"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."
Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.
"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."
Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.
---
Suara Nurani Halimah
Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.
"Suamiku... kau membunuh ayahku?"
Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:
"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"
Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.
"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: PENGUMUMAN ITU
Pengumuman harga VOC ditempel di balai kampung seperti hukuman mati.
Kertas itu putih. Bersih. Dicetak rapi dengan tinta hitam. Tapi bagi mata Datuk Maringgih yang membaca dari kejauhan, kertas itu berwarna merah. Merah darah.
Dua puluh petani berdiri mengelilinginya. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang berani mendekat. Mereka hanya memandang dari jarak aman—seperti melihat algojo sedang mengasah pisau.
Datuk Maringgih melangkah maju. Sepatu kulitnya menghentak tanah kering. Di belakangnya, kereta kencana parkir di tepi balai, dua kuda putih mengibas-ngibaskan ekor, tidak mengerti apa yang terjadi di depan mata tuannya.
Ia membaca.
Harga Cengkih Musim Ini:
Kelas A: 5 ringgit per pikul
Kelas B: 3 ringgit per pikul
Kelas C: 1 ringgit per pikul
Semua hasil panen wajib masuk gudang VOC. Penjualan di luar gudang dilarang. Pelanggaran akan ditindak sesuai hukum Kompeni.
Tangannya mengepal.
Harga pasar sebenarnya—yang ia tahu dari pedagang di Batavia, dari surat-surat yang sampai minggu lalu—adalah 25 ringgit per pikul. Mungkin lebih. Tapi di sini, VOC memasang 5 untuk kualitas terbaik.
Ini bukan dagang, pikirnya. Ini perampokan.
Ia menoleh ke belakang. Petani-petani itu masih diam. Wajah mereka pucat. Pundak mereka turun. Beberapa menggenggam karung kosong di tangan—karung yang seharusnya diisi, tapi sekarang tidak ada gunanya.
"Harga ini..." Datuk Maringgih memulai. Tapi ia tidak bisa melanjutkan.
Apa yang bisa ia katakan? Bahwa ini tidak adil? Mereka sudah tahu. Bahwa ini kejam? Mereka sudah merasakan.
Di sudut, seorang petani tua berjalan mendekat. Langkahnya lambat. Pincang. Mungkin umur enam puluhan, mungkin lebih. Kulitnya keriput, hitam terbakar matahari. Tangannya membawa karung kosong yang sama.
"Datuk Maringgih."
Ia berhenti di samping Maringgih. Matanya menyipit membaca pengumuman itu—mungkin tidak bisa baca, tapi tahu persis apa isinya.
"Dulu..." Suaranya serak. "Dulu harga begini, saya masih bisa makan. Masih bisa beli beras. Sekarang? Saya hutang di mana-mana."
"Hutang?"
Petani itu menatapnya. Matanya kosong—tapi bukan kosong seperti istri Pak Karim. Kosong karena lelah. Karena sudah terlalu lama berjuang.
"Saya hutang ke tuan tanah, Datuk. Beli bibit. Beli pupuk. Setiap panen, hasilnya habis buat bayar hutang. Tapi hutang tidak pernah lunas. Karena bunganya... bunganya lebih besar dari hasil panen."
"Kenapa tidak jual ke luar?"
Petani itu tertawa. Tawa pahit.
"Coba lihat sekeliling, Datuk. Di mana ada pembeli di luar? Semua dikerjain VOC. Kapal mereka jaga laut. Petugas mereka jaga jalan. Kalau ketahuan jual ke luar..." Ia mengusap lehernya.
Datuk Maringgih diam.
"Ini warisan, Datuk." Petani tua itu melanjutkan. "Hutang saya dulu punya bapak saya. Bapak saya punya kakek saya. Turun-temurun. Tidak pernah selesai. Sekarang giliran anak saya." Ia menunjuk seorang pemuda yang berdiri agak jauh. "Dan nanti, kalau saya mati, cucu saya juga akan hutang. Terus begitu."
"Tidak ada jalan keluar?"
Petani itu menatapnya lama. Lalu tersenyum—senyum yang membuat dada Maringgih sesak.
"Ada. Mati."
---
Sore itu, Datuk Maringgih berjalan melewati kampung.
Bukan dengan kereta. Berjalan kaki. Sendirian. Ia ingin melihat. Ingin merasakan. Ingin mengerti apa yang selama ini hanya ia dengar dari kejauhan.
Pertama, ia melewati rumah Dullah.
Pintu terbuka setengah. Dari luar, ia bisa melihat istri Dullah duduk di lantai tanah. Di depannya, periuk tanah liat. Tapi periuk itu kosong. Tidak ada nasi. Tidak ada sayur. Hanya udara.
Anak Dullah—bocah laki-laki dengan kepala masih diperban—duduk di samping ibunya. Ia memegang periuk itu, membalik-baliknya, seolah berharap ada sesuatu yang jatuh. Tidak ada.
Istri Dullah tidak bicara. Matanya menatap ke luar jendela. Melihat sesuatu yang tidak ada.
