JANGAN LUPA UNTUK SELALU MEMBERIKAN DUKUNGANNYA YA...!!!
Lin Yao seorang blogger makanan didunia modern Time Travel kenegeri kuno, menjadi seorang wanita muda miskin.
Berawal hanya dengan sebuah sendok, ia menghasilkan uang sepenuhnya melalui Hobby & kecerdasannya dalam makanan.
Lin Yao memanfaatkan keterampilan memasaknya untuk bisa bertahan bertahan hidup didunia yang baru ia pijaki.
Bukan cuma untuk dirinya seorang, tapi juga bagi keluarganya.
Bagaimana kah kisah perjalan Lin Yao diDunia kuno...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Mentari masih jauh terlelap diperaduan, ayam jantan pun enggan untuk menegakkan kepala. Namun Lin Shun dan Yao telah terjaga guna menyiapkan keperluan dagang.
Jika Yao membuat adonan, Shun mencuci daun palem, mengemas semua perkakas kekeranjang kayu.
Setelah mandi, kira-kira pukul lima pagi jika diabad modern, ketiga saudara pergi kepelabuhan.
Ketika mereka tiba didermaga, tempat itu sudah ramai karena memang aktifitas disana terjadi selama dua puluh empat jam jika cuaca cerah.
Namun berbeda kalau musim dingin tiba, aktifitas disemua wilayah dibatasi. Kecuali daerah yang tidak dituruni salju.
Para buruh kasar membongkar muatan berteriak keras memberi aba-aba.
Pedagang kaki lima giat mendirikan tenda.
Pemilik kedai dengan antusias menjajakan prodak buatan mereka yang telah matang tersaji.
Kapal dan perahu berlayar disungai, percikan airnya berkilauan dibawah remang cahaya pagi.
Bibi Lie melambaikan tangan menyambut kedatangan tiga saudara. Kemarin lalu wanita itu bisa menjual dagangannya habis lebih awal dari biasanya, semua berkat pelanggan panekuk kucai telur.
"Akhirnya kalian datang" ujar bibi Lie "aku kemarin tidak melihat kalian, aku pikir kalian tidak berdagang lagi."
Tiga saudara berjalan mendekat, menyapa ramah membungkukkan badan.
"Ada sesuatu yang terjadi dirumah, oleh sebab itu kami tidak bisa mendirikan lapak." balas Lin Yao.
Tiga saudara menyapa pedagang lain, lalu mendirikan kios bersama.
Jika Shun mendirikan tenda, Song menyalakan api dikompor anglo. Maka Yao menata meja kemudian memanaskan wajan.
Setelah mencapai suhu yang tepat, adonan pancake bawang yang pertama kali Yao goreng. Setelah mendapat lima buah ganti varian kucai telur.
Aroma kelezatan yang familiar langsung tercium, mengundang para pelanggan yang tempo hari membeli.
Lin Yao mendongak, ia mengenali pelanggan pertamanya.
Pria itu menggosok-gosok tangan dengan lidah yang menjilat bibir berulang kali "Nona, berikan aku satu panekuk kucai telur."
Lin Shun segera membungkusnya "tuan, kami juga menjual panekuk bawang telur hari ini. Rasanya tak kalah enak, apakah kau mau mencobanya..?"
Mata pelanggan itu berbinar "oh, rasa baru..?"
Lin Shun mengangguk.
"Oke, berikan aku satu." pelanggan itu membayar lalu membawa panekuk kekedai Bibi Lie dan memesan semangkuk bubur panas.
"Apakah agen pengawalan sibuk akhir-akhir ini tuan Wu?" tanya Bibi Lie akrab sembari menyajikan bubur.
"Ya, aku mendapat pekerjaan besar kemarin dan kami akan berangkat besok," jawab tuan Wu, ketua guild pedang naga.
Ketua Wu membuka bungkus pancake diatas meja. Uap tipis beraroma gurih mengepul lembut, membawa jejak kenikmatan yang kaya akan rasa.
Lapisan luar yang renyah retak diantara gigi begitu ia menggigitnya. Semua rasa membaur balance dimulut.
"Hei, ini rasanya bahkan lebih enak dari pada kedai pancake Qian dikota..!" seru tak kuasa tuan Wu.
Teriakannya menarik perhatian banyak pengunjung didekatnya.
Beberapa pengawal dibawah asuhan tuan Wu yang baru saja menyelesaikan tugas, melewati jalur itu guna mencari sarapan. Ketika mendengar suara yang familiar, mereka sontak saja menoleh.
Salah satu pengawal muda terkekeh lalu menggoda, "Ketua, apa yang begitu enak sampai kau mengeluarkan liurmu..?"
Tuan Wu menelan bubur dan panekuk sembari menunjuk antusias lapak Lin bersaudara.
"Sana beli panekuk bawang, lalu kemari. Makan dengan semangkuk bubur panas ini, wah rasanya sangat nikmat."
"Benarkah..?"
Ketua Wu mengangguk "pergilah memesan, nanti aku yang membayar jika kau tidak percaya."
Tanpa buang waktu, anggota guild itu gegas bergeser kelapak Lin bersaudara. Ia memesan dua pancake untuk masing-masing rasa, begitu juga dengan kelima temannya.
Lin Shun dengan penuh antusias mengemas panekuk pesanan pelanggannya itu.
