NovelToon NovelToon
My Cruel Husband

My Cruel Husband

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:13.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Arzeerawrites

Di beli untuk dinikahi dan disakiti adalah jalan hidup seorang gadis cantik bernama Lovita. Di usianya yang masih remaja, Rumah bordil adalah tempatnya mengadu nasib. Uang sebanyak tiga milyar yang dibayarkan lelaki tampan itu untuk menikahinya semakin membuat Lovi merasa bahwa dunia ini kejam. Semua kesengsaraannya dimulai saat perusahaan Ayahnya bangkrut. ia bisa tinggal di rumah bordil dan menjadi budak Berry untuk mencari uang karena keegoisan ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembalinya hidup Devan

Ferro memasuki ruangan Devan. Dilihatnya lelaki itu sedang sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya.

Ferro mendekati Devan kemudian menyampaikan pesan dari Rena.

"Nyonya Rena mengatakan kalau Nona Elea sudah sadar, Tuan," ucap Ferro yang membuat Devan langsung bangkit. Ia menatap Ferro berusaha meyakinkan.

"Kenapa Mama tidak mengatakan langsung padaku?" tanya Devan.

Ferro menghela bahunya pertanda tidak tahu. Devan memeriksa ponselnya.

"Arghh sial! Ponselku mati," maki Devan.

Devan menatap Ferro kemudian berbicara dengan tegas.

"Aku akan meeting nanti. Tapi aku tidak bisa menghadirinya karena aku sangat merindukan Elea. Kamu harus menggantikanku dalam meeting itu,"

Diam-diam Ferro menggerutu dalam hatinya. Ia tidak habis pikir dengan Tuannya. Bagaimana bisa merindukan perempuan yang bukan istrinya? Terasa menggelikan.

'Inilah salah satu contoh pemuda yang bodoh,' pikirnya.

Devan sudah berjalan keluar dari kantornya. Ia sangat tergesa karena tidak sabar bertemu dengan pujaan hatinya. Setelah sekian lama tidak bertemu, rasa cintnya justru semakin membuncah.

"Bawa mobilnya lebih cepat, Ferro!!"

'Aku berharap kalau mobil ini menabrak sesuatu agar kepalamu dapat berfungsi dengan baik, Tuan. Seharusnya bukan Elea yang Tuan rindukan,"

********

"Aku merindukanmu, Devan," Suara halus dari perempuan yang selama ini menjadi belahan jiwa Devan terdengar menyapa lelaki gagah yang baru menginjakkan kakinya di mansion mewah itu.

Devan menatap Elea yang duduk di atas kursi rodanya dengan air mata tak terbendung. ia berjalan cepat lalu berlutut dihadapan wanita kesayangannya itu.

Devan meraih wajah pucat Elea, menatap tak percaya atas apa yang sedang dilihatnya saat ini. Elea nya telah kembali.

"Aku bahagia,"

Elea tersenyum dan meraih pundak Devan untuk di peluknya. Keduanya sama-sama menumpahkan tangis bahagia. setelah berbulan-bulan tak bertemu, akhirnya sekarang mereka bisa melepas rindu. Elea merasa bahwa ia baru saja terlahir di dunia ketika matanya terbuka tadi. ia merindukan dunia, ia merindukan lelaki pujaan hatinya.

"Aku sangat merindukanmu, Sayang."

Devan meraih kedua tangan Elea lalu menciumnya dengan penuh perasaan.

"Kamu tidak akan meninggalkanku lagi bukan?"

seketika Wajah Elea terlihat murung.

"Aku sudah tau semuanya. Kamu sudah menikah bukan?"

Devan membeku. tatapannya terkunci lalu menatap Elea dengan pandangan bersalahnya.

"Kamu mengetahuinya?"

"Ya, dan aku mengerti."

"Aku mohon itu jangan dijadikan alasan untuk kamu meninggalkan aku,"

"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tau kamu tidak mencintai perempuan itu?"

Devan mengangguk dengan pasti. Hal itu sontak saja membuat senyum puas terbit di bibir Elea. Sementara Ferro yang masih berada di sekitar Devan membuang wajahnya dengan senyum miring. Entahlah ia tidak menyukai kenyataan ini. Ia tidak menyukai Elea yang sudah sadar dari komanya.

