"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Zona Merah & Zona Hijau
"Ini apa lagi, Hara? Kamu mau bikin lapangan bulu tangkis di ruang tamuku?"
Cayvion menunjuk lantai marmer Carrara mahalnya yang kini ditempeli selotip warna-warni memanjang dari ujung lorong sampai ke depan pintu ruang kerjanya. Ada warna merah mencolok, kuning terang, dan hijau neon. Pemandangan itu merusak estetika monochrome rumahnya yang seharga ratusan miliar.
"Ini namanya manajemen konflik, Pak," jawab Hara santai sambil meratakan ujung selotip merah di depan pintu ruang kerja Cayvion dengan tumit sepatunya. Dia berdiri tegak, berkacak pinggang, lalu menunjuk pembagian wilayah itu layaknya jenderal perang.
"Dengar baik-baik. Ini aturan main baru supaya Bapak nggak darah tinggi lagi gara-gara nginjek mainan."
Hara menunjuk area ruang tengah dan kamar tidur. "Selotip Hijau. Itu Zona Bebas. Elio dan Elia boleh main apa saja di sana. Lari, lompat, bangun benteng, terserah. Bapak nggak boleh protes kalau berantakan, asalkan dibereskan sebelum tidur."
Lalu dia menunjuk dapur dan ruang makan. "Selotip Kuning. Zona Netral. Kita makan bareng, ngobrol bareng. Gencatan senjata. Nggak boleh ada keributan."
Terakhir, Hara menepuk pintu ruang kerja Cayvion yang ditempeli selotip merah tebal tiga lapis. "Dan ini, Zona Merah. Area berbahaya. Anak-anak dilarang keras melintas garis ini tanpa izin tertulis atau kondisi darurat—seperti kebakaran atau alien menyerang bumi."
Elio, yang sedang mengunyah permen karet di sofa, mengangguk paham. "Oke. Zona Merah itu sarang naga. Masuk sana, mati hangus."
"Pintar," puji Hara.
Cayvion mendengus, melipat tangan di dada. "Konyol. Rumahku jadi seperti TK."
"Lebih baik jadi TK daripada jadi medan perang, Pak," balas Hara telak. "Dan ingat, aturan ini berlaku dua arah. Kalau Bapak melanggar aturan Zona Hijau atau Kuning, ada dendanya."
"Denda?" Cayvion tertawa meremehkan. "Aku yang punya rumah ini, aku yang bikin aturan."
"Kita lihat saja nanti."
Satu jam kemudian, makan malam berlangsung di Zona Kuning.
Suasana tenang. Koki sewaan (yang baru) menyajikan steak daging sapi wagyu. Elia sedang berusaha memotong dagingnya dengan garpu plastik, sementara Elio makan dengan tenang.
Tapi ketenangan itu tidak berlaku bagi Cayvion.
Tangan kirinya memegang garpu, tapi tangan kanannya memegang ponsel pintar keluaran terbaru. Matanya tidak melihat ke piring, melainkan terpaku pada layar yang menampilkan grafik saham real-time bursa New York yang baru dibuka.
"Jual di angka empat puluh. Jangan tahan," gumam Cayvion pelan pada sambungan telepon yang terhubung lewat earpiece di telinganya. "Saya tidak peduli sentimen pasar. Lepas sekarang."
Hara yang duduk di seberangnya berdehem keras. "Ehem."
Cayvion tidak sadar. Dia malah menyuap daging tanpa melihat, hampir menusuk hidungnya sendiri. "Ya, konfirmasi ke broker sekarang."
Hara melirik Elia. Dia memberi kode mata ke arah Cayvion, lalu menunjuk garis selotip kuning di lantai.
Mata Elia berbinar. Tugas negara memanggil.
Bocah perempuan itu meletakkan sendoknya, lalu merogoh saku baju tidurnya. Dia mengeluarkan sebuah peluit mainan berwarna merah muda.
PRIIITTT!
Suara peluit itu melengking tajam, memekakkan telinga.
Cayvion tersentak kaget sampai ponselnya hampir terlepas dari genggaman. Dia mencabut earpiece-nya dengan wajah panik. "Apa?! Ada apa?!"
"Priit! Pelanggaran!" seru Elia sambil berdiri di atas kursi, menunjuk hidung bapaknya dengan garpu plastik.
"Papa ditilang!"
Cayvion mengernyit, bingung. "Ditilang? Elia, Papa lagi kerja. Jangan berisik."
"Zona Kuning!" Elio ikut bersuara datar sambil menunjuk lantai.
"Pasal 3 ayat 1: Dilarang membawa alat kerja, HP, laptop, atau kalkulator ke meja makan. Zona Kuning itu area netral. Papa melanggar kedaulatan wilayah," kata Hara tegas."
"Mami bilang dendanya lima puluh ribu rupiah. Tunai. Nggak terima gesek," tambah Elia, menengadahkan tangan mungilnya yang berminyak. "Mana uangnya? Buat tabungan Elia beli boneka beruang yang bisa ngomong."
Cayvion menatap Hara tak percaya. "Kamu mengajari mereka memeras bapaknya sendiri?"
"Saya mengajari penegakan hukum, Pak," jawab Hara tenang sambil mengiris dagingnya. "Kalau Bapak nggak mau bayar, berarti Bapak mengajarkan anak-anak untuk jadi koruptor yang kebal hukum. Contoh yang buruk buat pewaris Alger Corp, bukan?"
Cayvion menggertakkan gigi. Dia menatap tangan kecil Elia yang masih menengadah, lalu menatap wajah Hara yang tersenyum penuh kemenangan.
"Saya nggak bawa dompet. Dompet saya di kamar," elak Cayvion.
