Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Undangan Perang
"Siapa Bella ini?" tanya Kairo sekali lagi.
Suaranya datar tapi menusuk tulang. Dia masih memegang ponsel Elena, menatap pesan penghinaan itu. Jempolnya mengusap layar, ingin menghapus kata-kata "selingkuh dengan sekretaris" yang membuatnya jijik.
Elena mendengus, merebut tas tangannya kembali. "Sudah kubilang, dia ular. Bella Winata, istri pemilik Winata Coal. Orang yang proposal pinjamannya kau tolak mentah-mentah bulan lalu."
Kairo menoleh. "Heru Winata? Bisnis tambang bodong itu? Ya, aku ingat. Bisnisnya sedang sekarat."
"Nah," Elena menunjuk Kairo dengan dagu. "Istrinya dendam. Bella itu Ratu Lebah sosialita. Dia menyebar gosip untuk menutupi kebangkrutan suaminya. Mekanisme pertahanan diri yang menyedihkan."
Kairo menatap ponsel lagi. "Jadi dia menyebar gosip aku selingkuh?"
"Bukan cuma itu," Elena tertawa sinis. "Dia bilang aku mandul. Bego. Kau mau menceraikanku. Kalau aku tidak datang ke pestanya besok, bagi mereka itu konfirmasi. Tanda Nyonya Diwantara takut keluar rumah karena wajahnya tercoreng arang."
Rahang Kairo mengeras. Harga diri adalah tombol pemicunya. Dia tidak peduli soal Sora, tapi dia peduli citra "Kairo Diwantara".
"Jadi..." Elena melirik dari sudut mata. "Kau mau aku di rumah? Silakan. Tapi jangan salahkan kalau besok saham Diwantara Group turun."
Kairo menatap tajam. "Apa hubungannya gosip ibu-ibu dengan sahamku?"
"Sentimen pasar, Kairo," jawab Elena cepat. "Investor paranoid. Kalau CEO digosipkan tidak stabil, mereka panik. Gosip bisa jadi bola salju liar di lantai bursa. Kau mau ambil risiko itu cuma karena egomu ingin mengurungku?"
Skakmat. Elena benar.
Kairo mondar-mandir, lalu berhenti di depan Elena.
"Baik. Kau boleh pergi ke pesta sampah itu."
Elena hampir tersenyum, tapi Kairo mengangkat jari.
"Tapi ada syaratnya."
"Apa? Pakai GPS?"
"Hampir. Reza ikut," Kairo menunjuk asistennya. "Dia akan menempel padamu seperti bayangan. Kalau kau melenceng satu meter, dia seret kau pulang paksa."
"Oke, Reza jadi aksesoris manis. Syarat kedua?"
Kairo melempar kartu hitam legam ke meja. Black Card. Unlimited.
"Ambil ini. Jangan terlihat miskin di kandang ular. Beli gaun baru, perhiasan. Gesek sampai jebol. Bungkam mulut mereka dengan kemewahan."
Elena menatap kartu itu dingin. Kartu kredit adalah jejak digital. Tidak bisa dipakai modal kabur. Dia butuh amunisi perang.
"Aku tidak mau," tolak Elena, menendang kartu itu pelan.
Kairo melongo. "Apa?"
"Aku tidak mau kartu kreditmu. Itu alat pelacak. Aku butuh uang tunai," kata Elena tegas. "Transfer ke rekening pribadiku. Sekarang."
"Untuk apa? Kabur lagi?"
"Untuk amunisi," Elena berdiri berhadapan dengan suaminya. "Perang butuh strategi. Kadang aku butuh menyogok, butuh bayar orang dalam. Itu butuh cash, Tuan CEO."
Dia mengulurkan tangan.
"Dua ratus juta. Transfer sekarang. Atau aku tidak pergi dan kau nikmati gosip istrimu mandul di koran besok."
"Kau memeras suamimu?"
"Aku minta modal operasional. Ayo, jangan pelit."
Kairo mendengus kasar, tapi argumen Elena masuk akal. Dengan emosi, dia mengetuk ponselnya.
Ting!
"Sudah," kata Kairo ketus. "Dua ratus juta masuk. Ini ATM dan barangmu. Puas?"
Elena tersenyum tulus. "Sangat puas. Terima kasih, donatur." Dia menyambar tas dan berjalan ke tangga.
"Hei! Kartunya?!" teriak Kairo.
"Simpan buat koleksi!" seru Elena tanpa menoleh. "Reza, tunggu di depan sepuluh menit lagi!"
Kairo ditinggalkan bingung. "Dia menolak Black Card demi uang receh dua ratus juta?"
Reza berdehem. "Mungkin Nyonya belajar... manajemen aset cair?"
"Manajemen aset kepalamu. Dia cuma mata duitan."
Di walk-in closet, Elena mengecek saldo. IDR 200.000.000.
"Bagus. Dana pensiun dini bertambah."
Dia memandang deretan gaun pastel Sora. Baju putri dongeng yang lemah. "Sampah," komentar Elena. "Aku tidak pakai baju badut ke medan perang."
Dia mengaduk bagian belakang lemari, menemukan dust bag hitam. Sebuah setelan blazer putih bersih Balmain. Potongan tegas, bahu kokoh, kancing emas.
"Ini dia," Elena tersenyum miring. Ini baju untuk akuisisi, bukan pesta teh.
Dia berganti pakaian. Blazer itu memeluk tubuhnya sempurna, memberikan aura otoritas bos.
Lima belas menit kemudian. Reza menunggu gelisah di lobi.
Tak. Tak. Tak.
Suara sepatu hak tinggi menghantam marmer. Reza mendongak dan rahangnya jatuh.
Bukan gaun bunga-bunga. Elena turun dengan setelan putih menyala. Rambut diikat kuda tinggi yang kencang, menampakkan leher jenjang dan anting berlian tajam. Di tangannya bukan tas pesta, tapi tas kerja kulit hitam.
"Ayo, Reza. Bengongnya nanti saja."
"Nyo... Nyonya? Yakin pakai baju itu? Ibu-ibu lain pasti pakai gaun..."
"Justru itu poinnya," jawab Elena, berjalan ke cermin besar. "Kalau mau jadi singa, jangan berdandan seperti domba. Biarkan mereka jadi domba manis. Aku pemburunya."
Elena mengeluarkan lipstik merah darah (maroon). Membukanya dengan bunyi klik.
Dia memoles bibir dengan gerakan presisi. Wajah pucat Sora lenyap, digantikan wajah wanita yang siap membakar dunia.
"Reza," panggil Elena tanpa menoleh, menatap bayangannya tajam.
"Ya, Nyonya?"
"Siapkan tablet kerjaku. Pastikan data tentang PT. Winata Coal terbuka di layar utama," perintah Elena dingin. Dia menutup lipstik seperti memasukkan peluru.
Dia berbalik, menyeringai lebar yang membuat Reza merinding.
"Kita bukan mau pesta teh, Reza. Kita mau berburu mangsa."
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪
suka banget karakter utama ceweknya kuat, pinter,dominan,
sampe bab ini, kairo belum sedominan gavin di cerita sebelah ya Thor, kesannya msh lbh dominan sora/elena
ditunggu next nya, kairo-soraelena sm kuat
semangat Thor