NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Suasana hangat Bali kini berganti dengan kemegahan rumah besar keluarga Arkatama di Jakarta.

Meskipun bulan madu telah usai, kemesraan di antara keduanya tidak sedikit pun memudar.

Pagi itu, aroma kopi dan roti panggang mengisi ruang makan, namun ada sedikit ketegangan yang kembali muncul di hati Ariel—rasa protektif yang wajar setelah semua badai yang mereka lalui.

Ariel sudah rapi dengan kemeja kerjanya, tas dokter berada di tangan kirinya.

Ia menghampiri Relia yang sedang duduk di kursi makan, menatap istrinya dengan tatapan yang sangat dalam.

"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya. Jadwal operasiku hari ini cukup padat," ucap Ariel lembut.

Ia mengusap pipi Relia, memastikan istrinya merasa aman.

"Kamu di rumah saja dulu bersama para pelayan dan penjaga. Tolong, jangan keluar rumah sendirian tanpa Satrio atau pengawalan. Aku tidak mau mengambil risiko apa pun selama Tino belum benar-benar ditemukan."

Relia menatap suaminya, melihat ada sedikit kecemasan di mata pria itu.

Ia tahu Ariel hanya ingin melindunginya. Perlahan, Relia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tenang.

"Iya, Mas. Aku mengerti. Aku akan di rumah saja, melanjutkan tulisanku," jawab Relia patuh.

Ariel merasa lega. Ia membungkuk, mendaratkan sebuah ciuman hangat di kening istrinya—sebuah kecupan yang seolah menyalurkan seluruh kekuatannya untuk Relia sepanjang hari nanti.

"Aku akan berusaha pulang lebih cepat. I love you."

"I love you too, Mas," balas Relia.

Setelah deru mobil Ariel menghilang dari halaman rumah, suasana kembali sunyi.

Relia menarik napas panjang. Ia berjalan menuju ruang kerjanya yang baru, sebuah ruangan dengan jendela besar yang menghadap ke taman belakang yang asri.

Ia membuka iPad-nya, namun pikirannya tiba-tiba melayang pada Sarah yang masih terbaring di rumah sakit.

Meskipun ia sudah menolak bertemu, ada rasa tidak tenang yang mulai merayap di dadanya.

Relia duduk terdiam di ruang kerjanya, menatap layar iPad yang masih kosong. Meskipun ia telah menegaskan tidak ingin bertemu Sarah, nuraninya sebagai seorang adik mulai berbisik.

Bayangan masa kecil mereka—sebelum Markus datang dan menghancurkan segalanya—kembali melintas.

Ia tidak bisa mengabaikan ini begitu saja, tapi ia juga belum sanggup untuk berhadapan langsung dengan wanita yang telah mengkhianatinya itu.

Relia menekan tombol interkom di meja kerjanya.

"Satrio, bisa ke ruangan saya sebentar?"

Tak butuh waktu lama, Satrio muncul di ambang pintu dengan sikap siaga yang biasa.

"Iya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?"

Relia memutar kursi kerjanya, menatap Satrio dengan raut wajah serius namun penuh kebimbangan.

"Satrio, aku tahu Mas Ariel memintamu untuk menjagaku di sini. Tapi, aku tidak tenang. Tolong, kamu pergi ke rumah sakit sekarang."

Satrio sedikit mengernyitkan dahi. "Tapi perintah Tuan Ariel adalah memastikan Nyonya tidak sendirian di rumah—"

"Ada banyak pelayan dan penjaga lain di sini, Satrio. Aku akan mengunci diri di dalam rumah," potong Relia lembut namun tegas.

"Aku ingin kamu melihat keadaan Sarah. Pastikan dia benar-benar ditangani dengan baik. Dan, tolong cari tahu apakah dia sudah sadar. Jika sudah, aku ingin tahu apa yang dia katakan, tapi tolong jangan biarkan dia tahu kalau aku yang mengirimmu."

Satrio terdiam sejenak, menimbang-nimbang antara loyalitasnya pada instruksi Ariel dan permintaan tulus dari Relia.

"Baik, Nyonya. Saya akan segera ke sana dan melaporkan situasinya kepada Anda secepat mungkin. Mohon untuk tetap berada di dalam rumah dan jangan membukakan pintu untuk siapa pun kecuali staf rumah ini," pesan Satrio sebelum berpamitan.

Setelah Satrio pergi, rumah mewah itu terasa jauh lebih sepi.

Relia kembali menatap jendela, melihat awan Jakarta yang mulai mendung.

Di dalam hatinya, ia berdoa agar keputusannya ini tidak membawa masalah baru, namun ia merasa harus melakukan ini demi menutup bab terakhir dari rasa bencinya.

Ia meraih iPad-nya dan mulai menulis baris baru:

"Terkadang, peduli tidak harus berarti hadir. Terkadang, mengamati dari jauh adalah satu-satunya cara untuk tetap menjaga kewarasan diri sendiri."

Satrio melangkah menyusuri koridor rumah sakit yang berbau antiseptik dengan langkah tegap.

Di depan pintu kamar perawatan intensif, dua orang polisi berjaga dengan ketat.

