NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Undangan Perang

​"Siapa Bella ini?" tanya Kairo sekali lagi.

​Suaranya datar, tapi dinginnya menusuk tulang. Dia masih memegang ponsel Elena, menatap layar yang menampilkan pesan penuh penghinaan itu dengan mata menyipit. Jempolnya mengusap layar, seolah ingin menghapus kata-kata "selingkuh dengan sekretaris" yang membuatnya merasa jijik.

​Elena mendengus kasar. Dia merebut kembali tas tangannya yang tadi digeledah Kairo, meski ponsel dan paspornya masih disandera pria itu.

​"Sudah kubilang, kan? Dia ular," jawab Elena ketus. Dia berjalan menuju sofa, menjatuhkan dirinya di sana dengan kesal. Kakinya yang pegal karena berdiri di pinggir jalan tadi butuh istirahat. "Namanya Bella Winata. Istri pemilik Winata Coal. Kau pasti tahu suaminya, Pak Heru. Orang yang pernah memohon pinjaman padamu bulan lalu tapi kau tolak."

​Kairo menoleh, memorinya bekerja cepat. "Heru Winata? Pria pendek yang datang ke kantorku membawa proposal tambang bodong itu? Ya, aku ingat. Bisnisnya sedang sekarat."

​"Nah, itu dia," Elena menunjuk Kairo dengan dagunya. "Karena suaminya ditolak mentah-mentah olehmu, istrinya dendam padaku. Bella itu Ratu Lebah di lingkaran sosialita Jakarta Selatan. Kerjanya cuma pamer kekayaan dan menyebar gosip untuk menutupi fakta kalau suaminya sedang di ambang kebangkrutan. Itu mekanisme pertahanan diri yang menyedihkan."

Elena mengetahui ini dari ingatan Sora.

​Kairo menatap ponsel di tangannya lagi. "Jadi dia menyebar gosip aku selingkuh dengan sekretaris?"

​"Bukan cuma itu," Elena tertawa sinis. "Dia bilang aku mandul. Dia bilang aku bego. Dia bilang kau mau menceraikanku karena aku memalukan. Dan kalau aku tidak datang ke pestanya besok, bagi mereka itu adalah konfirmasi. Tanda kalau gosip itu benar. Tanda kalau Nyonya Diwantara takut keluar rumah karena wajahnya sudah tercoreng arang."

​Kairo terdiam. Rahangnya mengeras.

​Harga diri. Itu adalah tombol pemicu Kairo.

​Dia tidak peduli apa yang orang katakan tentang Sora. Tapi dia sangat peduli apa yang orang katakan tentang "Kairo Diwantara". Jika orang berpikir dia punya istri yang menyedihkan dan takut menghadapi dunia, itu mencoreng citranya sebagai pria dominan yang memegang kendali.

​"Jadi..." Elena melirik Kairo dari sudut matanya, mulai melancarkan serangan psikologisnya. "Kau mau aku tetap di rumah? Menjadi istri penurut yang manis di dalam sangkar emas? Silakan saja. Tapi jangan salahkan aku kalau besok pagi harga saham Diwantara Group turun satu atau dua poin."

​Kairo menatap Elena tajam. "Apa hubungannya gosip ibu-ibu dengan harga sahamku?"

​"Sentimen pasar, Kairo," jawab Elena cepat, nadanya seperti dosen yang sedang menguliahi mahasiswa bebal. "Investor itu paranoid. Kalau mereka dengar CEO Diwantara Group rumah tangganya berantakan, mereka akan berpikir fokusmu terpecah. Mereka akan berpikir kau tidak stabil. Gosip murahan bisa jadi bola salju liar di lantai bursa. Kau mau ambil risiko itu cuma karena egomu ingin mengurungku?"

​Skakmat.

​Kairo tahu Elena benar. Di dunia bisnis yang kejam, citra adalah segalanya. Keluarga yang harmonis—atau setidaknya terlihat harmonis—adalah aset.

​Kairo berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Dia menatap pintu gerbang yang tertutup rapat, lalu menatap Elena yang duduk santai seolah tidak punya beban.

​"Baik," putus Kairo tiba-tiba. Dia berhenti tepat di depan Elena.

​Elena mengangkat alis. "Baik apa?"

​"Kau boleh pergi ke pesta sampah itu," kata Kairo dingin.

​Senyum kemenangan nyaris terbit di bibir Elena, tapi Kairo mengangkat satu jari, menahannya.

​"Tapi ada syaratnya."

​"Tentu saja ada syarat," gumam Elena malas. "Apa? Aku harus pakai GPS?"

​"Hampir benar," Kairo menunjuk Reza yang masih berdiri mematung di dekat pintu masuk dengan wajah canggung. "Reza akan ikut denganmu. Dia akan menempel padamu seperti bayangan. Dia akan menyetir mobilmu, membawakan tasmu, dan melaporkan setiap gerakanmu padaku. Kalau kau melenceng satu meter saja dari lokasi pesta, Reza punya izin dariku untuk menyeretmu pulang paksa."

