Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.
Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.
Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lupa posisi
"Wati!" teriak Amelia memanggil Bi Wati dengan nada tinggi.
Bi Wati yang sedang menyapu di sudut ruang tamu langsung menghentikan pekerjannya dan menghampiri. "Ada apa, Nyonya?"
"Buatkan saya jus jeruk," perintah Amelia dengan nada sinis. Raut wajahnya tampak tegang, kekesalannya kepada Bi Wati semakin menjadi sejak Elina terus membela pembantu itu.
"Maaf, Nyonya. Buah jeruknya habis," jawab Bi Wati jujur.
"Apa?" Amelia langsung mengernyit kesal.
"Jeruk habis? Bisa-bisanya!"
"Tapi itu kenyataannya, Nyonya," ucap Bi Wati berusaha tetap tenang.
"Kalau begitu, jus apel saja."
"Apel juga habis, Nyonya..."
Amelia menghela napas kasar, dadanya naik turun. "Mangga."
"Habis juga, Nyonya."
"Wati, kamu mau menipu saya, hah! Mana mungkin semua buah habis!" bentak Amelia, nadanya tinggi.
"Memang begitu kenyataannya, Nyonya. Stok buah di kulkas sudah habis," sahut Bi Wati yang mulai ikut tersinggung. Ia lalu melangkah ke arah kulkas dan membukanya lebar-lebar, memperlihatkan isinya yang nyaris kosong.
"Kamu tidak isi kulkas?" tanya Amelia tak percaya, menatap rak-rak kosong itu.
"Tidak, Nyonya," jawab Bi Wati pelan.
"Apa Elina tidak memberi kamu uang belanja?" tanya Amelia lagi, suaranya meninggi karena kesal.
Bi Wati hanya menggeleng.
"Dasar Elina," gumam Amelia penuh kejengkelan. "Apa dia lupa, saya harus minum jus setiap hari."
Bi Wati menatapnya sekilas dengan malas. Di matanya, Amelia kini seperti orang yang lupa diri, bersikap seperti nyonya besar, padahal asal usulnya jauh dari kata berada.
"Ya sudah, buatkan saya makan siang," perintah Amelia kemudian, seolah ingin mengakhiri perdebatan.
"Maaf, Nyonya. Stok bahan makanan juga sudah habis. Jadi saya tidak bisa masak," jawab Bi Wati jujur, membuat wajah Amelia semakin memerah.
"Jangan bilang Elina belum memberikan kamu uang bulanan?" desak Amelia.
Bi Wati kembali mengangguk.
"Benar-benar menantu durhaka," gerutu Amelia. Dengan tangan gemetar karena emosi, ia segera meraih ponselnya dan menelepon Elina.
Tak lama, panggilan itu terangkat.
"Hmm?"
"Elina, kenapa kamu belum memberikan uang bulanan ke Bi Wati, hah! Stok buah dan bahan makanan di rumah habis!" semprot Amelia tanpa basa-basi.
Di seberang sana, Elina justru tersenyum puas. Semua ini memang sengaja ia rencanakan. "Mama minta saja sama Mas Ares. Uang bulanan yang dia berikan kepadaku sudah habis."
"Apa? Habis?" bentak Amelia. "Dasar istri boros kamu!"
"Mah," potong Elina tegas. "Apa Mama tahu Mas Ares hanya memberi aku uang bulanan dua juta? Selebihnya dia serahkan ke Mama." Suaranya terdengar dingin dan menekan, membuat Amelia terdiam sejenak. "Dua juta tidak cukup untuk membiayai kebutuhan makan kalian. Kalau Mama lapar, Mama harus keluar uang sendiri. Minimal sadar diri, Mah."
Tut!
Elina langsung mematikan telepon tanpa menunggu jawaban.
"Dasar menantu kurang ajar!" umpat Amelia, dadanya masih naik turun menahan amarah.
♡♡
"Sayang aku balik ke kantor ya. Makasih," ucap Ares lembut, kemudian mencium pelan kening Maya yang masih terbaring tanpa mengenakan apa-apa.
Maya hanya mengangguk perlahan, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Tenaganya terkuras setelah melakukan hubungan intim dengan Ares.
Tanpa berpakaian sedikit pun, Ares bangkit dari ranjang dan berjalan dengan langkah santai menuju toilet.
Maya hanya menggeleng-geleng perlahan sambil memperhatikan langkahnya.
