Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duri Di Dalam Daging
Rumah yang kokoh seringkali bukan runtuh karena hantaman badai dari luar, melainkan karena rayap yang perlahan menggerogoti fondasi dari dalam. Setelah pernikahanku dengan Mas Aris, dinamika di rumah baru kami yang seharusnya menjadi surga kedamaian, mulai berubah menjadi medan perang dingin yang tidak kasat mata. Sumbernya bukan lagi dari paman-paman yang rakus, melainkan dari dalam lingkaran keluarga inti kami sendiri: Sari, istri Bayu.
Sejak awal, aku menyadari ada jarak antara aku dan Sari. Namun, aku selalu beranggapan bahwa itu hanyalah masalah adaptasi. Namun, seiring berjalannya waktu, kecanggungan itu berubah menjadi kecemburuan yang tajam. Sari, yang berasal dari keluarga sederhana dan tidak memiliki karier secemerlang diriku, mulai merasa terintimidasi oleh kehadiranku dan Mas Aris. Di matanya, aku bukan hanya pemilik rumah ini, tapi juga sosok yang selalu membuat posisinya sebagai "menantu pertama" terlihat redup.
Pemicu utamanya adalah gaya hidup. Mas Aris sering membawakanku kado kecil, atau sesekali mengajak Ayah dan Ibu makan di restoran yang agak mewah sebagai bentuk baktinya. Bagiku, itu adalah hal yang wajar setelah bertahun-tahun kami hidup melarat. Namun bagi Sari, setiap kebaikan yang datang dari pihakku seolah menjadi tamparan bagi Bayu yang gajinya habis untuk kebutuhan sehari-hari dan tabungan masa depan mereka sendiri.
"Enak ya jadi Maya," celetuk Sari suatu sore di dapur saat kami sedang menyiapkan makan malam. "Punya suami manajer, apa-apa tinggal tunjuk. Nggak perlu pusing mikir harga cabai yang naik atau cicilan motor yang nunggak."
Aku berhenti mengiris bawang merah. Suaranya terdengar renyah, namun ada racun yang tersembunyi di baliknya. "Mas Aris juga bekerja keras untuk itu, Sar. Sama seperti Mas Bayu."
"Iya, tapi beda kelas kan?" Sari tertawa sinis sambil membanting tutup panci. "Kadang aku merasa di rumah ini aku cuma numpang. Semua aturan harus ikut Maya. Semua selera makan harus ikut Maya. Padahal suamiku juga anak laki-laki di sini."
Aku terdiam, mencoba menelan kemarahanku. Aku tidak ingin merusak suasana rumah hanya karena masalah sepele. Namun, Sari tidak berhenti di sana. Ia mulai menghasut Ibu, membisikkan bahwa aku sekarang lebih mementingkan suami daripada keluarga, atau bahwa aku mulai bersikap sombong sejak punya rumah tangga sendiri.
Puncaknya terjadi pada suatu malam ketika Bayu pulang dengan wajah lelah. Sari mulai merongrongnya di kamar, namun suaranya cukup keras hingga terdengar ke ruang tengah tempat aku dan Mas Aris sedang duduk.
"Mas, kita pindah saja apa? Aku nggak tahan terus-terusan dibanding-bandingkan sama adikmu itu," suara Sari meninggi. "Lihat saja, dia beli kulkas baru tanpa tanya kita. Dia renovasi taman depan seolah-olah kita ini nggak punya hak bicara. Dia mentang-mentang yang bayar cicilan paling banyak ke bank!"
Aku melihat Mas Aris menegang di sampingku. Ia ingin bicara, tapi aku memegang tangannya, memberinya isyarat untuk tetap diam. Tak lama kemudian, Bayu keluar dari kamar dengan langkah gusar. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara rasa malu, lelah, dan sedikit kekesalan.
"May, bisa kita bicara sebentar?" tanya Bayu.
Kami duduk di teras samping, tempat yang selalu menjadi saksi bisu setiap krisis keluarga kami.
"Sari merasa nggak nyaman di sini, May," buka Bayu tanpa basa-basi. "Dia merasa kamu terlalu mendominasi. Soal renovasi taman dan barang-barang baru, dia merasa kita nggak dianggap sebagai keluarga yang tinggal di sini."
Aku menatap kakakku dengan rasa tidak percaya. "Bang, semua yang aku beli itu untuk kenyamanan kita semua. Untuk Ibu, untuk Ayah. Aku pakai uangku sendiri supaya Abang bisa fokus simpan uang buat tabungan Abang. Kenapa sekarang malah jadi masalah?"