​Elena menatap Reza. Asisten itu membungkuk sedikit, wajahnya memelas seolah minta maaf.

​"Oke, aku setuju. Reza bisa jadi aksesoris yang manis," jawab Elena enteng. "Syarat kedua?"

​Kairo merogoh dompet kulitnya dari saku jas. Dia mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam legam dengan aksen emas.

​Black Card. Unlimited.

​Kairo melempar kartu itu ke meja di depan Elena.

​"Ambil ini," perintah Kairo. "Kau akan masuk ke kandang ular, kan? Kalau begitu, jangan terlihat miskin. Beli gaun baru. Beli perhiasan. Gesek kartu itu sampai mesinnya jebol kalau perlu. Tunjukkan pada Bella dan teman-temannya kalau istri Kairo Diwantara punya uang yang tidak berseri. Bungkam mulut mereka dengan kemewahan."

​Elena menatap kartu hitam itu.

​Bagi Sora yang dulu, kartu ini adalah surga. Sora akan mencium kartu ini dan berterima kasih sambil menangis haru.

​Tapi Elena justru menatap kartu itu dengan tatapan menilai yang dingin.

​Kartu kredit adalah jejak digital. Setiap transaksi bisa dilacak. Kairo akan tahu dia beli apa, di mana, dan jam berapa. Dan yang paling penting... kartu kredit tidak bisa dipakai untuk modal kabur atau modal hidup mandiri di masa depan.

​Elena tidak butuh baju baru. Dia butuh uang tunai. Amunisi perang.

​"Aku tidak mau," tolak Elena, menendang kartu itu pelan dengan ujung jarinya.

​Kairo melongo. "Apa?"

​"Aku tidak mau kartu kreditmu. Itu alat pelacak," kata Elena jujur. "Lagipula, belanja pakai kartu itu tidak seru. Rasanya seperti meminjam uang bank."

​"Itu unlimited, Sora! Kau bisa beli satu mal dengan kartu itu!" Kairo mulai frustrasi. Wanita ini benar-benar tidak bisa ditebak. Dikasih akses, menolak?

​"Aku butuh uang tunai," kata Elena tegas. Dia menatap mata Kairo. "Transfer ke rekening pribadiku. Sekarang."

​"Untuk apa? Kau mau kabur lagi?" tuduh Kairo curiga.

​"Untuk amunisi," Elena berdiri, berhadapan langsung dengan suaminya. "Kau suruh aku perang, kan? Perang butuh strategi. Kadang aku butuh menyogok pelayan hotel untuk dapat info. Kadang aku butuh bayar orang dalam. Hal-hal seperti itu tidak bisa dibayar pakai gesek kartu, Tuan CEO. Itu butuh cash."

​Elena mengulurkan tangannya, telapak tangan terbuka menengadah.

​"Dua ratus juta. Transfer sekarang. Atau aku tidak jadi pergi dan kau bisa nikmati gosip istrimu mandul di koran besok pagi."

​Kairo menatap Elena tak percaya. "Kau memeras suamimu sendiri?"

​"Aku meminta modal operasional," koreksi Elena. "Ayo, jangan pelit. Katanya Diwantara Group untung triliunan. Masa dua ratus juta buat membungkam musuh saja mikir?"

​Kairo mendengus kasar. Dia benar-benar tidak habis pikir. Tapi argumen Elena—meski terdengar licik—masuk akal.

​Dengan gerakan kasar, Kairo mengambil ponselnya sendiri. Dia mengetuk layar beberapa kali dengan emosi.

​Ting!

​Ponsel Elena yang masih dipegang Kairo berbunyi notifikasi.

​"Sudah," kata Kairo ketus. "Dua ratus juta masuk ke rekeningmu. Dan ini ATM dan barangmu. Puas?"

​Elena tersenyum lebar. Kali ini senyum tulus—senyum seorang pebisnis yang baru saja closing deal.

​"Sangat puas. Terima kasih, donatur," Elena menyambar tasnya, lalu berjalan cepat menuju tangga.

​"Hei! Kartunya tidak kau bawa?" teriak Kairo, menunjuk Black Card yang tergeletak di meja.

​"Simpan saja buat koleksi!" seru Elena tanpa menoleh. "Aku mau siap-siap. Reza, tunggu di depan sepuluh menit lagi. Jangan telat!"

​Kairo ditinggalkan sendirian di ruang tamu bersama Reza. Pria itu menatap kartu hitamnya yang ditolak mentah-mentah.

​"Dia menolak Black Card..." gumam Kairo bingung. "Wanita macam apa yang menolak Black Card demi uang receh dua ratus juta?"

​Reza berdehem pelan. "Mungkin Nyonya sedang belajar... manajemen aset cair, Tuan?"

​Kairo memutar bola matanya. "Manajemen aset kepalamu. Dia cuma mata duitan."

​Di lantai dua, Elena masuk ke dalam walk-in closet dengan semangat membara.