"Hanya kamu yang aku cintai,"

Devan mengecup kening Elea lalu beranjak dari posisinya untuk mendorong kursi roda Elea ke kamarnya yang ada di Mansion Devan. dari dulu mereka sudah tinggal bersama.

"Kapan kamu akan mengakhiri semuanya?"

Devan menarik Tubuh Elea agar semakin dekat dengannya. lalu ia mengusap lengan elea.

"Secepatnya, Sayang,"

Elea mengangkat kepalanya sehingga beradu dengan dagu Devan. Devan tertawa lalu mengusap sayang kepala kekasihnya. Diakhiri dengan kecupan penuh kelembutan.

"Aku belum melihat istrimu,"

Rahang Devan mengeras saat mendengar Elea berbicara tentang istrinya. Apa maksud ucapan Elea? Ia saja sangat tidak ingin melihat keberadaan Lovi disekitarnya.

"Dia tidak tinggal disini,"

Elea mengerinyitkan dahinya bingung. menuntut penjelasan Devan.

"Dia tinggal di Paviliun,"

"Kenapa tidak tinggal disini?"

"Tidak pantas," Jawaban spontan Devan membuat Elea langsung menepuk tangan Devan yang sedang memeluk erat pinggangnya.

"Kamu sekejam itu?"

Devan tidak menjawab. Ia hanya menghela napas dan menggedikan bahunya acuh.

*********

"Cukup, Devan! leherku geli,"

Elea berusaha menghindari Devan yang tak henti mengecup lehernya. Elea sampai tertawa keras di kala Devan tidak terima dan berbalik menyerang perutnya dengan gelitikan.

"Sudah cukup! aku lelah," ucapnya dengan bibir mencebik. Melihat kekasihnya yang tampak serakah menghirup oksigen, Devan menghentikan kegiatan konyolnya. Ia tidak akan membiarkan gadis itu kelelahan.

"Aku ingin tidur,"

Devan mengusap kening Elea. Kemudian mengangguk serauya menjawab,

"Tidurlah, aku selalu di sampingmu."

Nada bicara Devan sangat lembut dan mengalun hingga Elea berhasil terpejam. Ia mulai memasuki alam mimpinya. Devan mengecup kening Elea sekilas.

"Selamat tidur, Sayangku,"

Devan tidak bisa ikut terpejam. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan lurus. Entah apa yang sedang memenuhi kepalanya.

Devan memindahkan kepala Elea ke bantal dengan hati-hati. Ia mengusap kening Elea sebentar lalu beranjak untuk ke dapur. Rasa haus menderanya.

Devan melihat Ferro yang memasuki mansion dengan tergopoh. Ia mengerinyit bingung.

"Ada apa Ferro?"

"Aku baru saja mengecek Paviliun. Nona Lovi berusaha menyakiti dirinya sendiri,Tuan,"

Devan mengangkat sebelah alisnya lalu menatap nyalang pada Ferro.

"Biarkan dia mati. Aku tidak peduli," Desis Devan penuh dengan penekanan disetiap kata yang di ucapkannya.

"Apa maksudmu mengatakan hal itu padaku?"

"Saya hanya menyampaikan apa yang harus saya sampaikan. bila itu mengganggu waktu Tuan, saya mohon maaf dan permisi,"

Usai pamit, Ferro langsung pergi dari hadapan Devan yang masih dengan raut mengerikannya.

Devan kembali memasuki kamar. Matanya menatap Elea yang masih tertidur pulas diatas ranjangnya lalu ia keluar dan menutup pintu kamar itu dengan pelan.

Devan tidak tau kenapa langkahnya mengarah ke Paviliun. Devan sadar sepenuhnya akan hal itu tapi entah mengapa ia tidak bisa berhenti memasuki Paviliun apalagi berbalik dan kembali menghabiskan waktunya dengan Elea.

*********

"Nona, Hentikan!!"

Devan bisa mendengar teriakan Netta dari luar kamar Lovi. Apa yang dilakukan ****** itu? sampai membuat suasana paviliun gempar.

Ketika Devan masuk, Ia melihat Lovi yang sedang menggunting asal rambutnya dan menggoreskan gunting itu di seluruh tubuhnya.

