NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6~Kembali dan mulai lagi

Hari Senin itu seharusnya sama saja seperti biasanya. Tapi pagi ini, udara terasa sedikit lebih hangat, langkahku terasa lebih ringan, dan entah kenapa, aku tersenyum terus dari tadi.

Mungkin karena satu pesan yang aku terima tadi malam.

|Raka: “Besok aku balik ke sekolah. Siap kaget?”

Aku membaca pesan itu berkali-kali sebelum tidur. Dan pagi ini, setiap kali aku menatap gerbang sekolah, jantungku berdetak seperti drum.

Aku bahkan hampir menabrak pintu kelas gara-gara terlalu sibuk melamun. Lina langsung menyenggolku.

“Woi, Ly! Kamu dari tadi senyum sendiri. Ada kabar bagus, ya?”

Aku pura-pura sibuk membuka buku. “Nggak, biasa aja.”

Lina menyipitkan mata. “Biasa aja tapi pipimu merah. Jangan bilang—”

Aku belum sempat membalas ketika suara langkah kaki terdengar di depan kelas. Semua orang otomatis menoleh.

Dan di sana dia berdiri — Raka.

Dengan seragam putih abu yang rapi, rambut sedikit lebih panjang dari sebelumnya, dan senyum tipis yang entah kenapa berhasil bikin kelas mendadak hening.

“Permisi, Bu,” katanya ke guru yang sedang berdiri di depan. “Saya Raka. Mulai hari ini saya kembali ke sekolah ini.”

Suasana kelas langsung heboh.

“Serius Raka balik?”

“Wah, kelas sebelah bakal makin rame lagi, nih!”

“Eh, Alya pasti seneng banget!”

Aku langsung menunduk, pura-pura fokus pada buku catatan, padahal hatiku udah campur aduk antara malu dan bahagia.

Saat jam istirahat tiba, aku melangkah keluar kelas. Tapi belum sempat sampai koridor, seseorang sudah memanggilku pelan.

“Ly.”

Aku berbalik. Dan ya — di sana dia, berdiri dengan senyum yang sama seperti dulu, tapi entah kenapa kali ini terasa lebih hangat.

“Lama nggak ketemu,” katanya santai.

Aku tertawa kecil. “Padahal cuma dua bulan.”

“Dua bulan yang berasa dua tahun,” balasnya cepat.

Aku terdiam sesaat, lalu menatap gelang hijau di tanganku. “Aku masih pakai, loh.”

Dia menatap gelang itu, lalu tersenyum lembut. “Aku tahu. Aku juga masih nyimpen yang satunya.”

Kami sama-sama diam beberapa detik, sebelum akhirnya Raka berkata, “Aku mau ngajak kamu ke taman hidroponik. Ada yang pengen aku liat.”

Aku mengangguk, dan kami berjalan berdua ke arah taman belakang sekolah — tempat segalanya dimulai.

Taman itu masih sama seperti dulu, hanya saja tanaman-tanamannya kini tumbuh lebih lebat. Sinar matahari menembus sela-sela daun, membuat bayangan lembut di tanah.

Raka berdiri di tengah taman, memandangi semuanya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Masih tumbuh, ya,” katanya pelan.

“Tentu aja,” jawabku. “Aku siram tiap hari. Biar nggak layu.”

Dia menatapku. “Kamu juga nggak layu, kan?”

Aku mendengus geli. “Aku bukan tanaman, Raka.”

Dia tertawa pelan. “Tapi kamu sumber oksigen buat aku.”

Aku menatapnya, pura-pura kesal. “Kamu tuh nggak pernah berubah ya? Masih suka ngomong manis kayak gitu.”

“Tapi kamu suka, kan?” tanyanya lagi.

Aku pura-pura menatap langit. “Entahlah.”

Tapi dalam hati, aku tahu aku suka. Sangat suka.

Kami duduk di bangku taman yang dulu sering kami pakai. Angin sore berembus lembut, membawa aroma daun basah. Suasana tenang, tapi jantungku nggak tenang sama sekali.

“Ly,” kata Raka akhirnya, “kamu tahu nggak, waktu aku di Surabaya, hal yang paling aku kangenin bukan sekolahnya, bukan teman-temannya… tapi percakapan sederhana kayak gini.”