​Dia segera membuka aplikasi mobile banking di ponsel. 

​Saldo bertambah: IDR 200.000.000.

​"Bagus," bisik Elena. "Dana pensiun dini bertambah. Siapa yang butuh belanja gaun kalau lemari ini isinya sudah seperti toko departemen store?"

​Elena memandang deretan gaun pesta Sora. Semuanya berwarna pastel, penuh renda, pita, dan payet berkilauan. Gaun-gaun "putri dongeng" yang membuat pemakainya terlihat lemah lembut dan rapuh. Jenis baju yang disukai Kairo karena membuatnya merasa gagah melindungi sang putri.

​"Sampah," komentar Elena. "Aku tidak akan pakai baju badut ini ke medan perang."

​Dia butuh sesuatu yang tajam. Mengintimidasi. Berkelas.

​Dia mengaduk-aduk bagian belakang lemari, tempat baju-baju "salah beli" Sora disimpan. Baju-baju yang dibeli karena lapar mata tapi tidak pernah dipakai karena Kairo bilang "terlalu kaku".

​Tangan Elena berhenti pada sebuah dust bag hitam di pojok lemari.

​Dia menariknya keluar. Membuka resletingnya.

​Sebuah setelan blazer putih bersih dari Balmain. Potongannya tegas, bahunya kokoh, kancing emasnya berkilau elegan. Dan ada celana panjang high-waist yang senada.

​"Ini dia," Elena tersenyum miring.

​Ini bukan baju untuk pesta teh. Ini baju untuk akuisisi perusahaan. Ini baju untuk membuat lawan gemetar bahkan sebelum kau membuka mulut.

​Elena melepas kemejanya, berganti pakaian dengan cepat. Blazer itu pas di tubuhnya, memeluk lekuk pinggangnya dengan sempurna namun tetap memberikan aura otoritas yang kuat.

​Dia tidak terlihat seperti istri manja. Dia terlihat seperti bos.

​Lima belas menit kemudian.

​Reza sudah menunggu di lobi bawah dengan gelisah. Kairo sudah masuk ke ruang kerjanya, masih marah tapi memantau lewat CCTV.

​Suara langkah kaki terdengar menuruni tangga. 

Tak.Tak.Tak. Suara sepatu hak tinggi yang menghantam marmer dengan percaya diri.

​Reza mendongak. Dan rahangnya jatuh.

​Dia mengharapkan Nyonya Sora turun dengan gaun bunga-bunga dan topi lebar seperti biasanya.

​Tapi yang turun adalah sosok yang berbeda.

​Elena mengenakan setelan putih menyala itu. Rambut hitam panjangnya tidak digerai manja, melainkan diikat kuda tinggi yang kencang, menampakkan leher jenjang dan anting berlian sederhana namun tajam.

​Di tangannya tidak ada tas tangan kecil yang imut. Dia menenteng sebuah tas kerja kulit berwarna hitam—tas laptop.

​"Ayo, Reza. Bengongnya nanti saja," tegur Elena saat sampai di anak tangga terakhir.

​"Nyo... Nyonya?" Reza tergagap. "Nyonya yakin pakai baju itu? Itu kan pesta teh... ibu-ibu lain pasti pakai gaun..."

​"Justru itu poinnya," jawab Elena sambil berjalan menuju cermin besar di lobi. "Kalau kau mau jadi singa, jangan berdandan seperti domba. Biarkan mereka jadi domba-domba manis dengan gaun rumbainya. Aku akan jadi pemburunya."

​Elena mengeluarkan sebuah benda dari saku blazernya.

​Lipstik. Warna merah darah yang gelap (maroon). Bukan warna pink lembut favorit Sora.

​Dia membuka tutup lipstik itu dengan bunyi klik.

​Dengan gerakan perlahan dan presisi, dia memoleskan warna merah berani itu ke bibirnya. Menatap pantulan dirinya sendiri di cermin dengan tatapan membunuh.

​Wajah pucat dan polos Sora lenyap. Digantikan oleh wajah wanita yang siap membakar dunia.

​"Reza," panggil Elena tanpa menoleh, matanya masih terkunci pada bayangannya sendiri di cermin. Dia mengatupkan bibirnya, meratakan warna merah darah itu.

​"Ya, Nyonya?"

​"Siapkan tablet kerjaku. Pastikan koneksi internetnya lancar dan data tentang PT. Winata Coal sudah terbuka di layar utama," perintah Elena dingin. Dia menutup kembali lipstiknya, memasukkannya ke saku seperti memasukkan peluru.

​Dia berbalik, menatap Reza dengan seringai lebar yang membuat asisten itu merinding.

​"Kita bukan mau pesta teh, Reza. Kita mau berburu mangsa."

1
Rossy Annabelle
next,,seruuuu iih🤯
Savana Liora: #terbit🤭
total 3 replies
wwww
ayok ges ramaikan novelnya seru loh ceritanya 😍
Savana Liora: iyaa ayok mari mari sinii
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!