Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Waktu Yang (Tidak) Tepat
Bab 16
Pukul 7 malam, Lisa dan Rama baru pulang. Beni dan Sapri ada di beranda menikmati malam dengan rokok di tangan dan kopi hitam. Yuli setengah jam lebih dulu dibandingkan Lisa dan Rama.
“Hah.” Tanpa ragu Rama langsung ikut selonjoran bersandar pada tembok tanpa melepas sepatunya.
Lisa dengan wajah sama lelahnya tidak banyak bicara, pun saat Beni menggodanya.
“Bah, lagi capek atau murung ditinggal abang dokter.”
“Kangen si encep kali,” tambah Rama.
“Idih, ogah amat. Dikasih gratis juga aku nggak mau, mending aku lempar ke kucing.”
“Lo pikir ikan asin,” sahut Rama. “Jule, abang pulang nih. Bikinin kopi dong,” teriak Rama. “Sa, ayah lo wa nih. Ck, telpon kenapa sih. Sama orang tua nggak boleh gitu.”
“Dia duluan yang begitu. Kemarin-kemarin lupa masih punya anak, sekarang baru terasa,” tutur Lisa sambil menyimpan sepatunya di rak paling atas. Berpapasan dengan Yuli yang keluar membawa kopi untuk Rama.
“Mandi Sa, terus istirahat.”
“Hm.”
Rama langsung beranjak dengan wajah berbinar, menerima gelas berisi kopi dan langsung menyesap pelan.
“Nikmat mana lagi yang kau dustakan. Pulang kerja capek, ada yang kasih kopi mana cakep bener yang bikinnya.”
“Halah, gombal.”
“Biarin aja Yul, dengerin aja. Udah nikah nanti, nggak akan ada tuh gombal macam itu. Apalagi kalau token sudah bunyi, pampers habis dan beras kosong. Tensi langsung naik,” tutur Beni.
“Lo curhat bang? dapat tugas kemari, anugrah dong.”
“Iyalah. Dapat tunjangan lebih dan nggak pusing dengerin keluhan ibu ratu di rumah.”
Sapri menyimak obrolan itu akhirnya bersuara. “Menikah berat juga ya bang?” tanyanya pada Beni. Pria yang dianggap paling senior karena sudah berkeluarga bahkan memiliki anak kembar.
“Tak berat-lah Pri, menikah tidak berat malah enak. Yang berat itu kalau dompet kamu terlalu tipis.”
“Kalau gitu, gue mau cari anak sultan ah. Biar hidup dijamin,” ungkap Yuli, sukses membuat Rama langsung mendelik kesal.
“Kok, lo gitu sih. Gue bukan anak sultan Yul, tapi gue serius Yul. Jangan dengerin Bang Beni, beda suhu,” ujar Rama lalu meraih tangan Yuli dan menge-cupnya.
“Dih, apaan sih. Nggak romantis banget. Lo nembak apa gimana ini.” Yuli menarik tangannya sambil terkekeh geli.
“Nembak, nusuk atau apalah itu. Mereka berdua saksinya ya,” ujar Rama lagi sambil menunjuk Beni dan Sapri.
“Bang, dulu sama istri nembaknya gini juga?” Sapri sedang mendalami materi pendekatan dengan wanita, berguru dengan Rama dan Beni yang menganut aliran sesat.
“Ya nggak lah. Meski tampang ku begini, waktu nembak dan melamar sudah pasti romantis. Bukan kayak orang begal motor macam si Rama.”
“udah Pri, lo nggak usah pake gaya gue apalagi bang Beni. Pake gaya lo sendiri aja sih.”
“Belum ada gaya apapun mas, masalahnya belum ada perempuan yang bisa saya tembak apalagi melamar.” Sapri bicara tanpa beban. Yuli terkekeh mendengarnya sedangkan Rama sudah berdecak sambil menggeleng pelan.
“Hah, bisa stroke aku ngobrol dengan kalean. Nggak ada yang waras.” Beni menggeleng pelan, menghembuskan asap rokoknya.
***
Hari ini cukup melelahkan bagi Lisa. Bukan hanya dinamika yang ada di puskes, tapi fisik dan moodnya yang tidak stabil karena periode bulanan. Mengingat ucapan Marina cukup mengusik emosinya, meski Asoka tidak merespon wanita itu.
