Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKAD NIKAH.
Hari yang seharusnya penuh haru itu akhirnya tiba. Di sebuah mansion mewah milik keluarga Hasyim, sebuah tenda dekorasi minimalis namun elegan telah berdiri. Suasana sangat kontras: keluarga besar Hasyim tampak tegang seperti sedang menghadiri pemakaman, sementara beberapa tamu undangan menatap iba pada sosok gadis kecil yang duduk di sudut ruangan dengan kebaya putih yang nampak terlalu dewasa untuk usianya.
Nayla Safira Hanin. Di mata para tamu, dia adalah domba kurban. Seorang siswi SMA yang masa depannya direnggut demi menebus dosa ayahnya. Mereka membayangkan Nayla akan datang dengan mata sembab, hidung merah karena flu emosional, dan mungkin pingsan saat menjabat tangan penghulu.
Namun, dugaan mereka meleset total.
"Duh, ini sanggul apa antena parabola sih? Berat amat, berasa bawa beban hidup se-kecamatan di atas kepala," gerutu Nayla pelan sambil mencoba menyeimbangkan kepalanya yang terbungkus hijab di depan cermin besar kamar rias.
"Nayla, jaga sikapmu. Ini hari pernikahanmu," bisik Hartati yang masuk ke kamar dengan wajah kaku.
Nayla menoleh, lalu menyeringai tengil. "Tenang, Tante, eh, Mama Mertua. Saya cuma lagi pemanasan leher. Biar nanti pas nunduk minta restu nggak kena saraf kejepit. Kan nggak lucu kalau pengantinnya stuck posisinya kayak ruku' terus."
Hartati hanya bisa mengelus dada, bertanya-tanya apakah ia baru saja membawa menantu atau justru bibit penyakit darah tinggi ke rumahnya.
Di ruang utama, Adnan Hasyim duduk di depan meja akad dengan wajah yang lebih datar dari papan cucian. Baginya, pernikahan ini hanyalah transaksi bisnis untuk membahagiakan orang tuanya dan memberikan pengasuh "premium" bagi Adiva. Ia sudah menyiapkan mental untuk melihat pengantin wanita yang menangis tersedu-sedu atau mungkin menatapnya dengan penuh kebencian.
"Pengantin wanita dipersilakan memasuki ruangan," ucap pembawa acara dengan nada khidmat.
Pintu terbuka. Nayla melangkah perlahan. Tapi bukannya berjalan dengan langkah gemulai ala putri keraton, ia berjalan dengan langkah yang sedikit terlalu tegap, hampir seperti tentara yang sedang pawai, efek dari kebiasaannya memakai sepatu kets daripada hak tinggi sepuluh senti yang kini menyiksa kakinya.
Begitu sampai di samping Adnan, Nayla tidak langsung duduk. Ia justru berhenti sejenak, memiringkan kepalanya, dan memindai wajah Adnan dari jarak yang sangat dekat.
"Wah..." gumam Nayla. Suaranya tidak pelan, bahkan cukup jelas tertangkap mikrofon yang sudah menyala di depan penghulu.
Adnan mengernyit, melirik tajam lewat sudut matanya. "Apa?" desisnya dingin.
Nayla bukannya takut, malah nyengir lebar sampai gigi gingsulnya terlihat. "Aslinya Bapak ganteng juga ya? Di foto kemarin kayaknya agak kusem, apa Bapak kurang tidur karena mikirin cicilan atau mikirin saya?"
Gerrr!
Suasana yang tadinya senyap seperti kuburan langsung pecah oleh tawa tertahan dari para undangan. Ayah Nayla, Ibram, yang tadinya sudah menyiapkan tisu untuk menangis, malah jadi bengong memegangi hidungnya.
"Nayla! Jaga bicara kamu!" bisik Hendra Hasyim dari barisan depan, mukanya merah padam antara malu dan ingin tertawa.
"Eh, maaf, Pak Mertua. Habisnya, Pak Adnan ini serius banget mukanya, kayak lagi mau baca teks proklamasi. Santai dong, Pak. Saya nggak bakal gigit kok, paling cuma saya banting kalau Bapak nakal," sahut Nayla tanpa dosa sambil akhirnya duduk bersila dengan gaya yang tetap saja kurang anggun.
Adnan menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesabarannya yang mulai terkikis bahkan sebelum ijab qobul dimulai. "Bisa kita mulai sekarang?" tanya Adnan pada penghulu dengan suara sedingin es.
