NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Suamiku

Identitas Tersembunyi Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Komedi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:75
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Safa, wanita dari keluarga sederhana, memberikan makanan pada seorang pria yang dia anggap pengemis – ternyata adalah Riki, CEO perusahaan besar. Terharu dengan kebaikan Safa, Riki menyembunyikan statusnya, mereka jatuh cinta dan menikah.

Ketika Safa bekerja di kantor Riki, dia bertemu "Raka" – teknisi yang ternyata adalah Riki yang berpura-pura. Setelah menemukan kebenaran, Safa merasa kecewa, tapi Riki membuktikan cintanya tulus dengan memperkenalkannya pada keluarga aslinya. Mereka akhirnya memperpublikasikan pernikahan mereka dan hidup bahagia dengan cinta yang sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Liburan Sederhana yang Berharga

Empat hari setelah Ayah Safa dirawat di rumah sakit, kondisinya mulai membaik secara signifikan.

Dokter mengatakan bahwa jika perawatan terus berjalan dengan baik, Ayah Safa bisa pulang dalam beberapa hari lagi.

Riki telah mengurus semua biaya perawatan tanpa pamrih apa pun, dan bahkan sering datang ke rumah sakit untuk membantu Safa dan Ibunya merawat Ayah Safa ketika mereka merasa lelah.

Pada hari Sabtu pagi, Riki datang ke rumah sakit dengan membawa makanan yang dia pesan dari warung makan kesukaan Safa.

Ketika sampai di kamar inap Ayah Safa, dia melihat Safa yang sedang membersihkan tempat tidur Ayahnya dengan hati-hati dan Ibunya yang sedang membacakan koran untuk Ayahnya.

"Halo semuanya! Apa kabarmu hari ini?" ucap Riki dengan senyuman ceria sambil memasuki kamar.

Safa segera berbalik dan tersenyum lebar melihat kedatangannya. "Pak Riki! Kamu datang lagi ya. Terima kasih sudah membawa makanan untuk kita."

"Ayah kondisinya sudah jauh lebih baik hari ini lho Pak," ucap Ibunya dengan suara yang penuh kegembiraan. "Dokter bilang kalau terus seperti ini, Ayah bisa pulang dalam tiga hari lagi."

Riki merasa sangat senang mendengar kabar tersebut. "Bagus lah ya! Itu kabar yang sangat baik. Saya tahu bahwa Ayah akan segera sembuh dengan perawatan yang baik dan doa dari semua orang."

Setelah mereka makan bersama dan merawat Ayah Safa selama beberapa saat, Riki mengajukan sebuah usulan kepada Safa. "Safa, kamu sudah bekerja sangat keras selama beberapa hari ini merawat Ayahmu. Kamu harus istirahat sebentar ya agar tidak terlalu capek. Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan sebentar saja? Kita bisa pergi ke pasar tradisional atau taman bermain yang tidak terlalu jauh dari sini."

Safa sedikit ragu pada awalnya. "Tapi siapa yang akan merawat Ayah kalau saya pergi Pak?"

"Jangan khawatir," jawab Ibunya dengan senyuman hangat. "Aku bisa merawat Ayahmu sendiri saja. Kamu sudah cukup membantu kami selama ini. Kamu harus pergi bersantai sebentar agar badanmu tidak terlalu lelah."

Setelah mendapatkan izin dari Ibunya, Safa akhirnya menyetujuinya. Mereka segera bersiap dan keluar dari rumah sakit bersama-sama.

Riki mengajaknya naik mobilnya yang dia sewa khusus untuk kesempatan ini – dia tidak berani menggunakan mobil mewahnya karena takut menimbulkan kecurigaan dari Safa.

Ketika mereka sampai di pasar tradisional yang ramai dan penuh dengan suara serta aroma yang khas, Safa langsung merasa hidup kembali.

Dia suka sekali berjalan-jalan di pasar tradisional karena bisa menemukan berbagai macam barang dengan harga yang terjangkau dan merasakan suasana yang sangat hidup.

"Aku suka sekali datang ke pasar seperti ini Pak," ucap Safa dengan mata yang bersinar melihat berbagai macam kios yang ada di sekitarnya. "Di sini kita bisa menemukan apa saja – mulai dari makanan segar hingga barang kebutuhan rumah tangga dengan harga yang tidak terlalu mahal."

Riki tersenyum melihat kegembiraan Safa. Dia memang sengaja memilih tempat ini karena tahu bahwa Safa akan merasa nyaman dan senang di sini.

Mereka mulai berjalan dari satu kios ke kios lain, melihat berbagai macam barang yang ditawarkan oleh para pedagang.

