___
"Vanya Gabriella" memiliki kelainan saat menginjak usia 18 tahun,dimana dia sudah mengeluarkan as* padahal dia tidak hamil.
dan disekolah barunya dia bertemu dengan ketua OSIS, "Aiden Raditya", dan mereka adalah jodoh.
"lo ngelawan sama gua? "
bentak Aiden marah
"nggak kak...maaf"
jawab vanya sambil menunduk ketakutan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malamfeaver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4 first kiss
Sore itu, kamar Vanya yang bernuansa soft pink terasa sangat pengap, seolah dinding-dindingnya menghimpit udara di sekitarnya. Vanya baru saja mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, memastikan tidak ada seorang pun, termasuk asisten rumah tangganya, yang masuk tiba-tiba.
Ia meringis, tangannya memegang dadanya yang terasa sangat sesak dan tidak nyaman. Efek bakso super pedas tadi siang benar-benar memicu kondisi medis langkanya hingga ke titik maksimal.
Dengan napas yang sedikit terengah karena menahan rasa nyeri, ia duduk di pinggir ranjang dan meraih sebuah tas kecil kedap suara dari laci paling bawah meja riasnya. Di dalamnya terdapat alat medis khusus yang selalu ia sembunyikan dengan sangat rapi.
Zzzztt... Zzzztt...
Suara mesin pompa elektrik yang sangat halus itu memenuhi keheningan kamar. Vanya menggigit bibir bawahnya, memejamkan mata saat merasakan rasa sesak itu perlahan berkurang, digantikan oleh perasaan lega yang luar biasa.
Cairan nutrisi itu kini mengalir memenuhi botol steril di tangannya.
"Duh, kenapa sih takdir aku harus ribet begini? Mana nanti malam harus ketemu cowok es batu yang sok tahu itu lagi," gerutunya manja sambil sesekali mengusap ujung matanya yang basah.
Rasa sesak itu memang sangat menyiksa, tapi ia tidak punya pilihan. Jika ia tidak mengosongkan dadanya sekarang, bisa-bisa saat acara makan malam penting nanti, rahasianya akan terbongkar karena rembesan yang tidak bisa dikontrol.
Selesai dengan urusan medisnya, Vanya segera membersihkan diri. Di atas tempat tidur, sudah ada gaun pilihan Mama Olivia. Sebuah dress selutut berwarna putih tulang dengan potongan yang sangat elegan.
Namun bagi Vanya, gaun itu adalah ancaman bahannya yang pas di badan akan sangat menonjolkan bentuk tubuhnya, terutama di area yang sedang sangat sensitif.
"Vanya! Sayang! Buruan, Papa sama Mama sudah siap di mobil!" teriak Papa Airlangga dari lantai bawah.
"Iya, Pa! Bentar lagi, Vanya lagi pakai sepatu!" sahut Vanya sambil terburu-buru memoles lipgloss merah muda di bibirnya yang mungil, memberikan kesan segar pada wajahnya yang masih nampak sedikit pucat.
Keluarga Airlangga tiba di sebuah restoran privat di kawasan Jakarta Selatan yang sangat eksklusif. Di depan pintu masuk ruang VIP, keluarga Mahesa ternyata sudah menunggu.
Aiden berdiri di sana, terlihat sangat tampan sekaligus mengintimidasi dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan urat tangan yang menonjol.
Di sampingnya, ada seorang bocah kecil berumur 5 tahun bernama Vino yang sedang asyik bermain robot-robotan.
"Itu Vino, adiknya Aiden," bisik Mama Olivia singkat.
Saat kedua keluarga sibuk bersalaman dan bertukar sapa formal, Aiden tiba-tiba menarik pergelangan tangan Vanya dengan gerakan tegas namun terukur, menjauhkannya sedikit dari kerumunan para orang tua.
"Eh, Kak! Apa-apaan sih?! Sakit tahu!" protes Vanya dengan sifat barbarnya yang langsung keluar.
Aiden menatap Vanya dengan tatapan yang sulit diartikan, mengamati gaun putih yang dikenakan gadis itu sebelum berbisik tajam tepat di telinganya.
"Dengar ya, bocah manja. Nanti di dalam, jangan panggil orang tua gue Om atau Tante. Panggil Papi dan Mami. Paham?"
Vanya melongo, matanya mengerjap tidak percaya.
"Hah? Kok gitu? Emang aku siapanya mereka?! Aku kan cuma adik kelas Kakak!"
"Jangan banyak tanya. Ikuti saja instruksi gue kalau lo nggak mau rahasia besar lo itu gue buka di depan semua kolega Papa lo sekarang juga," ancam Aiden dengan suara rendah yang sangat posesif.
