Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Penghinaan Tetangga
#
Pagi itu Naura keluar dari kontrakan dengan langkah pelan. Perutnya yang mulai sedikit membesar bikin dia jalan agak hati hati. Usia kandungannya sekarang udah tiga bulan. Mual muntahnya udah mulai berkurang tapi dia gampang capek. Nafasnya kadang pendek pendek kalau jalan agak jauh.
Dia mau ke pasar buat beli sayur dan beras. Uang yang Zidan kasih pagi tadi cuma lima puluh ribu. Harus diputer buat beli beras tiga kilo, sayur, sama telur kalau masih cukup.
Baru aja dia keluar dari pintu pagar kontrakan yang udah miring sebelah, tiba tiba ada suara klakson mobil yang keras dari arah jalan.
TIN TIN TIN!
Naura noleh. Matanya langsung melotot.
Di depan rumah sebelah, ada mobil baru. Mobil sedan warna merah mengkilap. Baru banget. Masih ada pita pita kecil di kaca spion. Kelihatan mahal.
Yang turun dari mobil itu Ibu Sari. Tetangga sebelah yang rumahnya lumayan besar. Suaminya kerja di perusahaan swasta sebagai manajer. Mereka termasuk keluarga yang cukup berada di kampung ini.
Ibu Sari turun dari mobil dengan senyum lebar sambil pake kacamata hitam besar yang menor. Bajunya dress bagus warna biru. Tas branded di tangan. Sepatu hak tinggi yang bunyi klak klik waktu jalan.
"Naura! Lagi mau kemana pagi pagi?" teriak Ibu Sari sambil jalan mendekat.
Naura tersenyum tipis sambil jawab pelan. "Mau ke pasar Bu. Beli sayur."
"Oh jalan kaki? Suamimu nggak anterin?"
"Suami saya kerja Bu. Dari pagi."
Ibu Sari mendekat sambil lihat Naura dari atas sampai bawah. Matanya yang tajam di balik kacamata hitam itu nyanning. Dari kerudung lusuh Naura yang udah pudar warnanya, baju kaos belel yang kebesaran, celana hamil murah yang udah bolong dikit di bagian lutut, sampai sandal jepit yang talinya udah nyaris putus.
"Eh kamu lagi hamil ya? Perutmu agak buncit."
Naura mengangguk sambil senyum. "Iya Bu. Udah tiga bulan."
"Masya Allah. Cepet juga ya. Baru nikah berapa bulan udah hamil. Rejeki ya."
Nada suaranya aneh. Bukan nada yang tulus seneng. Tapi nada yang kayak nyindir.
"Alhamdulillah Bu."
Ibu Sari noleh ke mobilnya yang masih mengkilap di bawah matahari pagi. Dia senyum bangga. "Eh gimana mobilku? Bagus kan? Baru aja diambil kemarin dari dealer. Suamiku hadiahi aku karena ulang tahun pernikahan kami yang ke sepuluh. Harganya lumayan lho. Dua ratus lima puluh juta. Tapi suamiku bilang nggak apa apa asal aku seneng."
Naura cuma tersenyum sambil ngangguk. Hatinya mulai nggak enak. Dia tahu kemana arah obrolan ini mau dibawa.
"Kamu kapan dibeliin mobil sama suamimu?" tanya Ibu Sari sambil menatap Naura dengan senyum tipis yang meremehkan.
Naura terdiam. Nggak tahu harus jawab apa.
"Suamimu kerja apa sih? Sopir angkot kan ya? Wah pasti susah ya nabung buat beli mobil kalau cuma sopir angkot. Apalagi sekarang kamu hamil. Pasti butuh biaya banyak kan? Periksa kandungan, vitamin, makan bergizi, nanti lahiran juga mahal."
Setiap kata itu kayak tusukan jarum di hati Naura. Perih. Nyesek.
"Suami saya kerja keras Bu. Dia baik. Dia..."
"Iya iya pasti baik," potong Ibu Sari sambil geleng geleng kepala. "Tapi baik doang nggak cukup Naura. Kamu perempuan. Kamu butuh dihidupin dengan layak. Apalagi sekarang lagi hamil. Masa kamu masih harus jalan kaki ke pasar? Masih harus naik angkot yang penuh sesak? Kasian lho perutmu kesenggol orang nanti gimana?"
Naura menggigit bibir bawahnya kuat kuat. Matanya mulai panas. Tapi dia tahan. Nggak mau nangis di depan tetangga yang sombong ini.
"Saya... saya nggak apa apa kok Bu. Saya masih kuat."