Safa menunjukkan berbagai macam buah dan sayuran segar kepada Riki, menjelaskan tentang jenis-jenisnya dan cara memilih yang terbaik.

Riki mendengarkan dengan seksama dan merasa sangat senang bisa belajar hal-hal baru dari Safa yang dia tidak pernah ketahui sebelumnya.

"Mau coba makanan jalanan tidak Pak?" tanya Safa dengan antusias ketika mereka melihat sebuah kios penjual bakso yang sangat ramai. "Baksonyanya sangat enak lho. Saya sering beli ketika sedang bekerja di warung dan merasa lapar."

"Tentu saja mau!" jawab Riki dengan senyuman.

Mereka duduk di meja kecil yang disediakan oleh penjual bakso dan memesan dua mangkuk bakso panas.

Ketika makanan datang, Riki segera mencoba menyendoknya ke dalam mulutnya dan langsung terkejut dengan rasanya yang luar biasa enak.

"Sangat enak sekali!" ucap Riki dengan tulus. "Rasanya tidak kalah dengan bakso yang aku makan di restoran mewah."

Safa tertawa lepas mendengar kata-kata tersebut. "Tidak heran lah Pak. Makanan jalanan seperti ini memang punya cita rasa sendiri yang sulit ditiru oleh restoran mewah."

Setelah selesai makan bakso, mereka melanjutkan perjalanan ke bagian pasar yang menjual barang-barang kerajinan tangan.

Safa melihat sebuah kios yang menjual berbagai macam tas anyaman yang dibuat dari bahan alam. Dia langsung tertarik dengan sebuah tas kecil berwarna coklat muda yang sangat cantik.

"Cantik sekali ya tas ini Pak," ucap Safa dengan penuh kagum sambil mengambil tas tersebut dan melihatnya dengan cermat. "Bahan anyamannya sangat bagus dan warnanya juga cantik."

Riki melihat bahwa Safa sangat menyukai tas tersebut tapi tidak berani membelinya karena harganya yang cukup mahal bagi dia. Dia segera mendekati penjual dan bertanya tentang harga tas tersebut.

"Berapa harganya ya Bu tas ini?" tanya Riki pada penjualnya.

"Tiga puluh ribu rupiah saja Pak," jawab penjual dengan senyuman ramah.

Riki segera mengeluarkan uang dari dompetnya dan membayarnya tanpa berpikir panjang. Dia kemudian memberikan tas tersebut kepada Safa dengan senyuman hangat. "Ini untukmu Safa. Kamu sangat cocok dengan tas ini."

Safa merasa sangat terkejut dan sedikit malu. "Tidak bisa Pak Riki! Kamu sudah banyak membantu keluarga kami. Saya tidak bisa menerima hadiah lagi dari kamu."

"Tidak apa-apa kok Safa," jawab Riki dengan lembut. "Ini adalah hadiah kecil dari saya untukmu sebagai ucapan terima kasih karena kamu adalah orang yang sangat baik hati dan selalu membantu orang lain. Selain itu, kamu juga sangat pantas memiliki sesuatu yang cantik seperti ini."

Setelah beberapa saat membujuk, Safa akhirnya menerima hadiah tersebut dengan rasa sangat terima kasih.

Dia segera mengenakan tas tersebut dan merasa sangat senang karena itu adalah hadiah pertama yang dia terima dari seseorang selain keluarga nya.

Setelah berjalan-jalan di pasar selama hampir dua jam, mereka memutuskan untuk pergi ke taman bermain yang terletak tidak jauh dari situ.

Ketika sampai di sana, mereka melihat banyak anak-anak yang sedang bermain dengan senang hati bersama orang tuanya atau teman-temannya.

"Kamu pernah bermain di taman seperti ini tidak Pak?" tanya Safa dengan rasa ingin tahu.

"Jarang sekali," jawab Riki dengan senyuman sedikit sedih. "Ketika saya kecil, orang tuanya selalu sibuk bekerja sehingga tidak pernah punya waktu untuk membawaku bermain ke taman seperti ini. Saya hanya bisa melihat anak-anak lain bermain dari jendela rumah saya."

Safa merasa sangat prihatin mendengar cerita tersebut. Dia segera mengajak Riki untuk mencoba bermain beberapa permainan yang ada di taman – mulai dari ayunan hingga jungkat-jungkit.

Meskipun Riki sudah dewasa, dia merasa sangat senang dan merasakan kembali masa kecilnya yang pernah dia lewatkan begitu saja.

Mereka tertawa lepas saat bermain ayunan bersama, merasa seperti anak kecil yang sedang menikmati waktu liburan mereka.

