NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Ibu Tiri Putra CEO Lumpuh

Mendadak Jadi Ibu Tiri Putra CEO Lumpuh

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / CEO / Orang Disabilitas / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:3.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kinara, seorang gadis berusia 24 tahun, baru saja kehilangan segalanya, rumah, keluarga, dan masa depan yang ia impikan. Diusir ibu tiri setelah ayahnya meninggal, Kinara terpaksa tinggal di panti asuhan sampai akhirnya ia harus pergi karena usia. Tanpa tempat tujuan dan tanpa keluarga, ia hanya berharap bisa menemukan kontrakan kecil untuk memulai hidup baru. Namun takdir memberinya kejutan paling tak terduga.

Di sebuah perumahan elit, Kinara tanpa sengaja menolong seorang bocah yang sedang dibully. Bocah itu menangis histeris, tiba-tiba memanggilnya “Mommy”, dan menuduhnya hendak membuangnya, hingga warga sekitar salah paham dan menekan Kinara untuk mengakui sang anak. Terpojok, Kinara terpaksa menyetujui permintaan bocah itu, Aska, putra satu-satunya dari seorang CEO muda ternama, Arman Pramudya.

Akankah, Kinara setuju dengan permainan Aksa menjadikannya ibu tiri atau Kinara akan menolak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Malam itu, suasana kediaman Pramudya terasa berbeda dan lebih sunyi, namun entah mengapa juga terasa hangat.

Meja makan panjang yang biasanya ramai kini hanya diisi tiga orang. Kursi di ujung meja tempat Nyonya Ratna biasa duduk kini nampak kosong. Ratna telah berpamitan sore tadi, kembali ke Bogor dengan alasan urusan pribadi. Namun sebelum pergi, wanita itu memanggil Kinara secara khusus.

Pesannya masih terngiang jelas di kepala Kinara.

'Selesaikan masalah kontrakmu dengan Arman. Mama ingin kamu bukan sekadar istri di atas kertas. Jadilah mommy seutuhnya untuk Aksa.'

Permintaan itu terlalu berat sekaligus terlalu tulus untuk diabaikan. Aksa duduk sambil mengayun-ayunkan kakinya, sibuk menceritakan hal-hal kecil tentang sekolah dan les sore tadi. Kinara menanggapi dengan senyum, sesekali menyuapi Aksa tanpa sadar sudah bertindak seperti ibu sungguhan.

Sementara itu, Arman lebih banyak diam.

Saat pelayan hendak mendekat untuk membantu Arman mengambil makanan, pria itu mengangkat tangan, menolak dengan singkat.

“Tidak perlu.”

Pelayan terhenti, ragu. Kinara yang melihat pemandangan itu langsung berdiri.

“Biar aku saja,” ucapnya ringan.

Beberapa pasang mata pelayan langsung saling berpandangan. Biasanya Arman tidak pernah mengizinkan siapa pun, melakukan hal untuknya, apalagi orang lain selain Rudi yang akan melakukan hal itu. Namun, semenjak ada Kinara, Rudi tak lagi makan malam bersama mereka.

Arman menoleh pada Kinara. Tatapannya sejenak tertahan, lalu ia mengangguk.

“Terima kasih.”

Satu kalimat pendek dan suaranya terdengar datar. Tapi cukup untuk membuat udara di ruangan itu berubah.

Kinara mengambil sendok, menyendokkan sup dengan hati-hati, lalu menyuapkannya pada Arman. Gerakannya tenang, tanpa ragu, tanpa rasa canggung. Seolah-olah itu sudah menjadi hal paling wajar di dunia.

Aksa tersenyum lebar, matanya berbinar.

“Daddy sama Mommy cocok,” katanya polos.

Kinara tersedak kecil, Arman berdehem pelan, menoleh ke arah lain namun telinganya memerah.

Di sudut ruangan, para pelayan masih berdiri terpaku. Mereka saling bertukar pandang dengan ekspresi tak percaya.

Malam semakin larut ketika rumah Pramudya tenggelam dalam keheningan. Lampu-lampu temaram menyala, meninggalkan bayangan panjang di lorong-lorong sunyi. Kinara baru saja hendak masuk ke kamar Aksa ketika suara Arman memanggilnya, pelan namun tegas.