"Kuat sekarang. Nanti kalau kandunganmu udah besar gimana? Nanti kalau udah tujuh delapan bulan terus masih naik angkot yang penuh sesak gitu? Bahaya Naura. Kamu harus mikir kesehatan kandunganmu."
Ibu Sari melipat tangan di dada sambil menggeleng geleng. "Makanya aku bilang, perempuan tuh harus pinter milih suami. Jangan asal cinta cintaan. Harus lihat masa depannya. Suamimu itu... ya gimana ya... aku nggak mau jelek jelekin. Tapi nyatanya kan kamu hidup susah. Nikah di masjid kampung dengan mahar seadanya. Tinggal di kontrakan sempit. Jalan kaki kemana mana. Itu bukan kehidupan yang layak buat perempuan Naura."
Naura nggak bisa nahan lagi. Air matanya jatuh. Satu. Dua. Dia langsung hapus cepet tapi Ibu Sari udah lihat.
"Eh kamu nangis? Kenapa? Aku cuma ngingetin lho. Biar kamu sadar posisimu gimana. Biar kamu bisa minta sama suamimu untuk kerja lebih keras lagi. Jangan cuma jadi sopir angkot terus. Cari kerja yang lebih bagus. Yang gajinya lebih gede."
"Suami saya... suami saya udah kerja keras Bu. Dia kerja dari pagi sampai malam. Dia nggak pernah ngeluh. Dia..."
"Kerja keras tapi hasilnya apa? Kamu masih hidup kayak gini. Maaf ya Naura aku blak blakan. Tapi ini demi kebaikanmu. Kamu masih muda. Kamu masih cantik. Seharusnya kamu bisa dapet kehidupan yang lebih baik. Bukan kayak gini."
Ibu Sari noleh lagi ke mobilnya sambil senyum puas. "Coba deh kamu lihat aku. Aku nikah sama suamiku yang punya pekerjaan mapan. Rumah kami besar. Mobil ada dua. Anak anak sekolah di sekolah swasta yang bagus. Kami nggak pernah kesusahan soal uang. Itu namanya hidup berkah Naura. Hidup yang nyaman."
Naura nggak bisa nahan tangisnya lagi. Dia cuma ngangguk pelan sambil terus hapus air mata yang nggak berhenti jatuh.
"Udah ya aku masuk dulu. Mau beresin barang belanjaan. Eh kamu jalan kaki ke pasar aja hati hati ya. Jangan sampai jatuh. Bahaya buat kandunganmu." Ibu Sari melambai sambil jalan masuk ke rumahnya yang besar dengan pagar besi yang dicat bagus.
Naura berdiri di situ sendirian sambil masih nangis. Dadanya sesak banget. Napasnya pendek pendek. Tangannya gemetar.
Apa yang Ibu Sari bilang tadi bener.
Dia hidup susah. Suaminya cuma sopir angkot. Mereka tinggal di kontrakan sempit. Nggak punya mobil. Nggak punya rumah. Bahkan buat makan aja kadang susah.
Dan dia hamil. Hamil tapi nggak bisa makan bergizi. Nggak bisa periksa kandungan rutin. Bahkan buat beli vitamin aja harus mikir dua kali.
Apa dia salah pilih suami?
NGGAK!
Dia langsung geleng geleng kepala kuat kuat. Nggak. Zidan bukan suami yang salah. Zidan lelaki baik. Lelaki yang sayang dia. Lelaki yang kerja keras mati matian demi dia dan calon anak mereka.
Tapi kenapa rasanya sakit banget?
Kenapa rasanya malu banget waktu Ibu Sari ngomongin mereka kayak gitu?
Kenapa rasanya pengen nangis sejadi jadinya?
Dia jalan pelan ke arah halte angkot sambil terus nangis. Orang orang yang lewat pada ngeliatin. Tapi dia nggak peduli. Dia cuma pengen sampai pasar, beli barang yang dibutuhin, terus balik ke kontrakan dan nangis sepuasnya.
Di angkot yang penuh sesak, Naura duduk di pojok sambil peluk tas kecilnya erat erat. Perutnya yang mulai buncit kesenggol senggol sama penumpang lain yang pada berebut duduk. Tapi dia cuma diam. Nggak protes. Nggak bilang dia hamil. Malu.
Sampai di pasar, dia beli sayur seadanya. Kangkung seiket dua ribu. Tempe tiga ribu. Beras tiga kilo dua puluh ribu. Telur satu papan kecil sepuluh ribu. Total tiga puluh tujuh ribu. Uang kembalian tiga belas ribu dia simpen buat jaga jaga.
