"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 34
Seoul menyambut Arlan dengan tamparan angin sedingin es. Salju tipis mulai turun, menghiasi trotoar kawasan Myeong-dong yang padat. Arlan berdiri di tengah persimpangan jalan dengan napas beruap, mengenakan turtleneck hitam dan long coat yang membuatnya tampak seperti aktor utama dalam drama Korea—namun raut wajahnya jauh dari kata romantis. Ia tampak seperti pria yang baru saja kehilangan arah hidup, atau setidaknya, kehilangan arah Google Maps.
"Tuan, sepertinya kita harus belok kiri di depan toko kosmetik itu," ucap Maman, yang dipaksa ikut terbang ke Seoul tanpa persiapan selain jaket tebal pinjaman.
"Toko kosmetik yang mana, Maman? Di sini ada sepuluh toko yang warnanya merah muda semua!" bentak Arlan frustrasi.
Arlan mulai menyisir setiap kedai kopi. Karena tidak bisa berbahasa Korea, ia mengandalkan aplikasi penerjemah di ponselnya.
Kejadian konyol pertama terjadi ketika Arlan masuk ke sebuah kafe kecil yang terlihat sangat mirip dengan foto informan. Ia menghampiri seorang pelayan wanita yang membelakanginya. Dengan penuh emosi dan kerinduan, Arlan memegang bahu wanita itu.
"Keyla? Sayang, ini aku—"
Wanita itu berbalik. Bukan Keyla. Melainkan seorang nenek-nenek Korea bertubuh gempal dengan rambut keriting permanen yang sedang memegang sapu.
"Mwoya?! Nuguya?!" (Apa-apaan?! Siapa kamu?!) teriak si nenek dengan suara melengking.
Arlan terperanjat, matanya membelalak. Ia segera menyodorkan ponselnya yang sudah terbuka aplikasi penerjemah. Namun, karena gugup, ia tidak sadar jarinya menekan kalimat yang salah dari riwayat pencarian sebelumnya.
Suara robot dari ponsel Arlan bergema keras di kafe itu. "Halmoni, saranghaeyo. Nae anega doe-eo jullae?" (Nenek, aku mencintaimu. Maukah kamu jadi istriku?)
Maman yang berdiri di belakang Arlan langsung menepuk jidatnya sendiri. Si nenek terdiam sejenak, lalu wajahnya merona merah. Ia mulai tertawa centil dan mencoba mencubit pipi Arlan.
"Tuan! Lari!" teriak Maman sambil menarik jas Arlan.
"Sialan! Kenapa aplikasi ini malah melamar nenek-nenek?!" umpat Arlan sambil berlari keluar kafe, mengabaikan teriakan si nenek yang memanggilnya Oppa dari kejauhan.
Setelah berhasil lolos dari ancaman asmara tak terduga itu, Arlan berhenti di depan gerai makanan pinggir jalan untuk mengatur napas. Perutnya keroncongan karena ia belum makan sejak mendarat. Ia melihat penjual tteokbokki dan mencoba memesan menggunakan bahasa isyarat.
"Tuan, jangan yang itu, kelihatannya sangat pedas," ucap Maman.
"Hanya makanan kecil, Maman. Jangan berlebihan," sahut Arlan dengan angkuh. Ia mengambil satu tusuk besar dan memakannya sekaligus untuk menunjukkan otoritasnya.
Detik berikutnya, wajah Arlan yang biasanya pucat berubah menjadi merah padam selevel cabai rawit. Matanya melotot, dan ia mulai terbatuk-batuk hebat. Rasa panas itu membakar lidahnya seolah-olah ia baru saja mengunyah lava.
"Air! Maman, air!" rintih Arlan dengan suara tercekat.
Karena tidak menemukan air mineral, Arlan dengan panik menyambar sebuah botol minuman berwarna hijau di meja samping. Ia meneguknya sampai habis.
"Tuan! Itu Soju! Itu alkohol!" teriak Maman terlambat.
Arlan tidak peduli. Pedasnya hilang, tapi kepalanya mendadak terasa ringan. Sang mantan CEO Dirgantara Group yang ditakuti di Jakarta itu kini berdiri di pinggir jalan Myeong-dong sambil bersendawa keras dan sedikit sempoyongan.
"Maman... kenapa jalanannya jadi ada dua?" tanya Arlan dengan mata sayu. "Dan kenapa semua papan nama di sini berubah jadi wajah Keyla yang sedang tertawa?"
"Tuan, Anda mabuk! Kita harus kembali ke hotel," Maman mencoba memapah bosnya yang bertubuh jauh lebih besar darinya itu.
"Enggak! Aku harus cari Keyla! Keylaaa!" teriak Arlan ke arah kerumunan orang, membuat para turis Jepang di sebelahnya memotretnya karena mengira dia sedang syuting adegan drama sad boy.
Di tengah kekacauan itu, Arlan tidak menyadari bahwa di seberang jalan, hanya terhalang oleh barisan bus pariwisata, seorang gadis dengan mantel cokelat tua dan syal rajut putih sedang berjalan terburu-buru sambil memeluk buku-buku kuliahnya. Gadis itu sempat menoleh sejenak ke arah keributan di seberang, namun karena salju semakin lebat, ia kembali berjalan menuju stasiun bawah tanah.
Itu Keyla. Dia hanya berjarak lima puluh meter dari Arlan yang sedang berusaha berdebat dengan patung maskot toko kosmetik.
"Keyla... aku bakal temuin kamu... walaupun aku harus menikahi semua nenek-nenek di Seoul ini..." racau Arlan sebelum akhirnya jatuh pingsan di pundak Maman.