Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: MOMEN MANIS
Valerie meletakkan kuasnya sebentar, menatap lukisannya dengan mata berbinar. "karena paviliun itu merupakan simbol awal dari segalanya. Aku ingin mengingatnya sebagai tempat di mana pelindungku berasal."
Hati Revan bergetar mendengar pengakuan jujur itu. Ia mengeratkan pelukannya, menghirup aroma sabun dan sedikit bau cat yang menempel pada Valerie. Ia merasa seolah semua kerja keras dan penderitaannya sebagai anak ART dulu terbayar tuntas hari ini.
Pikiran Revan melayang kembali ke belasan tahun yang lalu. Saat itu ia adalah remaja berusia delapan belas tahun yang sedang sibuk mempersiapkan ujian masuk fakultas hukum, sementara Valerie hanyalah seorang bocah delapan tahun yang ceria namun sering kali menjadi sasaran kemarahan ibunya.
Revan mengecup bahu Valerie, seolah ingin menghapus memori dingin dari masa lalu gadis itu. "Aku selalu ada di sana, Erie. Di setiap sudut gelap tempatmu dihukum, aku selalu berdiri di bayang-bayang, memastikan kau tidak kedinginan."
Valerie berbalik dengan cepat, menatap wajah suaminya dengan tatapan tak percaya yang bercampur haru. "Jadi... lilin di balik pintu gudang dan jaket di teras belakang itu... itu darimu? Selama ini aku pikir itu adalah peri pelindungku."
Revan tersenyum tipis, sorot matanya menerawang.
"Saat itu, aku melihatmu sebagai adik kecil yang malang," ujar Revan dengan nada bicara yang sangat hati-hati, memastikan Valerie memahami posisinya. "Usiaku delapan belas tahun, aku sudah mengerti kerasnya hidup, sementara kau hanya bocah yang bahkan belum paham kenapa ibumu begitu membencimu. Rasa sukaku padamu saat itu adalah murni rasa ingin melindungi. Aku hanya ingin memastikan kau tumbuh dengan baik, meski duniamu sangat dingin."
Revan menjeda sejenak, menangkup wajah Valerie dengan kedua tangannya yang hangat.
"Lalu aku pergi kuliah, aku meniti karir, dan aku melihatmu tumbuh dari kejauhan. Baru saat kau mulai beranjak dewasa dan aku melihat keteguhan hatimu, rasa ingin melindungiku perlahan berubah menjadi kekaguman pria dewasa terhadap seorang wanita. Aku menunggumu, Erie. Aku menunggumu hingga kau berada di usia yang tepat untuk mengerti apa itu cinta, meski saat itu aku masih merasa tidak layak karena status sosialku."
Valerie merasakan dadanya sesak oleh rasa haru. Penjelasan Revan menghilangkan semua keraguannya yang Justru menjaganya agar tetap utuh hingga ia siap untuk mencintai.
Jadi, kau tidak pernah meninggalkanku?" tanya Valerie lirih.
"Setiap langkah yang kuambil dalam karirku adalah untuk membangun fondasi agar aku bisa menarikmu keluar dari rumah itu suatu hari nanti," jawab Revan jujur. "Aku tidak pernah merencanakan skandal di klub malam itu, tapi saat takdir memberiku jalan untuk menikahimu secara sah, aku bersumpah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi satu-satunya orang yang memegang tanganmu."
Valerie tersenyum lebar, ia merasa sangat dihargai bukan hanya sebagai seorang istri, tapi sebagai manusia yang masa pertumbuhannya dijaga dengan sangat terhormat oleh Revan. Ia berjinjit, memeluk leher Revan erat, membiarkan kehangatan pria itu menghapus sisa-sisa kedinginan dari masa lalunya.
Valerie melepaskan pelukannya, namun kedua tangannya masih tertaut di pundak Revan. Matanya berbinar dengan binar yang belum pernah Revan lihat sebelumnya, sebuah kombinasi antara haru, rasa aman, dan cinta yang kini tak lagi ia sembunyikan.
"Kalau begitu, Mas harus diam di sana," ucap Valerie sambil menunjuk kursi kayu panjang di sudut balkon yang tersiram cahaya matahari sore.
Revan menaikkan satu alisnya, sedikit bingung namun tetap mengikuti arahan istrinya. "Apa yang sedang kau rencanakan, Erie?"
"Aku sudah melukis banyak hal yang menyedihkan, Mas. Aku sudah melukis ketakutanku, kesepianku. Valerie mengambil kuas baru dan palet warnanya. "Tapi hari ini, aku ingin melukis alasanku untuk tetap berdiri. Aku ingin melukis 'Peri Pelindungku' yang ternyata nyata."