Perjalanan pulang lebih berat. Dia bawa plastik belanjaan yang lumayan berat. Perutnya yang hamil bikin dia gampang capek. Di angkot, dia nggak dapet duduk. Harus berdiri sambil pegangan dengan satu tangan. Tangan satunya lagi bawa belanjaan.
Angkot ngerem mendadak. Naura hampir jatuh. Plastik belanjaannya jatuh. Beras sama telur berserakan di lantai angkot.
"Aduh!" Naura langsung jongkok sambil kumpulin barang barangnya yang jatuh. Tangan gemetar. Malu banget karena semua penumpang ngeliatin.
"Mbak hati hati. Mbak hamil ya?" tanya bapak bapak yang duduk di samping dengan nada khawatir.
"Iya Pak. Maaf merepotkan."
"Nggak apa apa. Sini saya bantuin." Bapak itu bantuin beresin barang belanjaan Naura.
Setelah semua rapi lagi, bapak itu ngasih tempat duduknya ke Naura. "Sini Mbak duduk. Saya berdiri aja. Mbak hamil harus duduk."
"Nggak usah Pak. Saya..."
"Udah duduk aja. Jangan sungkan."
Naura akhirnya duduk sambil peluk belanjaan di pangkuan. Air matanya jatuh lagi tapi dia usap cepet cepet. Malu kalau orang lain lihat.
Sampai di kontrakan, Naura langsung masuk terus taruh belanjaan di sudut ruangan. Kakinya lemes banget. Punggungnya sakit. Perutnya agak kenceng. Mungkin kecapekan.
Dia duduk di kasur sambil peluk lutut. Nangis lagi. Nangis keras kali ini karena nggak ada yang lihat.
"Ya Allah... kenapa hidup aku susah banget? Kenapa aku harus dihina kayak tadi? Kenapa aku harus malu sama tetangga sendiri? Kenapa?"
Dia berbaring sambil terus nangis. Tangannya dia letakkan di perut yang mulai membesar.
"Maafin Ibu ya Nak. Ibu nggak bisa kasih kamu kehidupan yang bagus. Ibu nggak bisa makan bergizi buat kamu. Ibu nggak bisa periksa kandungan rutin. Ibu... Ibu cuma bisa kasih kamu cinta. Tapi cinta nggak bisa bikin kamu tumbuh sehat kan? Maafin Ibu..."
Dia nangis sampai ketiduran karena kecapekan.
Jam lima sore, Zidan pulang dengan wajah capek seperti biasa. Baju basah keringat. Rambut acak acakan. Tapi begitu masuk kontrakan, dia langsung ngerasa ada yang aneh.
Naura tidur tapi posisinya meringkuk kayak lagi kesakitan. Wajahnya sembab. Kelihatan banget habis nangis.
"Naura!" Zidan langsung lari ke kasur terus goyang bahu istrinya pelan. "Naura bangun. Kamu kenapa? Kenapa nangis?"
Naura buka mata perlahan. Begitu lihat suaminya, air matanya langsung jatuh lagi.
"Mas..."
"Kenapa sayang? Kamu kenapa? Sakit? Apa perut kamu kenapa kenapa?" Zidan panik sambil periksa perut istrinya dengan hati hati.
"Nggak Mas. Aku cuma... aku cuma..."
Naura nangis lagi sambil peluk suaminya erat. Zidan balas pelukan sambil usap punggung istrinya pelan.
"Cerita sama aku. Ada apa?"
Dengan terbata bata, Naura cerita semua yang terjadi pagi tadi. Tentang Ibu Sari. Tentang mobil baru. Tentang kata kata yang menyakitkan. Tentang penghinaan halus tapi nyelekit banget.
Zidan dengerin dengan rahang yang mengeras. Tangannya mengepal kuat. Matanya melotot. Napasnya mulai berat.
"Dia bilang aku salah pilih suami. Dia bilang Mas cuma sopir angkot yang nggak bisa kasih kehidupan layak. Dia bilang... dia bilang aku kasian hamil tapi masih harus jalan kaki dan naik angkot. Dia..."
"Cukup." Zidan memotong dengan suara yang bergetar menahan marah. "Cukup Naura. Jangan diterusin."
Dia melepas pelukan terus berdiri. Jalan mondar mandir sambil tangan mengepal membuka mengepal lagi. Wajahnya merah. Napasnya cepet.
"Sialan. Sialan banget tetangga kita itu. Dia pikir dia siapa? Dia pikir punya mobil baru terus bisa seenaknya ngomong kayak gitu sama istriku? Sialan!"