Di meja makan, suasana terasa sangat hangat bagi para orang tua, namun terasa seperti medan perang bagi Vanya.
Aiden duduk tepat di hadapannya, sesekali tatapan intens cowok itu membuat Vanya nyaris tersedak jus jeruknya sendiri.
"Jadi begini, Airlangga," buka Papa Andi Mahesa dengan nada bicara yang sangat serius namun tenang.
"Kita semua sudah membicarakan kondisi Vanya. Dan kebetulan, Aiden juga memiliki kondisi kesehatan yang sering tidak stabil. Dokter bilang, ia membutuhkan asupan alami yang sangat spesifik yang ternyata dihasilkan oleh tubuh Vanya."
Mami Bella tersenyum manis, menggenggam tangan Mama Olivia.
"Kami sepakat untuk menyatukan mereka. Pernikahan privat, minggu depan. Mereka akan tetap sekolah seperti biasa, tapi tinggal di unit apartemen yang sudah kami siapkan agar Aiden bisa tetap stabil."
Vanya tersedak hebat sampai wajahnya memerah.
"Nikah?! Secara privat?! Pa, Ma! Vanya baru 18 tahun! Vanya masih mau main, masih mau bebas! Lagian kenapa harus sama cowok galak ini?" teriak Vanya tak terima, emosinya meledak.
"Vanya, jaga bicara kamu! Ini adalah keputusan terbaik untuk kesehatan kalian berdua!" tegur Papa Airlangga dengan suara tegas yang tidak bisa dibantah.
"Enggak mau! Pokoknya Vanya nggak mau!" Vanya langsung berdiri dan berlari keluar dari ruangan VIP itu menuju area taman belakang restoran yang sepi dan remang-remang.
"Aiden, samperin calon istri kamu. Tenangkan dia," perintah Mami Bella dengan sangat tenang.
Aiden bangkit dan berjalan dengan langkah lebar. Ia menemukan Vanya sedang menangis sesenggukan di bawah pohon kamboja, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Begitu menyadari kehadiran Aiden, Vanya hendak melarikan diri, namun Aiden bergerak jauh lebih cepat. Dengan satu gerakan kilat, Aiden mengunci pergerakan Vanya di dinding taman, menatapnya dengan tajam.
"Lepasin! Gue benci lo, Kak! Lo cuma mau manfaatin aku kan?!" teriak Vanya manja sambil meronta sekuat tenaga.
Aiden tidak membalas dengan kata-kata. Ia justru menatap intens bibir Vanya yang terus mengomel itu.
Tanpa peringatan, Aiden menunduk dan menyambar bibir Vanya dengan sebuah ciuman yang tegas sebuah ciuman yang menumpahkan segala rasa posesif yang ia tahan sejak pagi tadi.
Ini adalah ciuman pertama bagi Vanya, dan dunianya seolah berhenti berputar saat itu juga.
Vanya membelalak, tubuhnya mendadak lemas dan kehilangan tenaga untuk melawan.
Aiden baru melepaskan pagutan itu setelah merasakan napas Vanya mulai tidak beraturan.
"Lo... lo jahat! Itu ciuman pertama gue tahu!" tangis Vanya pecah lagi, wajahnya merah padam karena malu sekaligus kaget.
"Gue nggak peduli. Lo mau debat lagi?" Aiden mendekatkan wajahnya kembali, hingga hidung mereka bersentuhan.
"Gue butuh lo, Vanya. Dan gue nggak akan membiarkan lo lari ke mana pun mulai malam ini."
Vanya baru saja hendak membalas dengan kata-kata pedas, namun Aiden langsung meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Vanya, memberikan isyarat untuk diam.
"Ssshttt... Masih mau menolak? Atau mau gue cium lagi sampai lo benar-benar nggak bisa bicara?" ancam Aiden dengan suara berat yang penuh dominasi.
Vanya langsung bungkam, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena merasa sangat terintimidasi sekaligus merasakan debaran jantung yang aneh.
"Pintar," gumam Aiden lembut, jempolnya mengusap sisa air mata di pipi Vanya.
"Ayo masuk sekarang. Tunjukkan ke orang tua kita kalau lo setuju. Kalau nggak..."
Aiden menatap intens ke arah Vanya dengan sorot mata yang seolah mengunci seluruh keberadaan gadis itu.
"gue nggak akan menjamin lo bisa pulang dengan tenang malam ini."
Vanya hanya bisa menurut dengan pasrah, menyadari bahwa mulai malam ini, hidupnya telah terikat sepenuhnya pada sosok Aiden Raditya.