Satrio mengeluarkan tanda pengenal khusus yang menunjukkan posisinya sebagai kepala keamanan keluarga Arkatama sekaligus orang kepercayaan Dokter Ariel. Setelah mendapatkan izin, ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang hanya diisi oleh suara mesin pendeteksi jantung.

Di atas ranjang, Sarah tampak sangat pucat. Matanya yang sayu terbuka perlahan saat menyadari kehadiran seseorang.

Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus dari terakhir kali Satrio melihatnya di pengadilan.

"Siapa kamu?" suara Sarah terdengar sangat lemah, hampir seperti bisikan.

Matanya menatap tajam ke arah Satrio, mencoba mengenali pria berbadan tegap yang berdiri di ujung ranjangnya.

"Apakah kamu orang suruhan Markus? Atau, apakah kamu dikirim oleh polisi lagi?"

Satrio tetap berdiri mematung. Wajahnya datar tanpa ekspresi.

Ia teringat pesan tegas dari Relia: Jangan biarkan dia tahu kalau aku yang mengirimmu.

Melihat pria di depannya hanya diam, Sarah mulai tampak gelisah. Napasnya sedikit memburu, memicu bunyi bip pada mesin di sampingnya menjadi lebih cepat.

"Jawab! Siapa yang menyuruhmu ke sini?" Sarah mencoba bangkit, namun tubuhnya terlalu lemah. Air mata mulai mengalir di sudut matanya.

"Kalau kamu orangnya Markus, katakan padanya. aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Aku sudah hancur!"

Satrio tetap bungkam. Ia hanya memperhatikan setiap detail kondisi Sarah—mulai dari selang infus hingga memar di lengannya.

Ia mencatat semuanya dalam ingatan untuk dilaporkan kepada Relia nantinya.

Bagi Satrio, Sarah adalah sosok yang rumit; seorang kakak yang berkhianat, namun kini tampak seperti raga yang tak lagi memiliki jiwa.

Setelah beberapa menit tanpa sepatah kata pun, Satrio berbalik untuk meninggalkan ruangan.

"Tunggu!" teriak Sarah dengan suara parau.

"Jika kamu orang suruhan adikku, jika kamu orangnya Relia. Tolong sampaikan padanya, aku minta maaf. Aku hanya ingin dia tahu kalau aku menyesal sebelum aku, ebelum semuanya terlambat."

Satrio sempat menghentikan langkahnya di ambang pintu, namun ia tetap tidak menoleh.

Ia segera keluar dari ruangan itu, meninggalkan Sarah yang mulai terisak sendiri dalam penyesalannya.

Satrio kembali ke kediaman Arkatama tepat saat hujan mulai membasahi Jakarta.

Ia menemukan Relia masih berada di ruang kerjanya, menatap layar iPad dengan pandangan kosong.

Begitu melihat Satrio masuk, Relia langsung berdiri, raut wajahnya menunjukkan kecemasan yang tak bisa disembunyikan.

"Bagaimana, Satrio? Bagaimana keadaannya?" tanya Relia cepat.

Satrio menghela napas panjang sebelum memulai laporannya.

"Kondisinya sangat memprihatinkan, Nyonya. Dia sangat lemah dan tampak hancur secara mental. Polisi terus menjaganya dengan ketat."

Relia meremas tangannya sendiri. "Apakah dia bicara sesuatu?"

Satrio ragu sejenak, namun ia tahu ia harus jujur.

"Dia sempat mengira saya orang suruhan Markus dan terlihat sangat ketakutan. Tapi, sebelum saya keluar, dia mengatakan sesuatu. Dia bilang... dia sangat menyesal. Dia meminta saya menyampaikan permintaan maafnya kepada Nyonya jika saya memang orang suruhan Anda. Dia bilang dia ingin Anda tahu itu sebelum semuanya terlambat."

Mendengar kata-kata 'sebelum semuanya terlambat', pertahanan Relia runtuh.

Ia terduduk kembali di kursinya, matanya mulai berkaca-kaca.

Rasa benci yang selama ini ia bangun sebagai benteng perlindungan kini mulai terkikis oleh rasa kemanusiaan dan kenangan masa lalu.

"Dia bilang begitu?" bisik Relia.

"Tapi kenapa sekarang, Satrio? Kenapa baru sekarang setelah semua luka ini menganga?"

"Terkadang seseorang baru menyadari nilai cahaya setelah mereka benar-benar berada dalam kegelapan yang abadi, Nyonya," jawab Satrio bijak.

Relia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Di satu sisi, ia masih merasa sakit hati atas pengkhianatan Sarah yang menyerahkannya pada Markus. Namun di sisi lain, Sarah adalah satu-satunya darah daging yang ia miliki di dunia ini.

Pikirannya berkecamuk antara ingin tetap menjaga jarak demi kewarasannya, atau datang untuk mendengar kata maaf itu secara langsung.

Tiba-tiba, ponsel di atas meja berdering. Itu adalah pesan singkat dari Ariel:

“Sayang, aku sedang menuju pulang. Ada kabar dari rumah sakit tentang Sarah, aku akan menjelaskannya padamu nanti. Tunggu aku.”

1
Yuningsih Nining
😭😭
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!