Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 Ketika Pilihan Menjadi Milik Bersama
Hujan turun sejak dini hari di Sukamaju, tidak deras, tetapi cukup lama untuk membuat tanah menjadi lebih gelap dan aroma lumpur menyebar ke seluruh penjuru desa. Alya terbangun sebelum subuh, bukan karena suara hujan, melainkan karena perasaan yang mengendap sejak kemarin sore—perasaan bahwa sesuatu sedang bergerak, perlahan namun pasti.
Ia bangkit dari tempat tidur, menyelimuti Satria yang masih terlelap, lalu keluar ke dapur. Api kompor dinyalakan kecil. Air dipanaskan. Aktivitas sederhana itu memberinya ruang untuk berpikir.
Proposal dari Dimas belum datang, tapi bayangannya sudah lebih dulu hadir. Bukan soal isi dokumen itu, melainkan tentang apa yang akan terjadi setelahnya. Sukamaju berada di persimpangan yang tidak kasat mata—bukan antara maju atau tertinggal, melainkan antara bertumbuh dengan sadar atau tumbuh karena dorongan luar.
Saat Alya membawa dua cangkir teh ke ruang depan, Sultan sudah duduk di sana, memandang hujan melalui jendela.
“Kamu juga terbangun lebih awal,” ujar Alya.
Sultan tersenyum kecil. “Aku memikirkan hal yang sama denganmu.”
Mereka tidak perlu menjelaskan apa pun. Keheningan di antara mereka penuh pemahaman.
### **Proposal yang Datang Bersama Pertanyaan**
Dua hari kemudian, mobil yang sama kembali memasuki desa. Kali ini, Dimas tidak datang sendiri. Ia membawa seorang perempuan berambut pendek bernama Clara, analis program, serta map tebal berisi proposal kerja sama.
Balai desa dipilih sebagai tempat pertemuan. Tidak ada spanduk, tidak ada sambutan resmi. Warga duduk melingkar, sebagian di kursi, sebagian di tikar.
Dimas membuka pembicaraan dengan bahasa yang rapi dan terukur. Ia menjelaskan potensi pasar, peningkatan produksi, pelatihan lanjutan, serta kemungkinan akses modal yang lebih besar. Kata-katanya terdengar menjanjikan.
Namun Alya memperhatikan hal-hal kecil—cara Dimas selalu kembali pada angka, grafik, dan target waktu. Tidak ada yang salah, tetapi ada sesuatu yang absen.
Ketika sesi tanya jawab dibuka, Bu Wening mengangkat tangan.
“Kalau kami tidak bisa memenuhi target dalam waktu yang ditentukan, apa yang terjadi?” tanyanya pelan.
Clara menjawab dengan senyum profesional. “Biasanya ada evaluasi. Bisa saja kerja sama dihentikan atau disesuaikan.”
Kata *dihentikan* bergema di ruangan.
Seorang pemuda lain bertanya, “Apakah kami masih bebas menentukan cara kerja kami?”
Dimas menjawab, “Tentu. Selama masih dalam kerangka efisiensi.”
Alya menangkap napas pendek. Kata itu lagi—efisiensi. Kata yang sering kali menjadi alasan untuk mengorbankan banyak hal yang tidak bisa diukur.
Percakapan yang Tidak Tercatat
Setelah presentasi selesai, Dimas pamit. Ia memberi waktu satu minggu bagi warga untuk berdiskusi sebelum mengambil keputusan.
Balai desa tidak langsung kosong. Justru setelah tamu pergi, percakapan sesungguhnya dimulai.
Pendapat warga terbelah. Ada yang melihat peluang besar—akses pasar, peningkatan pendapatan, perubahan hidup yang lebih cepat. Ada pula yang merasa khawatir—takut kehilangan kendali, takut tidak sanggup mengikuti ritme yang ditetapkan orang luar.
Alya tidak langsung bicara. Ia duduk, mendengarkan, mencatat dalam hati.
Seorang bapak paruh baya berkata, “Saya lelah hidup pas-pasan. Kalau ini jalan keluar, kenapa tidak dicoba?”
Yang lain menimpali, “Tapi jangan sampai kita hanya jadi pekerja di desa sendiri.”
Kata-kata itu menggantung, berat namun jujur.
### **Alya dan Beban yang Tidak Terlihat**
Malam itu, Alya tidak bisa langsung tidur. Ia membuka buku catatannya, namun tidak menulis apa pun. Tangannya ragu.
Ia menyadari satu hal yang mulai memberatkan—meski ia tidak lagi memimpin secara formal, pandangan warga sering kali tetap tertuju padanya. Diamnya Alya ditafsirkan. Sikapnya diperhatikan.
Ia takut jika keberadaannya justru mengaburkan pilihan kolektif.