“Kinara.”

Wanita itu menoleh, Arman berada di depan pintu kamarnya, kamar yang selama ini selalu menjadi batas tak kasatmata di antara mereka.

“Ada apa?” tanya Kinara.

Arman menghela napas singkat. “Mama sudah pulang. Tidak ada alasan lagi untuk berpura-pura. Tapi … aku ingin bertanya dulu.”

Tatapan pria itu mengeras, bukan dingin lebih kepada ragu.

“Kamu mau pindah ke kamar ini?” ucapnya pelan. “Bukan karena paksaan. Aku hanya ingin tahu … kamu pernah bilang akan menilai sendiri saat kamu akan memulai. Aku ingin mendengar jawabannya.”

Kinara terdiam, Arman melanjutkan, suaranya lebih rendah.

“Apa kamu menyesal menikah kontrak denganku?”

Sontak Kinara mendongakkan kepalanya menatap Arman.

“Atau selama ini kamu bertahan hanya karena Aksa?”

Pertanyaan itu menghantam tepat di dada Kinara. Ia kembali menunduk, jemarinya saling menggenggam. Banyak jawaban berputar di kepalanya, tapi tak satu pun terasa benar.

“Jujur … aku tidak tahu,” ucapnya akhirnya. “Aku belum pernah merasakan hidup seperti ini sebelumnya.”

Ia kembali mendongak, menatap Arman.

“Sejauh ini aku merasa aman. Saat aku kesusahan, Mas menolongku. Aku bersyukur.”

Suaranya melembut.

“Tapi soal hati … aku belum berani mengakuinya. Aku takut salah.”

Arman menatapnya lama. Tak ada amarah di sana hanya penerimaan yang sunyi.

“Jawaban itu sudah cukup,” katanya singkat.

Tepat saat keheningan kembali jatuh, pintu kamar Aksa terbuka. Bocah itu muncul dengan mata setengah mengantuk, memeluk boneka kecilnya.

“Daddy … Mommy…” suaranya lirih.

“Aksa mau tidur bareng. Kali ini Aksa janji nggak kabur lagi … nggak akan ninggalin mommy.”

Kinara langsung berlutut, memeluk Aksa. Hatinya mencelos.

"Mommy tidak akan percaya," goda Kinara, Arman memandang keduanya untuk pertama kalinya tanpa dinding dingin di matanya.

“Baik,” katanya pelan. “Kita tidur bersama.” Lanjut Kinara.

Malam itu, mereka berbaring di satu ruangan yang sama. Tidak ada sentuhan berlebihan, tidak ada janji. Hanya tiga orang dengan luka masing-masing, berbagi ruang dan keheningan.

Lampu kamar diredupkan. Hening menyelimuti ruang itu, hanya napas pelan yang saling bersahutan.

Aksa tidur di tengah, tubuh kecilnya miring ke kanan dan kiri. Tangannya menggenggam tangan Arman dan Kinara. Perlahan dengan gerakan polos dan penuh niat, Aksa menyatukan kedua tangan itu, menindihnya dengan telapak kecilnya sendiri.

“Dad … Mom…” gumamnya setengah mengantuk.

“Ayo mulai hidup bareng, kayak orang tua yang lain. Aksa rindu di sayang dan di manja.”

Matanya masih terpejam, tapi suaranya jujur.

“Aksa janji bakal jadi anak baik. Nggak nakal lagi. Nggak bikin Daddy sama Mommy sedih. Aksa janji,”

Arman terdiam, dadanya menghangat oleh sesuatu yang lama mati. Ia melirik Kinara tepat saat wanita itu juga menatapnya. Tak ada kata di antara mereka, hanya keheningan yang sarat makna.

Kinara mengangguk pelan.

“Ayo memulainya, Mas,” ucapnya lirih, hampir bergetar.

Arman menatapnya beberapa detik ragu, takut, namun berharap. Lalu ia mengangguk kecil.

“Iya … ayo kita mulai.”

Mata Aksa langsung terbuka. Wajahnya bersinar, senyumnya lebar tak tertahan.

“Yeay! Aksa punya Daddy dan Mommy yang utuh!” teriaknya bahagia.