"Mas tenang..."
"Gimana aku bisa tenang? Dia udah ngehina kamu! Ngehina aku! Ngehina keluarga kita!"
Zidan jalan ke arah pintu. Mau keluar. Mau dateng ke rumah Ibu Sari dan marahin dia habis habisan.
Tapi Naura langsung berdiri terus tahan lengan suaminya.
"Mas jangan. Jangan dateng ke sana. Nanti malah makin ribut."
"Tapi dia udah ngehina kita Naura! Aku nggak terima!"
"Aku tahu Mas. Aku juga sakit hati. Tapi kalau Mas dateng ke sana dan marah marah, nanti mereka malah nganggap kita nggak bisa terima kritik. Nanti malah jadi bahan omongan tetangga yang lain."
Zidan berhenti. Dia tarik napas panjang berkali kali. Nyoba tenang. Tapi dadanya masih naik turun cepet.
"Tapi aku nggak bisa diam aja. Aku nggak bisa terima istri aku dihina kayak gitu."
"Mas..." Naura melangkah lebih deket terus pegang wajah suaminya dengan dua tangan. Menatap dalam. "Aku nggak peduli apa kata orang. Aku nggak peduli Ibu Sari punya mobil baru atau rumah besar. Yang aku peduliin cuma Mas. Cuma keluarga kita. Kita masih bisa makan. Masih punya tempat tinggal. Masih sehat. Itu udah lebih dari cukup."
"Tapi kamu malu kan? Kamu nangis karena kamu malu sama mereka kan?"
Naura terdiam. Nggak bisa bohong. Dia emang malu. Sangat malu.
"Iya. Aku malu. Tapi itu nggak berarti aku nyesel nikah sama Mas. Nggak berarti aku pengen suami yang lain. Aku cuma... aku cuma pengen kita bisa hidup lebih baik. Tapi aku tahu itu butuh waktu. Aku sabar Mas."
Zidan memeluk istrinya erat sambil matanya menatap kosong ke langit langit kontrakan yang rendah.
"Tunggu aja. Tunggu aja Naura. Suatu hari nanti aku akan buktikan ke mereka semua. Aku akan sukses. Aku akan kaya. Aku akan beliin kamu mobil yang lebih bagus dari Ibu Sari. Aku akan beliin kamu rumah yang lebih besar. Aku akan kasih kamu kehidupan yang layak. Aku janji. Aku bersumpah."
Suaranya bergetar penuh tekad.
"Mereka meremehkan kita sekarang. Tapi tunggu aja. Nanti kalau aku udah sukses, mereka akan gigit jari. Mereka akan nyesel udah ngehina kita. Aku janji."
Naura memeluk balik sambil nangis di dada suaminya. "Aku percaya Mas. Aku percaya kita akan sukses. Tapi jangan terlalu dipikirin omongan orang. Yang penting kita bahagia."
"Aku nggak akan lupa penghinaan hari ini. Nggak akan pernah lupa. Dan suatu hari nanti, aku akan balas. Bukan dengan kata kata. Tapi dengan bukti nyata. Tunggu aja."
Mereka berpelukan lama sambil sama sama nangis. Nangis karena sakit hati. Nangis karena malu. Nangis karena frustasi.
Malam harinya, setelah sholat Isya, Zidan duduk sendirian di teras kontrakan sambil menatap rumah Ibu Sari yang lampunya terang benderang. Kelihatan dari luar mereka lagi makan malam di meja makan yang besar. Ketawa ketawa bahagia.
Zidan mengepalkan tangannya kuat kuat.
"Kalian lihat aja. Kalian yang sekarang ketawa ngeremehkan kami. Tunggu aja giliran kami yang ketawa nanti. Tunggu aja aku sukses. Tunggu aja aku kaya. Kalian akan lihat. Kalian semua akan lihat."
Di dalam hatinya, ada api yang mulai menyala.
Api ambisi.
Api keinginan untuk sukses dengan cara apapun.
Api yang akan membesar.
Dan suatu hari nanti, api itu akan membakar segalanya.
Membakar cinta.
Membakar keluarga.
Membakar kebahagiaan.
Tapi untuk saat ini, api itu masih kecil.
Masih bisa dikendalikan.
Masih bisa padam kalau ada cinta yang menyiraminya.
Tapi cinta itu akan hilang.
Pelan tapi pasti.
Dan api itu akan membesar.
Sampai nggak ada yang bisa padamkan lagi.
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja