AREA DEWASA!!
Empat tahun menduda pada akhirnya Wira menikah juga dengan seorang gadis yang bernama Mawar. Gadis yang tidak sengaja Wira tabrak beberapa waktu yang lalu.
Namun, di balik pernikahan Wira dan Mawar ada seorang perempuan yang tidak terima atas pernikahan mereka. Namanya Farah, mantan karyawan dan juga teman dari almarhum istri Wira yang bernama Dania. Empat tahun menunggu Wira pada akhirnya Farah lelah lalu menyerah.
Tidak berhenti sampai di sini, kehidupan masa lalu Wira kembali terusik dengan kehadiran iparnya yang bernama Widya, adik dari almarhum Dania. Masalah yang sudah terkubur lama namun nyatanya kembali terbuka semua kebenarannya setelah kehadiran Widya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Wira dengan raut wajah khawatir.
"Kami sudah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, istri anda baik-baik saja. Tidak mengalami luka dalam atau luka serius. Lain kali, kandungannya di jaga ya!"
Depp....
Wira mengerutkan dahinya, bingung dengan pernyataan Dokter di akhir kalimat.
"Istri saya mengandung?"
"Loh, apa anda tidak tahu jika istri anda sedang mengandung?" Dokter bertanya balik.
Wira hanya bergeleng kepala.
"Anda ini suami macam apa sih? istri hamil kok tidak tahu, pasti ini di gas terus ya setiap malam?"
"Oh, itu sudah pasti Dok!" sahut Wira dengan entengnya.
"Untung saja kandungannya kuat. Sekuat cinta kalian, jika tidak itu sangat berbahaya apa lagi usia kandungan istri anda baru memasuki minggu ke empat."
"Dokter, serius istri saya hamil?"
Dokter kemudian menunjukan hasil pemeriksaan. Di pikir Wira Dokter tadi bercanda namun ternyata benar apa adanya.
"Sialan!" umpat Wira yang mengingat pertarungan sengit antara istrinya dan Farah tadi.
"Loh, kok mengumpat. Apa anda ini tidak senang istri anda hamil?" Dokter merasa heran.
"Oh, bukan begitu maksudnya Dok. Istri saya tadi pagi habis bergulat dengan kucing betina, untuk saja istri saya tidak apa-apa. Makanya saya mengumpat karena kesal. Maklum, takut kenapa-kenapa!" tutur Wira membuat Dokter langsung mengangguk.
"Mungkin sebentar lagi istri anda akan sadar. Ini adalah baru awal permulaan gejala ibu hamil yang di rasakan istri anda."
"Saya tahu itu Dok!" seru Wira yang sebenarnya membuat Dokter jengkel.
"Istrinya di jaga, jangan di buat kelelahan setiap malam. Jangan suka minum obat kuat, kasihan istrinya," ujar Dokter yang bisa menebak dari tampang Wira.
"Ah, Dokter ini tahu saja!"
Untung saja Dokter ini laki-laki, jadi Wira sendiri tidak merasa sungkan. Selesai berbicara dengan Dokter, Wira menghampiri istrinya yang sekarang sedang terlelap di ruang rawat. Untuk dua hari ke depan Mawar harus di rawat di rumah sakit.
Wira menghubungi sang mamah, hari itu juga Asti kembali padahal acara pernikahan keponakannya akan di langsung besok hari.
Wira tidak ingin kecolongan lagi, pria ini pernah kehilangan orang yang dia sayang. Demi menjaga Mawar, untuk sementara Wira menugaskan semua pekerjaannya pada Dimas.
Bayu dan Tia datang menjenguk setelah di beri kabar oleh Wira. Maklum saja, cuma Bayu dan Tia teman dekat Wira selama ini.
"Kau harus memberi pelajaran pada Farah. Untung saja Mawar tidak kenapa-kenapa." Tia kesal sendiri mendengar cerita Wira.
"Aku menunggu mamah pulang. Akan lebih tenang jika mamah menjaga Mawar jika aku tidak ada."
"Bisa-bisanya perempuan itu membuat onar. Kau juga, bisa-bisanya istri hamil tapi tidak tahu!" Bayu ikutan kesal.
"Kenapa kalian menghakimi ku hah?" Wira emosi.
"Kenapa sangat berisik? mas, bisakah kau bicara pelan sedikit?" tegur Mawar.
"Eh, maaf sayang. Mereka membuat ku emosi...!" sahut Wira.
Mawar kembali memejamkan mata, entah kenapa hari rasanya dia ingin tidur saja.
"Belajar dari pengalaman Wira. Kau harus mengatur pekerjaan mu dari sekarang," ucap Tia mengingatkan.