Dia tertawa riang, menarik tangan Kinara, lalu mencoba menggelitik Arman. Kinara ikut tertawa, membalas geli Aksa. Arman pun tersenyum, meski geraknya terbatas kakinya tak mampu ikut bergerak bebas namun tawanya nyata, tulus, dan hidup.

'Memulai itu mudah menerima itu yang sulit,' Arman menatap senyum Aksa lalu Kinara, membuat binar bahagia di matanya.

1
Lily Formosa Lily
dasar gilo
Lies Atikah
ah jadi geuleuh ka si Arman kayanya dia menik mati juga bukti nya sama2 telan jank pura2 nyesel tapi gak marah sama si jalang nya . gak ada nelakukan apa2
Lies Atikah
si Arman juga menikmati bukti nya di pegang dan di peluk kamu diam dsar tikus got
Sri Peni
cerita yg bagus , logika ada itu yg paling aq suka
Ummee
cobaan apa lagi?
Lies Atikah
semoga Arman dan Kinara lebih peka dan pintar menghadapi si gatel mira dan si bodoh bagas yang mau aja di bohongi dasar laki pecundang otak udang
Lies Atikah
itu kan bukan kesalahan Arman dia hanya berusaha menyelamat kan diri kenapa si kinara benci sama Arman jangan bodoh mikir yang waras jangan bedegong yang jahat nya siapa yang di benci nya siapa . jelas2 si widia pakta nya ah au ah jadi geuleuh
Lies Atikah
mak lampir baru nyadar lantas selama ini kemana saja euyyyy
Sri Afrilinda
🤣🤣🤣🤣
Dinatha
menurutku malah Kinara egois..
bukankah Rudi sudah jelaskan detail termasuk alasan suaminya menempuh jalur itu.
tidak memberi tau bukan berarti khianat atau apapun..
ada yg harus diberi tau dan ada yg tidak dengan alasan kebaikan. apalagi wanita hamil.
Pengaruh kehamilan... it's oke.
jutaan wanita hamil di dunia ini. mereka bisa negatif thinking, egois juga..
tapi semua itu kalah dengan akal bersih...
kehamilan hanya merubah mood tapi tidak mengakibatkan kebodohan..
sebaiknya ini menjadi pemahaman dan pembelajaran..
terutama yg muslim.. makanya Islam menganjurkan wanita hamil memperbanyak ibadah.. terutama baca Al-Qur'an
Dinatha
iya sihh..
Author tegaan.. sakit mental kok di borgol.. tega banget 😔
di pasung aja Napa?🫣🫣🫣😁
Dinatha
Dan karena pertemuan pandangan itu mereka jatuh cinta.
cerita Tamat..
ehhh.. kabur ah.. sebelum author ngamuk 🏃🏃🏃🏃🫣🫣😁
Dinatha: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Dinatha
Jangan jangan Amira bukan keponakan..
tapi anak kandung sendiri Atika sebelum menikah dengan papa Rome🫣🫣😁😁
mungkin lhooo 😁😁..
jangan dihujat... kirim saya THR saja 🤣
Sri Peni
wl hny cerita tp logika hrs tetep ada. contoh kl settingnya seklh TK guru hrs tetep ada di ruang. sehngga tdk terjd cerita yg msk akal🙏
Dinatha
Ahhh...
seandainya Keahlian Rudi bisa berlaku di polisi Kanoha 🤣
Dinatha
mungkin Pelampung lebih cocok Thor..
atau sekoci tempat dia bertahan hidup..
kalau jangkar kan emang untuk ditenggelamkan..
maaf jika salah 🙏
mimief
dasar ibu ga punya hati nurani
ngorbanin calon anaknya karena ambisi dan drama ga mutu 🥹🥹
Dinatha
Saran Thor
Sebaiknya lain x gunakan istilah "Ibu Sambung" itu lebih terdengar bersahabat dan menyentuh daripada Ibu Tiri, walaupun maknanya sama..
Dinatha: maafkan Thor.
bukan menggurui.. cuma saran
sukses selalu 🙏
total 2 replies
Lies Atikah
kaya nya Rome lebih baik dari pada si batu Arman yang munafik dan sombong
say't
aduh jngn2 istrinya sair ni si kartika nih 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!