“Apa aku harus menjauh?” tanyanya pelan pada Sultan, yang duduk di sampingnya.
Sultan menggeleng. “Bukan menjauh. Tapi jujur tentang posisimu.”
“Kepada mereka?”
“Dan kepada dirimu sendiri.”
### **Pertemuan Kedua: Kejujuran yang Diletakkan di Tengah**
Dua hari sebelum batas waktu keputusan, Alya mengajak warga berkumpul kembali. Kali ini, ia berbicara lebih awal.
“Saya ingin mengatakan satu hal,” ujarnya tenang. “Apa pun keputusan desa nanti, itu bukan keputusan saya. Saya punya pandangan, tapi saya tidak ingin pandangan itu menjadi tekanan.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Kalau kalian memilih kerja sama ini, saya akan membantu sebisa saya. Kalau kalian menolak, saya juga akan tetap di sini. Saya tidak datang untuk mengarahkan, tapi menemani.”
Kejujuran itu menciptakan ruang yang berbeda. Beberapa warga tampak lebih lega. Beberapa lain terlihat berpikir lebih dalam.
Ratna angkat bicara. “Aku ingin bertanya bukan pada proposal, tapi pada kita. Apakah kita siap tumbuh cepat? Atau kita ingin tumbuh pelan tapi bersama?”
Tidak ada jawaban langsung.
### **Pilihan yang Tidak Sama untuk Semua Orang**
Hari-hari berikutnya diisi diskusi kecil di rumah-rumah warga, di sawah, di warung kopi. Tidak semua sepakat. Ada yang berselisih pendapat, ada yang diam karena bingung.
Bu Wening mendatangi Alya suatu sore. “Kalau aku ikut program ini dan gagal, aku tidak ingin disalahkan.”
Alya menggenggam tangannya. “Gagal tidak sama dengan salah.”
Kalimat itu sederhana, tapi penting.
Sementara itu, Sultan melihat dampak lain. Beberapa warga mulai menyadari bahwa apa pun pilihan desa, tidak semua orang akan berada di posisi yang sama. Ada yang mungkin harus bekerja lebih keras. Ada yang mungkin tertinggal.
Pilihan kolektif tidak selalu adil bagi semua orang—dan kesadaran itu membuat keputusan semakin berat.
### **Hari Keputusan**
Hari ketujuh tiba. Balai desa kembali dipenuhi warga. Hujan tidak turun. Udara terasa berat.
Pak Lurah berdiri di tengah lingkaran. “Kita akan memutuskan bersama. Tidak harus bulat. Tapi harus jujur.”
Satu per satu warga menyampaikan sikapnya. Ada yang setuju, ada yang ragu, ada yang menolak. Tidak ada sorakan. Tidak ada emosi meledak. Hanya suara-suara yang membawa cerita hidup masing-masing.
Ketika giliran Alya, ia berkata singkat, “Apa pun yang kalian pilih hari ini, pastikan kalian masih bisa pulang ke rumah dengan perasaan utuh.”
Keputusan akhirnya tidak ekstrem. Desa Sukamaju memilih menerima kerja sama dengan syarat: skala kecil, tanpa target memaksa, dan evaluasi bersama setiap tiga bulan. Jika syarat itu tidak dihormati, kerja sama dihentikan.
Keputusan itu bukan kemenangan, bukan penolakan. Melainkan kompromi sadar.
### **Setelah Keputusan**
Saat balai desa mulai sepi, Alya duduk sendirian di anak tangga. Perasaannya campur aduk—lega, cemas, namun juga bangga.
Sultan duduk di sampingnya. “Kamu tidak terlihat seperti orang yang baru saja mengambil keputusan besar.”
Alya tersenyum kecil. “Karena ini bukan keputusanku.”
Ia memandang desa yang mulai gelap, lampu-lampu rumah menyala satu per satu.
“Aku belajar satu hal,” lanjutnya. “Kedewasaan bukan tentang memilih yang benar. Tapi tentang memberi ruang bagi pilihan yang berbeda.”
Sultan mengangguk. “Dan tetap tinggal.”
Alya menghela napas panjang. “Iya. Tetap tinggal.”
Malam itu, Sukamaju tidak berubah secara drastis. Tidak ada perayaan. Tidak ada rasa lega yang meledak-ledak. Namun ada sesuatu yang bergeser pelan—rasa memiliki atas arah sendiri.
Dan Alya tahu, perjalanan berikutnya tidak akan lebih mudah. Justru mungkin lebih rumit. Tapi kini, beban itu tidak lagi bertumpu pada satu pundak.
Ia telah belajar melepaskan kendali tanpa melepaskan kepedulian.
Dan di desa kecil yang memilih bertumbuh dengan sadar itu, Alya menemukan bentuk keberanian yang baru—keberanian untuk percaya pada proses, bahkan ketika hasilnya belum pasti.