"Dompet Bapak di saku celana belakang sebelah kanan," koreksi Hara cepat, tanpa melihat. "Tadi saya lihat Bapak masukin pas pulang kerja."
Cayvion mendengus kasar. Dia merogoh saku celananya dengan gerakan kaku, mengeluarkan dompet kulit hitamnya. Dia menarik selembar uang lima puluh ribu berwarna biru.
"Nih," Cayvion meletakkan uang itu di telapak tangan Elia. "Puas?"
"Makasih, Papa Sayang!" Elia mencium uang itu, lalu memasukkannya ke saku. "Besok melanggar lagi ya, Pa. Biar tabungan Elia cepat penuh."
Cayvion memutar bola mata, menyimpan ponselnya ke saku dengan kasar, dan kembali fokus ke steak-nya yang sudah dingin.
"Habis ini saya masuk Zona Merah," umum Cayvion dingin, menatap tajam ke arah dua bocah itu. "Saya ada video conference penting dengan dewan direksi global. Ini menyangkut ekspansi ke Eropa. Jangan ada yang berani mendekat, apalagi masuk. Paham?"
"Siap, Bos," jawab Elio santai. "Asal Papa nggak bawa LEGO ke sana."
Pukul delapan malam.
Pintu ruang kerja Cayvion tertutup rapat. Garis selotip merah di lantai seolah menyala memberikan peringatan bahaya: DILARANG MASUK ATAU DISEMPROT API.
Di dalam, Cayvion duduk tegak di kursi kebesarannya. Dia memakai jas lengkap (meski bawahannya celana pendek santai karena tidak terlihat kamera). Tiga monitor besar menyala, menampilkan wajah-wajah serius para eksekutif dari London, New York, dan Tokyo.
"Seperti yang Anda lihat di grafik," Cayvion berbicara dengan bahasa Inggris yang fasih dan berwibawa. "Margin keuntungan kita di sektor AI meningkat dua puluh persen. Tapi kita butuh investasi tambahan untuk..."
Suasana sangat serius. Para direktur di layar mengangguk-angguk, mencatat setiap kata dari sang CEO jenius.
Sementara itu, di Zona Hijau (ruang tengah), Elia sedang bermain kejar-kejaran dengan Bubu, kucing oranye gemuk yang entah bagaimana bisa datang ke rumah ini dan berhasil menyusup masuk lagi lewat jendela dapur yang lupa ditutup koki.
"Bubu! Jangan lari! Elia mau pakaikan pita!" seru Elia sambil membawa pita rambut warna pink.
Si kucing, yang merasa harga dirinya terancam, berlari zig-zag menghindari tangkapan Elia. Dia melompat ke sofa, meluncur di bawah meja, lalu berlari kencang menuju lorong.
Menuju pintu ruang kerja yang sedikit—hanya sedikit—renggang karena engselnya belum diminyaki.
"Bubu! Itu Zona Merah! Jangan!" teriak Elia.
Tapi kucing tidak paham konsep zonasi. Bubu menyeruduk pintu itu dengan kepalanya dan menerobos masuk.
Elia berhenti tepat di garis selotip merah. Dia ingat pesan Papanya. Jangan masuk. Bahaya.
Tapi dia juga ingat Bubu ada di dalam sana. Kalau Bubu pipis di karpet mahal Papa gimana? Papa pasti marah besar dan Bubu bakal diusir. Elia tidak mau Bubu diusir. Dia harus menyelamatkan kucing itu.
Misi penyelamatan senyap.
Dengan napas tertahan, Elia melangkah melewati garis merah. Dia berjingkat pelan, tanpa suara. Dia memakai piyama terusan bergambar Princess Elsa warna biru muda yang ada jubah transparan di punggungnya, plus bando mahkota plastik di kepala.
Di dalam, Cayvion sedang di puncak presentasi.
"...dan strategi ini akan mematikan kompetitor dalam waktu enam bulan. Saya jamin, tidak ada celah bagi kegagalan."
Cayvion menatap kamera laptop dengan tatapan mengintimidasi. Para direksi terdiam kagum.
Tiba-tiba, mata salah satu direktur dari London melebar. Dia menunjuk layar. "Mr. Alger... excuse me..."
"Ada pertanyaan, Mr. Smith?" tanya Cayvion percaya diri.
"I-itu... di belakang Anda..."
Cayvion mengernyit. Di belakangnya?
Pada saat yang sama, Elia melihat ekor Bubu menyembul dari balik kursi kerja Cayvion. Tanpa pikir panjang, Elia melompat untuk menangkapnya.
"HAP! Kena kamu!"
Elia muncul tiba-tiba dari balik sandaran kursi Cayvion. Wajah mungilnya, mahkota plastiknya, dan piyama Elsa-nya masuk frame kamera dengan sempurna, tepat di samping wajah garang Cayvion.
Cayvion membeku. Dia melirik ke samping.
Ada Elia. Tersenyum lebar memeluk kucing oranye.
"Papa!" seru Elia riang, lupa kalau dia sedang menyusup. Dia melambai ke arah layar monitor yang penuh wajah orang asing. "Halo Om-Om Bule! Liat nih, kucing aku ketangkep!"
Keheningan melanda tiga benua sekaligus.
Para direktur yang tadinya tegang membahas triliunan dolar, kini menatap bengong pada satu titik: CEO mereka yang ditakuti seperti iblis, kini ditempeli bocah berbalut kostum Frozen dan kucing kampung.
Cayvion memejamkan mata.
Zona Merah baru saja jebol.
Dia menatap putrinya.
"Elia... kamu tahu berapa denda masuk Zona Merah saat rapat?"
Elia berpikir sejenak, lalu menggeleng. "Gratis? Soalnya Elia lucu?"
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri