NovelToon NovelToon
ABU DARI SIKLUS ABADI

ABU DARI SIKLUS ABADI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Romansa Fantasi / Action / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 20 - INTI MANA

Ash terbangun bukan karena alarm atau siraman air dingin, tapi karena ketukan halus di pintu kamarnya.

Tok tok tok.

Dia membuka mata, bingung sebentar, lalu ingat di mana dia berada. Lunaria. Istana. Kamar tamu.

"Masuk," ucapnya sambil duduk dan mengusap wajah.

Pintu terbuka. Lyra masuk dengan nampan kecil berisi roti, keju, dan segelas susu.

"Sarapan," ucapnya sambil meletakkan nampan di meja. "Kau punya waktu dua puluh menit. Setelah itu kita ke ruang latihan."

Ash melirik ke jendela. Matahari baru saja terbit, langit masih berwarna oranye kemerahan. "Ini... masih pagi sekali."

"Yang Mulia tidak suka membuang waktu. Dan kau juga seharusnya tidak." Lyra berbalik ke pintu. "Dua puluh menit. Jangan terlambat."

Dia keluar dan menutup pintu.

Ash menghela napas, lalu bangkit dari kasur. Tubuhnya masih pegal dari perjalanan kemarin, tapi regenerasinya sudah membuat sebagian besar luka kecil hilang.

Dia makan dengan cepat, lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah disiapkan di lemari. Sebuah tunik sederhana berwarna putih dan celana panjang hitam. Nyaman untuk bergerak.

Tepat dua puluh menit kemudian, ketukan di pintu terdengar lagi.

Ash membuka pintu. Lyra sudah berdiri di sana dengan ekspresi datar.

"Bagus. Kau tepat waktu." Dia berbalik. "Ikuti aku."

Mereka berjalan melewati koridor, turun tangga, lalu keluar ke halaman belakang istana yang Ash belum lihat kemarin.

Halaman itu luas, dengan rumput hijau yang rata dan di tengahnya ada sebuah paviliun terbuka dengan pilar-pilar marmer putih. Di dalam paviliun itu, Violet sudah menunggu, berdiri dengan tangan dilipat di belakang punggung, menatap ke arah taman.

Lyra berhenti di pinggir halaman. "Aku tunggu di sini. Jangan buat Yang Mulia menunggu."

Ash berjalan mendekat ke paviliun. Begitu kakinya menginjak lantai marmer, dia merasakan sesuatu. Seperti... tekanan lembut. Tidak menyakitkan, tapi ada.

"Itu barrier latihan," ucap Violet tanpa menoleh. "Aku pasang setiap kali akan latih seseorang. Mencegah energi bocor keluar dan mengganggu orang lain."

Ash melangkah masuk sepenuhnya. Barrier itu seperti dinding tak terlihat yang menutup begitu dia masuk.

Violet akhirnya berbalik dan menatapnya. "Tidur nyenyak?"

"Cukup nyenyak."

"Bagus. Karena mulai sekarang, tidur nyenyak akan jadi kemewahan." Violet berjalan ke tengah paviliun dan duduk bersila di lantai marmer. "Duduk di hadapanku."

Ash menurut, duduk bersila dengan posisi yang agak canggung karena tidak terbiasa.

Violet mengamati postur tubuhnya dan menggeleng. "Luruskan punggungmu. Tangan di atas lutut. Mata menatap mataku."

Ash memperbaiki posisinya. Punggung lurus, tangan di lutut, mata menatap Violet.

"Pelajaran pertama," ucap Violet dengan suara tenang tapi tegas. "Sebelum kau bisa kontrol kekuatan apapun, kau harus tahu perbedaan antara mana biasa dan energi Uroboros dalam tubuhmu."

"Bukannya itu... sama?"

"Tidak." Violet mengangkat tangannya, dan sebuah bola cahaya ungu kecil muncul di telapaknya. "Ini adalah mana. Energi alam yang bisa digunakan siapa saja yang punya kapasitas dan latihan. Mana netral. Tidak punya kehendak sendiri."

Bola cahaya itu padam.

"Energi Uroboros berbeda. Itu bukan mana biasa. Itu adalah esensi dari mahluk kosmik. Energi yang punya jejak kesadaran di dalamnya. Dan karena itu, energi itu bisa mempengaruhi cara berpikirmu kalau kau tidak hati-hati."

Ash mengangguk pelan, mulai mengerti.

"Jadi hari ini, kita akan fokus pada satu hal: membuat kau bisa merasakan perbedaan keduanya." Violet menatapnya tajam. "Tutup matamu."

Ash menutup mata.

"Tarik napas dalam. Pelan. Rasakan udara masuk ke paru parumu."

Ash menarik napas dalam. Udara pagi yang sejuk mengisi paru parunya.

"Hembuskan. Pelan."

Dia menghembuskan napas.

"Lagi. Fokus hanya pada napasmu. Biarkan pikiran lain hilang."

Ash mencoba. Tapi pikirannya terus melayang. Ke Nightshade. Ke Razen yang hampir mati. Ke Eveline yang terluka. Ke wajah Vera sebelum dia melemparnya ke dinding.

"Kau tidak fokus," ucap Violet. "Aku bisa lihat dari napasmu yang tidak teratur."

"Maaf. Aku... aku terus ingat hal-hal yang terjadi."

"Itu normal. Tapi kau harus belajar melepaskan. Setidaknya untuk sementara." Violet berdiri dan berjalan mengelilinginya. "Coba lagi. Kali ini, bayangkan semua pikiran itu seperti daun yang jatuh ke sungai. Biarkan mereka hanyut. Jangan pegang."

Ash mencoba lagi. Menarik napas. Membayangkan pikiran pikiran itu sebagai daun. Membiarkan mereka hanyut.

Perlahan, sangat perlahan, pikirannya mulai tenang.

"Bagus," puji Violet. "Sekarang, tanpa membuka mata, coba rasakan tubuhmu dari dalam. Mulai dari ujung jari kaki. Naik perlahan."

Ash mengikuti instruksi. Dia merasakan ujung jari kakinya. Lalu betis. Lutut. Paha. Perut. Dada.

Dan di dada, dia merasakannya.

Dua titik panas.

Satu di tengah dadanya. Titik emas yang familiar. Uroboros.

Tapi ada satu lagi. Lebih kecil. Lebih redup. Titik yang berwarna... biru? Atau hijau? Sulit dijelaskan. Tapi itu ada.

"Aku... aku merasakan dua titik," ucap Ash dengan mata masih tertutup.

"Jelaskan."

"Satu emas. Besar. Itu Uroboros. Yang satu lagi... lebih kecil. Warnanya... tidak jelas. Tapi terasa berbeda."

"Itu mana alami yang ada di setiap mahluk hidup." Violet terdengar puas. "Bagus. Kau lebih sensitif dari yang kukira."

Ash membuka mata. "Jadi semua orang punya dua titik itu, lalu mengapa saat tes di guild mereka bilang aku tak punya mana sama sekali?"

"Sederhananya orang biasa hanya punya satu. Mana alami. Kau punya dua karena Uroboros. Dan karna besarnya energi Uroboros itu yang membuat manamu tak dapat di deteksi." Violet duduk kembali di hadapannya. "Dan sekarang, kau akan belajar menarik mana alami itu tanpa menyentuh energi Uroboros."

"Bagaimana caranya?"

"Dengan fokus hanya pada titik kecil itu. Abaikan yang emas." Violet mengulurkan tangannya. "Tutup matamu lagi. Fokus pada titik kecil. Bayangkan kau menarik seutas benang halus dari titik itu. Sangat pelan. Sangat hati hati."

Ash menutup mata dan mencoba.

Dia merasakan titik kecil itu. Mencoba menarik benang dari sana.

Tapi yang terjadi, dia malah menarik dari titik emas.

Panas meledak di dadanya.

Mata Ash terbuka paksa, matanya berkilat emas sebentar sebelum dia menarik napas dan memutus koneksi.

"Salah," ucap Violet. "Kau menarik dari Uroboros."

"Aku tidak sengaja! Titik emas itu... lebih kuat. Lebih mudah dijangkau."

"Tentu saja. Karena itu sumber kekuatan yang jauh lebih besar." Violet berdiri dan berjalan ke belakangnya. "Tapi itulah masalahnya. Kalau kau selalu ambil jalan yang mudah, kau tidak akan pernah belajar kontrol."

Dia meletakkan tangannya di pundak Ash dari belakang. "Coba lagi. Kali ini, aku akan bantu."

Ash menutup mata lagi.

Violet mulai mengucapkan mantra halus dalam bahasa yang tidak Ash mengerti. Dan tiba-tiba, dia merasakan sesuatu.

Titik emas di dadanya... terpisah. Seperti ada dinding tipis yang muncul di antara mana alami dan Uroboros.

"Ini sihir pemisah sementara," jelas Violet. "Aku membuat barrier antara mana alami dan energi Uroboros. Ini hanya bertahan beberapa menit, jadi manfaatkan."

Dengan barrier itu, Ash bisa merasakan titik kecil yang lain dengan lebih jelas. Titik mana alami.

Dia menarik. Perlahan. Seperti menarik benang sutra yang rapuh.

Dan untuk pertama kalinya, dia merasakan sesuatu yang berbeda.

Hangat. Tapi bukan panas yang membakar seperti Uroboros. Ini hangat yang lembut. Menenangkan. Jika energi Uroboros adalah lava yang meldak, maka mana alami seperti sinar hangat di pagi hari.

"Aku... aku merasakannya," bisik Ash.

"Bagus. Sekarang bawa ke telapak tanganmu. Pelan."

Ash membayangkan benang itu mengalir dari dada ke lengannya, turun ke tangan, ke telapak.

Cahaya kecil mulai muncul di telapak tangannya. Bukan emas. Tapi biru muda yang lembut.

Ash membuka mata dan melihatnya. Cahaya itu kecil, bergetar, tidak stabil. Tapi itu ada.

"Aku... aku melakukannya," ucapnya dengan napas terengah.

"Ya. Untuk pertama kali." Violet melepaskan tangannya dari pundak Ash. Barrier di dadanya perlahan memudar, dan titik emas Uroboros kembali terasa jelas.

Cahaya biru di tangan Ash langsung padam.

Dia mencoba menariknya lagi, tapi yang keluar adalah panas emas.

"Sial," gerutunya.

"Itu sudah bagus untuk hari pertama." Violet duduk kembali. "Kebanyakan orang butuh seminggu untuk bisa merasakan mana mereka sendiri. Kau melakukannya dalam satu jam."

"Tapi aku tidak bisa tanpa bantuanmu."

"Belum. Tapi kau akan bisa. Dengan latihan." Violet berdiri. "Kita istirahat sepuluh menit. Lalu kita lanjutkan."

Ash mengangguk, tubuhnya sudah lelah meski dia hanya duduk dan berkonsentrasi.

Ternyata latihan mental jauh lebih melelahkan daripada latihan fisik.

---

Satu jam kemudian, Ash sudah tergeletak di lantai paviliun dengan napas terengah.

"Aku... tidak kuat lagi...," erangnya.

Violet berdiri di sampingnya dengan ekspresi tanpa belas kasih. "Kau sudah berhasil menarik mana alami tiga kali. Itu kemajuan. Tapi masih jauh dari cukup."

"Kepalaku... pusing..."

"Karena kau memaksa otakmu bekerja dengan cara yang belum terbiasa. Itu normal." Violet mengulurkan tangannya. "Bangun. Kita belum selesai."

"Belum?!"

