NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.

Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Piket Cuci Piring Berdarah

Bagi Arka, hari yang tenang adalah kemewahan yang mustahil di Wisma Lavender. Sejak ia menginjakkan kaki di rumah ini, ia mulai menyadari bahwa ketenangan bukan sekadar absennya suara, melainkan absennya masalah yang melibatkan lima belas perempuan dengan standar hidup yang luar biasa spesifik. Setelah semalam baru saja memenangkan pertempuran kecil memperebutkan bandwidth internet melawan Bella, ia mengira pagi ini ia bisa menyeduh kopi dengan damai sambil menikmati udara Jakarta yang belum terlalu polutif. Namun, di dapur Wisma Lavender, kedamaian adalah konsep yang sangat rapuh, serapuh piring porselen yang sedang dijaga ketat oleh Dira.

Dira adalah definisi dari perfeksionisme yang berjalan dengan kaki manusia. Sebagai mahasiswi kedokteran yang menghabiskan separuh hidupnya di bawah lampu neon laboratorium, baginya dapur bukan sekadar tempat mengolah makanan atau menyeduh mi instan, melainkan zona suci yang harus dijaga sterilitasnya seolah-olah sedang ada operasi bedah jantung yang akan berlangsung. Bagi Dira, debu adalah musuh bebuyutan, dan noda air di atas wastafel adalah kegagalan sistemik yang tak termaafkan.

Pagi itu, Arka baru saja meletakkan mug kopinya setelah mencucinya dengan apa yang ia anggap sudah sangat bersih. Namun, dalam keterburu-buruannya karena jadwal bimbingan skripsi yang mepet dan notifikasi WhatsApp dari dosen pembimbing yang terus masuk, ia melakukan satu dosa yang tak termaafkan di mata Dira. Ia meninggalkan satu buah sendok kecil—hanya satu, sebuah alat pengaduk kopi berbahan stainless steel—tergeletak begitu saja di dasar wastafel yang putih bersih dan kering.

"ARKAAAAAAA!"

Teriakan itu tidak melengking seperti Fanya saat melihat kecoa terbang di Bab 12, tapi berat, dalam, dan penuh dengan vibrasi kemarahan yang tertahan, menyerupai raungan singa yang teritorialnya baru saja diinjak. Arka yang sedang memakai sepatu di teras belakang langsung mematung dengan satu kaki menggantung. Ia tahu nada itu. Itu adalah nada 'darurat medis' versi Dira, yang biasanya hanya keluar jika ada seseorang yang berani menyentuh peralatan makannya tanpa disinfektan.

Arka melangkah ragu ke arah dapur, merasa seperti terpidana mati yang berjalan menuju kursi listrik. Di sana, Dira berdiri tegak dengan postur sempurna, mengenakan sarung tangan karet berwarna kuning cerah dan celemek yang terikat kencang hingga tak ada satu pun kerutan. Wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa kini terlihat seperti sedang mendidih di bawah permukaan kulitnya. Matanya yang tajam di balik kacamata seolah-olah sedang memindai molekul bakteri yang mungkin sedang berpesta pora. Tangannya menunjuk dengan gemetar yang sangat dramatis ke arah wastafel.

"Jelaskan padaku secara logis, Arka. Apa maksud dari benda logam yang terkontaminasi ini berada di sini?" tanya Dira dengan suara yang sangat pelan, namun setiap katanya tajam seperti pisau bedah yang baru saja diasah.

Arka melongok pelan ke dalam wastafel, mencoba mencari di mana letak kejahatannya. "Itu... cuma sendok kecil, Dir. Tadi bekas ngaduk kopi sebentar, gue beneran lupa bilas karena panik dosen gue nge-chat. Maaf ya, biar sekarang gue cuci sampai kinclong."

"Cuma sendok?!" Dira melepas salah satu sarung tangannya dengan sentakan kasar, menimbulkan bunyi plak yang menyakitkan di telinga Arka. "Kamu tahu apa yang dilakukan satu sendok kotor dengan residu glukosa dan kafein di wastafel yang sudah kusterilkan menggunakan alkohol dan sabun antibakteri selama satu jam penuh?! Ini adalah kontaminasi silang! Ini adalah awal dari anarki kuman yang akan menyebar ke seluruh piring! Kamu baru saja menghancurkan seluruh ekosistem kebersihan yang kubangun pagi ini!"

"Dir, bukannya lu agak berlebihan? Itu kan sendok, bukan limbah nuklir," Arka mencoba mendekat untuk mengambil sendok malang itu, berharap bisa mengakhiri drama ini secepatnya.