Aku menatapnya. “Maksudnya?”

“Waktu bareng kamu,” katanya pelan. “Kayak dunia berhenti sebentar. Aku nggak harus jadi orang yang sempurna. Aku cuma… jadi aku.”

Aku terdiam, mencoba menelan semua kalimat itu perlahan. “Kamu tuh selalu bisa bikin orang kehabisan kata, tahu nggak?”

Dia tersenyum. “Karena aku cuma ngomong yang aku rasain.”

Kami sama-sama diam lagi. Tapi kali ini, heningnya terasa nyaman.

Hanya ada suara angin, burung, dan detak jantungku yang terasa terlalu keras untuk diabaikan.

Beberapa hari setelah Raka kembali, gosip baru mulai muncul lagi — tapi kali ini bukan gosip yang bikin risih.

“Alya dan Raka balik bareng lagi!”

“Duh, sweet banget mereka tuh!”

“Beneran couple goals sekolah!”

Aku dan Raka cuma tertawa setiap kali mendengar itu. Bedanya, kali ini aku nggak malu. Karena entah bagaimana, aku mulai terbiasa dengan kehadirannya.

Kami belajar bareng, jaga taman bareng, bahkan kadang pulang bareng. Tapi yang paling kusuka adalah saat-saat sederhana — ketika dia hanya diam, tapi kehadirannya sudah cukup bikin tenang.

Suatu sore, waktu kami sedang menyiram tanaman, dia tiba-tiba berkata, “Ly, aku pengen tanya sesuatu.”

Aku menoleh. “Apa?”

Dia mengambil napas dalam. “Dulu kamu bilang, kalau aku mau nanya lagi nanti… waktu kamu udah yakin ini bukan kebetulan.”

Aku membeku. “Kamu masih inget?”

“Tentu,” katanya sambil menatap mataku. “Jadi sekarang aku nanya lagi.”

Aku bisa merasakan pipiku memanas. “Nanya apa?”

Dia tersenyum kecil. “Kalau sekarang aku bilang aku suka kamu, bukan karena dijodohin, tapi karena aku benar-benar jatuh cinta… kamu masih butuh waktu buat yakin, atau kamu udah tahu jawabannya?”

Dunia seperti berhenti sesaat. Angin berhenti berembus, dan semua suara menghilang.

Aku menatapnya lama — mata yang sama, tatapan yang sama, tapi kini dengan makna yang lebih dalam.

“Aku udah tahu jawabannya,” kataku akhirnya, pelan tapi pasti.

Dia mendekat sedikit, suaranya lembut. “Dan jawabannya?”

Aku tersenyum. “Aku juga suka kamu.”

Untuk sesaat, kami hanya saling menatap. Tidak ada kata lain yang perlu diucapkan. Tidak ada janji besar, tidak ada drama. Hanya dua hati yang akhirnya saling mengerti.

Raka menatapku lama, lalu berkata pelan, “Akhirnya, ya?”

Aku tertawa kecil. “Akhirnya.”

Hari-hari setelah itu terasa berbeda. Kami tidak pernah mengumumkan apa pun, tidak perlu status resmi atau pengakuan besar. Tapi semua orang tahu — bahwa di antara taman-taman kecil di belakang sekolah, dua hati tumbuh bersama.

Kadang aku masih tidak percaya semua ini dimulai dari perjodohan yang terdengar aneh. Tapi sekarang aku tahu — beberapa pertemuan memang tidak harus dimulai dengan cinta untuk berakhir dengan kebahagiaan.

Raka menepati janjinya untuk kembali, dan aku menepati janjiku untuk menunggu.

Dan di tengah kesibukan SMA, tugas, dan tawa, kami belajar satu hal:

Bahwa cinta sejati tidak selalu datang tiba-tiba. Kadang ia tumbuh perlahan — seperti tanaman kecil yang tumbuh karena dirawat dengan sabar dan hati yang tulus.

Dan hari itu, di bawah langit sore, Raka menatapku sambil berkata pelan,

“Kayaknya, Ly, ini baru benar-benar awal dari kisah kita.”

Aku tersenyum. “Iya. Kita baru mulai.”

1
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!