siraman lampu neon, menyembunyikan sisi gelap dan kelam di setiap sudut gangnya. Bagi keluarga Kusuma, malam ini adalah malam perayaan. Namun, bagi keluarga Mahendra, malam ini adalah malam kehancuran yang mutlak.
Di rumah keluarga Kusuma, Rina tidak henti-hentinya mondar-mandir di ruang tamu. Senyumnya begitu lebar hingga menampakkan giginya yang tidak sempurna.
"Kau lihat kan, Nadia? Dewa itu benar-benar mengawasi kita!" seru Rina, tangannya menggenggam segelas anggur merah murah yang sudah ia beli dengan sisa uangnya. "Siapa kenalan penting Tuan Han Shixiong itu? Pasti seseorang yang menyukaimu secara diam-diam. Mungkin CEO dari Grup Dirgantara? Atau putra Gubernur?!"
Nadia duduk di sofa, tatapannya kosong. Pikirannya berlari dari satu spekulasi ke spekulasi lain. Siapapun yang bisa menggerakkan Dewa Medis dan menghancurkan keluarga Mahendra dalam hitungan jam, pasti bukan sembarang orang. Kekuatannya luar biasa.
"Aku tidak tahu, Ibu," desah Nadia. "Aku sudah mencoba mencari tahu, tetapi tidak ada yang tahu siapa sosok di balik ini."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Arya turun, mengenakan kaos oblong dan celana jeans. Tangannya masih basah sehabis mencuci peralatan dapur.
"Ah, kau masih di sini rupanya," dengus Rina saat melihat Arya. Senyum lebarnya langsung hilang. "Berani-beraninya kau muncul. Apa kau tidak sadar jika kita sedang merayakan penyelamatan perusahaan?"
Arya menatap Rina dengan pandangan datar. Ia melangkah menuju dapur, mengambil segelas air dingin.
"Aku hanya mengambil air," jawab Arya tenang.
"Ambil air, lalu kembali ke kamarmu!" perintah Rina dengan nada tinggi. "Besok kau harus berbelanja kebutuhan rumah tangga."
Nadia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Arya lekat-lekat. Pria di hadapannya ini... apakah mungkin? Tidak, itu konyol. Pria yang selama tiga tahun membiarkan dirinya dihina, dikucilkan, dan disuruh-suruh ini tidak mungkin berada di balik bantuan lima ratus miliar itu.
Namun, ada satu hal yang terus mengganggunya. Semalam, Arya berbicara soal lima puluh miliar itu dengan sangat meyakinkan. Kebetulan macam apa ini?
"Arya," panggil Nadia pelan.
Arya menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan ke arah sang istri. Mata yang dulu terlihat lelah kini menampakkan ketenangan luar biasa.
"Ya?" sahut Arya.
Nadia ragu sesaat. "Apa kau tahu siapa... yang membantu perusahaan?"
Arya menatap mata istrinya yang memancarkan kecurigaan sekaligus kebingungan. Bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyum samar.
"Mungkin seseorang yang ingin melihatmu bahagia," jawab Arya santai, sebelum kembali melanjutkan langkahnya ke atas tangga.
Rina mencibir. "Cih, kau tidak perlu bertanya pada pecundang ini, Nadia. Mana mungkin dia kenal orang besar."
Nadia tidak memedulikan ibunya. Matanya tertuju pada punggung Arya yang semakin menjauh. Punggung itu tegak dan kokoh.
Keesokan paginya, matahari bersinar lebih cerah di kediaman Kusuma. Namun, di sebuah gedung terbengkalai di pinggiran kota, suasananya berbanding terbalik.
Bima duduk di atas kursi reyot, wajahnya penuh memar. Di sekelilingnya, pria-pria berpakaian hitam dengan senjata api berjaga. Di hadapannya, seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas rapi berdiri menatapnya.
"Kau telah menyentuh orang yang salah, Mahendra," ucap pria tegap itu, suaranya berat dan mengancam.
"Si-siapa kalian?!" seru Bima, ketakutan mulai menggerogoti jiwanya. "Apa salahku? Kenapa kalian menghancurkan perusahaanku?!"
Pria tegap itu tersenyum dingin. "Kau belum menyadari siapa yang kau singgung? Kau sangat bodoh."
Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Bima. "Bos kami tidak suka jika ada lalat yang mengganggu istrinya."
Mata Bima terbelalak. Istrinya?
Nadia Kusuma.
Seketika, gambaran seorang pemuda berkaos murahan dengan mata tajam bagai pedang melintas di benak Bima.
"Arya..." gumam Bima, suaranya bergetar. "A-Arya berada di balik semua ini?!"
Pria tegap itu tertawa pelan. "Bos kami memiliki banyak nama. Namun, bagimu, dia adalah kehancuran."
Bima merasakan darahnya membeku. Pria yang ia hina, yang ia injak, yang ia anggap tak lebih dari sekadar benalu... ternyata adalah monster yang sanggup meratakan perusahaannya dalam hitungan jam.
Sementara itu, Arya sedang berdiri di depan pintu utama Grup Kusuma. Ia memegang sebuah payung, bersiap menyambut Nadia yang akan pulang.
Hari ini, ia telah menyelesaikan "Pembersihan Tubuh" tahap dua. Tubuhnya terasa lebih ringan, dan indranya menjadi jauh lebih tajam.
Ia bisa mendengar suara napas Nadia dari jarak belasan meter. Ia bisa mencium aroma parfumnya yang elegan.
Saat Nadia keluar dari gedung, hujan mulai turun dengan deras. Ia merutuki dirinya sendiri karena lupa membawa payung. Namun, saat ia hendak menembus hujan, sebuah payung besar tiba-tiba terbuka di atas kepalanya.
Nadia mendongak, mendapati Arya berdiri di sampingnya dengan senyum tipis.
"Ayo pulang," ucap Arya lembut.
Nadia terpaku sesaat. Di bawah rintik hujan, di bawah payung yang sama, ia merasakan kehangatan yang tak pernah ia duga dari pria di sampingnya ini.
"Terima kasih," bisik Nadia pelan.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Nadia menatap Arya bukan sebagai menantu benalu, melainkan sebagai seorang pria.