Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir dari Sebuah Ilusi
Malam itu, dinginnya aspal jalan tol terasa seperti menusuk hingga ke tulang sumsum Andini. Ia berdiri mematung di pinggir jalan yang gelap, menatap lampu belakang mobil Reno yang kian mengecil dan akhirnya menghilang ditelan kegelapan. Ia telah kehilangan segalanya: suaminya, anaknya, harga dirinya, dan kini... tas berisi harta yang ia curi.
Dengan langkah gontai dan kaki yang lecet, Andini mulai berjalan menyusuri bahu jalan tol. Pikirannya kosong, namun satu kalimat di surat terakhir Hilman yang dibacakan dalam benaknya terus menghantuinya: “Periksa lagi bagian bawah tumpukan sertifikat itu...”
Setelah dua jam berjalan dalam kehampaan, sebuah mobil patroli menemukannya dan membawanya pulang atas permintaan Andini yang terus meracau menyebut nama suaminya.
Kepulangan ke Rumah Duka
Saat mobil polisi berhenti di depan gang rumahnya, suasana sudah sangat berbeda. Bendera kuning sudah terpasang. Suara tahlilan terdengar lamat-lamat dari dalam rumah. Para tetangga yang biasanya berkumpul untuk bergosip kini menatap Andini dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan, jijik, dan amarah.
Andini masuk ke dalam rumah. Ia melihat Syifa sedang duduk di pojok ruangan, dipeluk oleh istri Pak Gatot. Syifa menatap ibunya dengan mata yang kosong. Tidak ada lagi tangisan, tidak ada lagi panggilan "Mama". Hanya keheningan yang mematikan.
Di tengah ruangan, jenazah Hilman sudah terbujur kaku di bawah kain kafan yang putih bersih. Pak Gatot berdiri di sampingnya, memegang sebuah kotak kayu—kotak rahasia Hilman yang tadi dibawa kabur Andini, namun ternyata Reno membuangnya di pinggir jalan tol (karena ia hanya mengambil uang tunai dan perhiasan emasnya) dan ditemukan oleh polisi patroli sebelum dikembalikan ke rumah.
"Ini kotak suamimu, Andini," suara Pak Gatot berat dan penuh wibawa. "Reno hanya mengambil uang tunai lima ratus ribu di dalamnya dan perhiasanmu. Tapi dia membuang ini. Dia pikir ini sampah."
Andini merangkak mendekati kotak itu. Dengan tangan gemetar, ia membuka bagian bawah tumpukan sertifikat deposito yang tadi ia kira bernilai miliaran.
Di balik lembaran kertas yang terlihat mewah itu, Andini menemukan kenyataan yang sebenarnya.
Buku tabungan satu miliar itu... semuanya adalah buku tabungan fiktif. Hilman sengaja mencetak angka-angka itu sendiri menggunakan printer tua di pabrik.
Andini tertegun. "Maksudnya apa, Pak Gatot? Uang satu miliarnya mana?"
Pak Gatot menarik napas panjang. "Hilman tahu kamu terobsesi dengan kekayaan, Andini. Dia tahu kamu akan meninggalkannya jika dia tetap miskin. Jadi, dia menciptakan ilusi itu. Dia bekerja lembur bagai kuda bukan untuk mengumpulkan uang satu miliar—karena buruh pabrik tidak akan pernah bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat—tapi untuk membayar Asuransi Jiwa."
Pak Gatot mengeluarkan selembar polis asuransi dari dasar kotak yang tersembunyi.
"Dia mengasuransikan nyawanya sendiri sejak lima tahun lalu. Dia membayar premi yang sangat besar setiap bulan, bahkan dia rela tidak makan dan hanya makan nasi garam supaya premi itu tidak menunggak. Dan syarat agar klaim asuransi senilai Satu Miliar Rupiah itu cair hanya satu..."
Pak Gatot berhenti sejenak, menatap Andini dengan tajam.
"Syaratnya adalah dia harus meninggal karena sakit atau kecelakaan kerja yang disebabkan oleh kelelahan. Hilman sengaja membunuh dirinya sendiri secara perlahan dengan bekerja tanpa henti, hanya agar kamu bisa mendapatkan uang satu miliar yang kamu idam-idamkan itu setelah dia tiada."
Andini lemas. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Jadi... uang itu baru ada... kalau Mas Hilman mati?" bisik Andini dengan suara yang nyaris hilang.
"Iya," jawab Pak Gatot. "Dan ada satu surat lagi di sini. Untukmu."
Surat Terakhir: Kebenaran yang Menghancurkan
Andini membuka pucuk surat terakhir yang terselip di dalam polis asuransi itu.
"Andini, jika kamu membaca ini, artinya aku sudah berhasil memberimu hadiah terakhir. Maaf aku berbohong soal tabungan satu miliar itu. Aku tidak punya uang sebanyak itu saat hidup. Aku hanya punya nyawa yang bisa kujual pada perusahaan asuransi untuk menebus kebahagiaanmu.
Uang satu miliar ini akan cair ke rekeningmu besok. Pakailah untuk hidup mewah seperti yang kamu inginkan. Pergilah bersama Reno jika dia memang pria yang baik bagimu. Tapi ingatlah satu hal, uang ini dibeli dengan setiap tetes darah dari batukku, setiap luka di jariku, dan setiap butir garam yang kumakan di dapur saat kamu makan enak di luar.
Aku mencintaimu lebih dari kemiskinan yang kuberikan padamu. Selamat tinggal, Sayang."
Andini menjerit. Sebuah jeritan yang memecah keheningan malam duka itu. Ia memeluk kaki jenazah Hilman, meraung-raung memohon ampun. Ia baru menyadari bahwa pria yang ia maki "pecundang" adalah pria paling kaya di dunia karena ia mampu memberikan seluruh nyawanya untuk wanita yang bahkan tidak mau memeluknya di saat terakhir.
Uang satu miliar itu kini ada di tangan Andini. Tapi Reno telah pergi sebagai penipu, dan Hilman telah pergi sebagai pahlawan yang tak diakui.
Andini kini memiliki semua kemewahan yang ia impikan. Ia bisa membeli rumah besar, mobil mewah, dan gaun sutra. Namun, setiap kali ia menyentuh uang itu, ia akan teringat rasa asin garam di meja dapur dan aroma darah di sapu tangan Hilman.
Andini duduk bersimpuh di samping keranda, wajahnya sembab hingga matanya nyaris tidak bisa terbuka. Ia masih mengenakan daster yang sama sejak semalam—daster yang kini tampak kusam dan bernoda tanah karena ia terus-menerus terjatuh saat mencoba mendekati jenazah suaminya. Tidak ada lagi sisa kecantikan atau keangkuhan yang ia pamerkan di depan Reno kemarin. Yang tersisa hanyalah seorang wanita yang hancur berkeping-keping oleh kenyataan.
"Mas... bangun, Mas... ini aku bawa parfum yang kamu suka..." racau Andini pelan sambil memegang ujung kain penutup keranda.
Pak Gatot mendekat, wajahnya keras namun matanya berkaca-kaca. "Sudah, Ndin. Relakan. Kamu sudah punya apa yang kamu mau, kan? Sekarang biarkan Hilman tenang. Dia sudah membayar semuanya dengan nyawanya."