Revan terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat renyah di telinga Valerie. Ia duduk dengan santai, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, membiarkan sinar matahari senja menonjolkan garis rahangnya yang tegas dan sorot matanya yang kini penuh dengan kehangatan.
"Baiklah. Aku akan menjadi modelmu sesuka yang kau mau. Anggap saja ini kompensasi karena aku sudah mengintipmu melukis selama belasan tahun dari kejauhan," canda Revan.
Suasana balkon itu menjadi hening, hanya ada suara gesekan kuas pada kanvas dan kicauan burung pegunungan. Valerie bekerja dengan sangat antusias. Setiap kali ia melirik ke arah Revan, ia mendapati suaminya sedang menatapnya dengan pandangan yang begitu memuja.
Dulu, tatapan itu membuatnya terintimidasi, namun sekarang, tatapan itu adalah bahan bakar bagi setiap goresan warnanya.
"Mas, jangan terlalu sering tersenyum seperti itu," protes Valerie sambil tertawa kecil. "Aku jadi susah berkonsentrasi pada garis bibirmu."
"Sulit bagiku untuk tidak tersenyum saat menyadari bahwa wanita paling cantik di dunia ini sedang menatapku seolah aku adalah dunianya," balas Revan telak, membuat pipi Valerie seketika merona merah, jauh lebih merah dari cat vermillion di paletnya.
Satu jam berlalu. Matahari mulai turun, menciptakan warna jingga dan ungu di langit. Valerie akhirnya meletakkan kuasnya. Ia menarik napas panjang, menatap hasil karyanya dengan kepuasan yang mendalam.
"Selesai?" tanya Revan sambil bangkit dari duduknya.
"Selesai. Kemarilah."
Revan melangkah mendekat, berdiri di belakang Valerie dan melingkarkan lengannya di bahu istrinya. Ia tertegun menatap kanvas itu. Valerie tidak melukis Revan dengan jas formalnya yang kaku atau wajah dinginnya sebagai dosen hukum.
Valerie melukis Revan dalam balutan kemeja putih yang santai, dengan latar belakang cahaya matahari yang seolah membentuk pelindung di sekelilingnya. Dan yang paling mengesankan, Valerie berhasil menangkap binar di mata Revan, binar seorang pria yang akhirnya berhasil menjaga apa yang paling ia cintai.
"Ini... jauh lebih tampan dari aslinya," gumam Revan, suaranya sedikit serak karena haru.
"Tidak, Mas. Ini adalah caraku melihatmu," Valerie berbalik, menangkup wajah Revan yang kini tampak sangat emosional. "Pria yang memberiku jaket saat aku kedinginan, dan pria yang memberiku rumah saat aku kehilangan segalanya."
Revan tidak tahan lagi. Ia menunduk, mencium kening Valerie dengan sangat lama, lalu turun ke hidungnya, dan berakhir dengan kecupan lembut di bibir yang kini terasa sangat penuh dengan perasaan. Tidak ada lagi keraguan. Di balkon itu, lukisan tersebut menjadi saksi bahwa hubungan yang terpaut sepuluh tahun ini bukan lagi tentang perlindungan seorang kakak pada adiknya, atau paman pada ponakannya tapi tentang dua jiwa yang akhirnya setara dalam cinta.
Setelah sesi melukis di balkon yang penuh emosi, matahari akhirnya benar-benar tenggelam, meninggalkan semburat warna nila yang pekat di langit pegunungan. Udara dingin mulai merayap masuk, namun di dalam vila, suasana terasa begitu hangat.
Revan tidak membiarkan Valerie menyentuh dapur malam ini. Ia meminta istrinya untuk beristirahat sementara ia menyiapkan makan malam sederhana namun berkesan.
"Mas, kau benar-benar tahu cara memanjakan istrimu," goda Valerie saat melihat meja makan kecil di dekat perapian sudah tertata rapi dengan lilin-lilin kecil dan hidangan yang mengepul hangat.
Revan menarik kursi untuk Valerie, membantunya duduk dengan gerakan yang sangat sopan namun intim. "Aku sedang menebus waktu belasan tahun di mana aku hanya bisa membayangkan bisa duduk makan malam bersamamu seperti ini, Erie."
Sepanjang makan malam, tidak ada pembicaraan tentang hukum, kampus, atau Adrian. Mereka hanya berbagi cerita tentang hal-hal kecil. Valerie bercerita tentang mimpinya untuk mengadakan pameran tunggal, dan Revan mendengarkan dengan tatapan yang seolah mengatakan bahwa ia akan mewujudkan setiap mimpi itu, apa pun taruhannya.