Datuk Maringgih ingin masuk. Ingin memberi uang lagi. Tapi ia tahu—uang tidak akan cukup. Masalah ini bukan soal uang. Ini soal sistem. Dan sistem tidak bisa diubah dengan sedekah.
Ia berjalan lagi.
Dua rumah berikutnya, dapur kosong juga. Perempuan duduk diam di depan tungku yang tidak menyala. Anak-anak merengek minta makan—rengekan lemah, bukan karena manja, tapi karena lapar.
Di rumah ketiga, ia melihat laki-laki muda sedang mengasah parang. Matanya tajam. Tangannya gemetar. Istri di belakangnya memegang tangannya, menahan.
"Jangan," bisik istri itu. "Kamu mati sia-sia."
"Aku lebih baik mati daripada lihat anakku nangis kelaparan."
"Mati tidak selesaikan apa-apa."
Laki-laki itu melempar parang. Ia duduk di tanah, menunduk, menangis. Tangis laki-laki yang sudah putus asa.
Datuk Maringgih lewat di depan rumah mereka. Laki-laki itu menengadah. Mengenalinya.
"Datuk Maringgih."
Maringgih berhenti.
"Datuk... kaya raya. Punya kebun sendiri. Tidak butuh kami." Suaranya getir. "Tapi Datuk lihat ini? Ini yang dilakukan VOC. Ini yang dilakukan teman Datuk—Sulaiman."
"Bukan temanku."
Laki-laki itu tertawa pahit.
"Tapi dulu teman, kan? Datuk yang selamatkan dia? Sekarang dia jadi algojo."
Maringgih tidak menjawab. Tidak bisa menjawab.
---
Malam turun.
Datuk Maringgih duduk di beranda. Kopi di tangan. Tapi tidak diminum.
Pikirannya melayang ke satu tahun lalu. Perdebatan terakhir dengan Sulaiman. Sebelum semuanya menjadi runyam.
Malam itu, Sulaiman datang ke rumahnya. Masih dengan pakaian biasa—belum seragam VOC. Wajahnya gembira.
"Ringih! Aku dapat kabar baik!"
Maringgih muda—waktu itu 35—menyambutnya di beranda.
"Kabar apa?"
Sulaiman duduk, mengambil kopi yang disodorkan.
"VOC tawari aku posisi. Pengelola gudang. Gaji tetap. Hidup terjamin."
Maringgih diam. Menatapnya lama.
"Kau serius?"
"Sangat serius." Sulaiman tersenyum lebar. "Ini kesempatan besar, Ringih. Kita bisa—"
"Kita?"
Sulaiman mengerjap. "Maksudku... aku bisa bantu kau dari dalam. Kasih informasi. Bantu dagangan kau—"
"Tidak." Potong Maringgih tegas. "Jangan bawa-bawa aku."
Sulaiman terdiam. Senyumnya mengeras.
"Kau tidak setuju?"
"Aku tidak setuju kau jadi bagian dari mereka."
"Mereka? VOC?" Sulaiman meletakkan cangkir. "Ringih, VOC yang kuasai segalanya. Kapal, laut, pasar. Kalau kita mau bertahan—"
"Kita? Atau kau?"
Hening.
Sulaiman menatapnya. Matanya berubah.
"Kau masih menyimpan itu? Hutang sembilan tahun lalu? Aku tahu aku berhutang padamu. Tapi ini bukan soal itu. Ini soal hidup."
"Ini soal prinsip."
"Prinsip?" Sulaiman tertawa—tapi tawanya getir. "Prinsip tidak bisa kau makan. Prinsip tidak bisa kau pakai bayar karyawan. Prinsip cuma omong kosong orang kaya yang tidak pernah jatuh."
Maringgih berdiri.
"Hati-hati, Sulaiman."
Sulaiman juga berdiri. Mereka berhadapan. Mata saling menatap.
"Aku tidak akan lupa hutangku padamu, Ringih. Tapi aku juga tidak akan biarkan prinsip menghalangiku hidup."
Malam itu, Sulaiman pergi. Meninggalkan Maringgih dengan kopi dingin dan hati panas.
Setahun kemudian, ia kembali—dengan seragam VOC.
---
Datuk Maringgih menghela napas. Kopi di tangannya sudah dingin.
Ingatan itu masih segar. Perdebatan itu masih bergema.
Dan sekarang, lihatlah. Sulaiman jadi pengelola gudang. Harga ditentukan seenaknya. Petani kelaparan. Anak-anak menangis minta makan.
Apa kau lihat ini, Sulaiman? Apa kau tidur nyenyak?
---
Pagi.
Datuk Maringgih memutuskan pergi ke gudang VOC. Bukan untuk bertemu Sulaiman. Tapi untuk melihat. Untuk mengamati.
Ia berdiri di balik pohon besar, agak jauh dari gudang. Dari sana, ia bisa melihat semuanya.