Setelah mandi dan berganti piyama, Lisa sudah meringkuk dibawah selimut. Makan malam pun lewat sudah, bahkan ponsel sejak tadi bergetar pun terabaikan.
“Loh, udah tidur,” ujar Yuli saat mengambil ponsel lalu kembali bergabung dengan trio semprul.
...Tim Pencari Kitab Suci🤸...
Asoka Harsa : Sudah pada di rumah ‘kan?”
Yuli Imut : Sudah dok, meski bukan rumah impian
Asoka Harsa : Situasi aman?
Beni Ganteng : Aman dok, entah si Sapri dari tadi galau terus
Asoka Harsa : Lisa ada?
Rama P. : Ada dok. Berhasil dijauhkan dari jangkauan Encep Surecep. Romannya kalau manggil di sini, berarti jalur pribadi belum tersambung
Yuli Imut : Lisa udah tidur dok, kayaknya capek banget dia. Apalagi dokter gigi hari ini nyebelin
Asoka Harsa : Marina?
Yuli Imut : Emang ada dokter gigi yang lain dok?
Rama P : Romannya ada yang cemburu terus ditinggal tidur. Tenang aja dok, besok pagi juga adem lagi. Semoga aja Encep besok nggak datang
Asoka Harsa : Titip ya. Jauhkan dia dari setan yang terkutuk
S4pri : Mungkin Pak Encep perlu di rukiyah
Beni Ganteng : Suntik m4ti aja
Sedangkan di tempat berbeda, Asoka menghela nafas mendapatkan informasi kalau Lisa sudah tidur. Padahal baru jam 9. Sepertinya hari ini cukup melelahkan untuk gadis itu. Bukan hanya dirinya yang terganggu dengan Marina, Lisa pun sama. Seharusnya dengan respon yang pendek dan tidak antusias Marina sudah bisa menyimpulkan tidak ada tempat untuknya masuk. Nyatanya ot4k Marina tidak setajam itu.
Rencana langsung balik ke Singajaya, tapi harus berubah karena dosen pembimbingnya menunggu hasil revisi besok. Asoka tertahan untuk mengerjakan revisian di penginapan tidak jauh dari kampus. Pesan yang dikirim untuk pujaan hatinya, belum direspon juga.
...Lisa Kanaya...
Pantesan pesanku tidak dibaca, taunya udah tidur
Aku masih disini sampai besok, kamu baik-baik di sana.
Miss u so much 🥰
...***...
“Malam minggu kemana kita?” tanya Yuli bergabung dengan trio semprul di bawah pohon area parkiran.
Rama berada di atas motor A Ujang, sedangkan Sapri dan Beni menempati kursi kayu panjang yang biasa digunakan Ujang mengawasi kendaraan.
“Di rumah aja mbak. Di sini mau kemana? Apalagi saya nggak ada kenalan baru.”
“Ya makanya keluar Sap, bergaul. Kalau kau di rumah aja manalah ada yang kenal. Putih nggak, busuk iya,” terang Beni. Sapri selalu menjadi bahan guyon dan bulan-bulanan dari rekannya. Tidak pernah marah atau sakit hati, karena tahu kalau yang disampaikan hanya bercanda.
“Mau kemana sih, di rumah ajalah. Mojok di rumah juga bisa,” seru Rama lalu melambaikan tangan pada Lisa agar ikut bergabung.
“Pulang yuk,” ajak Lisa tidak semangat.
“Yaelah Sa, baru ditinggal semalam aja udah kayak janda ditinggal m4ti.”
“Ish, mulutnya.” Yuli memukul lengan Rama karena bicara tanpa filter. “Lo, kenapa? Sakit?”
“Sakit perut. Pengen rebahan.”
Obrolan mereka terhenti karena ada mobil memasuki pelataran puskes. Membuat semuanya mendadak teg4ng.
“Gawat, mau ngapain tuh orang kemari lagi. Sa, ngumpet di dompet Sapri gih. Banyak space kosong di sana.”
Lisa langsung berpindah ke dekat Rama, seolah mencari perlindungan.
“Selamat sore, akang-akang dan teteh-teteh cantik. Kebetulan sekali sedang ngumpul begini. Saya datang di waktu yang tepat ya. Teh Lisa, aduh makin cantik saja.”
Rama Cs jadi tamengnya
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆
jangan lama-lama jangan lama-lama nanti aku kabur
mau telp damkar biar bersih otak dan pikiran encep di cuci pake damkar🤭