"Aku bilang latihan dimulai pagi ini. Bukan hanya satu jam." Violet menatapnya. "Tapi kita ganti materi. Sekarang aku akan ajarkan kau teori dasar elemen sihir."

Ash meraih tangan Violet dan ditarik berdiri. Kakinya sedikit goyah.

Violet mengeluarkan sebuah buku kecil dari jubahnya dan memberikannya ke Ash. "Baca ini. Halaman satu sampai sepuluh. Aku akan tanya nanti."

Ash membuka buku itu. Judulnya.

*Dasar Dasar Manipulasi Elemen untuk Pemula*.

"Aku harus baca sekarang?"

"Ya. Di sini. Sambil duduk." Violet duduk kembali di lantai marmer. "Aku akan meditasi. Kau baca. Jangan ganggu aku kecuali ada yang tidak kau mengerti."

Ash duduk dengan buku di pangkuan dan mulai membaca.

Buku itu menjelaskan tentang bagaimana mana bisa dibentuk menjadi elemen dasar. Api, air, tanah, angin. Bagaimana setiap elemen punya karakteristik dan cara manipulasi yang berbeda. Bagaimana seseorang biasanya punya affinitas alami ke satu atau dua elemen.

Ash membaca dengan serius, mencoba menyerap semua informasi.

Waktu berlalu tanpa terasa.

Saat dia mengangkat kepala, matahari sudah tinggi di langit.

Violet membuka mata. "Sudah selesai?"

"Sampai halaman sepuluh."

"Bagus. Sekarang tutup bukumu dan jelaskan perbedaan antara manipulasi api dan manipulasi air."

Ash menutup buku dan mencoba mengingat. "Api adalah elemen yang... agresif dan membutuhkan emosi kuat untuk dinyalakan. Air adalah elemen yang... tenang dan butuh kontrol halus untuk dibentuk."

"Benar. Lanjutkan."

"Api akan padam kalau tidak diberi bahan bakar terus menerus. Air bisa bertahan lebih lama tapi mudah terpengaruh oleh energi luar."

Violet mengangguk. "Bagus. Kau belajar cepat kalau mau serius."

"Jadi... aku akan belajar sihir elemen?"

"Bukan sekarang. Tapi nanti, setelah kau bisa kontrol mana dasarmu dengan stabil." Violet berdiri. "Untuk hari ini, cukup. Besok kita lanjutkan."

Ash merasa lega sekaligus kecewa. Lega karena latihannya selesai. Kecewa karena merasa baru mulai mengerti.

"Yang Mulia," panggil Ash sebelum Violet pergi.

Violet menoleh. "Ya?"

"Terima kasih. Untuk... untuk percaya aku bisa."

Violet tersenyum tipis. "Aku tidak percaya karena aku tahu kau bisa. Aku percaya karena aku lihat kau mau berusaha. Dan itu lebih penting."

Dia berjalan keluar dari paviliun, barrier latihan menghilang.

Lyra yang sejak tadi menunggu di pinggir halaman mendekat. "Latihan selesai?"

"Ya," jawab Ash sambil berdiri dengan kaki yang masih sedikit goyah.

"Bagus. Sekarang aku antar kau ke ruang makan. Kau harus makan siang. Sore nanti, ada yang ingin bertemu denganmu."

"Siapa?"

Lyra menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Seseorang yang... akan membuat latihanmu dengan Yang Mulia terasa seperti piknik santai."

Ash merasakan punggungnya merinding.

Morgana.

Tentu saja.

Dia sudah bilang akan datang.

Dan Ash tahu, 'bermain' dengan Morgana tidak akan semenyenangkan latihan dengan Violet.

Tidak sama sekali.

1
anak panda
lantorrr thorrrr
anak panda
🔥🔥🔥
Varss V
Di usahakan secepat, dan sebanyaknya ka, kalo suka tolong kasih rating dan like nya ya🙏
anak panda
upp torre
Varss V
oke, makasih
anggita
ikut ng👍like aja, iklan👆.
anak panda
semangat torr
Varss V: Makasih ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!