"Masalahnya bukan soal uangnya, May! Tapi soal harganya!" suara Bayu meninggi. "Hargaku sebagai laki-laki di depan istriku! Sari merasa aku ini gagal karena adiknya yang perempuan justru lebih berkuasa di rumah ini. Kamu harusnya mengerti, tidak semua orang punya mental sepertimu."
Mendengar kata-kata Bayu, hatiku rasanya hancur. Aku teringat masa-masa kami mengupas bawang bersama. Aku teringat bagaimana aku menyerahkan seluruh masa mudaku agar dia bisa sekolah dan menikah. Dan sekarang, setelah semua pengorbananku, aku justru dianggap sebagai ancaman bagi "harga diri"-nya.
"Jadi, Abang mau Maya bagaimana? Apa Maya harus pura-pura miskin supaya Sari senang? Apa Maya harus minta izin dulu buat beli obat Ayah?" tanyaku dengan suara bergetar.
Bayu terdiam. Ia memalingkan wajahnya. "Bukan begitu... tapi tolonglah, rendahkan sedikit egomu. Jangan terlalu menunjukkan kalau kamu itu sukses."
Malam itu, aku masuk ke kamar dengan perasaan hancur yang melebihi saat paman-pamanku mengusir kami dulu. Diusir oleh orang jahat itu menyakitkan, tapi disalahpahami oleh saudara seperjuangan itu mematikan. Aku menangis di pelukan Mas Aris.
"Apa aku salah, Mas? Apa aku jahat karena ingin memberikan yang terbaik buat rumah ini?" isakku.
Mas Aris mengelus rambutku dengan lembut. "Kamu tidak salah, Maya. Kamu hanya tumbuh terlalu cepat dibandingkan mereka. Kamu sudah biasa memikul beban, sementara mereka baru merasakannya. Kecemburuan Sari itu masalahnya sendiri, bukan masalahmu."
Konflik ini membuat suasana di rumah menjadi sangat tidak sehat. Ayah dan Ibu mulai merasa tidak enak hati, terjepit di antara dua anak mereka. Sari semakin sering menunjukkan sikap bermusuhan, bahkan mulai malas membantu pekerjaan rumah tangga. Ia ingin menunjukkan bahwa ia "protes".
Aku menyadari bahwa rumah yang kubangun dengan susah payah ini mulai kehilangan jiwanya. Dinding-dinding beton yang kubayar cicilannya ke bank setiap bulan ini tidak bisa menahan hawa dingin dari kebencian saudara sendiri.
Suatu pagi, aku memutuskan untuk bicara dengan Sari secara empat mata saat Bayu dan Aris sudah berangkat kerja.
"Sar," panggilku saat ia sedang duduk di dapur. "Aku tahu kamu nggak suka sama aku. Aku tahu kamu merasa aku terlalu mengatur. Tapi perlu kamu tahu satu hal. Aku bekerja keras bukan untuk merendahkanmu atau Mas Bayu. Aku bekerja keras karena aku pernah nggak punya rumah. Aku pernah diusir. Aku pernah dihancurkan."
Aku menatapnya dengan mata yang jujur. "Rumah ini adalah mimpiku supaya keluarga kita aman. Kalau kamu merasa nggak nyaman karena kesuksesanku, itu adalah sesuatu yang nggak bisa aku ubah. Tapi tolong, jangan rusak hubungan aku sama Mas Bayu. Dia satu-satunya teman berjuangku dulu."
Sari hanya terdiam, wajahnya menunjukkan rasa canggung namun tetap ada sisa keangkuhan. Ia tidak meminta maaf, tapi setidaknya ketegangan sedikit mereda setelah itu.
Aku menyadari satu pelajaran pahit lagi: kesuksesan seringkali membawa jarak. Semakin tinggi kita membangun dinding kesuksesan kita, semakin banyak orang yang merasa kerdil di bawahnya, termasuk orang-orang yang paling kita sayangi. Aku harus belajar untuk berjalan di atas tali tipis antara menjadi tulang punggung keluarga dan menjaga perasaan orang-orang yang merasa terbebani oleh kekuatanku.
Cicilan rumah masih ada bertahun-tahun lagi. Dan sekarang, aku punya satu beban lagi yang harus kucicil: kesabaran untuk menghadapi duri di dalam daging keluargaku sendiri. Aku adalah Maya. Wanita yang sanggup melawan dunia, namun kini harus belajar bagaimana cara menghadapi api di dalam rumahnya sendiri tanpa harus membakar seluruh isinya.
mirisss tpi in sring terjadi... bhkn kita yang membantu tak ditengok sma skli..