Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembunuhan Pertama yang Disengaja
Aku tidak tidur semalaman, setelah menyiksa pria Bratva itu. Hanya berbaring menatap tanganku, tangan yang masih terasa basah walau sudah dicuci berkali-kali.
Darahnya sudah hilang, tapi rasa lengket itu masih ada, Damian tidur nyenyak di sampingku. Seperti tidak terjadi apa-apa, seperti hari ini adalah hari yang biasa.
Tapi bagiku, sesuatu telah mati kemarin. Sesuatu yang tidak bisa dihidupkan lagi.
Pagi datang terlalu cepat, cahaya matahari masuk melalui jendela.
"Bangun," kata Damian sambil mencium bahuku. "Ada pelajaran lagi hari ini."
Aku tidak bergerak, hanya terus menatap tanganku.
"Alexa," panggilnya lagi. Kali ini lebih keras. "Bangun!"
Aku akhirnya duduk, tubuhku terasa berat. Seperti dibebani sesuatu yang tidak terlihat.
"Aku tidak bisa," bisikku. "Kumohon jangan paksa aku lagi."
Damian menatapku dengan tatapan yang simpati? Atau aku salah lihat?
"Aku tahu ini berat," katanya sambil mengelus wajahku. "Tapi satu kali lagi, hanya satu kali. Setelah itu kau sudah lulus, dan sudah siap."
"Siap untuk apa?" tanyaku dengan suara hampa.
"Untuk bertahan di duniaku," jawabnya. "Untuk berdiri di sampingku bukan hanya sebagai istri, tapi sebagai partner yang setara."
Dia berdiri, lalu mengulurkan tangannya.
"Satu kali lagi," ulangnya. "Kumohon, Alexa."
Dan entah kenapa, aku mengambil tangannya. Entah kenapa aku mengikutinya turun ke bunker lagi.
Mungkin karena aku sudah terlalu lelah untuk melawan, atau mungkin karena sebagian diriku sudah menyerah sepenuhnya.
***
Ruang penyiksaan yang sama, kursi besi yang sama, bahkan alat-alat yang sama. Tapi kali ini ada yang berbeda, Marco belum membawa tahanan, dan ruangan masih terlihat kosong.
"Tunggu di sini," kata Damian. "Kali ini aku akan mengambil tahanan sendiri."
Dia pergi meninggalkan aku sendirian di ruangan itu, aku duduk di lantai dengan memeluk lutut. Mencoba bernapas, tapi udara terasa berat dan pengap.
Lima menit kemudian, pintu terbuka lagi. Damian masuk, dengan menyeret seseorang.
Wanita yang berusia sekitar dua puluh lima tahun. Rambut cokelat panjang, wajah yang sangat kukenal, jantungku terasa berhenti berdetak.
"Sarah?" bisikku.
Sarah adalah sahabat masa kecilku, teman yang bermain bersamaku sejak SD. Yang tertawa bersamaku, yang berbagi rahasia. Dia mengangkat kepalanya, matanya melebar ketika melihatku.
"Alexa?" suaranya bergetar. "Alexa, ka-kau masih hidup."
Dia mencoba berdiri, tapi Damian mendorongnya ke kursi, lalu mengikatnya dengan cepat.
"Apa yang kau lakukan?!" teriakku pada Damian. "Kenapa Sarah bisa ada di sini? Dia bukan..."
"Dia mata-mata ayahmu," potong Damian. Suaranya dingin. "Ditanam untuk mengawasimu sejak kau masih kecil. Melaporkan semua yang kau lakukan, dan semua yang kau katakan."
Aku menatap Sarah, mencari penolakan atau bukti bahwa Damian bohong. Tapi yang kulihat adalah rasa bersalah di wajahnya.
"Alexa, aku bisa jelaskan," katanya dengan air mata yang mengalir. "Ayahmu meminta aku, dia bilang ini untuk melindungimu."
"Melindungi?" ulang Damian dengan nada mengejek. "Dengan melaporkan setiap gerakannya? Dengan mengkhianati kepercayaan sahabatnya sendiri?"
Dia berjalan ke arahku, menyodorkan pisau yang sama seperti kemarin.
"Dan sekarang," katanya, "Dia punya informasi tentang rencana ayahmu, tentang bagaimana dia akan mencoba menyelamatkanmu."
Dia menatapku dengan tatapan yang tidak memberi ruang untuk menolak.
"Dan kau akan mendapatkan informasi itu," lanjutnya. "Seperti kemarin, tapi kali ini lebih personal. Kali ini akan lebih sulit, dan itu yang membuatnya jadi ujian yang sempurna."
Aku mundur, dan menggeleng.
"Tidak, Sarah sahabatku. Kumohon jangan paksa aku untuk..."
"KAU AKAN MELAKUKANNYA!" teriak Damian, suaranya menggelegar di ruangan itu.
Lalu dia menarik napas, dan mencoba menenangkan diri.
"Atau," katanya lebih pelan tapi lebih berbahaya, "Aku akan membunuh dia perlahan di depanmu, sangat perlahan. Dan itu akan sangat menyakitkan, dan kau akan menonton setiap detiknya."
Sarah mulai menangis lebih keras. "Alexa kumohon, kumohon jangan lakukan itu."
Aku menatap pistol di pinggang Damian, lalu menatap pisau di tangannya, dan beralih menatap Sarah yang terikat di kursi.
Tidak ada jalan keluar, dan tidak ada pilihan. Hanya neraka atau neraka yang lebih buruk. Dengan tangan gemetar, aku mengambil pisau.
"Maafkan aku," bisikku pada Sarah. "Maafkan aku, Sarah."
"Alexa jangan!" teriak Sarah. "Kumohon, kau bukan seperti ini! Kau bukan..."
Tapi aku sudah berubah, sudah menjadi sesuatu yang lain. Aku melangkah maju, pisau di tanganku gemetar hebat.
"Aku tidak punya pilihan," bisikku, air mata mengalir di pipiku. "Aku tidak punya pilihan lagi."
"SELALU ADA PILIHAN!" teriak Sarah. "SELALU!"
Tapi dia salah, di dunia Damian tidak ada pilihan, yang ada hanya ilusi pilihan. Aku meletakkan pisau di lengannya, dan Sarah mulai menjerit.
"KUMOHON ALEXA! INGAT KE PERPUSTAKAAN! INGAT KITA TERTAWA BERSAMA! INGAT JANJI KITA!"
Janji. Kami pernah berjanji akan selalu menjaga satu sama lain, selalu ada satu untuk yang lain.
Tapi janji itu dibuat oleh gadis yang sudah mati, gadis yang belum tahu apa itu kegelapan. Pisau bergerak, lalu memotong dan Sarah kembali menjerit.
"DIMANA RENCANA AYAHKU?" tanyaku dengan suara yang tidak kukenali. Dingin. Kosong.
"A-AKU TIDAK TAHU." jawab Sarah sambil menangis. "DIA TIDAK CERITA DETAIL PADAKU."
"Potong lagi," perintah Damian dari belakangku. "Potong lebih dalam."
Dan aku melakukannya lagi, Sarah terus berteriak dan menangis, bahkan dia terus memohon. Tapi aku tidak berhenti, sampai akhirnya dia berbicara.
"Besok," katanya dengan napas terengah. "Besok pagi, ketika Damian pergi ke markas palsu. Marco akan membantu kau untuk kabur."
Damian tersenyum. "Marco, tentu saja dia."
Dia mengambil ponselnya, lalu mengetik sesuatu dan mengirim pesan.
"Marco akan ditangani," katanya. "Terima kasih atas informasinya, Sarah."
Lalu dia menatapku. "Sekarang, akhiri semuanya," perintahnya.
"Apa?" bisikku.
"Akhiri penderitaannya," ulang Damian sambil menyodorkan pistol. "Dia sudah tidak berguna lagi. Lebih baik dibunuh dari pada dibiarkan menderita."
Aku menatap pistol itu, lalu menatap Sarah yang sudah berlumuran darah. Darah yang di ciptakan atas perbuatanku.
"Alexa," bisik Sarah. Suaranya lemah. "Kalau kau masih punya hati, akhiri ini. Kumohon."
Air mata mengalir lebih deras di pipiku.
"Maafkan aku," bisikku. "Untuk segalanya, untuk semua pengkhianatan ini."
Aku mengambil pistol, mengangkatnya dengan tangan yang gemetar hebat. Membidik kepala Sarah, dan dia menutup matanya dengan masih menangis.
"Tidak apa-apa," bisiknya. "Aku memaafkanmu."
Kata-kata terakhir itu menghancurkan sisa jiwaku, tapi jari tetap menekan pelatuk.
DUAR!
Tembakan menggelegar, Sarah terhentak dengan kepala yang terkulai, dan dia tidak bergerak lagi.
Aku telah membunuhnya, aku membunuh sahabat masa kecilku, dengan tanganku sendiri.
Pistol jatuh dari tanganku, aku jatuh berlutut dan muntah. Tidak ada yang keluar kecuali cairan empedu, tapi tubuh terus bereaksi.
Damian berjongkok di sampingku, lalu memelukku dari belakang.
"Kau sempurna," bisiknya. "Benar-benar sempurna. Kau sudah melampaui semua yang kubayangkan."
Tapi aku tidak mendengar pujiannya, aku hanya mendengar tembakan itu berulang-ulang di kepalaku.
Aku hanya melihat wajah Sarah, tatapan terakhirnya, bahkan kata-kata terakhirnya.
"Aku memaafkanmu."
Tapi aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, tidak akan pernah bisa.
Aku sudah melampaui titik, di mana aku bisa kembali menjadi manusia normal. Sudah terlalu jauh tenggelam di kegelapan. Sudah menjadi monster, yang tidak bisa dibedakan lagi dari Damian.
Dan yang paling menakutkan, sebagian kecil diriku berbisik, bahwa ini lebih mudah menjadi monster, dari pada terus berjuang menjadi manusia.
Lebih mudah mati di dalam, dari pada terus merasakan sakit ini. Dan bisikan itu yang paling menghancurkan.
Karena itu, berarti aku menyerah sepenuhnya. Tidak ada lagi perlawanan, tidak ada lagi harapan. Hanya kekosongan dan kegelapan, dan juga darah di tanganku yang tidak akan pernah bisa dicuci.
Tapi di suatu tempat yang berada di pulau, Marco tergeletak dengan peluru di kepala. Dibunuh oleh orang Damian, setelah menerima pesan tadi. Dan rencana penyelamatan terakhir, telah mati bersamanya.
Ayah yang menonton dari kejauhan melalui teropong, dan melihat tubuh Marco dibuang ke laut. Dan dia berbisik dengan suara yang hancur.
"Maafkan ayah, Alexa. Ayah gagal lagi, dan sekarang ayah sudah kehilangan putri ayah untuk selamanya. Bukan karena kamu sudah mati, tapi karena kamu sudah menjadi seperti Damian. Dan itu jauh lebih buruk dari sebuah kematian."