NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Action / Misteri / Detektif
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Cemas

Di lain tempat, seorang pria tampak tengah mengoperasikan laptop yang menyala di pangkuannya dengan raut wajah yang serius. Terlihat jelas saat itu ia tengah menyunting video yang menampilkan pemandangan indah dari ketinggian gunung.

Pria itu adalah Addam Walter, kakak tiri Astrid. Disamping pekerjaannya sebagai seorang staf di sebuah perusahaan, beberapa bulan belakangan ini Addam juga memiliki kesibukan sebagai pembuat konten di media sosial.

Sebenarnya Addam hanya tengah mencoba mendokumentasikan hobi barunya itu untuk kenang-kenangan saja. Tetapi secara tak sengaja momen yang dibagikannya di sosial media justru cukup bayak digemari orang. Karena itu, Addam sering menyempatkan diri untuk melakukan kegiatan olah raga populer; entah itu mendaki gunung, memanjat tebing, atau hanya sekadar lari di hari Minggu pagi.

Sekarang, Addam tengah mempersiapkan sebuah konten baru untuk ia bagikan di sosial media miliknya. Namun, sebuah pesan yang masuk ke akun berbagi foto miliknya membuat pria itu mengalihkan fokusnya sejenak.

“Siang Kak Addam, saya Naya, teman Astrid …” Addam membaca pesan yang baru saja diterimanya seperti anak yang baru belajar membaca.

“Naya…” pria itu mengerlingkan matanya sambil terus berpikir, “Ah! Si Naya editor …!” serunya.

“Maaf ganggu... Mau tanya, Astridnya ada? Saya kemarin hubungi dia, tapi belum dijawab, Kak…” Ia lanjut membaca pesan itu sampai kalimat terakhir.

Kedua alisnya mengkerut. “Emang si dek Astrid ke mana?” gumam Addam.

Segera setelahnya, pria tampan itu mencari kontak Astrid dan mencoba menghubunginya.

Percobaan panggilan pertama tidak tersambung.

Percobaan kedua, nomor Astrid masih tidak bisa dihubungi.

Begitu juga dengan percobaan ketiga; gagal.

Addam tidak bisa menghubungi Astrid.

Jemari Addam kemudian tergerak untuk membalas pesan yang beberapa saat lalu diterimanya dari Naya.

Lalu ketika Addam sendiri mulai mencemaskan Astrid, matanya tak sengaja menangkap sebuah pesan yang belum ia baca. Pesan itu rupanya telah diterima Addam sekitar dua minggu yang lalu yang dikirim dari sebuah akun anonim; 1111worst.

Addam segera membuka pesan itu dan dirinya terlihat mematung tatkala pesan itu ia baca.

Pesan yang diterimanya mengatakan :

“Dalam waktu dekat ini, akan ada berita besar yang menjadi trending di berbagai portal berita. Jika kamu tidak segera pindah ke lokasi yang diberikan, maka akan ada berita yang lebih besar dan lebih mengejutkan lagi. Oh iya, aku cukup berbaik hati memberimu petunjuk 😇”

Lalu akun anonim itu mengirim sebuah foto yang menurut Addam sangat aneh. Foto itu menunjukkan potret seseorang yang mengenakan dress panjang berwarna putih. Sosok itu terduduk dengan kaki lurus ke depan. Kedua pergelangan tangannya terikat yang menyambung dengan ikatan pada kedua pergelangan kakinya.

Foto itu memang tak memperlihatkan wajah sosok yang terikat tali itu. Tapi seketika Addam bisa tahu bahwa sosok bergaun putih itu adalah seorang perempuan–karena bagian dadanya sedikit terekspos dan tertangkap jepretan kamera.

Selain foto aneh itu, terlampir juga koordinat lokasi yang katanya harus Addam huni nantinya.

Degup jantung Addam seperti berhenti berdetak. Perasaannya campur aduk dan menggulung menjadi emosi tidak menyenangkan yang tak pernah ia bayangkan.

#

Setelah beberapa lama menunggu dalam kegelisahan, ponsel yang Naya letakkan di meja kerjanya akhirnya berbunyi menandakan sebuah pesan masuk.

Naya berdecak. Sesaat sebelumnya Naya terlihat semangat untuk membuka pesan itu. Tapi binar mata yang cerah itu menghilang seketika. Sudut bibirnya ia tarik ke bawah. Wajahnya semakin cemberut

“Siang Naya… Kebetulan beberapa hari terakhir ini saya baru selesai hiking, jadi memang saya belum kontekan lagi sama si dek Astrid…”

Perasaan Naya menjadi semakin tak karuan setelah membaca pesan balasan dari Addam.

“Ya ampun, Astrid… Kamu ke mana…?” keluh Naya dalam pikirannya.

#

“Pak! Ini udah 24 jam masih gak ada tindakan juga?!” Naya kembali duduk di tempat yang kemarin ia tinggalkan dengan rasa geram dan dongkol.

“Ya tunggu saja, dek. Laporannya sudah masuk ke sistem kita,” kata pria yang kemarin ia temui itu lagi.

“Gitu doang? Astaga...” Naya merasa sangat gemas karena ia melihat raut wajah pria itu tampak begitu santai.

“Lalu adek ini mau apa lagi? Kan laporannya sudah dimasukin sistem, nunggu diproses. Sabar lah, dek!” Pria itu mulai meninggikan suaranya.

Saat itu Naya benar-benar merasa muak dengan situasi yang dihadapinya itu.

‘Hei ini laporan tentang orang hilang, menyangkut hidup dan mati, apa memang wajar untuk terlihat sesantai itu?’ pikir Naya sambil menatap tajam ke arah pria di hadapannya.

Naya hanya bisa menghela napas dan mengatakan terima kasih meski sangat terpaksa, sebelum akhirnya ia pamit dari sana. Jauh dalam hatinya ia ingin sekali meremas wajah pria yang kelihatan minim rasa empati itu.

#

Jam dinding yang menggantung di atas pintu terus berdetak tanpa lelah, menemani setiap saat waktu yang dihabiskan Naya dalam sepi di ruang tunggu yang lengang itu.

Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh. Sudah hampir dua jam setelah kedatangan Naya ke tempat kerja Astrid.

Dalam bayangan Naya, sekolah tempat Astrid mengajar akan 'merasa kehilangan' setelah seorang guru yang dikenal ramah dan supel mendadak pergi dari sana.

Tapi dugaannya salah. Informasi yang Naya dapatkan justru membuatnya cukup terkejut. Dari beberapa orang staf–rekan Astrid–yang Naya temui, mereka memberi jawaban yang hampir sama; Astrid diketahui sempat mengirim surat cuti selama satu minggu penuh.

Karena hal itu, pihak sekolah sama sekali tidak menaruh curiga atas ketidak hadiran Astrid, sangat berbeda dengan Naya yang terus dirundung cemas.

Hari itu Naya bahkan sampai meminta izin untuk masuk siang demi menuntaskan rasa khawatirnya tentang Astrid.

#

Naya tak pernah menyangka bahwa pesan misterius yang diterimanya itu merupakan pesan terakhir dari Astrid. Karena sejak saat itu, Naya tak pernah lagi mengetahui kabar sahabatnya itu. Nomor Astrid tak pernah bisa dihubungi, laporan yang Naya buat pun belum juga menemukan titik terang.

Andai saja Naya memiliki dana lebih, sudah pasti Ia akan menyewa jasa detektif swasta dan segera melakukan penyelidikan. Begitu terus isi kepala Naya selama dua hari terakhir ini. Bagi Naya, waktu seperti berjalan berkali-kali lipat lebih lambat.

Meski Naya terus dihantui rasa takut dan gelisah tentang keadaan Astrid, namun tetap saja ia juga memiliki kehidupan yang harus terus dijalani.

Kembali pada ruang kerjanya yang berada di lantai tiga, sore itu Naya terlihat berjalan sambil menenteng sebuah botol minum yang kosong.

Niatnya Naya ingin mengisi ulang botol minumnya itu, namun sayangnya galon yang berada di atas dispenser itu juga telah kehabisan isinya.

“Aduh... Si Mas Eko ke mana ya...” Naya berbicara sendiri sambil berjalan-jalan mencari sosok yang baru saja ia sebutkan namanya itu.

Baru saja Naya akan meraih gagang pintu untuk pergi menuju tangga, ia dikejutkan oleh sosok pria yang secara kebetulan juga membuka pintu dari arah berlawanan.

“Eh, Bu Naya...” kata Eko, office boy yang dari tadi Naya cari.

Pria dengan wajah yang bisa dibilang lumayan itu baru dua hari bekerja di sana menggantikan pamannya yang mengundurkan diri.

“Mas Eko? Kebetulan banget! Minta tolong angkatin galon ya...” kata Naya dengan mengembangkan senyum karir.

“Oalah... Iya Bu...” Eko segera berjalan menuju pantry dan mengerjakan apa yang Naya ucapkan.

Perawakan Eko terbilang oke untuk pekerjaannya. Tubuhnya memang cukup tinggi dan terlihat proporsional, sangat cocok dengan penampilannya yang rapi. Jujur saja Naya bahkan mengira Eko adalah staf pemasaran yang baru karena waktu itu memang sedang ada lowongan untuk bagian pemasaran.

“Makasih Mas Eko...” kata Naya setelah galon air itu akhirnya selesai terpasang.

“Iya Bu. Sama-sama...” Eko berlalu dari hadapan Naya dan pria jangkung itu terlihat menuruni anak tangga.

Sisa waktu hari itu akhirnya selesai. Naya telah merampungkan sebagian pekerjaannya dan yang belum ia selesaikan akan dilanjutkannya lagi nanti.

🍀🍀🍀

1
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!