Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan yang Tertunda
Ada sebuah dinding tipis yang tiba-tiba muncul saat Ibu benar-benar berdiri di depanku. Aneh rasanya. Padahal setiap malam aku menangis hingga sesenggukan memanggil namanya, merindukan aroma dan sentuhannya. Namun, saat sosok itu nyata, aku justru merasa kikuk. Aku hanya bisa berdiri mematung, lalu tertawa kecil dengan canggung saat Ibu menegurku soal Pipit yang penuh lumpur.
Ternyata, rindu yang terlalu besar terkadang bisa membuat kita merasa asing. Aku dan Ibu seolah sedang bercermin, kami memiliki kemiripan yang aneh, yaitu rasa gengsi yang tinggi untuk sekadar mengucap "aku sayang Ibu" atau memberikan pelukan hangat di depan mata. Kami berputar-putar dalam percakapan kecil yang dangkal, seolah-olah tidak pernah ada air mata yang tumpah selama tiga bulan terakhir.
Namun, kegelapan malam selalu punya cara untuk meruntuhkan dinding gengsi itu.
Malam harinya, aku sudah berbaring di tempat tidur, memeluk Rabbit dan Pipit yang sudah bersih. Mataku terpejam, tapi kesadaranku masih mengambang di antara tidur dan terjaga. Dalam remang lampu minyak, aku merasakan kasur kapuk kami sedikit amblas. Sebuah aroma yang sudah lama hilang kembali menyapa indra penciumanku, aroma kulit Ibu yang harum.
Tiba-tiba, sebuah lengan melingkar erat di tubuhku. Ibu memelukku dari belakang, begitu erat, seolah takut jika ia melepaskannya, aku akan hilang lagi. Ia menciumi puncak kepalaku berkali-kali, sebuah ungkapan cinta yang sedari sore tadi ia simpan rapat-rapat.
"Nok... Ibu rindu sekali," bisiknya sangat pelan, nyaris seperti embusan angin.
Aku mendengar suara Ayah yang berbisik di dekatnya. Mereka berbincang dengan nada rendah agar tidak membangunkan aku dan Kakak.
"Tiga bulan di sana rasanya seperti tiga tahun, Yah," suara Ibu terdengar bergetar, menahan tangis yang akhirnya pecah dalam kesunyian. "Setiap sore, kalau dengar suara murotal dari masjid dekat tempat kerja, hatiku rasanya hancur. Ingin sekali Ibu melompat atau menghilang saja dari sana, lalu tiba-tiba sudah sampai di depan rumah ini hanya untuk melihat Nonok dan Kakak."
Ayah menghela napas panjang. Aku bisa membayangkan ia sedang menyandarkan punggungnya di dinding bambu. "Anak ini hampir setiap malam menangis, Bu. Sampai-sampai aku pernah hampir menyerah menenangkannya."
Ayah pun mulai bercerita. Ia menumpahkan segala sesak yang ia simpan sendiri selama ini. Ia bercerita tentang betapa sulitnya menjaga rumah tetap tegak, tentang kakinya yang pegal, dan yang paling menyesakkan adalah tentang lidah tajam orang-orang di desa.
"Banyak yang bilang aku suami yang tidak berguna," bisik Ayah, suaranya mengandung luka yang sangat dalam. "Mereka bilang aku hanya menadah uang darimu. Mereka tidak tahu betapa perihnya bahuku memikul kayu setiap subuh hanya supaya anak-anak tidak merasa kekurangan saat kirimanmu belum datang."
Ibu tidak membalas dengan kata-kata, tapi aku merasakan pelukannya padaku semakin mengencang. Seolah ia sedang memberikan dukungannya pada Ayah melalui tubuhku. Dalam keadaan setengah sadar itu, air mataku mengalir tanpa suara, membasahi bantal. Aku tidak berani bergerak atau membuka mata karena aku tidak ingin merusak momen jujur ini.
Ternyata, di balik diamnya kami di siang hari, ada cinta yang begitu riuh di malam hari. Tiga bulan itu memang terasa seperti selamanya, tapi malam ini, di dalam kamar yang sempit dan remang-remang ini, aku merasa utuh kembali. Ayah, Ibu, dan luka-luka kami, semuanya melebur dalam satu dekapan yang hangat.
"Aku akan cepat besar. Aku akan belajar supaya bisa baca semua tulisan itu. Aku akan jadi orang hebat supaya Ayah nggak perlu ke gunung lagi dan Ibu nggak perlu ke kota lagi." Aku bertekad dalam hati.
Mungkin sekarang aku memang belum bisa apa-apa. Aku hanya bisa bermain lumpur dan mencuci boneka. Tapi dalam tidurku malam itu, aku bermimpi menjadi raksasa yang bisa memanggul rumah kami, membawa Ayah dan Ibu ke tempat di mana tidak ada lagi beban, tidak ada lagi utang, dan tidak ada lagi perpisahan.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