NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Tuan

Dahaga Sang Tuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / CEO / Duda / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:18k
Nilai: 5
Nama Author: your grace

Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.

Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.

Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Keheningan yang Mencurigakan

Arlan Aditama berdiri di luar pintu kayu jati itu dengan perasaan campur aduk. Jam dinding di koridor terus berdetak, namun suara tangisan Kenzo yang biasanya memekakkan telinga tiba-tiba menghilang sepenuhnya. Sunyi. Kesunyian itu justru terasa lebih mengintimidasi bagi Arlan daripada jeritan putranya.

Dua menit yang ia janjikan telah berlalu. Tangannya yang besar mencengkeram gagang pintu, ragu apakah ia harus merangsek masuk atau menunggu lebih lama. Pikirannya melayang pada sosok Amara—gadis desa yang tampak begitu rapuh, namun memiliki keberanian untuk mengusirnya dari kamar bayinya sendiri.

"Apa yang dia lakukan?" gumam Arlan rendah. Amarahnya yang tadi meluap kini berganti dengan rasa ingin tahu yang membara. Arlan tidak terbiasa tidak memegang kendali. Di perusahaannya, ia adalah raja. Di rumah ini, ia adalah penguasa. Namun, gadis kecil ini baru saja menciptakan wilayah kekuasaan sendiri di dalam kamarnya.

Tanpa suara, Arlan memasukkan kunci cadangan ke dalam lubang pintu. Ia memutarnya perlahan, sangat pelan hingga tidak menimbulkan bunyi klik sedikit pun. Ia mendorong pintu itu hanya beberapa inci, menciptakan celah kecil untuk mengintip ke dalam.

Di dalam sana, lampu utama telah dimatikan, hanya menyisakan cahaya remang dari lampu tidur di sudut ruangan. Arlan menyipitkan mata. Ia melihat Amara sedang membungkuk di depan ranjang bayi (boks) Kenzo. Gadis itu sedang merapikan selimut bayi dengan gerakan yang sangat lembut.

Kenzo tertidur lelap. Benar-benar lelap. Napas bayi itu teratur, tangannya yang mungil terbuka di samping kepala, menunjukkan kedamaian yang tidak pernah Arlan lihat selama berminggu-minggu ini. Tak ada lagi wajah merah karena menangis, tak ada lagi rontaan frustrasi.

Amara dengan terburu-buru mengancingkan bagian atas seragamnya. Gerakannya tampak kikuk dan penuh kepanikan. Ia beberapa kali mengusap bagian depan bajunya dengan telapak tangan, seolah-olah ada sesuatu yang tumpah di sana.

Arlan mendorong pintu sepenuhnya dan melangkah masuk. Suara sepatunya yang menghantam lantai marmer membuat Amara terjengit kaget. Gadis itu segera berbalik, membelakangi ranjang Kenzo dengan wajah pucat pasi.

"Bagaimana kau melakukannya?" suara Arlan terdengar seperti bisikan yang tajam di tengah kesunyian malam.

"Tuan... k-kapan Tuan masuk?" suara Amara bergetar. Ia menunduk dalam, tangannya saling meremas di depan perut, mencoba menutupi bagian dadanya yang tampak sedikit lebih lembap daripada sebelumnya.

Arlan tidak menjawab. Ia melangkah mendekati ranjang dan menatap putranya. Kenzo benar-benar tenang. Namun, saat Arlan mendekat, ia menghirup aroma yang sangat kuat di udara. Itu bukan aroma susu formula kalengan yang berbau tajam. Itu adalah aroma manis, hangat, dan sangat segar. Aroma yang seolah-olah menarik sisi primitif di dalam diri Arlan.

"Kenapa dia bisa tidur secepat ini? Kau memberinya apa?" Arlan berbalik dan menatap Amara dengan mata elangnya. Ia melangkah maju, memaksa Amara mundur hingga punggung gadis itu membentur dinding dingin.

"Saya... saya hanya menimangnya, Tuan. Mungkin Tuan Kenzo hanya butuh sentuhan kulit ke kulit agar merasa aman," jawab Amara terbata-bata. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Arlan bisa mendengarnya.

Arlan menyipitkan mata, menatap kerah baju Amara yang sedikit miring. "Hanya menimang? Lalu kenapa kau terlihat begitu ketakutan? Dan kenapa kau berkeringat dingin?"

