NovelToon NovelToon
Pamanku Ternyata Jodohku

Pamanku Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: DESAKAN KEJUJURAN

​"Karin, cukup," potong Valerie, wajahnya kini sudah memerah sempurna. "Dia hanya menjalankan amanah Kakek. Tidak lebih."

​"Oke, oke, aku diam," ujar Karin, namun seringai di wajahnya menunjukkan ia tidak percaya sedikit pun. "Tapi hati-hati, Val. Pak Julian sepertinya tidak akan tinggal diam. Tadi dia terlihat sangat marah. Dan satu lagi... satu kelas sudah mulai berbisik-bisik soal perhatian 'ekstra' Pak Revan padamu. Kalau ini terus berlanjut, rahasia apa pun yang kau simpan soal Pak Revan pasti akan meledak juga."

​Kalimat terakhir Karin menghantam Valerie tepat di ulu hati. Ia tahu Karin benar. Revan mulai sulit mengendalikan diri, dan kecemburuan pria itu kini menjadi ancaman terbesar bagi rahasia pernikahan mereka.

​Sementara itu, dari ambang pintu kelas, Julian berdiri diam sambil memperhatikan Valerie dari kejauhan. Ia tidak masuk ke kelas, melainkan memutar balik langkahnya menuju ruang administrasi dosen. Di kepalanya hanya ada satu tujuan, Melihat berkas alamat tempat tinggal Valerie dan Revan.

​Julian harus membuktikan kecurigaannya. Jika benar mereka tinggal hanya berdua dan ada hubungan yang lebih dari sekadar wali, ia akan melaporkan ini pada Hendrawan Adiwijaya untuk mendepak Revan dari kehidupan Valerie selamanya.

Lampu di ruang utama apartemen telah redup, namun cahaya dari balik pintu kaca di sudut ruangan masih memancar. Revan baru saja pulang dari kantor hukumnya. Ia meletakkan kunci mobil dan jasnya di sofa, lalu melangkah perlahan menuju ruang Lukis yang sengaja ia bangun khusus untuk Valerie.

Ruangan itu berdinding kaca besar yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu Jakarta. Di sana, Valerie duduk di depan kanvas besarnya. Aroma cat minyak dan turpentine memenuhi udara. Ia begitu larut dalam goresan kuasnya, hingga tidak menyadari kehadiran Revan yang bersandar di bingkai pintu, memerhatikannya dengan tatapan lembut yang tak pernah ia tunjukkan pada dunia luar.

​Valerie sedang melukis sosok siluet yang tampak terperangkap di balik jeruji transparan. Warna-warna yang ia gunakan sangat kontras biru tua yang dingin dan merah yang menyala.

Sambil menggerakkan kuasnya, pikiran Valerie mengembara ke masa lalu yang pahit. Memori yang selalu membuatnya merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.

​Flashback: Meja Makan Keluarga Adiwijaya, 5 Tahun Lalu.

​"Pa, Valerie juara satu lomba melukis tingkat nasional, ucap Valerie kecil dengan mata berbinar, menunjukkan sertifikatnya di meja makan.

Hendrawan bahkan tidak menoleh dari korannya. "Hanya melukis? Itu tidak akan membantumu mengelola perusahaan. Lihat kakakmu, Adrian."

Di sampingnya, Adrian tersenyum penuh kemenangan sambil meletakkan piagam kursus kedokterannya. "Adrian baru saja diterima magang di rumah sakit terbaik, Pa," sela Adrian sengaja.

Seketika, wajah Hendrawan dan istrinya berubah cerah. Mereka memuji Adrian setinggi langit, membahas masa depan cerah sang putra sulung, sementara sertifikat Valerie tergeletak begitu saja di atas meja, terkena tumpahan kuah sup tanpa ada yang peduli untuk mengelapnya.

​Pernah suatu kali, saat Valerie jatuh sakit karena kelelahan, ibunya hanya masuk ke kamar untuk berkata, "Jangan manja, Valerie. Adrian dulu tetap belajar meski sedang demam. Kau ini, hanya mencari perhatian saja."

Namun, saat Adrian sedikit saja tergores jarum saat praktikum, seisi rumah panik seolah-olah dunia akan kiamat. Valerie tumbuh dalam bayang-bayang; ia adalah "investasi yang salah" di mata orang tuanya, sementara Adrian adalah "emas murni" yang harus diagungkan. Perbedaan kasta di antara saudara kandung itu sangat nyata, hingga Valerie sering bertanya-tanya, Apakah aku benar-benar anak mereka?

Satu tetes air mata jatuh mengenai palet catnya. Valerie segera menyekanya dengan punggung tangan, meninggalkan noda biru di pipinya.

Tiba-tiba, sepasang lengan yang kokoh melingkar di bahunya dari belakang. Kehangatan yang familiar itu merambat ke seluruh tubuh Valerie, mengusir dinginnya kenangan masa lalu.

"Melukis lagi tentang mereka?" bisik Revan, suaranya rendah dan dalam. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Valerie, menghirup aroma sabun dan cat yang menenangkan.