Lin Song menghitung uang yang diterima dengan tersenyum lebar hingga matanya membentuk garis halus.
Begitu para pengawal pergi, pria dibelakang mereka melangkah maju. "Senang sekali kembali melihat kalian. Aku membeli panekuk kemarin lalu, rasanya sangat enak."
"Salam tuan, terimakasih untuk kata-kata baiknya." kata Shun menundukkan kepala.
"Kemarin aku kemari, tapi kalian tidak ada. Sekarang berikan aku dua panekuk untuk masing-masing varian."
"Baik tuan..!"
Enam wen diterima Lin Song.
Lin Yao yang mendengar perkataan pria paruhbaya itu amat senang. Tak menyangka jika kemarin banyak dari pembeli sebelumnya datang mencari.
"Kemarin kami ada urusan keluarga, jadi tidak bisa membuka kios. Mulai sekarang kami akan berjualan disini, silahkan tuan datang kembali besok." kata Shun sembari menyerahkan bungkusan.
Seorang pejalan kaki yang mendengar percakapan ketua Wu dengan para anak asuhnya serta pelanggan lain, menjulurkan leher untuk mengintip.
"Benarkah seenak itu..? kalian berdua bukan orang suruhan penjual ini kan..?"kata skeptis orang itu.
Ketua Wu memandang sengit pria tak sopan itu.
"Aku ketua Wu dari guild pedang naga, apakah kau pikir aku kekurangan uang..? sampai menerima pekerjaan murahan dengan membohongi orang."
Pelanggan lain menambahkan "meski pun uangku tak sebanyak ketua Wu, aku tidak akan sudi merendahkan diri dengan menipu orang demi sebuah pancake. Kalau kau tidak mempercayainya pergi saja sana, paling kau sendiri yang akan menyesal karena tidak mencicipinya."
Tangan Lin Yao tidak berhenti bergerak, terus menggoreng adonan bahkan sampai keteteran.
"Pancake kami dibuat dengan bahan-bahan terbaik, oleh sebab itu harganya sedikit lebih mahal. Mengapa tuan tidak membeli satu untuk mencobanya..?" Shun menimpali.
Pria yang bertanya tadi merasa sedikit malu. Ia pun mengeluarkan uangnya guna membeli pancake bawang telur dan pada akhirnya tak kuasa untuk memberi pujian setelah menggigitnya.
Melihat bahwa orang yang awalnya bimbang tak percaya pun sangat puas, pelanggan lainnya gegas meninggalkan keraguan mereka.
Tak lama kemudian, antrean kecil terbentuk didepan kios Lin bersaudara.
Lin Shun tersenyum senang, dengan sabar remaja itu melayani pembeli.
Sedangkan Song dengan teliti menerima uang lalu menghitungnya berulang kali.
Para pembeli yang sudah mendapatkan panekuk, sebagian bergeser kelapak bibi Lie guna membeli semangkuk bubur.
Tak butuh waktu lama, semua adonan pancake yang telah digoreng terjual habis.
"Terimakasih atas kunjungan tuan-tuan semua, pancake hari ini sudah habis terjual. Kami akan membuka kios disini lagi besok." kata Lin Yao memandang pelanggan yang masih berada disekitaran lapaknya.
Mereka yang berada dibelakang antrean, meresa amat kecewa karena tidak kebagian.
"Nona, tolong siapkan lebih banyak pancake untuk besok ya..? aku ingin mencobanya."
"Ya, aku juga mau nona..!"
"Aku juga...!"
Lin Yao dengan senang hati mengabulkannya.
Kerumunan itu perlahan bubar. Ada pula yang memilih mampir kekedai bibi Lie.
"Kalian sudah membantuku menjual bubur. Ini ada semangkuk bubur khusus untuk kalian. Aku yakin kalian pasti belum sarapan kan..?"
Bibi Lie memberikan semangkuk bubur untuk masing-masing tiga saudara Lin.
"Minumlah selagi hangat." Bibi Li dari kios bubur datang dengan semangkuk bubur panas.
Tiga saudara mengambil mangkuk secara bergantian sembari mengucapkan terimakasih berulang kali.
"Terimakasih bibi, kau terlalu baik. Padahal jika bukan karena berada disebelah kiosmu, pancake kami tidak akan laku sebaik ini." kata Yao setelah meneguk habis bubur.
"Ah, justru karenamu buburku menjadi laris. Biasanya aku baru bisa pulang setelah waktu makan siang berlalu."
Setelah mencuci mangkuk bubur, tiga saudara Lin berpamitan pada bibi Lie dan pedagang lain.
Tak lama setelah Lin bersaudara pergi, bubur bibi Lie habis terjual. Wanita itu bisa pulang lebih awal lagi dan menyiapkan dagangan untuk sore nanti.
Hari ini Lin bersaudara menyiapkan lima puluh pancake untuk masing-masing varian dengan menghabiskan semua stok tepung terigu dirumah.
Tiga ratus wen pendapatan kotor mereka hari ini, dan jika dihitung-hitung laba diperoleh sebanyak seratus dua puluh tujuh wen.
Mereka pergi berbelanja tepung, beras, telur, lemak babi dan bumbu. Barulah setelahnya pulang kedesa.
semangat trs updatenyaaa 💪