Arlan mengangkat tangannya, jemarinya hampir menyentuh bahu Amara. Ia bisa merasakan hawa panas yang terpancar dari tubuh gadis itu. Ada sesuatu yang tidak beres, ia tahu itu. Gadis ini menyembunyikan sesuatu yang sangat besar di balik sikap lugunya.

"Aku tidak suka dibohongi, Amara," bisik Arlan tepat di telinganya, membuat bulu kuduk Amara meremang. "Jika aku tahu kau memberikan sesuatu yang berbahaya pada anakku agar dia diam, aku tidak akan segan-segan menjebloskanmu ke penjara."

Amara hanya bisa menggeleng, air matanya mulai menggenang. "Saya tidak akan pernah menyakiti Tuan Kenzo, Tuan. Demi Tuhan... saya hanya ingin dia tenang."

Arlan terdiam sejenak, menatap bibir Amara yang bergetar. Rasa curiga itu masih ada, namun aroma manis yang menguar dari tubuh Amara justru mulai memabukkan logikanya. Arlan menarik tangannya kembali, mencoba menahan gairah aneh yang tiba-tiba muncul di tengah amarahnya.

"Pergilah ke kamarmu. Lasmi akan menunjukkan tempatnya. Besok pagi, kita akan bicara lagi. Dan ingat satu hal... jangan pernah mengunci pintu kamar ini lagi jika kau sedang bersama Kenzo."

Amara mengangguk cepat dan hampir berlari keluar dari kamar itu. Sementara itu, Arlan tetap berdiri di sana, menatap putranya yang terlelap sambil menghirup sisa-sisa aroma manis yang ditinggalkan Amara. Arlan tahu, gadis ini bukan pengasuh biasa. Dan ia bertekad untuk mengungkap apa sebenarnya yang disembunyikan Amara di balik seragamnya itu.

***

Amara setengah berlari menyusuri koridor lantai dua yang luas dan sunyi. Langkah kakinya yang hanya beralaskan kaos kaki tipis tidak menimbulkan suara di atas karpet bulu yang mahal, namun gema detak jantungnya sendiri terasa seperti tabuhan genderang di telinganya.

Setiap kali ia teringat tatapan tajam Arlan dan bagaimana pria itu menyudutkannya ke dinding tadi, lututnya terasa lemas. Ia merasa seperti seekor kancil yang baru saja lolos dari terkaman harimau, namun ia tahu harimau itu belum menyerah; ia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menerkam kembali.

"Mbak... Mbak Lasmi," bisik Amara saat melihat bayangan seseorang di ujung lorong dekat dapur bersih.

Mbak Lasmi yang sedang merapikan beberapa botol susu di pantry menoleh dengan wajah cemas. "Amara? Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali, seperti melihat setan."

Amara segera menghampiri Mbak Lasmi dan mencengkeram lengan wanita itu dengan tangan yang gemetar hebat. "Mbak... kamar saya di mana? Saya mau istirahat. Saya... saya takut salah langkah."

Mbak Lasmi meletakkan botol yang dipegangnya, lalu menuntun Amara menuju area belakang mansion yang dikhususkan untuk para pekerja, namun tetap jauh lebih mewah daripada rumah Amara di desa. "Tuan Arlan membentakmu? Atau Tuan Kenzo tidak mau diam?"

"Tuan Kenzo sudah tidur, Mbak. Tadi Tuan Arlan masuk dan... dia curiga. Dia menanyakan banyak hal," jawab Amara sambil mencoba mengatur napasnya. Ia masih merasakan sisa kehangatan dari mulut kecil Kenzo di dadanya, dan rasa lembap di seragamnya membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

"Sstt, pelankan suaramu," Mbak Lasmi membuka sebuah pintu kamar yang rapi dengan tempat tidur tunggal yang empuk. "Ini kamarmu. Di dalam ada kamar mandi kecil. Kamu bisa bersih-bersih di sana."

Mbak Lasmi menutup pintu kamar dan menatap Amara dengan selidik. "Mara, jujur sama Mbak. Apa yang kamu lakukan sampai bayi itu bisa diam sesunyi itu? Biasanya, biarpun digendong tiga orang sekalipun, Tuan Kenzo tidak akan berhenti menjerit sampai suaranya habis."

Amara terdiam, ia memalingkan wajahnya, tidak berani menatap mata Mbak Lasmi yang penuh pengalaman. "Saya hanya... memberikan apa yang dia butuhkan, Mbak. Kasih sayang."

