Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laporan Ustadzah Aisyah
Pagi itu, suasana di ruang tamu ndalem yang biasanya tenang mendadak terasa tegang. Kyai Rahman, sang Abi, duduk di kursi kayunya sambil menyesap kopi hitam tanpa gula. Di depannya, Ustadzah Aisyah duduk dengan punggung tegak, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang serius sebagai kakak tertua.
"Abi, Aisyah merasa perlu menyampaikan ini sebelum semuanya terlambat," buka Aisyah dengan suara rendah namun tegas.
Abi meletakkan cangkirnya perlahan. "Tentang santriwati baru dari Amerika itu? Atau tentang Zayn?"
"Tentang keduanya, Bi," jawab Aisyah. "Kemarin malam, Aisyah mendapati mereka berdua di dapur. Jarak mereka... terlalu dekat untuk seorang Gus dan santriwati. Bahkan Zayn memberikan peniti milik Aisyah padanya. Zayn yang selama ini dingin dan menjaga jarak, seolah kehilangan kendali jika di depan Abigail."
Abi terdiam, mengusap janggut putihnya yang rapi.
"Abi tahu kan bagaimana masa lalu Zayn?" lanjut Aisyah, suaranya mulai bergetar karena cemas.
"Zayn baru saja menata hidupnya kembali. Dia baru saja mengubur luka dan pemberontakannya. Aisyah takut, Abigail yang bebas dan urakan itu justru membangkitkan sisi gelap Zayn yang dulu. Abigail mengingatkan Zayn pada dunianya yang lama, dunia yang hampir menghancurkannya."
Aisyah menarik napas dalam. "Bahkan Abigail mulai berani menatap Zayn dengan cara yang tidak sopan. Dia bukan seperti Najwa yang menunduk taat. Abigail itu... api. Dan Zayn adalah es yang jika dipaksa mencair, hanya akan menjadi air yang hilang bentuk."
Abi menghela napas panjang, matanya menatap ke arah pesantren yang terlihat dari jendela. "Aisyah, terkadang kita terlalu takut pada bayangan masa lalu. Tapi Abi juga tidak bisa mengabaikan kekhawatiranmu."
"Lalu apa rencana Abi? Najwa sudah sering mengeluh kalau Zayn mulai sering membela Abigail secara terang-terangan di depan umum," desak Aisyah.
"Abi akan bicara pada Zayn. Dan untuk Abigail..." Abi menatap Aisyah tajam. "Berikan dia ujian. Bukan ujian fisik seperti mencabut rumput, tapi ujian hati. Biarkan dia belajar di bawah pengawasanmu langsung, Aisyah. Jika dia memang berniat berubah, dia akan bertahan. Jika dia hanya ingin bermain-main dengan Zayn, dia akan pergi dengan sendirinya."
Aisyah mengangguk patuh. "Baik, Bi. Aisyah sendiri yang akan memastikan apakah dia berlian atau hanya batu kerikil yang menyamar."
Abigail yang tidak tahu bahwa dirinya sedang menjadi topik pembicaraan serius, justru sedang melamun di teras asrama. Bayangan bekas tindik di telinga Zayn terus berputar di otaknya.
“He was a rebel. Just like me,” bisiknya sambil tersenyum tipis.
Tanpa ia sadari, Zayn sedang memperhatikannya dari balkon lantai dua gedung ustadz. Zayn meraba telinganya, tempat bekas tindik itu berada, lalu mengepalkan tangannya.
.
.
Panggilan itu datang tepat setelah shalat Isya. Zayn melangkah masuk ke ruang kerja Abinya dengan perasaan yang tidak menentu. Di dalam, Kyai Rahman sudah menunggu, duduk tenang dengan tasbih yang terus berputar di jemarinya.
"Duduk, Le," ujar Abi lembut, namun nadanya mengandung ketegasan yang tak bisa dibantah.
Zayn duduk bersila, menunduk takzim. "Wonten nopo (ada apa), Bi?"
Abi meletakkan tasbihnya, lalu menatap putra bungsunya itu dengan tatapan yang sangat dalam. "Mbakmu, Aisyah, cerita soal kejadian di dapur semalam. Najwa juga beberapa kali datang ke Abi sambil menangis. Zayn... Abi mengenalmu lebih dari siapapun. Abi tahu kamu bukan orang yang sembarangan menyentuh barang milik kakakmu hanya untuk diberikan kepada seorang santriwati."
Zayn terdiam, rahangnya mengeras. Ia tidak bisa mengelak.
"Zayn," suara Abi merendah, "Abigail itu cantik. Dia berbeda. Dan Abi tahu, ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatmu merasa... melihat dirimu yang dulu. Benar?"
Zayn menarik napas panjang, lalu akhirnya mendongak sedikit. "Abigail sedang berusaha, Bi. Dia tidak seburuk yang orang-orang bicarakan. Dia hanya butuh arah."
"Abi tidak melarangmu memiliki perasaan," potong Kyai Rahman cepat, membuat Zayn tersentak. "Abi juga tidak akan melarang jika suatu saat nanti kamu berniat untuk meng-khitbah (melamar) Abigail. Dia anak yang jujur, dan Abi melihat potensi besar di hatinya."
Zayn tertegun. Ia mengira akan dimarahi habis-habisan, namun jawaban Abinya sungguh di luar dugaan.
"Tapi," lanjut Abi dengan nada peringatan, "Abi khawatir akan fitnah. Kamu seorang Gus. Di pesantren ini, ribuan mata mengawasimu. Jika kamu terus memberikan perhatian lebih, membela dia di depan umum, atau menemuinya secara sembunyi-sembunyi di dapur, itu akan menghancurkan reputasimu dan juga harga diri Abigail. Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, Zayn."
Zayn menunduk lagi, merasa tertampar oleh kebenaran kata-kata ayahnya.
"Kalau memang kamu serius ingin membimbingnya sampai ke pelaminan, lakukan dengan cara yang benar. Jaga jarakmu. Biarkan dia berproses dengan Umi dan Mbak Aisyah. Jangan buat dia jadi bahan gunjingan santri lain karena kedekatan yang tidak halal." Abi menghela napas. "Jika kamu belum siap untuk mengikatnya secara resmi, maka menjauhlah. Jangan biarkan setan masuk melalui pintu perhatianmu yang berlebihan."
Zayn mengepalkan tangannya di atas lutut. "Lalu, apa yang harus Zayn lakukan sekarang, Bi?"
"Buktikan pada Abi, pada Mbakmu, dan pada Najwa bahwa kamu bisa bersikap adil. Jika dia salah, biarkan dia dihukum sesuai aturan. Jangan jadi pahlawan di saat dia harus belajar mandiri. Biarkan Abigail mencintai agama ini karena Allah, bukan karena ingin menarik perhatianmu."
Zayn keluar dari ruangan itu dengan beban yang terasa lebih berat. Di koridor, ia melihat Abigail sedang berjalan menuju asrama sambil membawa buku Iqra-nya, tampak begitu semangat. Zayn ingin sekali menyapa, ingin bertanya bagaimana tangannya yang lecet, tapi teringat kata-kata Abi tentang fitnah.
Dengan berat hati, Zayn membuang muka dan berjalan ke arah berlawanan, membuat Abigail yang tadi sempat ingin melambaikan tangan, terdiam dengan raut wajah bingung dan kecewa.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy Reading😍❤❤❤