Valerie tersentak kecil, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Revan. "Aku hanya tidak mengerti, Mas. Sampai detik ini, aku masih bertanya-tanya apa salahku sehingga mereka begitu membenciku dan memuja Kak Adrian, bahkan setelah tahu apa yang dia lakukan padaku."

Revan mengeratkan pelukannya. Tangannya yang besar menggenggam tangan Valerie yang masih memegang kuas. "Kesalahanmu hanya satu, Erie," ucap Revan sambil menatap pemandangan kota di depan mereka. "Kau terlalu bersinar secara alami tanpa perlu memanipulasi siapa pun. Dan bagi orang-orang seperti mereka, kejujuranmu adalah ancaman."

Revan memutar kursi Valerie agar mereka saling berhadapan. Ia mengambil jemari Valerie yang ternoda cat, lalu mengecupnya satu per satu dengan penuh khidmat, sebuah tindakan yang sangat manis yang selalu berhasil membuat napas Valerie tertahan.

​"Dulu, tidak ada yang melihat bakat mu Tapi sekarang, aku melihat semua goresan kuasmu," Revan menatap mata Valerie dengan intensitas yang meluluhkan. "Biarkan mereka membencimu, karena itu artinya kau sudah lepas dari kendali mereka. Sekarang, kau hanya perlu fokus padaku. Pada rumah ini."

Revan mengusap pipi Valerie yang terkena noda cat biru dengan jempolnya. "Kau bukan investasi yang salah, Erie. Kau adalah pusat duniaku. Mengerti?"

​Valerie tersenyum tipis, rasa sesak di dadanya perlahan menghilang.

"Terima kasih, Mas... paman posesifku," goda Valerie lirih.

Revan menaikkan satu alisnya, seringai tipis muncul di wajahnya. "Masih paman? Sepertinya aku harus memberikan 'hukuman' karena kau masih memanggilku begitu di luar jam kampus."

Di lain dimensi Karin duduk di meja belajarnya yang berantakan dengan sketsa dan kuas. Namun, perhatiannya tidak tertuju pada tugas anatominya. Ia justru sedang menatap sebuah foto yang ia ambil diam-diam yaitu foto Revan yang sedang menggandeng tangan Valerie di parkiran.

"Pikir, Karin, pikir..." gumamnya sambil memutar-mutar pensil 2B-nya. "Pak Revan itu dosen Hukum. Kantornya di ujung gedung utara. Kenapa dia hampir setiap hari ada di sekitar gedung Seni hanya untuk menjemput mahasiswi tingkat dua?"

Karin teringat saat ia berkunjung ke apartemen Valerie. Sebagai orang seni yang peka terhadap estetika dan detail visual, ia menyadari poin-poin yang tidak selaras di sana.

Apartemen itu terlalu maskulin untuk selera Valerie yang menyukai warna-warna pastel. Garis furniturnya tegas, dingin, dan sangat 'profesional'.

bahkan tercium aroma Parfum woody yang tertinggal di sofa, sikat gigi elektrik kembar di kamar mandi, dan sandal rumah pria berukuran besar.

​serta Ia teringat melihat sebuah dasi sutra berwarna biru gelap tersampir di kursi meja makan, dasi yang persis sama dengan yang dipakai Pak Revan saat mengisi seminar umum minggu lalu.

"Wali?" Karin tertawa sinis pada dirinya sendiri. "Aku memang anak Seni, tapi aku tidak bodoh. Tidak ada 'Paman' yang menatap keponakannya seperti ingin menelan siapa pun yang berani mendekat."

​Karin menyadari bahwa selama ini ia telah melakukan kesalahan besar dengan mendorong Valerie ke arah Julian. Jika benar pria di apartemen itu adalah Revan, maka ia secara tidak sengaja sedang bermain api dengan pria paling berbahaya di universitas ini.

​Keesokan Paginya – Di Studio Lukis Fakultas Seni

​Valerie sedang asyik mencampur warna di paletnya saat Karin datang dan langsung duduk di sampingnya, tanpa menyapa, hanya menatap Valerie dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Val," buka Karin pelan. "Kenapa kau tidak bilang kalau 'Paman' yang kau ceritakan itu sebenarnya adalah Pak Revanza dari Fakultas Hukum?"

​Tangan Valerie yang sedang memegang kuas gemetar, meninggalkan coretan warna merah yang panjang di atas kanvasnya. "Ka-Karin? Kau bicara apa?"

​"Jangan pakai wajah lugu itu di depanku. Aku melihat dasinya di apartemenmu, Val. Aku mencium aromanya di sana. Dan demi Tuhan, cara dia mengusir Julian kemarin... itu bukan cara seorang wali, tapi cara seorang pemilik," Karin merendahkan suaranya, matanya berkaca-kaca karena merasa tidak dipercaya oleh sahabatnya sendiri.

​Valerie menoleh ke kanan dan kiri, memastikan studio lukis itu sedang sepi. Ia meletakkan paletnya dengan tangan gemetar. "Karin, kumohon... ini sangat rumit. Aku tidak bermaksud membohongimu."

1
Nur Mei
semangat ngetiknya kak😁
EILI sasmaya: Terimakasih, 🥰
total 1 replies
sweet chil
tetap semangat Thor .. 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!