Devan tertawa membuat fokus Netta teralihkan. Sementara Lovi masih bergulat dengan kegiatannya. Bukannya khawatir, Ia justru bahagia melihat tingkah gila ****** kecilnya.

"Tuan..."

"Kamu bisa pergi, Netta!" titahnya yang membuat Netta menelan ludahnya kelu. Ia menunduk seraya mengusap air matanya lalu keluar dari kamar Lovi.

Sementara Lovi semakin menggila. Apa yang dilakukan Lovi benar-benar tidak dipercaya oleh Netta. Karena sebelumnya, Lovi masih terlihat baik-baik saja.

"Lakukan apapun yang membuatmu bahagia. Aku mengerti kalau hidupmu tidak pernah didatangi kebahagiaan. Bila memang hal itu bisa membuatmu bahagia, maka lakukan. Aku juga akan merasa bahagia,"

Lovi tidak peduli dengan lelaki yang dianggapnya brengsek itu. Yang ingin dia lakukan sekarang adalah membunuh dirinya sendiri.

Devan duduk di ranjang Lovi yang kecil. Ia akan menjadi penonton yang baik. Ia akan melihat seberapa jauh Lovi berani menyakiti dirinya sendiri. Devan berniat, di saat perempuan itu mulai lelah, maka Ia yang akan melanjutkan kegiatan Lovi tersebut.

Lovi berteriak puas ketika rambut panjangnya berubah menjadi sangat pendek dan berantakan. Ia puas, begitupun dengan Devan.

Ketika Lovi ingin membawa gunting itu untuk menusuk perutnya, Devan tersentak. Apa Lovi sudah segila itu?

Lelaki itu bangkit dan merampas gunting yang ada dalam genggaman Lovi. Ia menatap Lovi dengan tajam ketika Lovi berusaha mengambil alih benda yang tadi digunakannya.

"Kamu tidak boleh mati!!"

***********

Like&Comment nya boleh kaliii. Thankyou teman² hehehe

1
Ressa Shinta Silviani
udah bertahun2 lalu dr awal novel ini ada, udh berulang kali masih ga moveon sama ceritanya walaupun kadang ga kelar akhir tiap episodenya, revisi dan kembangin lagi dong novel ini thor
Tuzzy Tussy
top
Rita Dwi Utami
maaf semakin kesini semakin bingung dengan jalan ceritanya....jadi terpaksa berhenti....maaf ya kakak author.....tetep semangat menulis yaaa....💪💪💪
Rita Dwi Utami
sampai bab ini....aku masih bingung blm bisa menangkap jalan ceritanya......🤔🤔🤔
Ester Limbong
pasti istri devan hamil
Ester Limbong
tapi novel ini seakan-akan ceritanya tergesa-gesa...dan tidak nyambung.
Sorta Sibarani
vertigo aku baca Alur ceritanya
Sorta Sibarani
jadi malas bacanya
ceritanya kagak nyambung
lari sana lari sini
Sorta Sibarani
ceritanya amburadul
gak nyambung juga
biking pusing sy bacanya
🟢♨ˢᶜ༄⃞⃟⚡ˢ⍣⃟ₛ as⏤͟͟͞R¢ᖱ'D⃤
ceritanya bagus,banyak pelajarannya
ElHi
so far so good
🟢🐬 🦚 anfa asthee 🦚 🐬
🤣🤣🤣 matanya miring
Sha Annisa
top
Rhenii RA
Vanilla udah bisa liat lagi atau gimana? Jadi bingung, kok gam ada penjelasannya😑
Rhenii RA
Ceritanya loncat2 ya, belum selesai cerita yang ini udah diloncat ke itu🙄
Rhenii RA
Makin bingung sama latar waktunya, perasaan baru kemarin katanya Auristella umur 1 bulan😭
Rhenii RA
Usia 1 bulan kotor udah bisa lempar-lemparan boneka ya😆
Rhenii RA
Tuh kan, nggak ada penjelasan waktunya. Jadi bingung itu anaknya udah umur brapa perasaan baru kemarin dilahirin skrg udah disiapin makanan😵‍💫
Rhenii RA
Tolong aku yang tak mengeti ini 😭
Rhenii RA
Suami keparat kau Devan🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!