Tak butuh waktu lama, Ares keluar dari toilet dengan penampilan yang segar dan bersih, sementara Maya masih menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
“Mas jangan lupa ya…” ucap Maya lirih, seolah mengingatkan janji yang belum terucap jelas.
“Iya, sayang,” jawab Ares ragu. Di balik senyumnya, pikirannya masih kacau memikirkan bagaimana caranya mendapatkan berlian dan perhiasan Elina.
Di dalam mobil, Ares terus memutar otak. Pandangannya kosong menatap jalanan kota, kepalanya dipenuhi satu pertanyaan besar: di mana Elina menyimpan berlian dan semua perhiasan mahal itu.
Ia harus mendapatkannya demi memenuhi keinginan Maya. Ia tidak ingin anaknya kelak kekurangan, apalagi hanya karena ia gagal menepati janji.
Tak berselang lama, Ares sudah sampai di gedung perusahaan. Ares memarkir mobilnya dengan kasar di area parkir khusus direksi. Begitu turun, ia merapikan jasnya sekilas lalu melangkah cepat memasuki gedung perusahaan dengan wajah masih diliputi kekesalan.
Di lobi utama, langkahnya tiba-tiba melambat.
Di kejauhan, Elina terlihat berdiri di dekat lift eksekutif bersama seorang pria yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pria itu mengenakan setelan abu-abu rapi, wajahnya bersih dengan senyum ramah. Mereka tampak berbincang santai, bahkan sesekali tertawa kecil.
Ares mengernyit.
“Elina…” gumamnya pelan.
Dari jarak beberapa meter, ia bisa melihat betapa akrabnya Elina dengan pria itu. Elina bahkan sempat menepuk lengan pria tersebut sambil tersenyum ringan.
Dadanya langsung panas.
Ia mempercepat langkah hingga berdiri tak jauh dari mereka.
“Selamat pagi, Bu Elina," sapa pria itu. “Terima kasih sudah langsung meluangkan waktu untuk saya.”
“Sama-sama, Pak Radit,” jawab Elina dengan ramah. “Sebagai pemegang saham terbesar, saya ingin memastikan manajer baru divisi operasional benar-benar paham arah perusahaan ini.”
Radit tersenyum lega. “Terus terang saya sangat terbantu, Bu. Saya tidak menyangka Ibu akan turun langsung seperti ini.”
Elina membalas dengan senyum tipis. “Saya hanya ingin semuanya berjalan sesuai rencana.”
Ares yang sejak tadi berdiri mematung akhirnya bersuara, nadanya dingin.
“Sepertinya saya terlambat menyapa. Siapa ini, Elina?”
Elina menoleh, ekspresinya tetap tenang. “Oh, Mas sudah datang. Ini Pak Radit, manajer baru divisi operasional. Saya yang merekrutnya.”
Radit langsung mengulurkan tangan. “Selamat pagi, Pak Ares. Senang akhirnya bisa bertemu langsung.”
Ares menatap tangan itu beberapa detik sebelum menjabatnya sekadarnya. “Pagi.”
Ia kembali menatap Elina, matanya menyipit. “Aku tidak dengar kabar soal perekrutan ini.”
Elina mengangkat bahu santai. “Karena memang bukan wewenang Mas lagi sejak struktur manajemen diubah.”
Ucapan itu menusuk telak.
Radit menangkap ketegangan di antara mereka, lalu tersenyum canggung. “Saya permisi dulu, Bu Elina. Saya akan menyiapkan laporan seperti yang Ibu minta.”
“Silakan, Pak Radit.” jawab Elina lembut.
Begitu Radit pergi, Ares mendekat satu langkah, suaranya ditekan rendah namun sarat emosi.
“Kamu sengaja, ya?”
“Sengaja apa?” tanya Elina datar.
“Kamu pamerkan kedekatanmu dengan karyawan baru di depanku?”
Elina tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tak hangat. “Mas terlalu sensitif. Saya hanya bekerja.”
Ares mengepalkan tangan. “Atau kamu memang ingin membuatku terlihat seperti orang luar di perusahaanku sendiri?”
Elina menatapnya tanpa gentar. “Perusahaan ini sejak awal memang milik saya, Mas. Kamu hanya lupa posisi kamu sekarang.”
Ucapan itu membuat Ares terdiam, rahangnya mengeras menahan amarah yang nyaris meledak.