Gudang itu besar. Dua lantai. Pintu utama dijaga empat serdadu bersenjata. Di samping, ada pintu kecil—mungkin untuk karyawan. Di belakang, jendela-jendela dengan jeruji besi.
Ia memperhatikan jadwal penjagaan.
Pagi: empat orang di depan, dua berkeliling.
Siang: berganti regu, sama.
Sore: mulai longgar. Dua serdadu kadang pergi ke warung kopi.
Malam: hanya dua di depan. Sisanya tidur di pos jaga samping.
Longgar di malam hari, pikirnya. Terutama tengah malam.
Tapi untuk apa informasi ini? Apa yang bisa ia lakukan? Ia saudagar, bukan perampok. Ia punya izin resmi VOC, dokumen lengkap. Gudangnya tidak bisa diganggu.
Tapi...
Pikirannya melayang ke Dullah. Ke anaknya yang lapar. Ke istri Pak Karim yang matanya kosong. Ke petani tua yang bilang mati adalah jalan keluar.
Ia tidak tahu apa yang bisa ia lakukan. Tapi ia tahu satu hal: diam saja tidak akan mengubah apa-apa.
---
Siang itu, ia kembali ke gudangnya. Jafar dan Kasim sedang menimbang rempah dari kebunnya sendiri.
"Datuk, ada pesan." Jafar mendekat. "Dari utusan tadi pagi. Datuk Sulaiman minta bertemu lagi."
"Tolak."
"Tapi Datuk—"
"Tolak. Bilang aku sibuk."
Jafar mengangguk, pergi.
Tapi di dalam hati, Maringgih bertanya: apa lagi yang mau kau katakan, Sulaiman? Maaf? Janji? Aku sudah dengar semua.
---
Sore.
Datuk Maringgih duduk di beranda rumah Dullah. Ia datang lagi. Membawa beras, ikan asin, sedikit gula. Istri Dullah menerimanya tanpa bicara. Matanya masih kosong, tapi tangannya menerima—tanda masih ada kehidupan di dalamnya.
Dullah duduk di sampingnya. Anaknya tidur di pangkuan ibunya—kenyang untuk pertama kalinya dalam beberapa hari.
"Terima kasih, Datuk." Suara Dullah serak. "Tapi Datuk tidak harus terus begini. Nanti... nanti Datuk ikut susah."
"Aku tidak susah. Aku punya kebun sendiri."
"Itu bukan maksud saya." Dullah menatapnya. "Maksud saya... hati Datuk. Kalau terus lihat begini, nanti Datuk ikut menderita. Karena Datuk tidak tega. Itu lebih sakit dari lapar."
Maringgih diam.
Dullah benar. Lebih sakit melihat orang lain lapar daripada lapar sendiri. Lebih sakit melihat anak orang lain berdarah daripada berdarah sendiri. Karena tidak bisa berbuat banyak.
"Malam nanti..." Dullah menurunkan suara. Matanya mengecek ke kiri-kanan. Tidak ada orang. Hanya mereka berdua.
"Malam nanti kenapa?"
Dullah mendekat. Berbisik.
"Saya dengar dari kenalan yang kerja di gudang. Jadwal jaga malam... longgar. Kamis malam, setengah dari mereka mabuk. Jumat malam, mereka sholat Jumat dulu baru jaga."
Maringgih mengerutkan dahi.
"Untuk apa informasi ini?"
Dullah menatapnya tajam.
"Untuk apa saja, Datuk. Saya cuma kasih tahu."
Ia berdiri. Masuk ke rumah. Meninggalkan Maringgih dengan informasi itu.
---
Malam.
Datuk Maringgih duduk di beranda. Kopi di tangan. Pikirannya berputar.
Gudang Sulaiman akan dijaga longgar pada malam tertentu.
Informasi itu seperti bara kecil di tengah padang kering. Bisa jadi api yang membakar segalanya. Atau bisa padam sia-sia.
Tapi kenapa Dullah memberitahunya? Apa yang diharapkan? Bahwa ia akan melakukan sesuatu?
Apa yang bisa kulakukan? pikirnya. Aku saudagar. Bukan pemberontak. Aku punya izin VOC. Punya dokumen lengkap. Kalau aku macam-macam, semua bisa hilang.
Tapi di dalam dadanya, api itu sudah menyala. Api yang melihat anak kecil lapar. Api yang melihat ibu kehilangan suara. Api yang melihat petani tua bilang mati adalah jalan keluar.
Ia memejamkan mata. Membayangkan gudang itu. Rempah-rempah di dalamnya—cukup untuk memberi makan seluruh kampung selama setahun. Cukup untuk melunasi hutang turun-temurun. Cukup untuk membuat anak-anak tersenyum.
Tapi mengambilnya berarti melawan VOC. Melawan aturan. Melawan sistem.
Dan melawan kawan lama yang masih berhutang budi padanya.
Ia membuka mata. Menatap gelap.
Dari kejauhan, suara tangis anak kecil terdengar. Lapar. Lelah. Putus asa.
Tangis itu seperti jawaban.
---
[Bersambung...]
---