"Aku akan membantu mu, kau tenang saja!" ujar Bayu menimpali.
Wira melirik ke arah istrinya yang kembali terlelap. Jarak sofa dan brankar lumayan berjauhan.
"Sebenarnya aku sangat takut dengan kehamilan Mawar. Aku takut jika aku tidak bisa menjaganya sama seperti aku menjaga Dania," ucap Wira pelan agar tak terdengar istrinya.
"Maka dari itu, kau harus bisa mengatur waktu mu dari sekarang. Lihat dari kejadian hari ini, mungkin saja ada keberuntungan. Tapi, kita tidak tahu akhirnya bagaimana. Kau harus antisipasi Wira...!" sahut Tia terus mengingatkan Wira agar tidak terlalu fokus pada pekerjaannya.
"Besok aku akan memberi peringatan pada Farah!"
Hari ini Farah selamat karena Wira baru tahu jika sekarang istrinya sedang mengandung. Tapi, jika di lain waktu Farah mengganggu Mawar lagi, Wira akan benar-benar memberi pelajaran pada wanita itu.
Bayu dan Tia pamit pulang, tinggallah Wira seorang diri sedang menjaga istrinya. Setelah berpikir sekian waktu, baru sekarang Wira paham dengan sikap aneh yang di tunjukan Mawar akhir-akhir ini.
"Mas,...aku haus...!" lirih Mawar membuka matanya.
Bergegas Wira mengambilkan air minum.
"Minum dulu sayang!" ujar Wira membantu istrinya duduk, "apa kau lapar?"
"Aku lapar tapi aku tidak ingin makan nasi...!" jawab Mawar lesu.
"Lalu, istri mas ini mau makan apa?" tanya Wira dengan lembutnya.
Mawar memeluk suaminya, manja sekali.
"Makan buah naga....!" jawab Mawar.
"Sayang, itu sangat beresiko, mas harus bertarung dengan naga terlebih dahulu untuk mendapatkannya."
"Mas....!" lirih Mawar.
"Mas hanya bercanda, jangan marah eh."
Wira langsung meminta pak Norman untuk membelikan buah naga dan beberapa buah lainnya.
"Mas, apa anak kita baik-baik saja? aku ingat lagi jika Farah menendang perut ku tadi."
"Baik-baik saja, jangan khawatir ya...!"
"Eh, kok aku bisa hamil ya mas...?"
Masih sempatnya Mawar bertanya hal yang membuat Wira tertawa.
"Kalau di coblos ya hamil, kalau gak di coblos ya gak hamil. Mas hebat kan? baru aja tiga bulan menikah, perut mu sudah mas buat berisi...!"
"Perut kan menang ada isinya mas, ada usus!"
"Udah ah, jangan bercanda lagi. Istirahat, mungkin sore mamah akan datang ke sini."
Sambil menunggu pak Norman, Wira memijat kaki istrinya. Sebenarnya Mawar merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan suaminya.
"Mas, ini buahnya!" ujar pak Norman yang baru saja datang.
"Terimakasih pak. Tolong bilang sama bibi untuk menyiapkan pakaian ku dan Mawar ya pak. Jangan lupa jemput mamah, nanti."
"Baik mas,...!"
"Terimakasih pak Norman," ucap Wira.
Wira langsung membuka isi plastik, mencari buah yang yang di minta istrinya. Sebentar Wira menyiapkannya lalu membawa sepiring buah naga yang sudah di potong-potong.
"Setelah ini makan nasi ya...!" ujar Wira sambil menyuapi istri.
"Iya mas, tapi makan yang berkuah ya...!"
"Contohnya?"
"Soto ayam mas!"
"Iya, nanti mas belikan. Sepertinya di dekat rumah sakit ada yang jual."
"Terimakasih ya mas!" ucap Mawar.
"Untuk?"
"Mas udah ngurusin aku."
"Kamu istri mas, untuk sekarang dan kedepannya mas janji akan menjaga kamu dan anak-anak kita. Terutama di masa kehamilan kamu seperti ini, mas gak mau jika masa lalu itu terulang kembali."
"Aku kuat kok mas, Jadi mas Wira gak usah khawatir yang berlebihan."
"Tetap saja mas khawatir. Mulai sekarang kamu gak boleh capek-capek lagi. Kalau mau pergi sama mas aja atau sama mamah."
"Ya ampun, perhatiannya suami ku ini. Memang ya, duda itu lebih berpengalaman!" puji Mawar membuat dagu Wira memanjang.
mungkin klo dilukis rose Titanic bakal kalah🤣..
bunyinya aneh-aneh ternyata.
kirain jeder tadi sampai geluduk