Beberapa anak-anak bahkan datang mendekati mereka dan mengajak mereka bermain bersama. Riki merasa sangat bahagia karena ini adalah pertama kalinya dia merasakan kehangatan bermain bersama orang lain seperti ini.

Setelah bermain cukup lama, mereka duduk di bangku taman yang terletak di bawah pohon besar untuk beristirahat sebentar.

Udara sore yang sepoi-sepoi dan suara burung yang berkicau membuat suasana menjadi sangat damai dan nyaman.

"Aku sangat senang bisa keluar jalan-jalan bersama kamu hari ini Pak," ucap Safa dengan suara lembut. "Ini adalah hari yang sangat menyenangkan bagi saya setelah beberapa hari yang penuh dengan kekhawatiran tentang Ayah saya."

Riki melihatnya dengan ekspresi yang sangat tulus. "Aku juga sangat senang bisa melakukan ini untukmu Safa. Kamu sudah melalui banyak hal selama beberapa hari ini dan pantas mendapatkan kesempatan untuk bersantai dan bahagia."

Mereka mulai berbincang tentang berbagai hal – dari impian masa depan yang ingin mereka capai hingga mimpi indah yang pernah mereka alami.

Safa cerita tentang keinginannya untuk bisa menyekolahkan adik-adik nya yang masih kecil hingga tingkat perguruan tinggi, sementara Riki cerita tentang keinginannya untuk bisa membangun sebuah sekolah untuk anak-anak yang tidak mampu biaya sekolah.

"Aku benar-benar percaya bahwa impianmu akan segera terwujud Pak," ucap Safa dengan penuh keyakinan. "Kamu adalah orang yang sangat baik hati dan pantas mendapatkan kebahagiaan dalam hidup."

Riki merasa sangat terharu mendengar kata-kata tersebut. Dia melihat Safa dengan mata yang penuh cinta dan perhatian yang dia coba sembunyikan dengan sekuat tenaga.

Dia tahu bahwa dia sudah mulai memiliki perasaan yang lebih dalam pada Safa, tapi dia tidak berani menyatakannya karena takut kehilangan kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh.

Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah sakit untuk melihat kondisi Ayah Safa. Ketika sampai di sana, Ibunya memberitahu mereka bahwa Ayah Safa kondisinya semakin baik dan bahkan sudah bisa duduk sendiri tanpa bantuan orang lain.

"Saya melihat kamu sangat senang jalan-jalan ya Safa," ucap Ayah Safa dengan senyuman lembut. "Kamu memang harus sering keluar bersantai agar tidak terlalu banyak memikirkan masalah."

Safa merasa sangat senang melihat kondisi Ayah nya yang semakin baik. Dia segera menceritakan semua hal yang mereka lakukan selama jalan-jalan, mulai dari berbelanja di pasar hingga bermain di taman bermain.

Ayah dan Ibunya hanya bisa tersenyum mendengar cerita nya dan merasa sangat bersyukur memiliki seseorang seperti Riki yang mau membantu dan menghibur anak perempuannya dalam waktu yang sulit.

Setelah menghabiskan beberapa saat lagi di rumah sakit, Riki memutuskan untuk pulang karena sudah mulai malam.

Safa mengikutinya sampai ke pintu keluar rumah sakit dengan wajah yang penuh rasa terima kasih.

"Terima kasih banyak ya Pak Riki untuk hari yang sangat menyenangkan ini," ucap Safa dengan suara lembut. "Aku tidak akan pernah melupakan hari ini selama hidupku."

"Sama-sama Safa," jawab Riki dengan senyuman hangat. "Aku juga tidak akan pernah melupakannya. Kamu telah memberikan sesuatu yang sangat berharga bagiku – rasa bahagia yang tulus dan kehangatan yang aku cari selama ini."

Sebelum pergi, Riki memberikan uang sedikit kepada Safa dengan lembut. "Ini untukmu Safa. Kamu bisa menggunakannya untuk membeli sesuatu yang kamu butuhkan atau untuk keperluan Ayahmu yang sedang sakit."

Safa merasa sangat tidak tega tetapi tidak bisa menolak karena melihat bahwa Riki memang memiliki niat yang tulus. Dia hanya bisa mengucapkan terima kasih yang terus keluar dari mulutnya.

Setelah Riki pergi, Safa berdiri di pintu keluar rumah sakit untuk beberapa saat. Dia melihat mobilnya yang menghilang di kejauhan dengan hati yang penuh kebahagiaan dan rasa terima kasih.

Di sisi lain, Riki merasa sangat bahagia dan puas saat berada di dalam mobilnya dalam perjalanan pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!