Mbak Lasmi menghela napas, menganggap itu hanyalah jawaban diplomatis dari seorang gadis polos. "Ya sudah, kamu istirahatlah. Tapi ingat, Mara, Tuan Arlan itu orangnya sangat teliti. Dia punya kamera di hampir setiap sudut rumah ini, kecuali di kamar mandi dan kamar pribadimu. Jadi, jangan pernah melakukan hal yang aneh-aneh."

Jantung Amara mencelos. Kamera? Berarti Arlan bisa melihat semuanya?

"K-kamera, Mbak? Di kamar bayi juga ada?" tanya Amara dengan suara yang hampir hilang.

"Ada, tapi Tuan jarang mengeceknya kalau dia sedang sibuk di kantor. Tapi sejak istrinya pergi, dia jadi lebih sering memantau dari ponselnya. Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Yang penting Kenzo sudah tenang. Itu sudah nilai besar untukmu," ujar Mbak Lasmi sambil menepuk bahu Amara sebelum keluar dari kamar.

Begitu pintu tertutup dan terkunci, Amara menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Ia melosor jatuh ke lantai, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. Air matanya jatuh tanpa permisi. Ia meratapi nasibnya yang harus terjebak dalam kebohongan besar ini demi ekonomi keluarga.

Ia perlahan membuka kancing bajunya, melihat bercak basah yang membentuk lingkaran di kain seragamnya. Harum asinya sendiri memenuhi indra penciumannya—aroma yang kini menjadi sumber keselamatannya sekaligus sumber petakanya.

"Ibu... Amara takut," bisiknya lirih.

Di sisi lain mansion, di dalam ruang kerjanya yang gelap, Arlan Aditama duduk di kursi kebesarannya. Ia tidak sedang memeriksa laporan keuangan perusahaan. Matanya tertuju pada layar monitor besar yang menampilkan rekaman CCTV kamar bayi beberapa menit yang lalu.

Ia memutar ulang bagian saat Amara meminta izin untuk berduaan dengan Kenzo. Arlan memperhatikan setiap gerak-gerik Amara di layar yang hitam putih itu. Meskipun sudut kamera tidak memperlihatkan secara jelas apa yang dilakukan Amara di kursi goyang karena terhalang sandaran kursi yang tinggi, Arlan bisa melihat bagaimana punggung Amara bergerak ritmis, dan bagaimana Kenzo yang tadinya meronta tiba-tiba menjadi tenang dalam sekejap.

Arlan menyentuh bibirnya sendiri, teringat aroma manis yang ia hirup di kamar tadi. "Gadis kecil... apa sebenarnya yang kau berikan pada anakku?" gumamnya dengan suara yang serak dan penuh gairah yang terpendam.

1
Naila Saputri
ini Amara seperti g ad harga diri y ,bus d bentak dan di hina oleh arlan ,mau aja d gituin
Bedjho
si Arlan minta di sapih 😭
Bedjho: 😭😭 pesona duda ga kaleng²🤌🏻
total 2 replies
Vicky Aulia
agak menyebalkan sih episode ini huhu
Linda Ayu Tong-Tong
thor kok arlan jahat banget..udah kamu kanir aja amara...biar arlan nyesel...
Linda Ayu Tong-Tong
kasihan amara...adih arlan..kamu jadiin amara pelacurmu..jahat banget...lebih jahat dari peran arya🥵🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
double 🤣🤣🤣
Linda Ayu Tong-Tong
you crazy arlan🤣🤣🤣
Naila Saputri
arlan udh gila 🤣🤣🤣
Achom
laah si Arlan dia yg salah godain Amara mlulu tp dia yg marah² hadeuhh 😑
Ikaculeng
tulisan terrtata dengan baik
Uthie
menarik ceritanya 👍👍👍
Uthie
mampir 👍
Linda Ayu Tong-Tong
thorrr gerah geraah thor🥵🤣
Linda Ayu Tong-Tong
thor kok kyak diperlakukan kyak binatang
Linda Ayu Tong-Tong
oooohhh🥵🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
waaaow panaasss,🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
next
Linda Ayu Tong-Tong
wakakaka panas dingin aq thor🤣
afaj
kwkwkwk untuk u g nenek bareng anak u arlan
Linda Ayu Tong-Tong
ohh arlan kamu ketagihan nenennya amara🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!