"Jangan sentuh!" Dira menghalangi wastafel dengan tubuhnya, seolah sedang melindungi harta karun kerajaan. "Kamu tahu jadwal piket hari ini adalah bagianku. Dan aturan nomor tiga puluh dua di buku pedoman Sari yang tebal itu jelas tertulis: 'Wastafel harus dalam keadaan kering, bebas residu, dan berkilau seperti cermin setelah digunakan'. Kamu meninggalkan genangan air mikro dan sisa gula di sini, Arka! Itu adalah undangan terbuka bagi koloni semut dan bakteri!"

Keributan itu segera menarik perhatian penghuni lain yang mulai penasaran. Manda lewat sambil mengunyah roti selai kacang, menatap Arka dengan pandangan iba yang seolah berkata 'selamat tinggal kawan, aku akan merindukanmu'. Gendis mengintip dari balik pintu kulkas, matanya membelalak, takut jika ia ikut bergerak maka ia akan terkena percikan amarah Dira yang legendaris.

"Dira, tenang dulu. Mungkin Arka cuma benar-benar buru-buru buat bimbingan," Manda mencoba menengahi dengan suara paling lembut yang ia miliki.

"Buru-buru bukan alasan untuk menjadi agen penyebar patogen, Manda!" Dira kini beralih menatap Arka dengan mata yang sedikit memerah karena emosi yang meluap. "Sebagai hukuman atas kelalaian fatal ini, dan karena kamu sudah merusak jadwal piketku yang suci, kamu yang harus menggantikan piket cuci piring seluruh penghuni—ya, kelima belas orang itu—untuk makan siang dan makan malam hari ini. Tanpa terkecuali, tanpa bantuan mesin cuci piring!"

Arka melongo, mulutnya terbuka sedikit. "Satu rumah? Lima belas orang?! Cuma gara-gara satu sendok teh yang ukurannya bahkan nggak lebih gede dari jempol gue?"

"Satu sendok adalah simbol dari ketidakpedulianmu terhadap perjuangan kolektif kami dalam menjaga standar kesehatan bersama di Wisma Lavender ini!" Dira menyodorkan spons cuci piring yang masih baru ke arah Arka seolah-olah itu adalah tantangan duel berdarah di zaman pertengahan. "Kerjakan sekarang juga, atau aku akan melaporkan insiden 'sabotase sanitasi' ini ke Oma Rosa. Kamu tahu kan apa yang terjadi kalau Oma Rosa tahu dapurnya 'tercemar'?"

Arka menghela napas panjang yang terasa sangat berat, seolah udara di dapur itu berubah menjadi beban. Di Wisma Lavender, berdebat dengan mahasiswi kedokteran soal kebersihan sama saja dengan mencoba meyakinkan matahari untuk terbit dari barat—mustahil dan hanya membuang energi. Ia mengambil spons itu dengan lesu, merasakan teksturnya yang kasar di tangannya.

Sambil mulai menggosok wastafel yang sebenarnya sudah sangat bersih itu hingga tangannya pegal, Arka merenung dalam diam. Kemarin ia harus menghadapi sabotase kabel LAN oleh Bella, hari ini ia harus menghadapi pengadilan sendok makan oleh Dira. Besok mungkin ia akan disidang di ruang tamu hanya karena menjatuhkan sehelai rambut atau karena bernapas terlalu keras di dekat rak buku Sari. Ia menyadari bahwa hidup sebagai satu-satunya laki-laki di antara lima belas perempuan bukan hanya soal bertahan hidup dari teror fisik, tapi tentang menavigasi labirin emosi, aturan tak tertulis, dan standar hidup yang berbeda-beda namun semuanya sama-sama menuntut.

"Satu giga per detik," gumam Arka pelan dengan nada satir, sambil membilas sendok kecil yang menjadi pemicu 'perang' pagi itu dengan air mengalir. "Ternyata, biaya internet tercepat di dunia ini tidak dibayar dengan uang, melainkan dengan keringat, busa sabun cuci piring, dan harga diri yang terkikis."

Dira tetap mengawasinya dari kejauhan dengan mata elang yang tak berkedip, berdiri mematung sambil melipat tangan di dada untuk memastikan tidak ada satu pun bercak air atau noda sabun yang tersisa di permukaan wastafel. Arka belajar satu hal lagi yang sangat berharga hari ini: di dapur ini, Dira adalah ratu absolut, dan satu sendok kotor adalah bentuk pengkhianatan tingkat tinggi yang takkan pernah dimaafkan dalam sejarah Wisma Lavender.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!