"B-bisa, Pak," jawab penghulu yang sejak tadi berusaha menahan senyum.
Prosesi dimulai. Saat Adnan menjabat tangan Ibram Hanin dan mengucapkan kalimat ijab qobul dengan satu tarikan napas yang sangat tegas dan lancar, suasana sempat kembali haru. Namun, ketenangan itu hanya bertahan lima detik.
"Gimana, para saksi? Sah?" tanya penghulu.
"Sah! Sah banget! Mana maharnya? Mau saya cek dulu asli apa nggak emasnya," celetuk Nayla semangat.
Setelah acara doa selesai, tibalah saatnya prosesi sungkeman dan mencium tangan suami. Adnan berdiri, tubuhnya yang tinggi tegap membuat Nayla yang mungil harus mendongak jauh ke atas.
Adnan mengulurkan tangannya dengan kaku, menunggu Nayla mencium punggung tangannya sebagai tanda bakti. Nayla meraih tangan itu, tapi bukannya langsung menciumnya, ia malah mengamati telapak tangan Adnan.
"Wah.. Garis tangannya bagus, Pak. Tapi kok kayaknya Bapak jarang kerja keras ya? Tangannya halus banget, beda sama tangan saya yang banyak kapalan gara-gara sering gelantungan di pagar sekolah," ujar Nayla sambil membolak-balik tangan Adnan seperti sedang melihat barang dagangan di pasar loak.
"Cepat cium tangan saya, atau saya batalkan maharnya sekarang juga," ancam Adnan dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh Nayla.
Nayla langsung sigap mencium tangan Adnan dengan khidmat, selama dua detik, ebelum kemudian ia membisikkan sesuatu yang membuat Adnan hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Tenang, Pak Suami. Mulai hari ini, keselamatan Bapak aman di tangan saya. Kalau ada pelakor atau musuh bisnis yang macam-macam, kasih tahu saya. Biar saya flying kick ginjalnya sampai pindah ke lambung."
Adnan hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. Ia merasa bukan sedang menikahi seorang istri, melainkan sedang menyewa jasa pengawal pribadi yang memiliki gangguan mental ringan.
Saat mereka harus berdiri berdampingan untuk sesi foto, seorang fotografer memberikan instruksi. "Ayo, Mas Adnan, rangkul pinggang Mbak Nayla. Mbak Nayla, sandarkan kepalanya di bahu Mas Adnan ya. Biar kelihatan mesra."
Adnan dengan enggan melingkarkan tangannya di pinggang Nayla. Saat tangan besar itu menyentuh pinggangnya, Nayla refleks melakukan gerakan bela diri; ia menangkap pergelangan tangan Adnan dan hampir memutarnya ke belakang (teknik wrist lock).
"Aduh! Apa yang kamu lakukan?!" pekik Adnan tertahan.
Nayla tersentak dan langsung melepaskan cengkeramannya. "Aduh, maaf, Pak! Refleks! Habisnya Anda pegang-pegang tanpa aba-aba, saya kira tadi ada copet mau ambil dompet saya di balik kebaya."
Para tamu kembali tertawa terpingkal-pingkal melihat Adnan yang mengelus pergelangan tangannya dengan wajah dongkol, sementara Nayla hanya nyengir tanpa dosa sambil merapikan kembali posisi fotonya.
Di sudut ruangan, Adiva kecil memperhatikan pemandangan itu. Untuk pertama kalinya dalam satu tahun, mata bocah itu tidak memancarkan ketakutan. Ada rasa penasaran yang besar saat melihat "ibu baru"-nya yang aneh, tengil, dan sangat berisik itu.
Nayla melihat Adiva. Ia mengedipkan satu matanya ke arah bocah itu sambil memberikan kode "V" dengan jarinya. "Sabar ya, Cil. Nanti kita bikin rumah ini kayak arena sirkus," bisik Nayla dalam hati dengan semangat yang tak kunjung padam.
Pesta memang belum berakhir, tapi bagi Adnan Hasyim, ini adalah awal dari hari-hari paling berisik dan penuh kejutan dalam hidupnya yang selama ini sunyi. Sedangkan bagi Nayla, ini hanyalah babak baru dari pertarungannya: Menaklukkan hati duda dingin dan menjaga rahasia dibalik hijabnya, satu tendangan dalam satu waktu.
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