Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."
Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patah Hati
Sean, yang awalnya datang dengan hati penuh sesal dan cinta, berdiri mematung di ambang pintu apartemen Eleanor.
Di tangannya, sebuah kotak perhiasan kecil dan buket bunga yang ia bawa dari Amsterdam kini terasa sangat berat.
Pandangan Sean mengunci pada satu pemandangan yang menghancurkan seluruh dunianya, Eleanor sedang dicium oleh laki-laki lain di tengah sorakan teman-temannya.
Eleanor yang terkejut dengan ciuman tiba-tiba itu langsung mendorong cowok tersebut. Saat ia berbalik, matanya bertemu dengan mata biru Sean yang kini tidak lagi memancarkan amarah, melainkan kehancuran yang sangat dalam.
"S-Sean?!" suara Eleanor bergetar hebat. Ia melangkah maju, tangannya berusaha menggapai Sean.
"Ini nggak seperti yang kamu lihat, dia tiba-tiba—"
Namun, Sean tidak mendengarkan. Matanya justru tertuju pada jari manis Eleanor. Cincin pertunangan itu tidak ada di sana. Eleanor melepaskannya karena tadi habis memasak untuk teman-temannya, tapi bagi Sean, itu adalah bukti final.
"Cincinnya sudah tidak ada ?," Tanya Sean, suaranya terdengar sangat tenang, namun ketenangan itu jauh lebih mengerikan daripada teriakannya.
"Sean, aku bisa jelasin! Tadi aku habis cuci piring dan—"
Sean mengangkat tangannya, menghentikan kalimat Eleanor. Ia menatap cowok yang baru saja mencium Eleanor, lalu kembali menatap gadis yang ia puja selama tiga tahun ini.
Seringai tipis, seringai terluka, muncul di wajahnya.
"Aku terbang belasan jam dari Amsterdam cuma buat sadar kalau kecurigaanku selama ini ternyata benar," ucap Sean pelan.
"Kamu nggak punya waktu buat balas chat aku, bukan karena sibuk kuliah, tapi karena sibuk mencari penggantiku yang lebih dekat dan lebih nyata di sini."
"Enggak, Sean! Itu nggak bener!" Eleanor menangis, mencoba memegang tangan Sean, tapi Sean menghindar seolah sentuhan Eleanor adalah racun.
Sean menarik napas panjang, menatap sekeliling apartemen itu. Teman-teman Eleanor terdiam membeku. Sean kemudian menatap Eleanor untuk terakhir kalinya dengan tatapan yang sangat asing.
"Aku nggak akan memaki kamu lagi, Eleanor. Aku nggak akan menuntut kamu balas cepat chat aku lagi," kata Sean dengan nada yang sangat datar.
"Malam ini, aku nggak akan bilang kita putus. Karena bagiku, kata putusnitu untuk orang yang masih punya hubungan. Tapi melihatmu tanpa cincin itu dan dengan pria lain... sepertinya hubungan kita sudah mati sebelum aku sampai di sini."
Sean menjatuhkan buket bunga dan kotak perhiasan itu ke lantai.
"Aku membebaskanmu," lanjut Sean. "Silakan, Eleanor. Jadilah gadis bebas di Amerika ini. Aku nggak akan jadi penjara digitalmu lagi. Mulai detik ini, kamu bebas melakukan apa pun dengan siapa pun. Kamu... bukan lagi milikku."
Tanpa menunggu jawaban, Sean berbalik dan berjalan keluar dengan langkah tegap, meninggalkan Eleanor yang jatuh terduduk di lantai sambil meraung memanggil namanya.
Di luar, Sean berjalan di bawah lampu jalanan Amerika, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. Dia datang untuk memberikan kejutan, tapi justru dia yang mendapatkan kejutan paling pahit dalam hidupnya.
Eleanor berlari sekuat tenaga menembus udara dingin malam itu, mengabaikan tatapan teman-temannya dan rasa sakit di kakinya yang tak beralas.
Ia melihat sosok tegap itu hampir mencapai taksi yang menunggunya di depan gedung apartemen.
"SEAN! BERHENTI!" teriak Eleanor histeris.
Sean berhenti, namun ia tidak berbalik. Eleanor langsung menabrak punggungnya, memeluk pinggang Sean dengan sangat erat seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, Sean akan menguap menjadi debu.
Tangisnya pecah di balik mantel mahal yang dikenakan Sean.
"Jangan pergi... Aku mohon, itu tadi salah paham. Dia yang tiba-tiba nyium aku, Sean! Aku lepas cincin itu karena tadi di dapur... Sean, demi Tuhan, aku cuma sayang sama kamu!" Eleanor meracau di sela isakannya.
Sean perlahan melepaskan kaitan tangan Eleanor di pinggangnya. Ia berbalik, menatap wajah gadis yang selama tiga tahun ini menjadi pusat dunianya.
Tidak ada amarah di mata Sean, yang ada hanya kekosongan yang sangat dalam, dan itulah yang paling menakutkan bagi Eleanor.
"Jangan sedih, El," ucap Sean lembut, jemarinya menghapus air mata di pipi Eleanor untuk terakhir kalinya.
"Aku tidak akan lagi mengganggu hidupmu. Tidak akan ada lagi pria yang meneleponmu puluhan kali atau memohon-mohon untuk sekadar diluangkan waktu lima menit," lanjut Sean dengan suara yang sangat tenang namun menyayat hati.
"Kamu benar, aku terlalu menuntut. Aku beban buat kamu, kan?"
"Enggak, Sean... bukan gitu maksudku..."
"Selesaikan kuliahmu dengan tenang," potong Sean, memberikan senyum tipis yang terasa sangat jauh.
"Aku tidak akan menuntut waktumu lagi. Kamu punya seluruh waktu di dunia sekarang, tanpa perlu merasa terbebani oleh chat atau telepon dariku."
Sean menarik tengkuk Eleanor, mencium bibir gadis itu.
Sebuah ciuman yang terasa sangat berbeda, bukan panas atau penuh gairah seperti di malam pertunangan mereka dulu, melainkan ciuman yang terasa seperti sebuah salam perpisahan yang panjang dan menyakitkan.
Ciuman yang penuh dengan rasa pasrah.
Setelah melepaskan tautan bibir mereka, Sean menatap Eleanor sekali lagi, seolah sedang merekam wajah itu dalam ingatannya untuk terakhir kali.
"Selamat ulang tahun, Eleanor Riccardo," bisik Sean tepat di depan wajahnya.
Tanpa kata lagi, Sean masuk ke dalam taksi. Pintu tertutup dengan bunyi yang terdengar seperti vonis akhir bagi hubungan mereka.
Eleanor terpaku di pinggir jalan, menatap lampu belakang taksi yang perlahan menjauh dan menghilang di balik tikungan jalanan Amerika yang luas.
Malam itu, di hari ulang tahunnya, Eleanor mendapatkan kebebasan yang selama ini ia keluhkan, namun ia menyadari satu hal: kebebasan tanpa Sean terasa seperti penjara yang jauh lebih mengerikan.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰🥰
keren....